
“Xerro Abrahamas… kau tak pernah tahu siapa yang benar-benar baik padamu. Jadi jangan percaya. Jangan mudah percaya pada siapapun!”
“Termasuk, anak di sebelahmu.”
Sontak saja obsidian keruh Xerro memejam. Kepalanya pusing.
Kalimat itu terus saja mengiang di otaknya seperti lonceng yang berisik; terputar-putar ulang, hingga sampailah pada satu titik dimana Xerro mengingat mimpinya pagi ini dengan jelas.
Hari pertama, ketika dirinya memimpikan bahwa dirinya menjelma sebagai sosok mengerikan di luar kubah sana. Entah apa alasannya Luge ada disana.
Dan hari ini, Xerro memimpikan hal yang sama. Itu mengerikan.
“Kau terlihat pucat.” Seketika Xerro menoleh ketika suara bariton lemah dari orang di sampingnya mengalun membisingkan kamarnya yang sunyi. Dirinya mendapati dokter itu sudah duduk disana; tentu dengan bolpoin dan buku catatan membosankannya.
Lagi-lagi Xerro melupakan bahwa pagi ini adalah jadwal observasinya.
“Punya masalah?” dia mencondongkan tubuhnya mendekati anak itu. Sekilas memainkan bolpoinnya sebelum berujar, “Coba ceritakan.”
Dokter itu selalu bertanya seperti orang penasaran, sudah semestinya karena itulah pekerjaannya. Benar, dia adalah dokter psikolog; yang selalu datang setiap hari untuk meneliti setiap perubahan kecil yang terjadi pada pasiennya setiap hari. Kau pastinya tahu siapa pasien yang dimaksud, bukan?
Sementara bocah pasien itu masih saja betah meringkuk di atas kasurnya. Matanya menerawang pada kaki mungilnya yang bergerak gelisah, namun dokter itu tahu bahwa pikirannya sedang tak disana. Hingga bibirnya mulai terbuka ketika dia mengatakan,
“Aku bermimpi,” ujarnya kelu, diiringi dengan desah napas lelahnya. “Itu mimpi buruk. Lagi.” Bocah itu lantas menurunkan kakinya karena ia merasa cukup kurang sopan di hadapan sang dokter. Maniknya menolak menatap mata yang kini terfokus padanya. Xerro tak banyak peduli.
“Mimpi buruk itu sama seperti observasi dua hari yang lalu.”
“Oh? Apa itu tentang kematianmu dan penelitian yang kau ceritakan hari itu?” Sayangnya, ucapan dokter itu membuahkan gelengan dari anak yang ditanyai.
__ADS_1
Sekilas ada senyum pahit mengukir di muka Xerro. “Bukan.” Dia menjeda. Sedikit bergerak tak nyaman karena merasa bersalah tak memberitahu mimpinya hari itu; Xerro hanya lupa. “Aku memang belum cerita soal yang satu ini hari itu.”
“Tak apa. Kau bisa ceritakan sekarang.” Sementara dokternya berujar santai. Raut mukanya memang tak mempermasalahkannya, itu terlihat setelah Xerro memutuskan bertemu mata dengannya.
Lantas sebelum mulai bercerita, anak itu mengambil napas dalam. “Itu adalah mimpi… ketika terjadi perubahan dalam diriku.” Dirinya menjeda. Ada keraguan ketika ia akan menjelaskan selanjutnya. Dia pikir mimpi ini konyol. “Tempatnya adalah di satu ruang kosong yang gelap. Aku dirantai, entah apa alasannya, sementara di depanku ada orang semacam dokter. Sepertimu. Dia bertanya ‘apa aku sudah tahu alasanku ditempat ini’.” Sekilas Xerro menunjuk orang di depannya dengan tatapan mata. Dokter itu masih terlihat menyimak. Alisnya menyatu; seperti mulai memikirkan ucapan tadi.
Entah apa alasannya, dokter itu merasakan déjà vu.
“Ditempat itulah aku mengalami perubahan. Tubuhku berubah. Dan aku mengatakan alasan perubahanku adalah karena ‘darah makhluk itu’ dan ‘benda itu’ masuk dalam tubuhku. Sehingga tubuhku menjadi kuat, bahkan lebih kuat dibanding manusia pada umumnya.”
“Oh.” Adalah tanpa sadar dokter itu tetiba melontarkan gumaman pendek ketika mendengarnya. Pergerakannya sekonyong-konyong terhenti. Mimik mukanya tampak mengeras. Terkejut.
Bagaimana bisa anak ini mengingatnya?
Sedangkan kelakuannya itu membuat kedua alis Xerro menukik tak mengerti. “Ada masalah?”
“Hanya terkejut dengan mimpi yang kau ceritakan. Itu aneh, kalau boleh jujur.” Diselingi dengan hela napas berat, dokter itu mencoba sebisa mungkin bergestur santai seperti biasanya
Beruntung, Xerro mulai teralihkan ketika dia berucap kembali pada dirinya. “Sama,” desisnya.
Lagi-lagi membuang muka dan termenung menatap objek tak menarik di sebelahnya.
“Jika kau saja seterkejut itu, apalagi aku yang mengalaminya sendiri?” Xerro mendengus menahan tawanya, sehingga hanya menghasilkan seutas senyum memaksa di mukanya.
Dia kembali mempertemukan mata dengan milik dokter itu. “Mimpi itu terasa seperti nyata. Menurutmu, apa itu karena aku terlalu banyak memikirkan ffyorg di luar sana?”
Xerro bertanya lugu. Senyum tanpa arti masih mengembang diantara pipinya, sementara dokter itu tak membalas apapun. Dokter itu malah mengalihkan matanya tak seperti biasanya.
__ADS_1
Dan pada akhirnya Xerro tergelak karena merasa konyol dengan jalan pikirnya. “Kurasa begitu. Karena aku bahkan sampai bermimpi akan berubah menjadi setengah manusia dan setengah ‘makhluk itu’. Bukankah itu bodoh?”
Namun, lain dari pemikiran anak ini, dokter itu punya pandangan berbeda untuk ceritanya. “Tentu saja tidak,” ucapannya mantap walau pelan. Tak ada sedikitpun keraguan kala terdengar. Sementara manik Xerro membulat tak percaya ketika kembali menoleh menatapnya.
Apa dokter ini bercanda?
“Mungkin dirimu berpikir aku bercanda. Tapi tidak. Aku serius dengan apa yang kuucapkan.” Barulah kali ini gestur santai dari dokter itu tampak. Seiring dengan senyum tipis dimukanya seperti biasa. “Itu adalah suatu keajaiban jika kau bisa berubah menjadi setengah manusia dan ‘makhluk itu’. Kau bisa jadi pahlawan jika dirimu kuat sepertinya, namun juga punya hati lembut layaknya manusia.”
“Kau akan membawa umat manusia pada kemerdekaan yang sesungguhnya. Itu adalah mimpi lama yang belum pernah terkabulkan.”
Xerro mendengus menahan tawanya. Kemerdekaan? Pahlawan katanya? “Tapi bagaimana jika setengah makhluk itu malah mengendalikan seluruhnya? Sehingga, bukannya menjadi pahlawan…”
Raut mukanya berubah sendu ketika berucap hal selanjutnya. “…bisa-bisa aku malah berubah menjadi monster. Dan monster ini akan menambah penderitaan orang banyak di luar sana. Itu akan jadi lebih buruk, bukan?” Xerro bertanya dengan begitu kelu pada dokter di hadapannya.
Tanpa sadar berperilaku seperti bocah yang takut berbuat salah. Itu membuat sang dokter merekahkan senyumnya.
Setidaknya anak ini masih punya hati. Dia bertaruh, dia percaya pada orang yang tepat.
“Maka itu pilihanmu.” Tubunya condong mendekat pada pasiennya. Sejenak bertukar pandang; Xerro terdiam ketika melihat dokter itu. Dia seperti menaruh kepercayaan padanya, entah apa alasannya.
“Kau bisa memilih menjadi pahlawan atau monster, itu tergantung pada niat dari hatimu.” Tangan lebar dokter itu menangkup pada dadanya. Masih tak menghilangkan senyum itu dari wajahnya, hingga menular karena Xerro ikut tersenyum pula.
“Lagipula, itu hanya mimpi, bukan?” Xerro bergumam pada dirinya sendiri, walau dokter itu masih mendengar jelas suaranya. Pikiran Xerro melayang pada ucapan Luge kemarin, lantas setelahnya dia mengangguk. “Mimpi itu tidak nyata. Tak mungkin aku akan berubah menjadi setengah makhluk itu pun.”
Sementara dokter itu mendengus ketika mendengarnya. “Ya, tapi kenapa tidak?” ucapnya santai, berbanding terbalik dengan pikirannya yang berkecamuk. Jika saja anak ini tahu apa alasannya di tempat ini.
To be continue...
__ADS_1