
Deg!
…Xerro teringat mimpinya. Disana dia mengalami kematiannya ketika jantungnya dimakan makhluk itu. Tubuh Xerro gemetaran hebat. Matanya sontak terpejam karena mimpi itu masih teringat jelas sekali seperti nyata. Itu membuatnya trauma.
Luge yang merangkulnya jelas merasakan gigilan itu dari pundak anak itu. Dia sontak menoleh.
“Hei, kau tak apa?” tanyanya memastikan.
Dan terkejut ketika sorot matanya malah menangkap muka pucat dari anak yang dirangkulnya. Xerro terlihat seperti mengalami ketakutan hebat. “H—hei, kau kenapa? Xerro!”
Tanpa diduga tubuh Xerro langsung merosot karena tungkainya melemas dan tak mampu lagi menahan berat badannya. Dadanya semakin nyeri karena keterkejutan tadi. Xerro meremat bajunya, namun dia bahkan tak mengerti mengapa tubuhnya bereaksi berlebihan begini.
Keringat dingin terus merembes membasahi pelipis. Terlebih suhu disekitar yang tiba-tiba memanas seperti membakar kulitnya. Tubuhnya masih menggigil hebat. Bahkan serangan panik yang tiba-tiba itu membuat napasnya mengepul tak beraturan dan cepat.
Luge tentu saja panik di sampingnya; otaknya berputar kebingungan soal apa alasan Xerro tiba-tiba panik dan lemas. Bahkan napasnya berantakan seperti orang sekarat. Dia mengalami ‘hiperventilasi’?
Menyadarinya membuat Luge mengumpat dalam batin. Kenapa dia bisa ceroboh?
Sial!
Segera saja Luge menangkup telapak tangannya untuk menutup hidung dan mulut Xerro yang masih kesulitan bernapas. Dia panik dan gemetaran, bahkan ketika menyuruh anak itu untuk menahan napasnya sebentar; sementara tangan lainnya yang bebas segera mengeluarkan sebuah kantung kertas dari balik saku piyamanya.
Luge menyuruh Xerro untuk tenang dan mengambil napasnya dalam tangkupan kantong kertas itu. Xerro dengan baik menurut dan mengangguk lemah. Awalnya dia masih bernapas cepat. Luge mengelus-elus punggung anak itu agar tenang. Beruntungnya karena Xerro akhirnya bisa menetralkan napasnya kembali.
Setelahnya, Luge langsung menjatuhkan bokongnya pada tanah, setelah cukup lama panik dan berjongkok bahkan tak mempedulikan kakinya yang mulai kesemutan. Napasnya masih memburu setelah kepanikan tadi.
“…sudah lebih baik?” tanyanya kemudian, agak mendesis.
Xerro mengangguk. Matanya masih memejam dan bernapas teratur dibalik kantung kertasnya. Lalu setelahnya dia menjauhkan kantung itu dan bersandar lelah pada batang pohon di dekatnya. Otaknya masih memproses apa yang terjadi barusan. Itu membuatnya kebingungan.
“Kau kenapa, huh?” Iris mata Xerro bergeser memperhatikan Luge yang pula terduduk lelah di depannya. Remaja itu juga sama-sama mendesah membuang napasnya kasar. Matanya tak lepas memperhatikan Xerro yang masih betah bersandar dan tak bergerak. “Kau berhutang cerita padaku karena sudah membuatku sepanik ini.”
Xerro sejenak terpejam, sebelum kembali membuka matanya dan berkata, “Déjà vu…” desisnya. Sekilas tampak alis Luge berkerut.
“Di dalam bunker itu aku baru saja bermimpi yang hal sama seperti ini. Seperti déjà vu. Beruntungnya kau tak melanjutkan semua ucapanmu.”
“Ucapan apa?”
Xerro tampak berpikir apakah ia harus mengatakannya atau tidak. Namun dia bahkan tak bisa berkata ‘tidak’ jika Luge menagih jawabannya dengan raut kesal. “Kau bilang… ada ‘makhluk terkutuk’ itu dibawah rumah sakit ini,” dan Xerro menjelaskannya. Napasnya agak tercekat ketika dia mengucapkannya.
Sementara mata belo Luge membola. “’Makhluk terkutuk’… maksudmu—”
Kalimatnya terputus ketika Xerro langsung mengangguk mengiyakan.
“Benar. Ffyorg,” jelasnya. Dan mata lebar Luge semakin melebar.
Nyatanya, disini Luge lah yang memiliki trauma terbesar soal makhluk itu. Lihatlah, ketika Xerro hanya menyebut namanya saja, dia bahkan langsung memeluk lututnya dan menutupi kupingnya. Luge seketika paranoid.
__ADS_1
“Hentikan…” desisnya, matanya terpejam; hingga mulutnya kembali membuka hanya untuk melanjutkan, “…jangan dilanjutkan lagi.”
Lalu, hening yang pekat.
Keduanya hanya terdiam dengan pikiran masing-masing, hingga Xerro mengulurkan kantong kertas miliknya pada Luge yang masih meringkuk.
“Mau menggunakannya?” tanyanya lugu. Sifat dasar Xerro, memang. Dan itu membuat Luge terkikih pelan.
“Aku tak punya riwayat ‘hiperventilasi’ sepertimu, ngomong-ngomong,” oloknya santai. Sebelum dia melanjutkan dengan gamblang, “Dan mungkin saja aku bisa-bisa pingsan setelah menghirup bau napasmu.”
“Hei, aku tidak begitu!” Seketika Luge terbahak mendengar balasan galak dari orang di depannya.
Dia bahkan tak mempedulikan Xerro yang cemberut sambil sesekali memeriksa bau napasnya. Eww… apa memang dia sebau itu?
“Bercanda, kawan. Astaga, kau ini pemarah ya.” Luge masih terbahak tak peduli. Namun Xerro sepertinya tak begitu saja menganggap ucapan remaja itu bercandaan semata, karena lihatlah, dia saja masih cemberut seperti tadi. Xerro terlihat persis sekali seperti bulldog.
Namun setelah tawa itu menghilang, ekspresi Luge kembali melunak. Sejenak dia memanggil nama anak di depannya, lantas mengatakan bahwa dia tak perlu sebegitunya memikirkan mimpinya tadi.
“Itu hanya mimpi. Mimpi tidak nyata, Xerro. Tak usah dipikirkan,” nasihat dari Luge, dan Xerro hanya mengangguk mengiyakan. Dia baru sadar Luge menyebutnya dengan nama setelah sebelumnya dia selalu hanya berkata ‘hei, kau, kawan, bung’ andalannya.
Ada euphoria disana. Xerro sudah lama tak mendengar orang lain menyebut namanya.
Luge lantas berdiri. Sedikit membersihkan piyamanya sambil mengeluh, “Yah, menyebalkan juga rasanya dapat masalah begini. Kurasa… jalan-jalan sebentar mungkin menyenangkan.”
Xerro hampir menolak jika Luge tak tiba-tiba saja menyahut,
Oh, sungguh sial Xerro berteman dengan anak keras kepala ini.
Xerro masih saja kesal dengan sikap remaja itu. Tapi siapa bilang Luge tak menyadarinya?
Dia pastinya tahu anak itu masih menyimpan kesal padanya.
“Ngomong-ngomong, kau tahu ‘apel’?” tanyanya absurd. Alis Xerro menukik mendengar ocehan omong kosongnya. Namun Luge di depannya terlihat sumringah hingga dia menjelaskan...
“Mungkin karena memakannya, bau napasmu jadi sama seperti bau buah itu.”
“Hah?”
Xerro tak mengerti. Namun jika dipikir-pikir, bau apel itu, kan… manis?
Dia tiba-tiba kelimpungan sebab mengerti maksudnya. Malu. Sementara Luge di depannya santai sekali mengusap-usap telapak tangan bekas menutup mulut anak itu tadi dari balik tubuhnya. Dia sempat mencium baunya, ngomong-ngomong.
“Aku mungkin benar-benar akan pingsan setelah menghirupnya,” jelasnya tak masuk akal lagi. Lantas setelahnya dia menyingkir dari sana meninggalkan Xerro yang membeku ngeri di tempat.
Xerro memang benar-benar sial berkawan dengan Luge.
“Dasar idiooot!!” pekiknya pada orang tak tahu malu yang sudah jalan jauh di depannya.
__ADS_1
Sementara Luge terbahak keras sekali. Perutnya mulas lama-lama. Senang sekali rasanya mengerjai Xerro terus-terusan. Anak itu menyenangkan jika di-bully ternyata.
—
Namun, Luge setidaknya benar.
Xerro tak perlu banyak memikirkan mimpi buruknya… karena itu hanya mimpi, bukan?
Bahkan logikanya, jika Luge saja setakut itu dengan ffyorg, mengapa anak itu ingin menunjukan dan melihatnya?
Barulah kali ini Luge benar. Mimpi itu hanya mimpi semata.
Xerro mungkin memang kelelahan.
Dan setidaknya, mengikuti ajakan—atau, paksaan—Luge untuk jalan-jalan sepertinya bukan ide yang buruk.
To be continue...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Tapi, untuk apa Luge sedia kantung kertas jika dia sendiri tak punya riwayat 'hiperventilasi'?
The real to be continue...