
Tatapan bimbang dokter lain itupun jatuh pada satu dokter senior mereka. Sementara sang dokter senior hanya angguk meragu. “Kurasa… menghancurkannya adalah jalan yang terbaik.”
Luge mendengarnya. Jelas mendengar ketika dokter senior berjidat lebar itu berucap pasrah bahwa mereka benar-benar akan melenyapkan Xerro. Seharusnya dia tak perlu peduli, bukan? Toh, sudah seharusnya anak seperti itu dilenyapkan.
Namun… mengapa gemuruh di dadanya terasa sesak? Seperti… tak tega membiarkannya mati sia-sia?
Luge hampir tak mengerti dirinya. Dia benar-benar tak mengerti mengapa dia malah berlari untuk masuk dalam ruang operasi itu dan melihat semuanya dengan jelas di depan matanya.
Padahal seharusnya dia pergi saja dari sana bukannya malah menantang bahaya. Luge ingin terbahak memikirkan dirinya yang malah menantang traumanya.
Untuk pertama kalinya, Luge baru menyadari bahwa dirinya benar-benar bodoh.
***
Xerro jelas melihat para polisi bersenjata mengelilinginya. Bahkan menodongkan laras dengan laser pembidik merah itu padanya, seakan Xerro memang monster ganas yang pantas untuk dibunuh.
Terlebih, dia terkejut ketika menyadari senapan yang mereka bawa adalah senjata untuk membunuh musuh abadi para manusia. Untuk Ffyorg.
Itu adalah senapan pelumpuh. Namun mengapa mereka malah menodongkannya pada manusia?
Tidakkah mereka memikirkan konsekuensi jika serum itu masuk dalam tubuh lunak manusia?
Atau… jangan bilang…
…mereka sengaja?
Xerro mendelik. Rasionya seketika tak berfungsi. Dia linglung hanya memikirkan bila sebentar lagi dia akan mati.
“Ja—jangan membunuhku…”
Xerro menggeleng di dalam akalnya. Hanya akalnya yang menolak mentah-mentah untuk mati, namun tubuhnya masih saja memberontak tanpa perintah.
Di luar nalarnya, Xerro bisa melihat bahwa dirinya masih murka dan menimbulkan banyak kekacauan. Tubuh dan akalnya kini tak sinkron. Itu membuatnya panik.
Jika terus begini, maka dia juga akan mati pada akhirnya.
***
“Dasar bodoh! Sialan tidak berotak! Jangan membunuhnya, atau akan kuadukan pada pemerintah soal tindakan ilegal yang kalian lakukan selama ini!!”
__ADS_1
Bodoh. Luge memang bodoh. Berteriak seperti orang bodoh tak peduli lagi tata krama pada orang yang lebih tua darinya.
Oh, sejak kapan Luge menegakkan tata krama pada orang-orang biadab?
Tentu saja dia langsung dicekal oleh dokter disana dan mereka menyuruhnya untuk angkat kaki dari tempat itu. Bahkan Luge sampai diseret paksa hingga dia berteriak. Tapi bukankah kau tahu sifat bawaan Luge? Benar, keras kepala!
“Xerro! Xerro kendalikan dirimu atau mau benar-benar akan dibunuh oleh mereka! Ingatlah bahwa kau masih manusia! Sadarlah bocah menyebalkan! Hei, lepaskan, sialan!”
Dia tak akan pergi sebelum mereka mendengar ocehannya. Sebelum Xerro sadar kembali sebagai manusia. Sebelum dirinya pastikan bahwa anak itu benar-benar telah aman.
Yang terpenting baginya saat ini hanyalah memastikan bahwa anak itu akan tetap bernapas. Tak lebih.
Namun, di dunia seperti neraka ini… siapa lagi yang peduli pada anak-anak?
“Bersiap untuk menembak.” Teriak salah seorang polisi sebagai pemimpin yang lainnya. Sama sekali tak menghiraukan setiap ucapan Luge. Baginya, monster di depan matanya ini memang harus dilenyapnya, secara hukum maupun tidak.
Sehingga tangan sang pemimpin itu naik. Hanya tinggal menunggu tangan itu menjatuhkan diri, maka serum pelumpuhnya akan ditembakan.
***
“A—aku tidak mau mati,” cicitnya lemah.
“Aku b—belum mau mati…”
Namun naasnya, lama-lama akal Xerro mulai dikendalikan oleh sesuatu yang mengendalikan tubuhnya saat ini. Semakin lama pula, Xerro tak lagi peduli pada rasa kemanusiaan disekitarnya.
Akalnya perlahan mati. Meski seberapa keraspun dia menolak makhluk buas itu mengendalikan pikirannya. Itu membuatnya memekik ketakutan akan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Jika di mimpi itu, Xerro berniat jahat ketika menguasainya. Kali ini, dia berharap dapat mengendalikannya untuk sesuatu yang berguna.
Dia tak begitu peduli jika bisa berbuat kebaikan atau tidak. Namun setidaknya, dia ingin sekali saja hidup sebagai orang yang ‘berguna’.
Mungkinkah, dia bisa menjadi pahlawan pada akhirnya?
Atau… dia hanya akan tetap berakhir sebagai monster?
“Jangan menyerah, Xerro!”
Pats!
__ADS_1
Mata Xerro membuka kala dia mendengar jelas bentakan seseorang; seorang bocah.
“Apa kau ingin berakhir sampai disini saja, huh?! Ingatlah, hidupmu masih panjang!”
Suara ini amat familiar di telinganya. Apakah… itu benar-benar dia?
Luge?
Xerro, dengan mata menyala, yang tengah berdiri sebagai sasaran para polisi yang mengelilinginya, sontak menghentikan seluruh pergerakannya ketika suara cempreng Luge merasuk dalam pikirannya.
Begitupun semua orang dewasa disana yang terhenyak ketika bocah monster disana tiba-tiba terdiam. Mereka tak pernah menyangka. Ini adalah suatu kemustahilan.
“Kau lupa pada roti bawang yang kuberikan hari itu?! Pada apel merah yang sampai membuatmu tertidur lelap sekali seperti ‘Putri Tidur’?! Atau dunia luar ketika kau berkata penasaran akan apa yang terjadi di luar sana?!!”
Suara Luge menggema membisingkan ruangan ketika semua orang malah terdiam memandanginya. Termasuk Xerro sekalipun. Walau mata anak itu masih menyala sama persis seperti mata makhluk terkutuk itu, namun Luge jelas merasakan bahwa Xerro yang asli lah yang sedang menatapnya saat ini.
Luge tak lagi peduli traumanya. Dia salah jika dia takut pada anak di hadapannya, karena itu sebenarnya hanya Xerro. Dia adalah Xerro Abrahamas. Anak laki-laki pertama yang Luge kenal dan jadi kawan baiknya hingga sekarang.
Lantas… apa alasan dia takut dengan teman baiknya?
Luge akan menganggap dirinya tidak waras jika dia sampai takut pada temannya. Dia bersumpah akan menjebloskan dirinya ke rumah sakit jiwa sungguhan jika dia sampai trauma kembali pada anak itu.
“Dengar. Jadilah dirimu sendiri, Xerro.” Kali ini, Luge memelankan suaranya.
Sekilas senyum itu tampak, walau hanya senyum simpul. Luge lantas melepas lengannya dari genggaman dokter yang mencekalnya tadi, sebelum kembali berkata. “Kau adalah Xerro. Xerro Abrahamas, teman baik Luge. Maka jadilah dirimu sendiri, bukannya menjadi makhluk bajingan itu!”
Xerro terhenyak bahkan ketika seruan andalan bocah berambut kelabu itu terdengar di kupingnya. Dia masih terdiam disana, namun akalnya berkecamukan.
Satu kalimat Luge terus mengiang di benaknya. Kalimat yang menggetarkan hatinya.
Jadilah dirimu sendiri?
Seketika, air mata mengalir dari manik Xerro yang mulai berubah kembali seperti semula.
Itu membuat Luge disana hanya tersenyum maklum. Jujur saja, jika keadaannya tak sedang begini, dia ingin sekali menertawai Xerro karena mentalnya ternyata cemen sekali seperti anak perempuan.
“Wah, kau ternyata benar-benar cengeng, ya? Dasar mental ayam.” Dia bahkan sempat-sempatnya melempar olokan pada kawannya, namun Xerro disana hanya sesenggukan sambil menatap matanya.
Lantas setelahnya, Luge mendekat pada anak itu. Dia awalnya tekejut karena Xerro ternyata mengalami perubahan pula pada tinggi badannya, sehingga mau tak mau Luge harus menengadah ketika menatap matanya.
__ADS_1
To be continue...