Kehidupan Pada 1,3 Miliar Tahun Yang Lalu

Kehidupan Pada 1,3 Miliar Tahun Yang Lalu
Chapter 3


__ADS_3

Untuk memulai, dokter itu sejenak melemparinya dengan pertanyaan ringan. “Bagaimana tidurmu? Nyenyak?”


Anak itu mengangguk. “Ya… tidak buruk,” bohongnya. Lagipula menurutnya tak penting juga menceritakan mimpinya.


Sedangkan dokter tadi hanya ber-oh pendek. “Atau mungkin sebelum observasi… kau ingin makan dulu?” Dokter itu kembali melemparinya pertanyaan, sambil menunjuk senampan menu sarapan pada nakasnya yang belum tersentuh.


Anak itu tentu saja menoleh pada hal yang ditunjuk. Raut mukanya tampak terkejut.


“Kau tidak tahu sarapanmu sudah disana 1 jam yang lalu?”


Sementara yang ditanya tampak menggaruk tengkuk canggung. “Aku baru saja terbangun.”


“Begitu.” Reaksi santai dari dokter itu. Lantas setelahnya ia bercerita.


“Mereka bilang, saat menyajikan sarapanmu, mereka melihatmu tidur nyenyak sekali hingga kau mengigau dan memberontak.” Manik anak itu seketika membola, sementara dokter menyungging senyum miring. Skakmat. Kebohongannya terungkap.


“Mimpi buruk, hm?” tanya dokter itu. Masih sama santainya seperti pembicaraan awal. Anak itu sekilas tampak menggigit bibirnya. Dan ia akhirnya mengangguk.


“Coba ceritakan.” Disiapkannya bolpoin dan buku catatannya. Matanya masih menatap wajah anak itu. “Aku ingin mendengarnya.”


Anak itu mendongak setelah menunduk karena rasa malu. Mulutnya lalu membuka. “Hanya… mimpi tentang kematian… dan seperti penelitian… mungkin,” jawabnya asal.


“Bisa lebih detil lagi?”


“Itu tentang kematianku,” jelas anak itu kemudian. “Di mimpi itu aku mati karena menyelamatkan seorang gadis kecil. Penyebab kematianku bukan hanya karena menyelamatkannya, tapi karena ffyorg.”


Anak itu jelas melihat sang pria berhenti menulis. Lalu bertukar pandang dengan maniknya. “Aku mati karena menyelamatkan gadis itu dari ffyorg yang kelaparan.”


Sejenak pria itu membeku dan melamun. Entah apa yang dipikirnya. Lalu pria itu menuliskan apa yang ia dengar di buku catatannya. “Wah, kau jadi seperti pahlawan.”


Mendengar pujian—atau entahlah—itu, Xerro langsung terbahak. “Pahlawan apa yang berani sekali mati dimakan hewan itu? Pfft, bodoh sekali. Untung saja hanya mimpi.”

__ADS_1


Mendengarnya, dokter tadi hanya menggelengkan kepalanya. Heran, mungkin. “Lalu… soal yang ‘penelitian’ bagaimana?”


“Yah… kau tahu…” anak itu tampak menimang-nimang ketika akan cerita. “Seperti pada novel fiksi; orang dimasukkan dalam tabung berisi air dan seperti diteliti oleh orang-orang berjas di laboratorium.” Tampak anak itu memainkan ujung bajunya ragu. “Dan orang yang diteliti itu adalah aku.”


“Oh.” Barulah kali ini pria itu tampak takjub dengan ceritanya. Ia segera menuliskannya pada buku catatan di genggamannya. “Bagus, bagus,” gumamnya pada diri sendiri. Tapi tentu saja anak yang di depannya itu bisa mendengar.


“Tidak merasa aneh dengar cerita itu? Kukira orang berotak sepertimu akan berpikir kalau itu hal yang konyol.”


“Kurasa… orang berotak pun masih menyimpan segudang kekonyolan di otak mereka agar mereka masih bisa tetap waras. Tahu, kan? Terlalu pintar bisa membuatmu gila.”


Sementara anak yang di depannya hanya mengangguk mengiyakan saja. Peduli apa soal informasi tadi? Dia saja bosan berurusan dengan orang berotak melulu.


Contohnya, pria di depannya ini. Segeralah selesai dan keluar. Aku malas, ingin makan saja, batin anak itu.


Xerro ternyata terdiam menatapi nampan sarapannya, ada raut tidak suka disana, dan gerak-geriknya dilihat jelas oleh pria tadi. Penasaran, dia pun bertanya.


“Kau tidak suka menu hari ini?”


Xerro lantas menoleh setelah mendengar pertanyaannya.


Pria yang mendengar jawaban itu pun tertarik untuk menanyainya lebih banyak. Ia mempersiapkan buku dan bolpoinnya kembali.


“Boleh aku tahu apa makanan kesukaanmu?” dengan gaya sopan, pria itu bertanya.


Sebenarnya anak itu malas menjawabnya. Tapi tak lama ia pun mengangguk memperbolehkan pria dewasa itu tahu sedikit tentang dirinya. Lagipula, memangnya kenapa kalau pria itu tahu tentang dirinya? Toh maksud ia ada disana juga hanya untuk ditanyai pertanyaan seperti itu.


“Aku suka semua makanan, seperti sayur, buah, atau yang lainnya. Hanya saja, jika makanan itu mengandung daging, aku jadi malas memakannya... karena aku tidak suka daging,” kata anak itu tanpa ekspresi.


Ia terus saja menunduk daritadi. Sementara pria yang mendengar jawaban itu pun menuliskannya di buku catatannya.


“Lalu, buah atau sayuran apa saja yang kau suka?” pria itu bertanya lebih detil.

__ADS_1


Dan anak laki-laki di sampingnya itu membalas...


“Kalau buah, aku suka semuanya. Tapi kalau sayuran, aku hanya suka wortel, brokoli, dan kacang panjang,” masih seperti tadi, ia hanya menjawabnya dengan singkat.


Tak berniat bicara banyak. Mulutnya lelah disuruh bercetoleh panjang lebar begitu.


“Lalu, apa kau suka sayuran yang ada di menumu?” pria itu kembali bertanya.


Dan dengan sekali anggukan, anak itu menjawab sambil berkata...


“Ya, lumayan,” dengan suara lirihnya.


Pria itu mengangguk-angguk sambil menuliskan apa yang anak itu katakan barusan. Ia lalu mengakhiri tulisan itu dengan titik, menaruh bolpoin hitamnya, lalu kembali berkata soal lain pada anak itu.


“Tak kusangka ternyata kau vegetarian. Padahal diluar sana banyak orang yang sedang berusaha mencari daging untuk dimakan, tapi kau malah lebih suka makan sayuran. Kalau aku boleh tahu, memangnya kenapa kau tidak suka daging? Apa kau punya keturunan vegetarian?” dengan tersenyum tipis, pria itu bertanya.


Tapi senyumannya langsung memudar ketika anak laki-laki itu mengatakan...


“Aku tidak tahu apakah aku punya keturunan atau tidak. Tapi... satu hal yang pasti, satu hal yang membuatku tidak menyukai daging adalah... karena aku berpikir... kalau daging itu hanyalah bangkai hewan,” anak itu menekankan kata “bangkai hewan” pada perkataannya.


Ia lalu terdiam sejenak, lalu sebelum ada yang memulai pembicaraan ia kembali melanjutkan...


“Daging yang diolah dan dimasak dengan resep yang menggoda... sebenarnya hanya jasad hewan yang telah mati yang dicampur dengan bumbu-bumbu dapur. Dan jika itu dimakan, aku sama sekali tidak bisa berpikir bagaimana bangkai itu masuk ke dalam tubuhku. Mungkin, karena itulah aku tidak suka daging, karena daging hanyalah bangkai hewan yang diolah. Terlebih...” ia menggantung kalimatnya.


Dengan mata hitamnya, ia menatap sang pria. Raut wajahnya tanpa ekspresi, terasa mistis dengan obsidian kembar mengilatnya. Pria itu terdiam dengan rasa ngeri yang entah datang dari mana. Hingga anak laki-laki itu melanjutkan...


“...bangkai hewan bukan makanan kesukaanku.”


Pria itu pun menelan ludah. Entah kenapa ia takut hanya karena anak berumur 15 tahun itu mengatakan hal aneh di depannya. Sungguh konyol baginya takut akan hal itu, dan menyadarinya ia langsung tersentak. Ia lalu tertawa geli, mengakui betapa bodohnya dirinya itu.


Satu-satunya hal yang mengejutkannya ialah; ia tak pernah menyangka anak itu punya pemikiran seperti itu.

__ADS_1


“Wah, tak kusangka kau pintar berbicara rupanya.” Pria itu tersenyum lebar sambil menuliskan informasi yang menurutnya “menarik” untuk diteliti lebih lanjut. “Padahal kupikir kau hanya anak yang naïf. Aku cukup terkesan. Ternyata kau punya pemikiran yang bagus.”


To be continue...


__ADS_2