
Xerro melihat Luge sejenak menoleh, curi-curi pandang pada anak perempuan disana; mengawasi siapa tahu anak itu sadar kalau dirinya sedang dibicarakan berdua oleh remaja laki-laki tidak sopan yang berdiri 5 meter agak jauh di depannya; yang bernaung di bawah pohon rindang sehingga batang hidup mereka saja tak terlihat karena bayangan pohon itu menutupi gelap sekali seperti langit malam.
Namun Luge menemukan anak itu tetap terdiam disana sehingga sontak ia menyeringai puas karena mengira anak itu tak menyadarinya—tanpa tahu bahwa sebenarnya anak perempuan disana tengah memasang pendengarannya untuk menguping omongan mereka. Luge terlalu naïf.
“Kuberitahu saja rumor yang sering beredar.” Lagi-lagi Luge memulai omongannya. Matanya mengerling pada Xerro menunjukan keantusiasan. “Kau harus tahu, karena ini informasi yang menarik.”
Sedangkan anak yang lebih muda hanya melirik menatapnya dengan muka datar. Dia mencoba untuk tak tertarik dengan omongannya, walau rasa penasaran itu tetap ada sehingga Xerro mengumpati otak bodohnya.
Luge mendesis. “Ada banyak alasan mengapa anak perempuan itu hilang kewarasan dan berakhir di rumah sakit jiwa ini. Namun, hanya satu yang sering dibicarakan orang-orang di luar sana.” Dia mengacungkan jari telunjuknya; membentuk angka 1. Matanya sekilas mengedar ke segala arah, sebelum kembali menatap Xerro di sebelahnya dan menyeringai. “Dan itu karena… setengah jiwanya telah mati saat Kubah Freya hancur pada hari itu.”
Sekilas Luge lihat Xerro menurunkan egonya untuk tetap bermuka datar, karena sekarang anak itu tampaknya memikirkan ucapannya. Luge berhasil.
“Masih ingat apa yang dikatakan kitab suci pada ayat pertama?” Luge bertanya, namun ia sama sekali tak butuh jawaban ketika dirinya malah melanjutkan ucapannya. “Glory, yang berarti kejayaan, keagungan, dan kemenangan; ayat itu berkisah tentang pertama kali kubahnya terbentuk untuk kemakmuran hidup manusia.”
Luge termenung kala mengingat kembali isi ayatnya. “Pada masa itu, bumi dihuni hanya oleh dua orang manusia saja, yaitu Adam dan isterinya, Hawa. Lantas Adam berdoa pada Tuhan untuk perlindungan. Sehingga sang Tuhan yang mendengar doanya memberikan sebagian kecil kekuatannya untuk membangun kubah perlindungan bagi Adam dan keluarganya. Dan itulah Kubah Freya, yang terbentuk atas ijin-Nya pada tahun pertama kehidupan, hingga tahun-tahun berlalu dan Adam melahirkan banyak sekali keturunan. Salah satunya… adalah kita.”
“Bahkan ayat itu pula menjelaskan bahwa Tuhan memberikan ruh untuk kubah itu agar dia bisa hidup lebih lama melindungi umat manusia. Ruh diambil dari sebagian kecil ruh milik manusia, sehingga manusia itu dan Kubah Freya saling terhubung; membagi ruh yang sama.”
“Untuk pertama kalinya, Tuhan memutuskan untuk memetik ruh dari seorang gadis belia yang baru saja terlahir dan menyumbangkannya pada sang kubah. Dan… kau tahu siapa nama gadis itu?”
Luge menoleh pada Xerro di sebelahnya, tiba-tiba sekali. Xerro sekilas terperanjat. “Um… Freya?” entah mengapa dia gugup, walau dia sendiri sudah tahu kisah ini sebenarnya.
__ADS_1
Kisah itu sering diperdengarkan di gereja. Dikhutbahkan berkali-kali hingga membuat penduduknya mengingat selalu bahwa Kubah Freya adalah kubah buatan Tuhan. Sementara mendengar jawaban Xerro, Luge mengangguk puas.
“Tepat,” ujarnya mantap. “Itulah asal-usulnya, dan alasan mengapa kita menyebutnya sebagai ‘Kubah Freya’ hingga sekarang.”
Luge lantas menutup mulutnya. Terdiam dengan bibir merekah senyum lebar. Dia sepertinya bangga karena bisa bercerita hal keren begitu. Kebiasaan.
Sampai senyum itu luntur ketika dia bercerita hal lainnya.
“Namun, Gadis Freya pertama tentu tak bisa berumur panjang. Itu karena setengah jiwanya disumbangkan kepada kubahnya, sehingga Gadis Freya hanya memiliki setengah dari kehidupannya. Freya meninggal di usianya yang ke-50, dan meninggalkan kubahnya tak bernyawa. Sehingga harus ada penerus setelah peninggalannya agar kubah itu tetap hidup. Maka, Tuhan pun menciptakan ramalan yang mengatakan bahwa akan ada ‘Freya’ baru yang terlahir setelah ‘Freya’ terdahulunya meninggal dunia.”
“Dan setiap anak gadis yang terlahir dengan nama ‘Freya’ akan menyumbangkan setengah ruhnya pada sang kubah. Mau ataupun tidak mau.”
Mungkin Luge merasa kasihan dengan gadis-gadis ramalan? Entah juga. Siapa yang tahu jalan pikir Luge.
Xerro mulai mengerti dengan apa yang dibahasnya; tentang Frey Aghemiya dan alasannya mengidap kejiwaan, serta ramalan soal ‘Gadis Freya’ itu. Namun, masih ada satu hal yang tak ia mengerti.
“Jadi, kau ingin bilang… kalau anak perempuan disana itu adalah gadis ramalan untuk Kubah Freya, karena namanya hampir mirip?”
Luge mengangguk mengiyakan. Sementara Xerro sepertinya masih tak mengerti.
“Tapi, Frey Aghemiya tak punya huruf ‘a’ pada nama depannya. Dia hanya Frey.”
__ADS_1
“Tepat sekali...” desis Luge parau sembari mengangguk. Manik coral nya mengerling menatap sosok gadis kecil itu jauh di depan sana, sebelum berkata pasif, “Itulah mengapa, dia adalah anak cacat.”
Sekonyong-konyong mata Xerro membola tanpa sadar kala kupingnya jelas menangkap kalimat Luge barusan. Gadis ramalan cacat? Ini baru pertama kalinya dalam sejarah.
“Para pemuka agama… juga orang-orang awam mengatakan,” Luge kembali bicara, setelah perlahan menarik napas. “Setiap gadis ramalan yang akan dilahirkan, biasanya diberi wahyu berupa nama melalui ibu yang mengandungnya. Dan nama itu mutlak dari Tuhan, sehingga orang tua si gadis ramalan tak boleh mengubahnya atau itu bisa dianggap sebagai sebuah dosa besar.”
“Gadis ramalan akan tetap bernama ‘Freya’ sama seperti terdahulunya. Namun, dari pengakuan orang terdekatnya, Ibu kandung Frey Aghemiya ternyata sengaja mengganti nama anaknya agar Frey bisa hidup lebih lama dengannya.”
Setelahnya, sunyi yang tak nyaman, karena angin pula berhenti berdesir. Menyisakan mereka yang disibukkan oleh pikiran masing-masing, tak ada lagi yang membuka pembicaraan.
Hingga, Xerro dengan berat bergumam di sampingnya. “Apa itu artinya… Ibu Frey melakukan dosa besar?”
“Amat besar.” Luge mendesis pilu. Bibir tebalnya mencebik. Dadanya panas karena tetiba terbakar emosi. “Karena apa yang dilakukannya membuat kubah itu hancur dan mati, orang-orang jadi buta akan kemanusiaan, bahkan munculnya hewan itu…” Luge menelan ludahnya kasar. Tak berani melanjutkan apa yang ia omongkan, tapi dia mencoba. Sehingga ia akhirnya menyeletuk geram.
“Dia membuat kiamat dengan kecerobohanya.” Alis Luge menukik, dengan geraham menggemeletuk di dalam dinding mulutnya yang mengatup; tak terima. “Sementara anaknya malah hidup enak disni.”
Ini adalah pertama kalinya bagi Xerro melihat Luge berekspresi sekesal itu; seemosi itu, semarah itu. Namun, seharusnya ia tak perlu heran. Kebenciannya dan orang-orang pada Frey Aghemiya ternyata didasari pada kesalahan ibu kandungnya yang menyebabkan kekacauan dimana-mana. Sepertinya, Luge cukup terpukul jika itu menyangkut soal keadilan.
Namun, Xerro justru tercengang ketika Luge tiba-tiba terkikik begitu konyolnya disebelah. Seakan ada hal yang sangat lucu dikepalanya. Dia bahkan tak peduli Xerro yang melayangkan tatapan ngeri menatapnya.
To be continue...
__ADS_1