
“Kamar inapku di nomor 5 jika kau bertanya! Temui aku besok kalau kau mau!”
Meski tak ada jawaban, namun Luge yakin Xerro pasti mendengarnya. Diatas sana Luge melambaikan tangannya semangat.
Sementara Xerro yang sibuk berlari turun hanya meringis mendengar teriakan Luge barusan. Ia menggeleng heran.
“Dasar Luge. Percaya diri sekali padahal baru pertama bertemu.”
Untungnya ia sampai ke kamarnya sebelum batang hidung dokter cerewet itu terlihat.
.
.
.
.
.
Trivia:
“Napasmu memburu. Mimpi buruk lagi?” tanya dokter cerewet itu sesampainya di kamar Xerro.
Tentu saja, Xerro tak dapat menyembunyikan deru napasnya yang masih memburu setelah berlari sekuat tenaga menuruni 48 anak tangga. Tapi dirinya hanya meringis.
“Bukan. Hanya sedang olahraga. Ya, olahraga siang!” lantas anak itu langsung menerapkan gestur ‘berolahraga’ yang ia maksud. Alis dokter itu naik sebelah. Olahraga siang, huh?
“Kalau begitu…” dokter itu menatap jam tangannya, “…mungkin lima menit? Kuberi kau waktu untuk mandi dan menyegarkan diri. Bau keringat bisa menganggu sesi tanya-jawab nanti.”
Dan Xerro seketika sumringah. “Baik.”
Dia melesat menuju kamar mandinya. Sekilas melihat dokter cerewet itu keluar dari kamarnya, batinnya berteriak senang. Setidaknya ada lima menit baginya untuk menghindari jadwal tanya-jawab menyebalkannya.
Nyatanya Xerro sengaja menghabiskan waktu mandinya hingga 15 menit sampai dokter itu menggedor pintu kamar mandinya seperti polisi. Sialnya lagi sesi tanya-jawab itu masih tetap berlanjut meskipun waktunya hampir habis; dan Xerro pada akhirnya memutuskan keluar dari kamar mandi atau pintu kamar mandi itu lama-lama didobrak paksa oleh dokternya.
Xerro seharusnya tahu, dokter itu cerewet dan gila disaat bersamaan.
Trivia END
***
Walau Xerro bilang kalau Luge terlalu percaya diri, namun esoknya ternyata Xerro datang juga menemui Luge.
Dirinya kini berdiri tepat di depan pintu ruang inap remaja kemarin.
Sebelumnya…
“Apa hari ini kau tidur dengan nyaman?” tanya dokter itu mengawali pembicaraan. Seperti biasanya, dia duduk pada bangku khusus dokter berhadapan dengan pasien kamar 13 itu. Xerro Abrahamas.
__ADS_1
Dan Xerro hanya mengangguk mengiyakan. Setidaknya gestur itu sudah menjelaskan semuanya. Dia tak berniat banyak bicara.
Sekilas dokter itu memandanginya. “Oh ya. Sepertinya… kau mendapatkan teman baru?”
Xerro mengangkat kepalanya. Terkejut. “Tahu darimana?”
“CCTV,” jawab dokter itu singkat, terkesan santai sekali. Sepertinya hal itu bukan masalah baginya. “Siapa namanya?”
Xerro menjawab malas. “Luge…” Tapi pupilnya lalu naik ke ujung atas matanya. “Uh…” Gesturnya berpikir.
“Aku tak ingat nama panjangnya.”
“Tak apa.” Dokter itu lalu menuliskannya di buku catatannya. Ada senyum mengukir di bibirnya. “Baguslah kalau kau sudah bertemu dengannya.”
Dilain sisi Xerro hanya menganggukkan kepala.
Hari ini adalah hari yang membosankan sebenarnya. Hanya ada satu jadwal observasi saja, lalu setelahnya Xerro terlalu banyak punya waktu luang untuk seharian.
Bahkan seperti hari-hari lainnya, dokter itu hanya mempertanyakan basa-basi semata soal perasaannya saat bangun tidur dan reaksinya pada menu sarapannya. Xerro pun hanya membalas sesuai dengan apa yang ia pikirkan di otaknya. Malas berpikir panjang.
————————————
HASIL PENELITIAN KALI INI, PUKUL 09.45...
Hal yang diteliti: cara bangun tidur dan makanan
Keadaan fisik setelah bangun: normal
Tidak ada hal aneh yang terjadi saat bangun tidur. Tidak mengalami mimpi buruk. Hari ini pun pasien terlihat lebih bugar dibanding sebelumnya.
Perubahan pada pola makan:masih belum terlihat
Tingkat kesukaan pada daging: sangat rendah/rendah/biasa saja/tinggi/sangat tinggi
Catatan: Nasi dan sayuran pada menu sarapan yang disajikan dimakan dengan baik oleh pasien, walau masih meninggalkan daging dan tak mau memakannya. Kabar baiknya, dia telah bertemu dengan ‘LUGE’ kemarin, bahkan dengan santainya menganggapnya sebagai teman baru.
Dengan ini, penelitian pagi ini selesai.
————————————
Dokter itu tersenyum simpul pada hasil observasinya. Lantas menutup buku catatan itu.
“Hari ini hasil observasimu bagus. Seperti biasanya.” Kalimat itu sudah biasa di telinga Xerro. Dia sudah bosan mendengarnya.
Setelah mengatakannya dokter itu beranjak.
“Baiklah. Cukup sampai disini saja. Terima kasih telah mengikutinya dengan baik, Xerro.”
Tampak Xerro sekilas mengangguk. “Sama-sama.” balasnya pelan.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong, hari ini jadwalmu hanya observasi saja, bukan? Kau punya banyak waktu luang seharian.” Dokter itu memutar badan hanya untuk bertanya. Sekilas ia menjeda. “Kalau boleh tahu, apa yang akan kau lakukan setelah ini?”
Xerro tampaknya berpikir. Namun jawabannya ternyata tak memuaskan. “Tidur… mungkin?”
Itu membuat alis dokter itu bertaut. Kata ‘oh’ pendek lepas dari mulutnya karena tak menyangka.
Xerro sendiri saja tak sadar dengan ucapannya. Setelahnya pun ia merasa konyol.
“Hm… begitu. Itu terserahmu.” Pundak dokter itu naik, tak peduli. Lalu setelahnya dokter itu pergi dari sana.
Nyatanya, sekarang Xerro malah pergi menemui Luge bukannya tidur sepanjang hari di dalam kamarnya. Setidaknya dia sudah mengenal Luge. Xerro memang berencana ingin menemuinya setelah observasi itu, tapi mulutnya saja malah mengatakan hal tak masuk akal tadi.
Di depan kamarnya, Xerro mengulurkan tangannya untuk mengetuk.
Tok tok!
“Ha—halo?” teriaknya, agar orang di dalam mendengar.
Tapi tak ada sautan. Jangan-jangan si Luge itu tidur lagi.
Ketukan kedua dan ketiga juga tak ada sautan. Xerro hampir menyerah, bahkan ketika ekor matanya tiba-tiba menangkap sosok asing berjalan mendekati dirinya.
Jangan-jangan, dokter cerewet itu yang datang!
Selepas ia menoleh, ternyata dugaannya salah. Orang yang punya tinggi sama dengannya itu menyengir. Itu Luge.
“Merindukanku, hm?” tanya remaja itu santai. Xerro bisa melihat satu tas kantong menyampir di bahunya. Namun atensinya beralih ketika Luge kembali bicara, “Wah, kau jadi seperti anak kucing yang mencari tuannya karena telah diberi makan enak.”
Mendengarnya membuat Xerro mendengus menahan tawanya. Bola matanya merotasi.
“Kau terlalu percaya diri.” Tonjokkan ringan di bahu Luge membuat anak itu meringis.
“Tapi setidaknya aku benar, bukan? Kau datang lagi menemuiku.”
Memang benar. Xerro mengakuinya. Luge adalah anak yang cukup menarik menurutnya, walaupun anak itu agak berisik saat bicara.
“Kukira… kau tadi dokter cerewet itu yang datang—”
“Sstt… jaga bicaramu, kawan,” Luge memotong ucapannya. Mata remaja itu mengerling sana-sini, dengan telunjuk menekan bibirnya. “Mereka mungkin saja punya penyadap di sekitar sini.”
Oh, ya. Benar juga. Xerro bahkan baru tahu mereka memasang CCTV dan memonitor setiap pergerakan pasiennya. Mungkin saja mereka juga memasang penyadap, siapa yang tahu bukan?
Lantas setelahnya Luge menarik tangan Xerro untuk bersembunyi di balik semak-semak.
Xerro tentu saja terkejut ditarik paksa begitu. Namun dugaannya salah ketika ia berpikir bahwa semak-semaknyalah tempat untuk bersembunyi. Ini gila karena Luge rupanya menyimpan rahasia juga dibalik semak-semak itu, yaitu sebuah bunker asing yang tak pernah dilihatnya disana.
Xerro takjub. Matanya melebar melihat tempatnya berpijak. Bunker itu luas.
To be continue...
__ADS_1