
“Jangan mudah percaya pada siapapun. Termasuk, anak di sebelahmu.”
Anak disebelahku?
Hari dimana dia mendengar suara itu, Luge adalah anak di sebelahnya. Dia ingat Luge yang selalu memberinya makanan enak dari luar, Luge yang selalu berceloteh dengan senyum lebar, Luge yang selalu memperkenalkannya pada tempat-tempat baru dan unik.
Lalu, Luge yang memiliki ketakutan terbesar pada ffyorg tanpa alasan, serta Luge dengan rambut kelabu yang dikenalnya malah berambut hitam ketika muncul di mimpinya…
Jujur, Xerro mempertanyakan apa yang selama ini dirahasiakan darinya?
***
“Ngomong-ngomong kemana kita akan pergi pertama kali?” ocehan salah satunya mengawali pembicaraan mereka. “Kau membual kalau kau ahlinya, bukan?"
Kini, pikiran Xerro melayang pada kejadian ketika Luge mengajaknya untuk berkeliling rumah sakit. Walau malas, tapi Xerro akhirnya ikut juga.
Jika saja dia tak harus membayar karena sudah membuat anak berambut kelabu itu dua kali mengalami jantungan karenanya.
Namun, berjalan menikmati udara luar begini tak buruk juga pikirnya.
Masih dengan Xerro dan Luge. Salah satunya berjalan mendahului di depan sementara yang satunya hanya mengikuti. Tapi ditanyai begitu dia tak langsung menjawab. Itu membuat sebelah alis yang bertanya terangkat.
“Atap gedung, bunker bahan pangan; lalu apa lagi tempat menarik yang ingin kau tunjukan?” yang bertanya masih terus mengoceh panjang lebar.
Dia sekilas terkejut karena ucapannya lagi-lagi mirip dengan mimpinya. Namun dia langsung menggeleng tak acuh.
Hanya kebetulan saja. Tak apa, mimpi hanya mimpi, kok. Di lain sisi, anak itu malah berpikir kalau dirinya hebat karena bisa membaca masa depan. Dan itu membuatnya menyengir lebar seperti orang konyol.
Namun, lagi-lagi orang konyol ini heran mengapa orang yang diajaknya bicara tak menyahut sama sekali.
“Hei, kau tidak mendengarku?” Tapi yang diajaknya bicara sama sekali tak menyahut. Apa orang di belakangnya itu tuli?
Anak ini—orang konyol yang sedaritadi bertanya terus menerus—tak biasanya berceloteh banyak begitu. Dia selalu hanya menjawab pertanyaan dari orang lain jika diajak bicara. Selebihnya, diam adalah kebiasaannya.
Tapi baru kali ini dirinya malah bicara panjang lebar dibanding anak yang satunya.
Jika kau berpikir bahwa Luge lah yang sedaritadi mengoceh, kau salah besar. Dia yang banyak bicara daritadi sebenarnya adalah Xerro.
Dan Xerro tak mengerti mengapa Luge mengabaikannya. Dia yang berdiri di depan pun memutar badan sekadar untuk memastikan apa yang remaja di belakang punggungnya itu lakukan. Kenyataannya, kawannya Luge itu daritadi hanya mematung.
Mata Luge menerawang memandangi gemerusuk pohon-pohon yang tertanam di kanannya. Sekilas tampak fokus sekali memperhatikan dedaunan yang bergerak karena angin berhembus, namun Xerro tahu pikiran Luge tak disana.
Luge terdiam dengan mata mati. Pikirannya melayang dan bercabang. Itulah sebabnya semua perkataan Xerro tak digubrisnya. Membuat Xerro terhenyak karena baru kali ini dia melihatnya begitu.
Lantas entah apa alasan Luge begitu terkejut ketika bahunya ditepuk dan menemukan Xerro berdiri di depannya. Dia bahkan meloncat selangkah dengan mata membola, sampai Xerro mulai melemparinya satu buah pertanyaan.
“Kau kenapa?”
“H—huh?”
__ADS_1
Luge terlihat linglung. Matanya yang tadi membulat kembali melemas. Namun iris matanya bergerak sana-sini seperti orang berpikir.
Dia sepertinya tahu dirinya melamun barusan.
“Ti—tidak ada. Ahaha, maaf, kau bicara apa tadi?”
Xerro membuang napas kasarnya. “’Kau kenapa?’ Aku bertanya ‘kau kenapa’ barusan. Tidak dengar?”
Alis Xerro menukik dengan alasan. Dia hanya ingin tahu mengapa Luge sebegitu terkejutnya ketika melihatnya. Pasti adalah yang salah, bukan? Tapi Luge ternyata menangkisnya dengan kekehan konyol andalannya lagi.
“’Kenapa’ apanya? Aku tidak kenapa-kenapa, kok. Baik-baik saja.” Luge yang kembali pada kebiasaannya; tersenyum sumringah dan keras kepala, membuat Xerro kesal.
Dia sama sekali tak puas dengan jawaban itu.
“Kau barusan terkejut…” jelasnya. Oktaf suaranya merendah tak seperti biasanya. “…sampai sebegitunya setelah sadar dan melihatku.” Mimik serius di muka Xerro membuat Luge akhirnya paham situasinya, dan dia baru sadar bahwa Xerro tak mudah untuk dikecoh.
Gerak-gerik Luge aneh. Melamun, tiba-tiba terkejut, bahkan kebiasaan menggaruki telinganya saat ini adalah hal baru yang sering terlihat akhir-akhir ini. Bukan alasan mengapa Xerro menanyainya.
Lagi-lagi, kenapa dia begitu ceroboh?
“Kenapa kau takut melihatku?” nada bicara Xerro mengintimidasi. Sementara di depannya Luge semakin linglung.
Xerro teringat mimpinya; dimana dirinya berubah menjadi setengah ‘makhluk itu’ sedangkan Luge terlihat sangat ketakutan hingga gemetaran hebat ketika melihatnya.
“Kenapa kau takut melihatku hari itu?”
Xerro merasa… itu bukan mimpi semata.
Ekspresi Luge ketika melihatnya berubah di mimpi itu, sama persis seperti saat ini dia menatapnya. Mata Luge membola seiring dengan Xerro yang semakin mendekat. Bahkan, Luge juga menunjukan ketakutan yang sama jika mendengar kata ‘ffyorg’ semata.
Tunggu… ffyorg?
—
“Dulu… aku pernah melihat makhluk itu; tepat berdiri di depan mataku.” Remaja yang makan roti tadi tiba-tiba berbicara. Ia melanjutkan, “beruntungnya karena aku tak langsung mati hari itu.”
(Chapter 3: Teman (Pt. I))
—
Jangan bilang kalau ffyorg itu sebenarnya…
Xerro menggeritkan giginya. Dia ingin kejelasan. “Apa ada yang kau sembunyikan dariku?”
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Bukankah lebih baik menghapus ingatannya saja?”
Ruang yang didominasi warna biru laut itu dipenuhi oleh beberapa pria berjas putih. Menimbulkan kontras yang tegas tatkala semuanya lalu-lalang seperti orang kebingungan karena rasa panik memikirkan solusi untuk satu orang disana.
Lampu-lampu operasi berjajar rapi menyorot pada seseorang yang terbaring lemah diatas ranjang beroda; dengan kabel dari mesin EKG yang terpasang di sekujur tubuhnya serta masker oksigen melingkupi hidung dan mulutnya.
Itu adalah Xerro, yang telah dipindahkan dari kamar inapnya menuju ruang operasi ini karena komplikasi jantungnya.
Namun dia tetap tak bernapas teratur. Dadanya naik-turun abstrak mengikuti deru napasnya yang masih memburu selama 15 menit yang lalu.
Pun detak jantung yang terbaca pada layar pula menunjukan ketidakstabilan. Dan penyebabnya hanyalah satu.
Dia bermimpi.
Selama 15 menit itu dia masih tetap bermimpi. Mimpi itu mengakibatkan emosinya tak stabil sehingga berpengaruh pada irama jantung dan kinerja otaknya.
Xerro mengalami sebuah fenomena yang disebut dengan vivid dream. Mengejutkannya, mimpi itu terjadi disaat dia kritis sekalipun.
Kabar buruknya mimpi itu bukan mimpi yang menyenangkan. Dibaca dari kerja otak pada alam bawah sadarnya serta raut muka yang menampakkan kedua alisnya menukik dengan rahang mengeras dan otot tegang, Xerro sedang pada puncak kemarahannya.
Salah satu alasan pula mengapa dokter tadi memberi sugesti untuk menghapus ingatannya saja.
“Kau bodoh?! Itu ilegal!”
“Tapi, emosinya yang kuat bisa-bisa memicu gen ‘makhluk itu’ untuk menguasai anak ini sepenuhnya. Lihatlah, bahkan obat penenang saja tak mempan di tubuhnya lagi!”
__ADS_1
To be continue...