Kehidupan Pada 1,3 Miliar Tahun Yang Lalu

Kehidupan Pada 1,3 Miliar Tahun Yang Lalu
Chapter 2


__ADS_3

Ffyorg sebesar 3 meter itu tampak sangat tergoda dengan anak kecil yang ada di depannya. Mulutnya yang lebar mengeluarkan banyak air liur, bersiap menyantap kapan saja makan malamnya yang sudah tersedia dengan indah di depan matanya.


Anak laki-laki remaja itu kembali terpaku melihat makhluk terkutuk itu. Tapi bukan karena ketakutan, melainkan karena…


“Xerro, cepat lari dari sini!!!” ibu berteriak ketakutan setelah ia mendorong anaknya menjauh dari dirinya.


Tapi ffyorg yang sudah kelaparan itu langsung saja mencabik dan memakan dengan puas jantung ibunya itu tanpa ada kata ampun. Xerro yang melihat penampakan mengerikan itu hanya bisa terpaku dan terbelalak. Dalam pandangan tertutup dan gelap dibalik telapak lebar ayahnya itu ia menjerit, seakan tidak percaya akan apa yang telah terjadi.Tubuhnya gemetaran.


“IBUUUU!!!”


Entah mengapa ingatan itu terlintas kembali begitu saja di benaknya. Benar, detik sebelum kematian ibunya. Lantas matanya kembali menoleh pada gadis kecil tadi, lalu beralih pada ibunya yang menangis ketakutan disana. Muka anak itu seketika panik. Ada sesuatu yang menyuruhnya untuk menyelamatkan gadis kecil itu. Dada anak itu seketika merasa sesak.


Diantara ayahnya yang berteriak menyuruhnya pergi, ibu gadis itu yang terus menangis ketakutan, atau gadis kecil yang terancam nyawa itu; bocah lelaki ini dilemma. Entah mana hal yang harus ia lakukan saat ini. Ia mencengkrami dadanya yang berdenyut sakit. Bukan sakit fisik, namun batin. Apa harus anak laki-laki ini mengorbankan nyawa atau memilih tak peduli dan berlari pergi bersama ayahnya?


Jika diingat kembali, bocah lelaki ini mengerti bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat disayanginya. Nyatanya ia tak sampai hati membiarkan ibu itu kehilangan putri kecilnya.


Maka, ketika bocah lelaki itu melepas genggaman pada tangan ayahnya dan berkata ‘maaf’ lirih sekali dengan senyum pahit dimukanya, pria paruh baya itu tahu bahwa ia telah salah membuat janjinya.


Seharusnya ia tak mengatakan akan membesarkan anaknya untuk menjadi pahlawan.


Bocah itu langsung melesat. Berdiri diantara gadis kecil dan ffyorg yang menatapnya, memberanikan diri mempertaruhkan nyawa satu-satunya bahkan tak peduli bentakan ayahnya.


Yang ia pikirkan hanya; mungkin setelah ini ia bisa memeluk kembali ibunya di surga. Dan ia tak banyak berpikir ketika ffyorg itu mulai merobek bajunya dan menyayati kulit dadanya hingga darahnya bercecer bahkan mengenai muka gadis kecil tadi.


Gadis kecil itu saja bahkan membelalak tak percaya pada anak remaja yang menolongnya.


“Xerro! Berhenti! Pergi darisana, XERRO!!!”


Seketika remaja itu muncah darah. Bahkan air mata sempat keluar dari matanya karena rasa sakit menghadapi kematian sebelum jelas sekali ia merasakan jantungnya dicabik dan hancur dirobek oleh mulut makhluk dari neraka itu.


Ia bahkan masih bisa mendengar teriakan sang ayah yang memanggil namanya sebelum pandangannya benar benar menggelap. Itu membuatnya sekali lagi merasa menyesal.


“XERROOOOO!!!”


Dan mata anak itu menutup sempurna.

__ADS_1


Sejenak, meski ia masih bisa merasakan sakit itu di dadanya, namun terlepas dari itu semua ia merasa damai.


Oh, apa begini rasanya menjemput kematian?


Bahkan senyum pula terukir di mukanya. Cahaya mengelilinginya, dan ia membayangkan dirinya kini menikmati musim gugur yang sejuk.


Cahaya matahari sore bercampur semburat jingga dari daun pohon maple terpantul dari jendela rumahnya. Dirinya kini duduk di meja makan dengan ibu dan ayah yang duduk dikanan-kirinya. Mereka menyanyikan lagu ‘selamat ulang tahun’ untuknya sambil bertepuk tangan. Tak lupa pula ibu menyiapkan semangkuk sup kacang merah pedas kesukaannya. Juga sekotak kue ulang tahun yang masih berbau harum karena baru saja matang dari pemanggangan.


Xerro, nama anak itu, tampak tertawa girang. Senyumnya lebar sampai menyentuh mata kala ia menikmati momen perayaan ulang tahun sederhana itu bersama kedua orang tua disisinya.


Setelah meniup lilin, tangan lembut ibu menyentuh pipinya membuat Xerro menolehkan kepala. Benaknya mengawang memikirkan betapa ia sangat merindukan afeksi ibunya seperti saat ini. Sekilas ia lihat senyum teduh terpatri di muka ibunya.


Sampai perkataan ibunya membuat manik Xerro membulat.


“Larilah, Xerro. Tetaplah hidup.”


Lalu tiba-tiba semuanya gelap. Ia seperti di ruang hampa tak berpenghujung. Tubuhnya tetap namun jiwanya seperti melayang.


Pats!


Itu tadi mimpi?


Dia baru sadar bahwa dirinya tertidur dalam sebuah tabung berisi air berwarna biru. Sementara diluar sana, banyak sekali pria dewasa dengan jas putih menyampir dibahu mereka. Mereka terlihat seperti dokter. Tapi anak itu lebih bingung dengan tempatnya berada sekarang.


Tempat itu terlihat seperti laboratorium, dan ia ditempatkan di tabung berisi air…


Kelinci percobaan?


Ada selang melingkar dilubang hidungnya, membantunya bernapas, namun dia bahkan tak bernapas.


Kenapa ia tak bisa bernapas?


Bukahkah sebenarnya hanya tinggal menghirup udara saja? Bahkan anak itu mulai merasa membutuhkan oksigen karena ia merasa paru-parunya mengering.


Kembali anak itu panik. Ia benar-benar tak bisa bernapas bahkan kesulitan hanya untuk menghirup udara masuk ke paru-parunya. Tangan dan kakinya bergerak abstrak; seperti orang yang tenggelam. Dan itu menarik perhatikan salah satu dokter disana dan dia langsung berteriak pada kawan sepekerjanya.

__ADS_1


“Dia bangun! Dia bangun!”


Anak itu adalah Xerro. Ia merasakan pusing menghantam otaknya dan terombang ambing karena tak bernapas dan dadanya yang nyeri. Ia memberontak namun tubuhnya lemah. Ada selang-selang besar yang terpasang disekujur dadanya, melingkar berbentuk seperti tulang rusuk.


Dan Xerro tak terlalu ingat karena ia memberontak dan menyebabkan banyak gelembung air dimana-mana. Tapi ia sekilas ingat seorang dokter menyuntikkan serum bening dari luar selang yang melingkar di dadanya. Xerro sempat merasa ada yang masuk dalam dadanya, dalam jantungnya.


Matanya tiba-tiba memberat. Lalu ia terpejam.


“Hahh!!”


Lagi-lagi Xerro terbangun karena mimpi buruknya. Ia bahkan bernapas seperti orang kekurangan oksigen dan mencengkrami dadanya. Lantas setelah tenang, dia menggusak rambut di kening. Bergumam heran.


Mimpi dalam mimpi? Sial sekali. Mimpi buruk pula.


Lalu ia baru sadar hari sudah pagi rupanya. Matahari bahkan sudah naik cukup tinggi di luar sana. Terlihat jelas dibalik jendela kamar bercat putih tulang anak ini.


Itu bukan kamarnya, ngomong-ngomong. Xerro memang sengaja ditempatkan disini karena…


Tok tok!


Matanya langsung menoleh ketika mendapati seseorang memutar kenop pintu dan masuk begitu saja  ke dalam kamarnya. Seorang dokter, seperti hari-hari biasanya. Lengkap dengan setelan membosankan berupa jas selutut dan buku catatan digenggamannya.


Oh, anak itu ingat setelah ia melihat kalendernya. Ini hari observasi, bukan?


“Selamat pagi.” Dokter itu menyapa. Hanya dibalas malas oleh penghuni kamar. “Siap untuk observasi hari ini?”


Anak itu sekilas mendengus menahan tawa. “Apa jika aku bilang ‘tidak’ obversasinya akan dihentikan?” kalimatnya seperti pernyataan.


Dokter itu terkikih karena memahami leluconnya. “Tidak juga. Mungkin? Jika kau benar-benar berhalangan bicara karena beberapa sebab.”


Tentu saja bola mata anak itu langsung memutar karena ia sudah tahu pasti apa jawabannya. Sementara dokter tadi tampak menarik satu kursi untuknya duduk berhadapan dengan anak itu.


Untuk memulai, dokter itu sejenak melemparinya dengan pertanyaan ringan. “Bagaimana tidurmu? Nyenyak?”


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2