Kehidupan Pada 1,3 Miliar Tahun Yang Lalu

Kehidupan Pada 1,3 Miliar Tahun Yang Lalu
Chapter 18


__ADS_3

Lantas setelahnya, Luge mendekat pada anak itu. Dia awalnya tekejut karena Xerro ternyata mengalami perubahan pula pada tinggi badannya, sehingga mau tak mau Luge harus menengadah ketika menatap matanya.


Sedikit mengerikan. Tapi Luge sudah berjanji pada dirinya kalau dia tak akan takut lagi pada sahabatnya.


Tunggu, sahabat?


Benar. Kau memang tak salah membacanya. Luge kini senang menganggap Xerro sebagai sahabatnya.


Sekilas, Luge mengangguk sebelum berbicara. “Tak apa. Kembalilah sekarang,” desisnya.


Setelahnya Luge tanpa ragu menyengir menampakan deretan giginya seperti biasanya. Itulah sikap andalan Luge, anak konyol yang menjadi teman pertama Xerro.


“Aku janji, jika kau bisa kembali, maka aku akan membawamu jalan-jalan menikmati dunia di luar rumah sakit pengap ini. Kupastikan kau akan banyak makan makanan enak-enak diluar sana. Bagaimana? Terdengar seru, bukan?”


Namun Luge tak menyangka, bahwa Xerro akan berbisik di depannya dan mengatakan hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.


“Terima kasih…” bisik anak itu.


Suaranya mengalun setelah setengah jam tadi hanya mengeluarkan bunyi geraman mengerikan seperti hewan buas. Senyum Luge makin merekah karena dia tahu Xerro pada akhirnya telah kembali.


Dia berhasil. Anak itu telah sepenuhnya kembali menjadi manusia. Itu membuatnya bangga pada dirinya sendiri hingga tanpa sadar air mata pula menggenang di pelupuknya.


Ah, Luge mengumpat karena dirinya ternyata bermental ayam pula.


Semua orang memperhatikannya. Hampir seluruhnya memperhatikan dirinya, ketika perlahan Xerro mulai sadar kembali pada jiwa manusianya dan berlutut karena lemas.


“Terima kasih… terima kasih, banyak…” Dia masih saja menangis mengusapi matanya yang basah. Tak peduli akan pasang mata yang terus menatapnya, namun hanya terus berterimakasih dengan begitu kelunya.


Hingga, berakhirlah dirinya terbaring sebagai efek obat penenang yang diberikan tadi padanya.



“Jadi… menurutmu, apa kita masih akan melakukan penghapusan pada ingatannya?” tanya santai salah seorang dokter pada rekan kerjanya ketika mendekat.


Asal kau tahu saja, rekan kerjanya itu adalah dokter yang sering meneliti psikis anak yang terbaring di depannya. Xerro Abrahamas. Namun diluar dugaan dokter itu malah menggeleng.


“Kau sendiri yang bilang kalau itu ilegal. Bukan begitu?”


Yang diledek pun hanya tertawa garing.


“Ah, benar juga. Kurasa, ucapanku juga belum tentu benar.” Dia menepuk-tepuk pundak kawannya itu, tanda rasa bersalah. Lantas setelahnya bibirnya membuka hanya untuk berucap, “Kupikir… hanya kau satu-satunya yang mengerti soal anak itu.”


Namun, dokter psikis itu tak merasa ucapan rekan kerjanya benar.


“Aku tak mengenalnya,” ucapnya lirih. Manik sayunya masih mengunci pada bocah berambut hitam yang terbaring di hadapannya. Sekilas ada senyum tipis menyungging di wajah lelahnya. “Bukan aku yang mengenalnya. Hanya dia yang benar-benar mengenal dirinya sendiri.”

__ADS_1


Sedangkan mendengarnya, rekannya itu mengangguk-angguk.


Namun dia terkejut ketika dokter psikis itu malah beranjak dari sana. Dia kembali melempar pertanyaan soal penghapusan ingatan itu. Sementara dokter yang ditanyai pun membalikkan tubuhnya.


“Kurasa, dia bisa belajar dari pengalamannya ini.” Jawabannya aneh. Mengundang tanda-tanya dari dokter disebelahnya.


“Jadi maksudmu… tak perlu penghapusan ingatan?”


Sedangkan dokter psikis Xerro itu menoleh. Raut mukanya terlihat heran.


“Kurasa, orang berotak sepertimu pastinya sudah tahu apa maksudnya, bukan?”


“Oh.”


Lantas setelahnya dia menjauh dari sana. Meninggalkan rekan kerjanya yang masih bengong dengan kalimatnya barusan.


Berotak? Tak biasanya dia berkata begitu. Belajar dari mana dia?


Sementara dokter psikis itu akhirnya bisa melonggarkan dasinya dan bernapas lega setelah semuanya. Dirinya melepas kaca matanya dan mengusap keningnya yang basah karena peluh. Kejadian tadi agaknya menguras banyak sekali tenaga dan keringatnya.


Namun, dokter itu justru puas karena masalah tadi tak berakhir dengan dibunuhnya anak itu sebagai jalan satu-satunya. Dia bersyukur anak itu dapat menenangkan dirinya sendiri.


Sekali lagi, dokter itu bersumpah, dia telah percaya pada orang yang tepat.


***


“Sudah bangun?”


Hingga suara bariton khas anak muda di sebelahnya mengundang Xerro untuk menolehkan kepala menatap sang empu pemilik suara. Dirinya mendapati Luge duduk menekuk lutut di sebelahnya. Menatapnya dengan tatapan santai khasnya. Ada seutas senyum mengalun di wajah teduhnya.


“Kau tidur nyenyak sekali, ngomong-ngomong. Mimpi indah, hm?” Basa-basinya sambil memainkan alang-alang yang ada digenggaman tangan kanannya. Senyum itu tak pernah lepas dari wajahnya.


Namun Xerro bahkan baru menyadari tempatnya berada saat ini.


Tanah lapang. Ini adalah markas Luge yang pernah ia perkenalkan padanya hari itu. Dan Xerro tadi tertidur di bawah rindang pepohonan yang tertanam disana.


Hawanya memang sejuk sekarang. Tak heran mengapa Xerro tertidur nyenyak sekali.


“Sudah lama kita disini?”


Sebagai jawaban, Luge menggeleng. “Entahlah. Sepertinya tidak juga. Aku juga ikut tidur disini soalnya. Kau tahu, teman? Kau pintar sekali mencari tempat nyaman untuk tidur.”


Sedangkan dibilang begitu, Xerro hanya tertawa garing mengiyakan. Sekilas dia menonjok Luge karena kejujurannya membuatnya malu pada diri sendiri.


Tapi… seperti ada yang ganjal. Xerro merasa tidak seharusnya dia disini.

__ADS_1


Sementara Luge tentunya mulai menyadari bahwa Xerro pasti akan merasakan keganjilan dengan tempatnya berada saat ini.


Awal mulanya, dia memang yang meminta untuk melakukan sandiwara kecil dengan meminta para dokter untuk membaringkan Xerro yang tertidur di tempat ini.


Sehingga ketika dia terbangun, hal pertama yang diingatnya bukan kejadian mengerikan kemarin. Semoga saja langit biru dan angin-angin yang bertiup bisa mengalihkan pikirannya.


“Kenapa?” itu Luge, yang bertanya padanya dengan raut agak khawatir. Dia sudah mengantisipasi bilamana Xerro mulai mengingat kejadian kemarin.


“Itu… hanya merasa aneh karena sepertinya kemarin aku berubah menjadi monster yang akan dibunuh. Setidaknya kau menyadarkanku sehingga semuanya jadi baik-baik saja,” ucapnya panjang lebar. Luge hanya termenung di sebelahnya.


Lantas, anak berambut kelabu itu terkekeh. “Monster?” tanyanya pura-pura tak mengerti. Xerro mengangguk.


“Maksudku… bukan benar-benar monster. Itu hanya ungkapan ketika aku berubah menjadi setengah manusia dan setengah ‘makhluk itu’… Yah, kau mungkin mengerti maksudku. Aku hampir seutuhnya… berubah menjadi ffyorg.”


Xerro hampir merasa bodoh ketika menceritakannya. Sementara Luge berusaha untuk tak berjengit ketika kupingnya mendengar jelas kata ‘ffyorg’ itu.


Benar. Dia telah bersumpah bahwa ia tak akan takut lagi dengan kawannya ini.


Sehingga Luge pun mendekati anak itu dan mendaratkan telapak tangannya pada kening anak bersurai hitam itu. Xerro sendiri tak mengerti dengan kelakuan anak di depannya ketika dia semakin mendekat, hingga Luge pun beralih menepuki pucuk kepalanya dan mulai bersuara.


“Mungkin… hanya mimpi buruk?” ujarnya. Memastikan bahwa setiap katanya dipercaya oleh Xerro. “Akhir-akhir ini kau selalu mengigaukan mimpimu, bukan? Kurasa benar. Itu hanya mimpi buruk saja.”


Luge lalu kembali duduk meringkuk di sampingnya. Dirinya memperhatikan Xerro yang sepertinya mulai percaya dengan apa yang dia ucapkan.


“Kurasa kau benar.”


Mendengar balasannya, Luge mengemban senyum lebar.


“Tentu saja. Siapa yang bilang Luge pernah salah?” Kalimatnya sombomg.


Alhasil, tonjokkan kedua pun kembali mendarat. Namun kali ini, tepat di perutnya. Luge mengaduh kesakitan, sementara Xerro sepertinya tak peduli. “Kau terlalu percaya diri.” Xerro memutar maniknya, walau dia sudah biasa dengan sifat menyebalkan anak itu.


Dia lantas terkikik ketika Luge terlihat mecucu di sebelahnya. Bibir tebalnya semakin terlihat tebal karena marah begitu. Luge jadi tampak seperti grumpy fish. Jelek sekali.


 “Hei, mukamu jelek, lho, jika marah begitu.”


Namun, tanpa Xerro duga. Luge malah dengan santai bicara, “Oh ya. Ngomong-ngomong, jidatmu tidak panas saat ku cek tadi. Itu artinya kau masih waras.”


“Hei, aku tidak gila!”


Oh, seharusnya Luge tahu ucapannya pasti akan mengundang perang dari anak di sebelahnya.


Namun apa pedulinya? Jika hal kemarin tak berakhir membebani pikiran anak ini, itu artinya dia berhasil, bukan?


Oh benar. Luge hampir saja lupa. Dia akan selalu ingat janjinya yang akan mengajak Xerro jalan-jalan keluar rumah sakit ini. Mungkin… setelah ini?

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2