
Seharian ini, rasanya cukup melelahkan.
Satu-satunya hal yang terpikir di kepala Xerro adalah; dia hanya ingin merebahkan dirinya diatas kasur empuk setelah mengalami kejang—maksudnya hiperventilasi, Xerro hanya lupa namanya—yang membuatnya lelah batin dan jasmani.
Namun, dia salah karena ternyata bersantai menikmati angin begini tidak buruk juga. Malah sebaliknya, hatinya yang gusar seketika ikut bersantai pula merasakan dingin angin yang menerpa.
Hari ini udara tak terlalu panas. Angin sejuk bercampur hangat sinar matahari di siang hari berhembus mengenai mukanya. Sedikit membuatnya lega dengan melupakan kejadian barusan.
Dirinya memutari rumah sakit jiwa ini bersama Luge yang terus berceloteh memperkenalkan banyak tempat menyenangkan—ralat, membosankan—disana, seperti; kamar-kamar inap dan nama penghuninya, letak toilet dan kamar mandi di tiap sudut serta keunggulannya, kantin yang hanya menyediakan satu paket makanan hambar menyedihkan untuk pasiennya, juga… dia ternyata memperkenalkan juga markasnya yang lain.
Yaitu sebidang tanah terbuka di balik gedung. Disanalah Luge menyimpan baju bebasnya yang dikemas dalam peti kayu dan dikubur sedalam setengah meter. Baju itu hanya akan dikeluarkan jika dia ingin ikutan dalam acara amal bagi-bagi makanan di luar sana tanpa takut ketahuan.
Luge bahkan percaya diri sekali bilang kalau tak akan ada orang yang menemukannya, termasuk dokter-dokter berjidat lebar itu. Itu membuat Xerro mendengus menahan tawa karena kawannya ini jenius sekali mengolok orang.
Namun Xerro tak memuji kepintaran Luge soal idenya. Siapa yang bilang dia akan memuji otak jenius Luge karena punya ide mengubur bajunya? Xerro saja malah berpikir Luge agak bodoh karena ceroboh sekali membiarkan sekop di dekat tanah yang menggunduk. Bocah TK saja pasti tahu bahwa ada sesuatu yang dikubur di dalam sana.
Luge bilang, rumah sakit jiwa ini bukan benar-benar rumah sakit jiwa. Tempat ini sebenarnya lebih pantas disebut panti asuhan—dengan fasilitas mirip rumah sakit yang bisa mengecoh siapa saja disana—karena tempat ini nyatanya hanya menampung anak-anak yatim-piatu atau yang punya kelainan fisik dan psikis.
Sama halnya seperti Xerro yang tak punya orang tua sehingga dirinya terpilih untuk menghuni disana, atau Luge yang cacat dan kehilangan tangan kanannya, atau pasien anak-anak lain yang masing-masing memiliki kekurangan sehingga mereka sama-sama terpendam di tempat penampungan ini.
Setidaknya mereka lebih dirawat oleh dokter-dokter disana dibandingkan terlantar diluar dan diacuhkan orang-orang dewasa hanya karena mereka masih bocah. Luge bercerita sendiri bahwa kehidupan di luar rumah sakit ini benar-benar sudah kacau seperti neraka.
__ADS_1
Kejadian pahit ini terjadi setelah hancurnya Kubah Freya yang mengharuskan mereka semua meninggalkan harta mereka dan tinggal di kubah kosong ini tanpa uang dan derajat. Semua orang, yang kaya maupun miskin, diperlakukan sama seperti hewan oleh pemerintahan yang seenak jidat menjatah makanan mereka tak peduli ada yang bisa makan atau tidak.
Dengan itu, tak heran mengapa setelahnya orang-orang tak lagi memiliki rasa kemanusiaan pada sesama. Bahkan tak lagi peduli jika menjatuhkan orang yang lemah akan membuat mereka berdosa. Mereka bersikap seperti babi hanya agar bisa hidup.
Hanya untuk itu semata.
Xerro kini benar-benar mensyukuri nikmat dari Tuhan-nya. Rumah sakit di tengah kubah yang mulai hancur penghuninya ini adalah berkah. Walau sering dia menemukan keanehan di dalamnya. Seperti berteman dengan si bodoh Luge yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, juga…
Luge yang tetiba berhenti membuat Xerro berjengit. Dilihatnya manik coral mengilat Luge menatap seseorang di depan sana. Bibirnya bahkan langsung mencebik dengan alis bertaut. Xerro tak mengerti ada apa dengan anak ini, sampai akhirnya Luge bergumam setelah membuang napas kasar.
“Oh, dia keluar dari ruangannya ternyata?”
Sementara Xerro tak banyak bicara. Mulutnya senyap kala melihat objek perhatiannya.
Dia terlihat meringkuk di depan kamar inapnya seorang diri. Berjongkok hingga dagunya menempel pada lutut; tangan kanannya sibuk sekali mengorek-orek tanah di depan sandal jepitnya dengan ranting yang entah ia dapat darimana, untuk apa juga Xerro peduli—sekilas tampak seperti menggambari sesuatu, namun kenyataanya tidak juga.
Kurang kerjaan, batin Xerro. Karena gadis itu berperilaku seperti anak kecil sementara usianya saja tak bilang begitu. Stuktur tubuhnya sudah terlihat terbentuk seperti anak remaja. Antara 12 sampai 14. Xerro menimang kisaran usianya.
Benar. Memang bukan anak kecil lagi.
“Perkenalkan saja. Dia Frey Aghemiya, penghuni kamar nomor 2; bocah satu-satunya yang berjenis kelamin perempuan.” Kembali, Luge bergestur sama seperti saat dirinya memperkenalkan satu persatu nama pasien yang dirawat disana. Namun bedanya, ekspresi mukanya terlihat malas sekali untuk yang satu ini.
__ADS_1
Bahkan ucapannya kasar untuk memperkenalkannya, dia seperti membicarakan hewan. “Asal kau tahu saja, dia adalah satu-satunyabocah yang paling aneh disini, atau harus ku katakan… anak yang paling sakit jiwa?” Lantas setelahnya, Luge terkekeh. Entah apa yang lucu di otaknya.
Alis Xerro seketika menyatu seperti satu tarikan garis ketika mendengarnya. Oh, sungguh? Haruskan memperkenalkannya setidaksopan itu?
“Bicaramu tidak sopan, Luge,” ujar Xerro agak marah. Dia mencoba meluruskan, tapi anak yang diajak bicara malah memandangnya tak mengerti.
“Hei, aku membicarakannya. Kenapa kau yang malah emosi?” ucapnya santai dengan tangan tersimpan di saku celananya. Bahunya naik tanda tak acuh. Berbicara tanpa menatap orang di sampingnya, sementara bibirnya melecu. “Lagipula, bukan hanya aku yang mengatakannya, orang lain juga, kok.”
Dan mendengarnya membuat Xerro berjengit. “Jadi itu hanya kabar burung?” Lalu Luge yang mengangguk membuatnya lelah dengan semua omong kosongnya.
Oke. Xerro mengerti bahwa dari umur Luge memang lebih tua darinya. Tapi apa dia tak bisa menyaring mana yang salah atau mana yang benar?
Luge selalu memakan semua omongan orang mentah-mentah. Tak peduli pula itu hanya gosip semata. Kebiasaan.
“Kau bercanda, huh?” Bola mata Xerro memutar malas. Agak mendecih setelah lelah mendengar ocehan orang di sebelahnya.
Dia kurang suka dengan sifat Luge yang hobi sekali membicarakan orang, kalau boleh jujur. “Kau tahu, gosip itu belum tentu benar.”
“Ini bukan gosip, bung. Tapi kenyataan!” Xerro tentu tahu bahwa Luge yang keras kepala pasti akan menyolot ucapannya, sehingga dia tak perlu terkejut bahkan ketika anak itu tiba-tiba menyambar untuk menutup mulutnya.
Luge agak was-was. Pasalnya mereka tadi bicara cukup keras.
__ADS_1
Xerro melihat Luge sejenak menoleh, curi-curi pandang pada anak perempuan disana; mengawasi siapa tahu anak itu sadar kalau dirinya sedang dibicarakan berdua oleh remaja laki-laki tidak sopan yang berdiri 5 meter agak jauh di depannya; yang bernaung di bawah pohon rindang sehingga batang hidup mereka saja tak terlihat karena bayangan pohon itu menutupi gelap sekali seperti langit malam.
To be continue...