
“Kau bodoh?! Itu ilegal!”
“Tapi, emosinya yang kuat bisa-bisa memicu gen ‘makhluk itu’ untuk menguasai anak ini sepenuhnya. Lihatlah, bahkan obat penenang saja tak mempan di tubuhnya lagi!”
“Kita harus memikirkan solusi untuk membuatnya stabil.”
“Mau berapa lama lagi kau berpikir?! Tidak cukupkah waktu 15 menit membiarkan emosi anak itu semakin memuncak?”
Desas desus dokter-dokter di dalam ruang sana membuat bibir Luge mencebik. Dirinya kini mendudukan diri pada kursi tunggu ketika kabar bahwa Xerro tiba-tiba mengalami komplikasi jantung mengharuskannya untuk datang pada tempat ini.
Sudah dijelaskan, bukan? Luge bertanggungjawab besar untuk apa yang terjadi pada anak itu.
Dokter-dokter itu bahkan memarahinya ketika mereka baru tahu bahwa kemarin Xerro mengalami hiperventilasi untuk pertama kalinya.
Padahal, itu bukan salah Luge. Luge sendiri saja tak mengerti mengapa Xerro sampai panik memikirkan mimpinya hari itu.
Sekilas, dirinya melongok pada kaca lebar sekadar untuk mengintip apa yang terjadi di dalam sana, dan seperti dugaannya, itu benar-benar kacau.
Perdebatan para dokter, suara bising EKG, kembang-kempis pompa napas yang terus bergerak membuat miris siapapun yang melihatnya… juga Xerro, sang pasien yang kini terbaring lemah dengan berbagai kabel merayangi tubuhnya.
Itu mengerikan. Untuk pertama kalinya Luge tinggal di rumah sakit jiwa ini, adalah pertama kali dia melihat pemandangan buruk seperti ini.
Sehingga dia langsung mengalihkan perhatiannya. Sejenak memejam. Sebelum memutuskan untuk memeluk lutut dan menyembunyikan wajahnya disana.
Jika harus jujur, bukan kemauan Luge untuk berkawan dengan anak berambut hitam itu. Semuanya hanya sandiwara semata. Dia tak pernah suka dengannya. Terlebih, dengan ‘apa’ yang hidup di tubuh anak itu, karena Xerro bukan hanya bocah biasa.
Luge mengumpat. Traumanya lagi-lagi muncul tanpa alasan.
Napas Xerro semakin memburu bersamaan dengan emosinya yang memuncak.
Nyatanya, dokter-dokter itu terlalu lama berpikir sampai mereka lalai pada pasien mereka.
Hingga jatuhlah pada titik dimana Xerro yang masih tak sadarkan diri mulai menggerakkan tangan
dan kakinya. Denyut jantungnya cepat, terlebih raut mukanya yang kian tersulut akan amarah yang masih belum jelas.
Sial, jika terlalu lama lagi, anak ini akan terbangun sebagai makhluk ganas kembali. Mimpi buruk itu tak boleh terjadi lagi.
Sehingga, sesegera mungkin dokter itu mencekal tangan dan kakinya dan segera mengunci pergerakannya.
__ADS_1
Xerro tentu memberontak. Tenaganya berbeda dengan anak seusianya. Bahkan mata yang tadi menutup itu perlahan membuka. Namun bukan mata manusia yang terlihat.
Mata Xerro menyala persis seperti mata makhluk terkutuk itu.
***
Dalam alam bawah sadar Xerro, dia tak mengerti mengapa dirinya marah. Untuk apa dirinya murka. Namun, dia merasa dirinya diperlakukan tak adil oleh orang-orang di luar sana.
Orang tuanya membencinya, bukan? Karena itulah dia diterlantarkan di tempat ini. Mendapat pengalaman menyedihkan karena hidup sendiri begini. Bahkan, tak ada lagi sup kacang merah buatan ibunya saat ulang tahunnya tiba.
Tunggu… Ibu?
Lantas, ingatannya berlabuh pada ingatan satu jam sebelum meteor itu jatuh menghancurkan sang kubah. Tepatnya, pada hari ulang tahunnya.
Dia masih ingat bagaimana semilir angin sejuk dariluar berhembus masuk ke dalam rumahnya membawa serpihan daun-daun maple. Langit senja memiliki warna yang sama dengan gugur dedaunan dari pohon-pohon di luar sana.
Sehingga, ini adalah waktu oranye-nya. Warna lembut yang Xerro sukai. Hari dengan suasana yang kebetulan sama tatkala dirinya dilahirkan ke dunia untuk pertama kalinya. Membawa kebahagiaan serta doa dari orangtuanya.
Sambil bertepuk tangan menyenandungkan lagu ulang tahun itu, Xerro ingat doa Ayah dan Ibunya untuk kehidupannya kelak.
‘Mereka ingin buah hati kecil mereka menjadi seorang pahlawan.’
“Tapi bagaimana jika setengah makhluk itu malah mengendalikan seluruhnya? Sehingga, bukannya menjadi pahlawan… bisa-bisa aku malah berubah menjadi monster.”
Xerro bukan pahlawan.
“K—kenyataannya, bukan makhluk itu yang menguasaiku, tapi a—aku yang mencoba menguasainya. Aku tak lagi punya hati manusia, dan tak akan pernah... menjadi pahlawan untuk mereka. Aku hanya akan berakhir menjadi mesin pembunuh yang akan melenyapkan semua umat manusia.”
Benar. Xerro monster. Dia bukan pahlawan seperti yang orangtuanya harapkan.
Xerro mendengus menahan tawanya. Ah, lalu apa untungnya dia hidup, bukan? Menambah beban saja.
***
Mereka semua sadar bukan akal Xerro Abrahamas yang ada disana ketika melihat mata anak itu menyala.
Tubuhnya diambil alih. Anak itu bukan lagi manusia sepenuhnya, namun nyaris menjadi setengah ffyorg. Makhluk iblis itu seutuhnya hampir mengendalikan tubuh sang empunya.
Dirinya melepas segala macam benda-benda yang menempel di tubuhnya, termasuk juga masker napasnya dan membuangnya kasar.
__ADS_1
Tak ayal pula, dokter yang mencekal lengannya dia lempar jauh hingga menimbulkan bunyi gebrakan keras.
Itu mengundang Luge yang duduk di luar ruangan untuk kembali menengok pada kaca lebar pembatas antar dirinya dan ruang operasi itu. Dan dia terkejut bukan main kala manik belonya jelas sekali melihat Xerro telah berubah disana. Ketakutannya semakin memuncak hingga Luge merasakan suhu disekitarnya mendingin. Bahkan ia mulai merasakan lemas pada kakinya.
Pikirannya melayang pada ingatannya yang lalu. Dimana anak itu berubah menjadi monster mengerikan yang ia takuti seumur hidupnya.
Luge seketika mengalami episodenya.
Kejadian ini sama seperti hari itu.
***
Berbanding terbalik dengan kejadian diluar nalarnya, Xerro hanya melamun ketika melihat semuanya. Dia tak mengerti. Mengapa semuanya kacau? Mengapa juga dia murka? Namun yang lebih mengejutkan, kejadian ini membuatnya teringat akan mimpinya disaat dia berubah menjadi seekor monster.
Seekor monster pembunuh tanpa hati.
Yang memiliki rasa haus akan jantung manusia…
Apa itu artinya, Xerro telah berubah menjadi ffyorg sepenuhnya?
***
Satu-satunya, benar-benar satu-satunya cara agar anak itu mau tenang dan diam adalah dengan menembakkannya serum pelumpuh dosis tinggi yang memang diciptakan hanya untuk melumpuhkan ffyorg semata.
Serum itu bekerja membekukan setiap organ di dalam tubuh ffyorg yang mengeras. Sehingga jika serum itu ditembakkan, maka hanya akan membuat ffyorg membeku sementara seperti mumi.
Namun, mereka tak pernah tahu bagaimana jadinya jika serum berdosis tinggi itu masuk dalam tubuh manusia yang lunak
Mungkinkah… tubuh Xerro akan hancur setelah ini?
Tatapan bimbang dokter lain itupun jatuh pada satu dokter senior mereka. Sementara sang dokter senior hanya angguk meragu. “Kurasa… menghancurkannya adalah jalan yang terbaik.”
Luge mendengarnya. Jelas mendengar ketika dokter senior berjidat lebar itu berucap pasrah bahwa mereka benar-benar akan melenyapkan Xerro. Seharusnya dia tak perlu peduli, bukan? Toh, sudah seharusnya anak seperti itu dilenyapkan.
Namun… mengapa gemuruh di dadanya terasa sesak? Seperti… tak tega membiarkannya mati sia-sia?
Luge hampir tak mengerti dirinya. Dia benar-benar tak mengerti mengapa dia malah berlari untuk masuk dalam ruang operasi itu dan melihat semuanya dengan jelas di depan matanya.
To be continue...
__ADS_1