Kehidupan Pada 1,3 Miliar Tahun Yang Lalu

Kehidupan Pada 1,3 Miliar Tahun Yang Lalu
Chapter 14


__ADS_3

Sementara dokter itu mendengus ketika mendengarnya. “Ya, tapi kenapa tidak?” ucapnya santai, berbanding terbalik dengan pikirannya yang berkecamuk. Jika saja anak ini tahu apa alasannya di tempat ini.


Namun setelahnya, dokter itu menemukan senyum Xerro memudar dan berganti dengan raut kebingungan. Dokter itu berjengit. “Ada apa?” tanyanya.


Sementara Xerro yang tanpa sadar mengalami kecamuk di otaknya pun menoleh. Ngomong-ngomong, dia melupakan soal Luge.


“Aku lupa bilang, kalau dimimpi itu ‘dia’ ada disana.”


Dokter itu tentu saja mengernyit. “Dia siapa?”


Sebelum menjawab, Xerro terlihat meneguk kasar ludahnya. “Luge,” ucapnya penuh keraguan. Iris matanya bergerak tak fokus, bahkan alisnya menyatu hingga membuat keningnya berkerut. “Bagaimana bisa dia ada disana?”


Xerro lantas menengadah menatap dokter itu dengan tatapan ngeri yang sulit dimengerti. “Mimpi ini terjadi dua kali. Sebelumnya, dia sama sekali tak disana. Tapi kenapa di mimpi kedua dia terlihat jelas?”


Walau obsidian keruh Xerro menatap sang dokter, namun nyatanya pikirannya melayang pada mimpinya sebelum dia terbangun karena kedatangan dokter itu.


Mimpi itu tak ada bedanya dengan mimpi sebelumnya, singkatnya; sama persis. Namun satu hal yang membedakan hanyalah kehadiran Luge di mimpinya yang kedua.


Luge disana terlihat sangat ketakutan hingga gemetaran hebat kala maniknya terfokus pada Xerro yang perlahan-lahan mulai berubah menjadi monster. Bola matanya yang belo membola dengan air mata menggenang, dan itu sama persis seperti ketika dirinya ketakutan kala mendengar kata ‘ffyorg’ semata.


Tunggu... ffyorg?


Remaja itu bahkan sempat bicara padanya, lebih seperti berusaha menyadarkannya, sebelum Xerro sepenuhnya membuka mata dan terbangun. Namun yang jadi pertanyaan…


…kenapa rambut Luge berwarna hitam di mimpinya?


“Apa yang dilakukannya di mimpi itu?” dokter itu berkata serius. Sementara orang yang ditanya, walau masih diam tercengang, namun dia mulai menjawabnya.


“Berteriak. Berdiri di balik pintu sambil menatap ngeri ketika melihatku berubah. Dia terlihat benar-benar ketakutan disana.”


Namun lagi-lagi Xerro melupakan satu kejadian penting di mimpinya.


Dia lupa bahwa hari ini mimpi itu berlanjut pada Xerro yang sepenuhnya telah berubah menjadi setengah ffyorg. Tak luput pula menumbuhkan tanduk dan tiga ekor di tubuhnya. Bahkan dia pula merasakan haus yang teramat sangat untuk memakan jantung manusia.

__ADS_1


Hingga dirinya yang telah berubah pun seketika membunuh dokter yang menanyainya. Berhasil menghalau setiap peluru yang melesat membidik dirinya dengan ekor berkecepatan tinggi itu dan menyambar jantung dokter itu.


Memakannya seakan jantung manusia adalah makanan terlezat di dunia.


Xerro tercekat ketika mengingat bahwa di mimpi itu dia juga melihat Luge berlari ketakutan untuk menghindari makhluk ganas sepertinya, namun Xerro nyatanya tak punya hati saat itu karena dia bahkan mengejarnya.


Dan membunuhnya… juga memakan jantungnya.


Dokter itu melihat Xerro kembali membuka mulutnya ketakutan. Namun ucapannya membuatnya tak percaya.


“A—aku membunuhnya. Membunuh mereka. Dokter itu dan L—Luge. Lalu… memakan jantung mereka juga.” Bibir Xerro gemetaran ketika mengatakannya.


“Bahkan tak hanya itu. O—orang-orang yang melihat juga, mereka mati karena aku membunuhnya. A—aku membunuh banyak orang… disana.” Xerro menggusak rambut di keningnya ketika keringat semakin merembes pada dahinya. Napasnya juga tak beraturan. Dia hampir mual ketika ingatan memakan jantung itu terbayang jelas sekali seakan dia benar-benar pernah memakannya.


Sedangkan dokter di depannya juga tercengang. Rasionya mati dengan semua yang anak itu ucapkan.


Sekali lagi, bagaimana dia bisa mengingatnya sejelas itu?


Sampai lamunan dokter itu pecah ketika Xerro mendesis dengan napas tertahan ketika menyadari satu hal. Perbuatannya di mimpi itu disengaja.


“K—kenyataannya, bukan makhluk itu yang menguasaiku, tapi a—aku yang mencoba menguasainya. Aku tak lagi punya hati manusia, dan tak akan pernah... menjadi pahlawan untuk mereka. Aku hanya akan berakhir menjadi mesin pembunuh yang akan melenyapkan semua umat manusia.”


Dan dokter itu tak lagi berpikir panjang ketika dia memutuskan untuk beranjak dari kursinya. Menjauh dari objek di depannya. Pikirannya pula melayang pada kejadian dua tahun lalu itu, dan sejujurnya hal itu masih membuatnya trauma berat.


Episodenya terjadi karena dia mengingatnya. Dokter itu jadi ketakutan bahkan hanya untuk sekedar mendekati bocah 15 tahun itu. Dirinya mundur atas respon ketakutannya untuk menjauhi anak di hadapannya.


Sementara Xerro tak tahu lagi apa yang dipikirkan oleh otaknya. Kepalanya berdenyutan seperti akan pecah. Terlebih mengingat bahwa ia membunuh di mimpi itu—


Tidak! Xerro tak ingin membunuh. Dia tak ingin jadi monster!


Deg!


Mata Xerro membulat ketika jantungnya seperti berhenti berdetak. Ini bukan ungkapan. Jantungnya benar-benar berhenti berdetak barusan.

__ADS_1


Deg!


Lagi. Xerro meremat dadanya. Bahkan mendesis karena sakit yang amat sangat. Dirinya bahkan tak bisa bernapas untuk beberapa detik hingga membuatnya terbatuk keras.


Sedang apa yang terlihat di depan mata dokter itu membuatnya panik. Anak itu meremat dadanya di bagian jantung.


Jangan-jangan, komplikasi jantung!


Sesak. Lagi-lagi Xerro kesulitan hanya untuk bernapas, sehingga dia mencengkrami bajunya. Ini sama seperti kemarin.


Serangan panik yang terpicu karena mimpi. Bahkan Luge juga disana.


Hari yang sama ketika Xerro bertemu denga Frey Aghemiya. Namun dia tak mengerti mengapa otaknya malah mengingat suara bisikan dari gadis aneh itu.


“Matamu bukanlah fakta. Telingamu tak selalu menjadi bukti. Begitupun, mulutmu. Ucapanmu, atau ucapan orang lain, bisa menjadi pedang untuk dirimu sendiri.”


Kata-kata itu lagi. Xerro menutup kupingnya. Gigi-giginya mengemeletuk karena serangan panik yang tiba-tiba. Bola matanya bulat sempurna, irisnya bergetaran.


“Xerro Abrahamas… kau tak pernah tahu siapa yang benar-benar baik padamu. Jadi jangan percaya. Jangan mudah percaya pada siapapun!”


Sontak saja matanya terpejam hingga menimbulkan kerutan pada kelopaknya. Alisnya menukik karena kepalanya semakin pusing seperti dihantam batu raksasa. Napasnya memburu, hingga jatuh pada titik dimana dirinya mendengar denging di telinganya perlahan semakin mengeras.


Dirinya sempat mendengar dokter tadi menyuruhnya untuk tenang, namun apa dayanya? Pandangannya mulai kabur dengan keringat dingin yang merembes di sekujur tubuhnya.


Pada titik ini, Xerro berada pada ambang kesadarannya.


Sehingga dokter itu segera meminta bantuan paramedis lain sebelum anak itu benar-benar hilang kesadaran.


Lantas setelahnya sunyi. Apa yang Xerro dengar hanya denging yang membawanya mengantuk hingga ingin sekali terpejam. Namun sebelum benar-benar limbung di atas kasurnya, Xerro masih mendengar suara bisikan itu di kepalanya.


“Termasuk, anak di sebelahmu.”


Anak disebelahku?

__ADS_1


Hingga berakhirlah tubuh Xerro terhempas diatas kasur sebelum para paramedis datang dan masuk ke dalam kamar inapnya.


To be continue...


__ADS_2