Kehidupan Pada 1,3 Miliar Tahun Yang Lalu

Kehidupan Pada 1,3 Miliar Tahun Yang Lalu
Chapter 5


__ADS_3

Pertanyaan itu sontak membuat Xerro linglung. Oh, tentu saja, masuk ke dalam ruang pribadi orang lain? Kau lancang sekali. “Uh… itu, aku memang melihatnya, tapi sengaja masuk kesini.”


“Wah, itu berarti kau nekat, ya. Kepo sekali.”


Xerro meringis diledek begitu.


“Sepertinya memang lebih baik kutulis saja ‘ada naga di dalam sini’,” dilanjut remaja itu sambil mulai memakan rotinya.


Dilain sisi, Xerro mengendikkan bahunya sambil terkekeh. “Akan lebih bagus jika kau menulis kalau ada ffyorg di dalam sini. Orang-orang pasti ketakutan.”


Tapi Xerro baru sadar kalau ia salah bicara. Mata remaja itu langsung membulat lantas setelahnya mengalihkan pandangan. Sekilas ia tergelak. “Ah, bercandamu tidak lucu, kawan…”


Hening yang canggung. Atmosfernya menjadi sesak seketika. Remaja tadi terlihat hanya mengunyah makanannya dalam diam. Sementara Xerro yang merasa tak enak pun tak berani menatap matanya lebih lama.


Sepi yang agak lama. Hingga suara bariton lemah di sebelahnya membuyarkan lamunan.


“Dulu… aku pernah melihat makhluk itu; tepat berdiri di depan mataku.” Remaja yang makan roti tadi tiba-tiba berbicara. Ia melanjutkan, “beruntungnya karena aku tak langsung mati hari itu.”


Xerro tentu saja langsung menoleh. Ia melihat remaja tadi menerawang langit.


“Itulah mengapa sekarang aku malah trauma,” jelas remaja itu sendu. Remaja itu lalu menunduk melihat satu roti di tangan kanannya dan memberinya pada Xerro.


“Roti bawang. Ada telur di dalamnya. Enak, kok. Makanlah.” Remaja itu menyodorkan rotinya; agak memaksa. Dan Xerro terima saja—walau ia tak terlalu ingin sebenarnya.


“Makasih.” Xerro agak heran melihat remaja itu meringis dengan begitu santainya. Seakan topik canggung barusan bukan apa-apa. Tapi Xerro yakin tadi pasti menggangunya. “Itu… maaf soal yang tadi…”


“Ah, santai saja. Aku bukan anak cengeng yang akan menangis karena begituan, kok.” Meskipun Xerro tetap mengelak bahwa hal tadi masih mengganggu remaja itu, nyatanya ia malah melihat binar bersahabat dari lawan bicaranya.


Remaja ini mudah melupakan masalah, ya?


“Ngomong-ngomong, apa kau anak baru disini?” tanya remaja itu setelah menjeda memakan rotinya. “Aku tak pernah melihatmu sebelumnya.”


“Mm… mungkin? Tidak tahu juga,” disatu sisi Xerro malah bingung mau menjawab apa.


Ia mendengar remaja itu bertanya lagi, “Kapan terakhir kau ingat terbangun?”


Xerro menjawab asal. “Barusan.” Walau ia langsung merasa konyol karena memang baru pagi tadi ia bangun dari tidurnya.


Namun remaja di sebelahnya sepertinya mengerti.

__ADS_1


“Wah, berarti kau memang masih baru.” Pernyataan mutlak itu keluar dari bibirnya dan dia mengangguk-angguk, lalu melanjutkan memakan rotinya dalam diam.


Xerro disebelah mengalihkan perhatiannya kembali pada roti bawang di genggamannya. Sekilas ia mengendusi bau roti itu. Wangi, tak seperti makanan rumah sakit yang tak ada baunya dan hambar.


Xerro lantas mulai melahapnya, dan ia merasakan sedikit euphoria ketika papilanya tersentuh oleh makanan dari luar itu.


“Lezat, bukan? Aku tahu anak sepertimu pasti menyukainya.” Itu kata remaja tadi setelah menangkap raut sumringah Xerro. “Secara, makanan dari luar memang lebih lezat daripada makanan disini.”


Xerro menoleh. Benaknya memikirkan satu pertanyaan. “Tapi apa kau tidak takut dimarahi keluar diam-diam begitu?”


Remaja tadi malah dengan santai mengendikkan bahu, mimik mukanya terlihat tak peduli. “Toh kata orang peraturan ada hanya untuk dilanggar. Siapa yang peduli dimarahi jika kau sendiri bisa makan enak? Kan?” lantas setelahnya anak itu meringis lebar. Menunjukan deretan gigi-giginya. Xerro hanya tertawa canggung.


“Akho ughe.” Remaja tadi berbicara dengan mulut penuh roti lahapan terakhirnya. Tapi Xerro tak mengerti ucapan anak itu. “Kau bilang apa?”


Remaja itu susah payah menelan makanan yang terlumat di mulutnya. “Namaku Luge. Lyukamagnusccio Zugue sebenarnya, tapi agar mudah dipanggil Luge saja. Lidah orang lain bisa memutar jika menyebut nama panjangku. Apalagi para orang tua. Padahal mereka bisa saja nge-rap saat marah.”


Xerro langsung terkikik mendengarnya. Benar juga apa yang Luge katakan. “Tapi nama aslimu sebenarnya lebih bagus daripada ‘Luge’.”


“Memang, sih. Tapi mau bagaimana lagi? Orang tuaku yang memberiku nama rumit begitu.” Bibir tebal Luge agak mengerucut. Lalu selanjutnya ia menoleh pada Xerro.


“Kalau kau siapa? Rasanya tidak adil jika hanya aku yang memperkenalkan diri.” Xerro lantas menjawabnya. “Aku Xerro.”


“Xerro Abrahamas.”


“Wow.”


Luge sekilas terpukau mendengarnya. “Namamu keren, kawan.”


“Menurutmu begitu? Bagiku biasa saja.”


“Tentu saja keren lah! ‘Abrahamas’. Namamu terdengar seperti nama dewa, lho.” Luge menerapkan gestur ala-ala dewa—entah bagaimana gesturnya. Xerro lagi-lagi terheran dengar tingkah Luge itu.


Lantas setelahnya Luge menatapnya lagi. “Orang tuamu dapat darimana nama itu?” Tapi ditanyai begitu, Xerro malah terdiam.


Ia memikirkan sesuatu.


“Sepertinya bukan dari orang tuaku.”


Dan itu membuat Luge terkejut. Tentu saja, itu mengherankan. “Ha? Lalu dari siapa jika bukan orang tuamu?”

__ADS_1


Xerro dengan ragu menggeleng. Tampak pupil matanya gemetaran. “Tidak tahu. Tidak ingat.” Entah apa dia mengucapkannya dengan benar atau tidak, karena diotaknya bahkan tak terpikirkan apapun soal asal namanya.


Xerro tiba-tiba merasa kehilangan ingatan.


Mereka berdua lalu terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing.


Agak lama, lalu Luge membuka mulutnya untuk bicara. “Oh, jadi memang benar, ya. Semua anak disini memang mengorbankan satu hal dari mereka.” Nada bicara Luge berubah murung, lagi. “Rumornya ternyata nyata.”


“Maksudnya?”


Lalu Luge menarik lengan bajunya dan menunjukan tangan kanannya. Xerro baru sadar karena ternyata tangan kanan Luge adalah tangan palsu. Ia terkejut.


“Baru sadar, hm? Tangan kananku diganti dengan tangan robot waktu aku terbangun disini. Alasannya tak pernah mereka beritahu,” kata Luge sambil merapikan lengan bajunya kembali.


Luge melirik dan dia baru sadar roti ditangan Xerro sudah habis. “Sepertinya… sudah waktumu untuk kembali ke kamarmu, atau kau mau dokter cerewet itu memarahimu.”


“Maksudmu?”


Luge melempar pandangannya ke bawah, tepat pada seorang dokter yang terlihat berjalan menuju tempat kamar inap Xerro. Itu membuat mata Xerro membola.


Dia melupakan jadwal tanya-jawab siangnya!


“Siala—uh, maaf mengumpat. Aku pergi dulu. Terima kasih rotinya!”


Luge tampak terkikik melihat Xerro yang buru-buru. “Hati-hati terjatuh, kawan. Ini lantai 5.”


Mendengarnya Xerro berjengit. Sempat terdiam sebentar diambang tangga turun. Jadi teringat ia yang hampir mati jatuh tadi. Xerro merinding.


“Ugh, jangan membuatku takut!”


“Haha, maaf maaf. Sudah sana cepat pulang.”


Tangan Luge mengusir Xerro agar cepat turun. Lalu Luge hanya memperhatikan Xerro yang berlari turun melalui tangga. Ia lantas menangkupkan telapak tangan di samping mulutnya.


“Kamar inapku di nomor 5 jika kau bertanya! Temui aku besok kalau kau mau!”


Meski tak ada jawaban, namun Luge yakin Xerro pasti mendengarnya. Diatas sana Luge melambaikan tangannya semangat.


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2