Kehidupan Pada 1,3 Miliar Tahun Yang Lalu

Kehidupan Pada 1,3 Miliar Tahun Yang Lalu
Chapter 8


__ADS_3

“Ngomong-ngomong, kau tidur seperti orang mati tadi.” Kali ini, jelas Xerro lihat ada raut khawatir di muka Luge, walau tertutup oleh kekehan tak peduli andalannya. Luge menarik napas sebelum melanjutkan. “Padahal, aku tak pernah ingat memberimu apel beracun sebelumnya.”


Alis Xerro naik. “Apa maksudmu?”


Luge sekilas terkekeh. “Kau tahu? Kau seperti ‘Putri Tidur’,” jelasnya. Masih berupa tanda tanya besar hingga ia melanjutkan, “karena kau tiba-tiba tergeletak setelah memakan habis apelnya. Kukira apel itu benar-benar beracun sampai aku mendengar suara dengkuranmu. Kau hampir membuat bocah 16 tahun ini mati jantungan, lho.”


Sontak saja mata Xerro membulat mendengarnya. “Aku benar-benar begitu?”


Luge hanya mengangguk sebagai jawaban. Sementara di sebelahnya, Xerro menggaruk tengkuknya canggung. Dia bahkan mendesiskan kata ‘maaf’ lirih sekali. Namun Luge malah dengan santai menerima. Seperti biasa, ia tak banyak mempermasalahkan hal kecil begitu.


“Kelelahan, hm?” Luge lalu bertanya; memastikan. Menoleh menatap orang yang diajaknya bicara. Xerro masih menunduk. Namun jawabannya adalah ‘tidak’ ketika anak itu menggeleng.


Xerro hanya tak mengerti. Kepalanya penuh akan ingatan mimpi buruknya barusan yang membuatnya tetiba terbangun dengan panik. Dirinya masih saja memikirkan mimpinya bahkan tak mempedulikan Luge yang mengoceh di sebelahnya.


Hanya ada satu pertanyaan yang terpikirkan. Ini adalah pertama kalinya ia bermimpi soal Luge, namun apa alasan anak itu berkata bahwa ada ffyorg di bawah rumah sakit ini di dalam mimpinya?


“Daritadi aku menunggumu tidur disini. Mungkin… sekitar dua jam? Tentu saja aku tak tega membangunkanmu karena kau tidur pulas sekali seperti anak anjing. Setidaknya menungguimu disini bukan masalah bes… uh?” Sementara Luge di sebelahnya baru menyadari bahwa orang yang diajaknya bicara sama sekali tak mendengarkannya. Xerro tampak melamun; entah apa yang dipikirnya. Lantas tangan Luge mengulur melambai di depan muka sebelum beralih mendekati pundaknya.


“Hei…” Tepukan pelan pada bahunya membuat Xerro berjengit dan tersadar dari lamunannya.


Kepalanya menoleh. Mendapati Luge yang menatapnya dengan alis layu dan kelopak mata kuyu. Xerro agak berjengit karena baru kali ini dia melihatnya dengan ekspresi begitu. Lalu dilihatnya mulut Luge kembali membuka.


“Kau banyak pikiran, ya?” Pastinya kembali.  Telapak tangan Luge mengusapi pundak kecil Xerro. Namun Xerro tak langsung menjawab. Itu membuat Luge membuang napasnya berat.


Hingga Luge lantas berdiri. Sedikit membersihkan celanannya dari debu disana. Matanya masih tak lepas dari sosok yang masih terduduk di sampingnya.


“Kurasa terlalu lama ditempat ini membuat kepalamu berat. Ayo keluar saja.” Tangannya mengulur; telapak tangannya membuka memberikan gestur mengajak pada orang di sebelah. Xerro lantas segera menerima tanpa pikir panjang.


Mereka pun memutuskan untuk kembali keluar melalui jalur yang sama seperti saat mereka masuk ke sana, yaitu semak-semak, bahkan cara mereka kembali pun sama pula; Luge berjalan di depan sementara Xerro mengikutinya di belakang. Mereka terlibat sedikit pembicaraan sambil berjalan keluar. Luge yang banyak bertanya sementara Xerro sibuk menjawab setiap pertanyaan dari anak itu.

__ADS_1


Dari balik punggung Luge, cahaya dari luar yang menerobos melalui lubang semak-semak di ujung sana terlihat jelas di mata Xerro. Itu membuatnya sedikit merindukan hangatnya sinar mentari setelah cukup lama memendam diri di dalam bunker yang dingin. Namun sayang sekali, euphoria nya akan rindu sinar mentari langsung pudar ketika Luge tiba-tiba menyeletuk,


“Jadi… kau sudah selesai dengan jadwal observasimu, dan sekarang punya waktu luang hingga sehari penuh?”


Deg!


Jantung Xerro serasa berhenti ketika mendengarnya, tapi refleks ia mengangguk. Namun Luge tak pernah tahu bahwa saat itu kepala Xerro seperti dihantam oleh batu raksasa, bahkan napasnya pula mulai memberat, karena Xerro seketika merasa déjà vu dengan keadaan ini.


Kalimat Luge sama persis seperti di mimpinya!


Bagaimana bisa?


“Apa observasinya membosankan?” Bahkan lanjutan itu juga. Napas Xerro makin tak beraturan. Pupil matanya memutar sana-sini; tak dapat memfokuskan diri. Kepalanya berdenyut sakit, bahkan tak sanggup menjawab hingga seperti yang ia duga Luge membalas sendiri ucapannya sama seperti di mimpinya. “Ah… sepertinya begitu. Terlihat jelas sekali di mukamu soalnya.”


Xerro refleks menyentuh mukanya, namun ia sadar bola matanya kini membola. Panik? Tentu saja. Dadanya nyeri karena jantungnya berdetakan abstrak seperti ingin lompat. Dan itu seperti neraka ketika Luge lagi-lagi bicara,


“Lalu apa yang akan kau lakukan seharian ini?” Dan Xerro langsung menatap horor mata Luge yang masih terus mengoceh seperti di mimpinya.


Untuk pertama kalinya Xerro bertemu anak itu dan mengeluhkan akan betapa berisiknya dia. Namun, baru kali ini ia meminta dengan sangat agar Luge berhenti bicara di dalam batinnya.


Otak Xerro terus memutar bayangan. Pertama, mengapa hal yang hanya mimpi bisa terjadi? Sementara kedua, kenapa dia bisa memprediksi masa depan? Lalu, tanpa sadar Xerro menggeleng cepat ketika bayangan terakhirnya membuat suhu tubuhnya semakin mendingin.


Apakah Luge akan terus bicara hingga dia mengatakan ada ffyorg disimpan di rumah sakit ini?


“Tidak ingin melakukan apapun?” Namun seperti yang diduga, Luge sepertinya salah mengartikan gelengan Xerro.


“Bu—bukan!” Xerro segera meluruskan, refleks yang membuatnya terkejut karena dia bahkan tanpa sadar melakukan hal yang sama seperti di mimpinya juga.


Matanya jelas menangkap Luge yang kebingungan di sebelahnya, namun Xerro langsung membalas, “A—aku hanya tidak tahu.”

__ADS_1


“Begitu...” Luge membunyikan gumaman tipis. Alisnya berkerut; seperti memikirkan sesuatu, tapi matanya masih tak lepas dari Xerro yang tampak kacau disebelahnya. Dia kemudian mendesis, “Kau sepertinya benar-benar butuh refreshing, kawan.”


Dan kalimat selanjutnya benar-benar membuat Xerro membeku.


“Bagaimana… kalau keliling rumah sakit ini?” Luge meringis, menampakkan deretan giginya tanpa malu. Dia terlihat bersemangat. “Aku yang akan jadi tour guide mu.”


Tidak!


Xerro lekas menggeleng. Dia menolaknya. Namun diluar dugaan, Luge ternyata keras kepala.


“Ey… Percayalah, kawan. Kau akan menyukainya.” Luge mendekati dan merangkul bahu Xerro. Agak kasar, hingga Xerro hampir hilang keseimbangan. Dia lantas menunjuk dirinya bangga dengan ibu jarinya. “Kau berteman dengan ahlinya. Sudah pasti aku tahu segalanya disini.”


Segalanya?



Apa ‘segalanya’ itu termasuk kebenaran bahwa memang rumah sakit ini menyimpan ffyorg di bawah tanah?


Xerro meneguk ludahnya berat sekali. Terakhir dia melihat ffyorg dengan mata kepalanya sendiri adalah ketika Kubah Freya hancur karena meteor raksasa waktu itu. Gerombolan ffyorg berdatangan dan memangsa manusia seperti tak punya hati.


Banyak darah,


Banyak teriakan ketakutan,


Banyak yang mati sia-sia.


Terlebih…


Deg!

__ADS_1


…Xerro teringat mimpinya. Disana dia mengalami kematiannya ketika jantungnya dimakan makhluk itu.  Tubuh Xerro gemetaran hebat. Matanya sontak terpejam karena mimpi itu masih teringat jelas sekali seperti nyata. Itu membuatnya trauma.


To be continue...


__ADS_2