Kehidupan Pada 1,3 Miliar Tahun Yang Lalu

Kehidupan Pada 1,3 Miliar Tahun Yang Lalu
Chapter 4


__ADS_3

“Wah, tak kusangka kau pintar berbicara rupanya.” Pria itu tersenyum lebar sambil menuliskan informasi yang menurutnya “menarik” untuk diteliti lebih lanjut. “Padahal kupikir kau hanya anak yang naïf. Aku cukup terkesan. Ternyata kau punya pemikiran yang bagus.”


Setelah menuliskannya, ia menutup buku catatannya itu. Tapi sebelum beranjak pergi, ia kembali bertanya.


“Tapi, apa kau keberatan jika aku tetap memberi daging di menumu? Yah, sebenarnya itu penting... karena kau, kan...”


“Ya. Tidak masalah,” anak itu langsung saja menjawab.


Ia kembali menatap pria itu setelah kembali menatap menu makanannya lagi, lalu kembali berkata...


“Jika itu penting, aku tidak bisa menolaknya. Lagipula, kau juga perlu menelitiku, kan? Kalau kau mau melakukannya, lakukan saja,” anak itu sedikit menampakkan ekspresi.


Entah apa itu ekspresi marah atau tak peduli, mimik wajahnya tampak agak tidak jelas.


“Baiklah kalau begitu,” pria itu membalas singkat.


Setelah mendengar jawabannya, pria itu pun bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju pintu kayu disana. Tapi sebelum keluar dari ruangan, ia menoleh ke belakang.


“Oh, ya. Ngomong-ngomong siapa namamu?” pria itu bertanya.


Dan dengan perasaan agak terkejut karena tak menyangka pria itu akan mengatakan itu, ia pun menjawab...


“Xerro,” hanya dengan jawaban yang singkat.


Pria itu kembali mengangguk menanggapi jawaban anak remaja itu. Ia membuka pintu, lalu bersiap keluar dari ruangan itu.


“Baiklah, Xerro. Cukup sampai sini saja pembicaraan kita, dan kita akan bertemu lagi besok. Habiskan sarapanmu, karena nanti pukul 11 kau akan melakukan tanya-jawab di ruang observasi. Hari ini, hasil jawabanmu bagus. Kuharap kau bisa nyaman di tempat ini. Dan, aku hanya bisa bilang, semoga harimu menyenangkan,” pria itu tersenyum ramah.


Ia menutup pintu kayu itu. Meninggalkan anak remaja yang masih terus menatap nampan sarapannya.


Xerro sekilas menoleh. Tapi pria itu sudah tidak ada disana. Ruangan yang tadi agak ramai pun berubah menjadi sunyi ketika tak ada lagi yang berbicara. Dan karena tak ada yang bisa dilakukan, anak itu pun memakan sarapannya yang sebenarnya sama sekali tidak enak untuk dimakan.

__ADS_1


Sambil memakannya, Xerro memikirkan sesuatu. Ia tersenyum geli memikirkannya, tak menyangka kalau pria itu berani mengatainya seperti itu.


“Anak naif... huh?”


.


.


.


.


HASIL PENELITIAN KALI INI, PUKUL 07.18...


Hal yang diteliti: makanan dan cara bangun tidur


Kesan pada sarapan pagi ini: tidak terlalu suka. Tidak punya selera sedikitpun pada daging. Makanan kesukaan: sayuran dan buah-buahan. Buah yang disukai: semua jenis buah, sedangkan sayuran: hanya suka wortel, brokoli, dan kacang panjang. Alasan tidak suka daging: punya pemikiran kalau daging itu hanya jasad hewan yang telah mati yang dimasak dengan bumbu dapur. Ia tidak ingat punya keturunan vegetarian. Dan tidak keberatan jika daging tetap dihidangkan di dalam menunya.


Perubahan ada pola makan: masih belum terlihat


Cara bangun dari tidur: normal


Keadaan fisik setelah bangun: normal


Sedikit catatan: memimpikan tentang kematiannya dan penelitian di dalam tabung. Ingatnya kuat.


Tidak ada hal aneh yang terjadi. Hanya saja punya pemikiran aneh tentang daging. Kesan saya pada observasi kali ini: terkejut dan terkesan. Alasan: tidak percaya anak berumur 15 tahun (nama: Xerro) punya pemikiran seperti itu.


Penelitian pagi ini selesai. Berlanjut pada penelitian di ruang observasi...


***

__ADS_1


Masih di hari yang sama, agak siangan, Xerro terlihat duduk santai di atap gedung mental asylum itu—begitu ia menyebutnya, tidak salah juga sebenarnya. Meringkuk menekuk lututnya. Matanya menerawang jauh pada segerombolan orang-orang yang berebutan meminta jatah makanan. Bahkan ada yang sampai adu mulut dan cekcok segala. Tak terkecuali pula beberapa orang melakukan kekerasan.


Xerro membatin miris melihatnya. Ah, orang-orang mulai menggila rupanya.


Ia lantas mendongak. Menjatuhkan pandangan pada ujung kubah besi jauh disana. Benar. Disinilah ia sekarang, dalam kubah baru bernama ‘Odin’. Namun Kubah Odin nyatanya terlalu sesak untuk manusia sebanyak itu.


Memang semenjak bencana meteor beberapa hari lalu, rasanya tak ada lagi garis keadilan. Semuanya ingin menang sendiri. Penindasan banyak terjadi dimanapun, terutama wanita dan anak-anak. Bahkan mereka tak punya lagi rasa manusiawi dihati mereka.


Manusia kini lebih kejam daripada hewan terkutuk itu sendiri.


Anak itu hanya bungkam memperhatikan semuanya dari atas sana. Hatinya meringis, namun disatu sisi ia sepertinya harus bersyukur. Dirinya beruntung setidaknya bisa tinggal di rumah sakit jiwa ini. Makanan dan tempat tinggal tersedia gratis untuknya, walau harus ia akui makanan yang mereka sajikan disana tak pernah enak.


Tapi Xerro memang sepatutnya bersyukur karena ia adalah salah seorang anak yang beruntung sekali terpilih untuk dirawat di tempat itu—bukannya ikut terlantar dan tertindas bersama orang-orang dibawah sana, seperti salah seorang anak yang terlihat menangis karena tak dapat makanan.


Namun ditengah lamunan itu, matanya tak salah menangkap ketika ada salah seorang remaja baru keluar setelah berusaha meloloskan diri dari jepitan lautan manusia dan masuk dalam wilayah rumah sakit jiwa ini dengan membawa-bawa roti amal dari luar. Itu membuat Xerro bingung, bagaimana bisa ada sembarangan orang masuk sini?


Xerro melongok untuk mencari dimana orang tadi. Menumpu dirinya hanya dengan dua tangan yang berpijak di ujung gedung. Sembrono memang, Bahkan dia tak menyangka akan dikejutkan dengan tepukan dari bahunya, sehingga telak ia memekik dan tanpa sadar tangannya terpeleset.


Xerro sempat berpikir ia akan mati. Tapi tarikan kuat orang dibelakang membuatnya tertarik dan akhirnya ia selamat.


Napas Xerro berantakan. Sempat sekilas melongok tanah di bawah sana, namun setelahnya ia merinding bukan main.


“Bung, kau konyol sekali! Bagaimana jika kau jatuh tadi?!”


Atensinya langsung beralih ketika Xerro mendengar orang di belakangnya berbicara. Xerro menatap si empunya. Dan ia terkejut ketika menemukan orang yang menolongnya adalah anak yang menyelinap masuk tadi.


Tapi remaja itu kini lengkap dengan satu stel pakaian pasien, bukannya baju bebas seperti saat dia diluar tadi. Ada dua buah roti digendongannya. Remaja itu mengoceh soal beruntungnya Xerro karena ada remaja itu, kalau tidak bisa mampus dia jatuh. Sementara Xerro terdengar meminta maaf dengan lirih.


Anak ini berisik. Batin Xerro tanpa sadar. Penilaian pertamanya untuk remaja itu adalah buruk. Tapi setidaknya si berisik ini sudah menolongnya, bukan?


Remaja itu lalu duduk di sebelah Xerro. Berlagak tak peduli dengan topik tadi dan malah beralih membicarakan hal lain. “Ini markas rahasiaku, ngomong-ngomong. Aku terkejut ada orang datang kesini. Kurasa pintunya sudah kutulisi ‘dilarang masuk’ tadi.”

__ADS_1


Pertanyaan itu sontak membuat Xerro linglung. Oh, tentu saja, masuk ke dalam ruang pribadi orang lain? Kau lancang sekali. “Uh… itu, aku memang melihatnya, tapi sengaja masuk kesini.”


To be continue...


__ADS_2