Kehidupan Pada 1,3 Miliar Tahun Yang Lalu

Kehidupan Pada 1,3 Miliar Tahun Yang Lalu
Chapter 1


__ADS_3

Bulan ketiga, tahun 1.298.601.200 SM...


Hari itu, adalah hari dimana kubahnya hancur untuk pertama kalinya.


“Ayo cepat! Kita harus lari dari sini!!!” teriak seorang pria paruh baya pada remaja laki-laki yang sedari tadi masih memaku menatap sesuatu tak percaya.


Apa yang dilihatnya membuat jantungnya berdebar. Segerombolan ffyorg tampak dengan cepat memanjat dan melewati kubah besar itu. Mereka yang kelaparan saat ini tengah berusaha sekuat tenaga demi makanan mereka, sementara semua umat manusia berusaha berlari menghindar sambil terus memohon pada Tuhan untuk meminta perlindungan. Dipikiran anak remaja itu saat ini terbayang bagaimana jadinya kalau ia mati disaat itu juga. Mati tanpa jantung, karena makhluk terkutuk itu telah memakannya dengan puas. Melihat anak remaja itu terpaku, pria paruh baya itu pun berusaha menarik tangannya dan berlari menjauh dari sana. Tapi sayangnya, penampakan ffyorg yang barusan ia lihat membuat wajahnya memucat.


Perlahan ia berdesis.


“Kenapa?” suaranya agak bergetar.


Air mata panas mengalir dari matanya, semakin deras.


“Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa kita harus hidup di jaman terkutuk ini, KENAPA?!” anak itu tak bisa menahan tangisannya.


Ketakutannya akan kematian membuatnya murka dan ia sama sekali tak menyangka hari ini akan terjadi. Ini seperti kiamat.


Pria paruh baya—sosok ayah dari remaja itu—tahu apa yang dipikirkan bocah lelaki semata wayangnya. Langkahnya melambat karena sekelebat bayangan soal kematian Haya isterinya barusan.

__ADS_1


Ya, memang baru saja. Haya tewas ketika seekor ffyorg tanpa diduga melesat masuk ke dalam rumah mereka dan memakan habis jantung Haya. Pemandangan kematian itu bahkan tepat berada di depan mata suami dan anaknya. Setidaknya ayah sempat menutup mata anaknya. Namun pria itu yakin bocah laki-lakinya pasti masih trauma mengingatnya.


Sekarang, seharusnya mereka bersyukur masih bisa kabur dari serangan makhluk buas itu. Namun, haruskah mereka tetap bersyukur meskipun telah kehilangan sosok berharga dalam hidup mereka?


Sontak langkah pria paruh baya itu terhenti karena ia bahkan merasa tak sanggup menghadapi semuanya. Anak semata wayangnya menatapnya; menatap matanya—batin anak itu menjerit bahwa mereka masih harus berlari namun mengapa ayahnya malah berhenti? Apakah selesai sampai disini hidup mereka? Apa ayahnya lebih memilih untuk mati?


Jika pria itu ingin egois, sebenarnya iya, ia ingin mati saja dan pulang ke surga bersama isterinya. Tapi pikiran itu buyar ketika bocah laki-lakinya menyeret-nyeret tangannya ketakutan. Menyuruhnya untuk kembali berlari. Menyuruhnya untuk tak menyerah. Lantas mengapa ia memilih egois jika dirinya sendiri saja tak tega membiarkan bocah itu mati terbunuh oleh hewan terkutuk disana?


Setidaknya, pria itu masih punya setitik harapan dalam hidupnya. Yaitu anaknya. Bocah laki-laki yang telah dibesarkannya bersama selama 13 tahun tak boleh mati sia-sia. Masa depannya cerah dan panjang terlihat dari obsidian kembarnya yang selalu berbinar. Bahkan ia telah mengucapkan janji suci itu pada sang isteri bahwa mereka akan menjadikan bocah laki-laki mereka seorang pahlawan. Dan itu berarti, pria itu tak boleh menyerah jika ia masih ingin anaknya sukses, bukan?


Lantas setelah memantapkan hatinya, pria itu berlutut dan mengusap bahu bergetar anaknya. Senyum tulus dimukanya. Sekilas menganggukkan kepala dan berkata...


“Ayo, tetap hidup dan jangan menyerah,” kalimatnya. Pengawal dari sebuah pembicaraan setelah hal naas tadi terjadi. Dilihatnya mata sang anak yang bertukar pandang dengan milik sang ayah. Sesekali anak itu tersengguk karena menahan tangis. “Memang takdir kita begini. Jangan pernah menyesali semuanya. Ibumu bisa sedih disana. Mengerti?”


“Ayah yakin Kubah Odin bisa melindungi kita 1000% lebih aman daripada legenda. Ayah pernah menelitinya sendiri, dan kubah itu benar-benar kuat.”


Lantas mereka mulai kembali berlari. Pria itu dapat merasakan genggaman tangan anaknya mengerat. Anak itu ternyata memutar kepala untuk melihat para ffyorg di belakangnya, namun suara ayah menyadarkannya. “Jangan dilihat. Jangan pernah melihat ke belakang. Terus fokuskan matamu ke depan.”


Dan mereka masih tetap berlari mengikuti orang lain yang sama-sama berlari menuju tempat perlindungan kedua, yaitu Kubah Odin seperti kata sang ayah. Kubahnya memang lebih kecil dan terletak di tengah lingkupan Kubah Freya. Kubah Odin merupakan sebuah alternatif jika sewaktu-waktu Kubah Freya hancur. Dan ternyata inilah saatnya semua umat manusia pindah ke dalam kubah baru itu.

__ADS_1


Legenda dan buku sejarah sering mengatakan bahwa Kubah Odin adalah kubah Tuhan kedua dengan tingkat 5x lebih kuat daripada Kubah Freya yang telah lama melindungi manusia. Semoga saja benar dan mereka bisa hidup tenang dalam kubah baru itu, setidaknya itulah doa para manusia disana.


Anak itu tak dapat mengelak suara teriakan di belakangnya. Kepalanya terus ingin mencoba menoleh, jika ia tak ingat perintah ayahnya, namun suara-suara itu cukup mengganggunya.


Ada teriakan ketakutan, jeritan orang yang mungkin mati terbunuh di belakang, juga doa orang-orang yang meminta pertolongan pada sang Tuhan. Tapi anak itu terkejut ketika matanya malah menangkap sesuatu terbakar diatas kepalanya. Ada meteor yang jatuh lagi. Ayah yang menyadarinya segera berlari lebih cepat menghindar dan segera melompat. Beruntung karena meteor itu tak langsung mengenai mereka.


Namun, naas karena meteor itu kembali membuka celah besar pada kubahnya.


Ayah yang melihatnya langsung panik. Segera ia membantu anaknya berdiri. “Ayo lari sebelum hewan itu muncul darisana.”


Tapi suara teriakan dari belakang sontak membuat langkah anak itu terhenti. Ia menoleh dan mendapati seorang gadis kecil yang terjatuh akibat guncangan hebat dari jatuhnya meteor barusan. Gadis itu menangis. Tampak dari kakinya serpihan panas meteor itu membakar dan meninggalkan bekas luka sehingga tak mungkin anak itu berlari lagi.


“Ibu! Aku tidak bisa berlari!!!” anak itu hanya terduduk.


Dan mendengar teriakan itu, ibu dari sang gadis berbalik dan berusaha berlari menyusul anak perempuannya itu yang sudah tertinggal jauh dari tempatnya terduduk.


Tapi tak disangka, dari balik sang anak ekor ffyorg tampak melambai lemah mendekatinya diantara asap tebal bekas meteor tadi. Wajah makhluk itu juga mulai tampak, dan itu membuat ibu dari anak itu menangis ketakutan. Ia tak ingin anak satu-satunya mati, tapi apa daya, kedua lututnya terasa sangat lemas hingga tak dapat digerakkan.


Ffyorg sebesar 3 meter itu tampak sangat tergoda dengan anak kecil yang ada di depannya. Mulutnya yang lebar mengeluarkan banyak air liur, bersiap menyantap kapan saja makan malamnya yang sudah tersedia dengan indah di depan matanya.

__ADS_1


Anak laki-laki remaja itu kembali terpaku melihat makhluk terkutuk itu. Tapi bukan karena ketakutan, melainkan karena…


To be continue...


__ADS_2