Kehidupan Pada 1,3 Miliar Tahun Yang Lalu

Kehidupan Pada 1,3 Miliar Tahun Yang Lalu
Chapter 12


__ADS_3

“Tapi, Frey Aghemiya tak punya huruf ‘a’ pada nama depannya. Dia hanya Frey.”


“Tepat sekali...” desis Luge parau sembari mengangguk. Manik coral nya mengerling menatap sosok gadis kecil itu jauh di depan sana, sebelum berkata pasif, “Itulah mengapa, dia adalah anak cacat.”


Sekonyong-konyong mata Xerro membola tanpa sadar kala kupingnya jelas menangkap kalimat Luge barusan. Gadis ramalan cacat? Ini baru pertama kalinya dalam sejarah.


“Gadis ramalan akan tetap bernama ‘Freya’ sama seperti terdahulunya. Namun, dari pengakuan orang terdekatnya, Ibu kandung Frey Aghemiya ternyata sengaja mengganti nama anaknya agar Frey bisa hidup lebih lama dengannya.”


Setelahnya, sunyi yang tak nyaman, karena angin pula berhenti berdesir. Menyisakan mereka yang disibukkan oleh pikiran masing-masing, tak ada lagi yang membuka pembicaraan.


Hingga, Xerro dengan berat bergumam di sampingnya. “Apa itu artinya… Ibu Frey melakukan dosa besar?”


“Amat besar.” Luge mendesis pilu. Bibir tebalnya mencebik. Dadanya panas karena tetiba terbakar emosi. “Karena apa yang dilakukannya membuat kubah itu hancur dan mati, orang-orang jadi buta akan kemanusiaan, bahkan munculnya hewan itu…” Luge menelan ludahnya kasar. Tak berani melanjutkan apa yang ia omongkan, tapi dia mencoba. Sehingga ia akhirnya menyeletuk geram.


“Dia membuat kiamat dengan kecerobohanya.” Alis Luge menukik, dengan geraham menggemeletuk di dalam dinding mulutnya yang mengatup; tak terima. “Sementara anaknya malah hidup enak disni.”


Ini adalah pertama kalinya bagi Xerro melihat Luge berekspresi sekesal itu; seemosi itu, semarah itu. Namun, seharusnya ia tak perlu heran. Kebenciannya dan orang-orang pada Frey Aghemiya ternyata didasari pada kesalahan ibu kandungnya yang menyebabkan kekacauan dimana-mana. Sepertinya, Luge cukup terpukul jika itu menyangkut soal keadilan.


Namun, Xerro justru tercengang ketika Luge tiba-tiba terkikik begitu konyolnya disebelah. Seakan ada hal yang sangat lucu dikepalanya. Dia bahkan tak peduli Xerro yang melayangkan tatapan ngeri menatapnya.


“Bukankah Tuhan itu adil karena anak itu sekarang malah jadi gila?” Luge tertawa tidak waras; lebih seperti orang gila. Bahkan mata belonya yang mengatup erat sampai berair. Xerro tahu anak itu bukan tertawa karena senang, tawa itu hanya pelampiasan dari rasa sedihnya yang bercampur kemarahan. “Itulah bayaran karena sudah menentang jalan Tuhan!”


Dan dia langsung dikejutkan oleh Xerro yang tiba-tiba menariknya untuk bersembunyi di balik batang pohon rindang itu. Xerro membekap mulutnya, membuat tawanya senyap; namun ia masih tak mengerti apa alasan Xerro menaruh telunjuk di depan bibirnya sendiri. Hingga anak itu melemparkan pertanyaan, “Kau lupa kalau kita masih membicarakannya?”


“Ah,” dan itulah Luge, yang tercengang ketika tersadar dari hal konyol yang diperbuatnya. “Dia menyadarinya?”

__ADS_1


“Tadi. Anak itu sempat menoleh kesini. Tapi, sekarang sudah aman.” Pastinya, setelah menoleh memastikan anak perempuan disana. Mereka beruntung anak perempuan itu hanya menganggap ‘angin lalu’ semata.


Pura-pura hanya menganggap ‘angin lalu’ semata. Jangan lupakan bahwa anak itu masih memasang pendengarannya daritadi.


Lantas Luge menyingkirkan tangan itu dari mukanya. Mencicik pelan, “Maaf. Ceroboh.”


Sementara bola mata Xerro merotasi. “Dasar, kebiasaan,” dan menghujaminya dengan tonjokan ringan pada bahunya. Luge meringis mengusapi bahu kanannya. Namun dia sepertinya tidak sedang pada mood yang baik karena tak ada seutas senyuman di wajahnya seperti biasa.


Selesai sudah pembicaraan mereka. Lagi-lagi, hanya membiarkan angin berlalu mengusik lembut anak-anak rambut mereka. Hingga keheningan itu pecah kala Luge tetiba melontarkan kalimatnya.


“Jangan pernah bicara padanya,” ucapnya. Manik kuyunya menunduk. Menatap dalam diam tanah pijakannya tanpa alasan. Pikirannya menerawang. “Terlebih berkenalan. Dia tak pantas punya teman.”


Luge membuang dagu sembari berkata. Melempar tunjukkan pada objek yang masih mengorek-orek tanah di belakangnya tak sudi. Raut mukanya masih menyimpan rasa kesal.


“Asal kau tahu saja, dia adalah pendosa. Dia mungkin membawa iblis sebagai temannya. Jangan lihat matanya atau kau bisa dihasut masuk ke dalam neraka,” ucapnya, lantas setelahnya membuang muka.


Sementara Xerro tak mengerti apa yang terjadi pada tubuhnya. Lebih spesifiknya, pada otak dan indra pendengarannya ketika sekilas dia memaku pandangan pada gadis kecil di depan sana. Rasionya membeku kala ada suara aneh yang masuk di kupingnya, seperti hasutan?


Dan itu adalah setelah dirinya tak sengaja bertemu mata dengan gadis kecil itu.


“Matamu bukanlah fakta. Telingamu tak selalu menjadi bukti. Begitupun, mulutmu. Ucapanmu, atau ucapan orang lain, bisa menjadi pedang untuk dirimu sendiri.”


Obsidian mengilat milik Xerro beradu pandang dengan manik keruh gadis disana; namun, bukan hitam atau coral yang dia lihat. Melainkan…


Indigo.

__ADS_1


Agak keunguan. Mata yang tak pernah dimiliki seorangpun disana. Misterius seperti warna langit kala petang. Langit yang membawa keajaiban juga bencana disaat bersamaan.


Xerro berjengit. Apa itukah penampakan mata seorang pendosa?


“Xerro Abrahamas… kau tak pernah tahu siapa yang benar-benar baik padamu. Jadi jangan percaya. Jangan mudah percaya pada siapapun!”


Xerro ingin menutup telinganya. Suara itu mengerikan seperti keluar dari otaknya. Namun tubuhnya bahkan tak bereaksi apapun.


Sehingga, dia memutuskan memejamkan mata… tepat setelah kalimat selanjutnya terdengar.


“Termasuk, anak di sebelahmu.”


“Xerro!” anak yang dipanggil terkejut bukan main bersamaan dengan guncangan hebat pada tubuhnya dari orang sebelah. Siapa lagi jika bukan Luge, yang membentaknya karena Xerro begitu bodoh tak mendengarkan ucapannya untuk tak menatap mata gadis setan disana.


Jujur sekali, Luge ingin menampar mukanya jika Xerro tak segera sadar ke alamnya.


“Apa yang kau lakukan, idiot?!” bentaknya, tak peduli lagi ucapan itu terdengar oleh orang disana atau tidak. “Sudah kubilang jangan melihatnya, kau sialan bodoh, dasar idiot!!”


Lantas tanpa pikir panjang Luge segera menarik tangannya kasar untuk segera menjauh darisana. Gadis yang dibicarakan tadi jelas saja memperhatikan mereka yang berlari tunggang langgang kesetanan—dirinya menyibak rambut blonde miliknya yang menutupi mata—sekilas mencebik tanpa alasan setelah batang hidung dua lelaki itu menghilang.


Dirinya berharap semoga anak bernama Xerro tadi, setidaknya, memikirkan apa yang diucapnya.


Bukan tanpa alasan mengapa Luge langsung menyuruhnya pergi darisana setelah kejadian tadi. Ini adalah tanggungjawabnya! Luge bertanggungjawab besar akan anak laki-laki itu, dan jika sesuatu terjadi padanya, dia pasti akan mendapat hukumannya.


Maka, tak peduli lagi jika dia memaksa Xerro kembali ke kamar inapnya dengan kasar. Mendorongnya, bahkan menyuruhnya untuk tak keluar kamar lagi setelah ini, namun Xerro disana malah melongo pada kelakuan kawannya itu.

__ADS_1


Padahal dia saja tak apa-apa. Mengapa sampai sebegitunya?


To be continue…


__ADS_2