Kehidupan Pada 1,3 Miliar Tahun Yang Lalu

Kehidupan Pada 1,3 Miliar Tahun Yang Lalu
Chapter 7


__ADS_3

Xerro takjub. Matanya melebar melihat tempatnya berpijak. Bunker itu luas.


“Jangan bilang kalau tempat ini juga salah satu markas rahasiamu.”


Ditanyai begitu Luge terkikik geli.


“Memang. Tapi bukan juga, sebenarnya. Semak-semak tadi hanyalah jalan pintas menuju bunker bahan pangan simpanan milik rumah sakit jiwa ini. Tempat inilah dimana mereka selalu mengeluarkan sayuran dan beras untuk kau dan pasien lain makan. ” Luge lalu duduk nyaman, diikuti Xerro di sebelahnya.


Namun ia kembali mengoceh pada orang di sampingnya, “Tapi… jujur saja, aku masih heran kenapa mereka malah membuat makanan hambar begitu setiap harinya. Kau bisa lihat sendiri tempat ini, bukan? Persediaan bahan pangan mereka gila, hanya untuk satu rumah sakit jiwa!”


Tangan Luge memekar menggambarkan betapa banyaknya makanan disana. Sontak saja Xerro memutar pandangan. Nyatanya, memang makanan disana ada banyak sekali.


“Entahlah. Mungkin konspirasi itu memang benar. Rumah sakit jiwa ini sepertinya sengaja menimbun makanan banyak begini agar orang-orang di luar sana mati kelaparan. Dan sebagian dari mereka yang masih ingin bertahan harus bersujud-sujud agar dikasihani,” oceh Luge panjang lebar. Entah omongannya benar atau salah, tapi jika dipikir lagi, sepertinya mungkin saja.


Xerro menggeleng heran. “Wah, mereka kejam sekali.” Dia saja setuju sepertinya, dan itu membuat Luge makin bersemangat.


“Kan?! Jika benar begitu… wow, mereka benar-benar sudah tidak waras,” ucapnya final dengan dengusan tawa geli. Telunjuk kanannya melingkar-lingkar di sekitar pelipis; gestur menghina orang gila pada umumnya.


Namun, Xerro yang hanya mendengarkan terlihat gelisah daritadi. Ia tiba-tiba menyeletuk polos, “Itu… kau tidak takut mereka mendengar ucapanmu barusan?” matanya mengedar sana-sini. Mencari satu dua benda yang sedaritadi masih mengganggu pikirannya. Namun ia tak menemukannya.


“Maksudmu?” Alis Luge menukik.


Xerro sekilas menelan ludah. “CCTV… atau alat penyadap?”


Barulah Luge paham apa yang anak itu maksudkan. Dia langsung tertawa garing. “Astaga, bung. Kau paranoid sekali! Tenang saja, mereka tak akan memasangnya disini. Tak mungkin mereka memantau atau menyadap tempat ini jika yang datang hanya tikus-tikus got kelaparan.”


Itu membuat Xerro tiba-tiba merasa bodoh. Luge lalu mengacungkan gestur tangan ‘OK’ di depan muka Xerro sambil menyengir. “Percayalah. Semua markas rahasia Luge dijamin 100% sangat aman.”


Dan Xerro lagi-lagi memutar bola mata karena Luge ini benar-benar terlalu percaya diri. Ia mengoceh soal Luge yang kebanyakan bicara, tapi anak yang diolok-olok malah tak terima dan cemberut. Xerro tentu saja langsung menertawainya.


Tapi, sepertinya Luge mulai menyadari bahwa topik yang ia bahas daritadi tidak asyik.


“Ups, aku kebablasan bicara, ya. Kebiasaan.” Dia menggaruki kepalanya yang tak gatal. Membahas masalah politikus begitu rasanya terlalu aneh untuk bocah seumuran mereka. Sementara Xerro di sebelahnya santai saja bilang, “Tak apa. Lumayan, menambah informasi.”


“Kau akan cepat tua jika banyak makan informasi dewasa begitu, pastinya,” Luge mengoloknya.


Sementara orang yang diolok membalas, “Dan keningmu akan cepat keriputan jika otakmu dipenuhi konspirasi begitu.”

__ADS_1


Mendengar balasannya membuat Luge terkekeh. “Wow bung, kau sudah pandai bicara rupanya. Siapa gurumu?”


“Mm… kau?”


“Memang benar!” dan Luge terdengar puas dengan jawabannya.


Sekilas Luge merogoh tas cangklongnya. Tas itu kusam sekali, seperti barusan dicuci dengan tanah. Namun mata Xerro berbinar kala menemukan dua buah apel merah keluar dari dalamnya dan tergenggam di tangan Luge sekarang.


Don’t judge the book by it’s cover, right?


“Mau?” tawar Luge sumringah. “Ini hadiah karena kau telah menjadi murid pertamaku.”


Di lain sisi Xerro mengangguk-angguk seperti bocah. Peduli memikirkan itu pasti buah amal yang Luge dapat dari hasil menyelinap keluar, bahkan mulutnya mulai berbusa membayangkan rasa manisnya.


Lantas setelahnya mereka makan. Tak luput pula melayangkan beberapa celotehan dan candaan. Namun Xerro lebih banyak melamunkan rasa manis luar biasa dari apel itu.



“Jadi… kau sudah selesai dengan jadwal observasimu, dan sekarang punya waktu luang hingga sehari penuh?” Luge bertanya panjang lebar.


Mereka baru saja keluar dari bunker tadi setelah melahap habis apel segar mereka. Luge terlihat sibuk sekali membersihkan piyama dan rambutnya dari dedaunan liar yang menempel, begitu pula anak disebelahnya—siapa lagi jika bukan Xerro—yang langsung menoleh ketika ditanya.


“Apa observasinya membosankan?” Belum Xerro menjawab, Luge sudah lebih dulu menyaut. “Ah… sepertinya begitu. Terlihat jelas sekali di mukamu soalnya.”


“Sungguh?” dan anggukan dari Luge membuatnya malu. Memangnya sejelas itu?


“Lalu apa yang akan kau lakukan seharian ini?”


Pertanyaan itu membuat Xerro menimang. Seketika ia mengingat mulut bodohnya yang mengatakan pada si dokter cerewet bahwa ia akan tidur sehari penuh. Itu membuat Xerro langsung menggeleng merasa konyol.


Namun Luge sepertinya salah mengartikan. “Tidak ingin melakukan apapun?”


“Bu—bukan begitu.” Xerro segera meluruskan. “Aku hanya tidak tahu.”


“Begitu...” Luge membunyikan gumaman tipis. Alisnya berkerut; seperti memikirkan sesuatu. “Kau sepertinya benar-benar butuh refreshing, kawan.”


“Bagaimana… kalau keliling rumah sakit ini?”

__ADS_1


Xerro menoleh heran, sementara ia malah melihat senyum menyengir lebar dari Luge. Apa anak ini bercanda?


“Aku yang akan jadi tour guide mu.”


“Sepertinya terdengar membosankan.”


“Ey… Percayalah, kawan. Kau akan menyukainya.” Luge lantas menunjuk dirinya bangga. “Kau berteman dengan ahlinya. Sudah pasti aku tahu segalanya disini.”


Mendengarnya, Xerro menyungging senyum miring setelah mendengus menahan tawa. “Oh, ya? Atap gedung, bunker bahan pangan; lalu apa lagi tempat menarik yang ingin kau tunjukan?”


Namun, senyum miring Xerro seketika memudar ketika Luge tiba-tiba mendekat dan mendesis di kupingnya.


“Apa kau tahu mereka menyimpan ‘makhluk terkutuk’ itu disini?”


Xerro berjengit. Dia bisa merasakan Luge tersenyum diantara kalimatnya.


“’Makhluk terkutuk’…? Maksudmu…”


Luge mengangguk.


“Benar. Mereka sengaja mengurung ffyorg di bawah rumah sakit ini.”


***


Sayup, namun pasti; Xerro dapat mendengar suara orang memanggil namanya.


Mata Xerro langsung membuka ketika dirinya diguncang hebat oleh kawannya, Luge, yang duduk di sebelah. Namun bukan itu alasannya terbangun tiba-tiba. Melainkan, Xerro terkejut akan mimpi buruknya.


Tunggu, sejak kapan dia tertidur?


“Nyenyak sekali tidurmu, hm, putri tidur?” Itu Luge, yang menanyainya dengan raut tak dapat dimengerti.


Alis Xerro mengernyit. Dia memandang sekeliling. Nampaknya mereka masih saja berada di bunker rumah sakit. Sudah berapa lama mereka disana?


“Kita masih disini?” Xerro dengan lugu bertanya. Dibalas anggukan singkat dari Luge.


“Ngomong-ngomong, kau tidur seperti orang mati tadi.” Kali ini, jelas Xerro lihat ada raut khawatir di muka Luge, walau tertutup oleh kekehan tak peduli andalannya. Luge menarik napas sebelum melanjutkan. “Padahal, aku tak pernah ingat memberimu apel beracun sebelumnya.”

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2