Kekasih Yang Hilang

Kekasih Yang Hilang
Bab 1


__ADS_3

"Pokoknya mama tetap dengan pendirian mama. Kamu mama jodohkan sama anak teman mama." Suara tegas itu keluar dari mulut Zellyna Lovera, Mama dari Sivana Lovera.


"Tapi ma, aku belum siap. Aku masih harus menyelesaikan kuliah aku, ma." Sivana mencoba membantah. "Oh, soal kuliah juga mama udah atur. Pokoknya kamu cuman tau kuliah aja. Mama udah ketemu Universitas yang bagus buat kamu."


"Mama berniat mau memindahkan aku dari UI?" Sivana menatap mamanya tak percaya. Sedang, Zellyna hanya mengangguk enteng. Sivana memijat pelipisnya lelah.


"Sayang, pokoknya keputusan mama udah bulat. Titik nggak pake koma." Zellyna mengetuk jari telunjuk di atas meja, berlagak seperti hakim.


"Terserah deh. Aku ikut mama aja." Sivana menyerah.


...🌀🌀🌀...


Sementara itu, seseorang yang berbeda tengah melakukan hal yang sama dengan Sivana.


"Bun, are you serious? " Ia memijat pelipisnya.


"Bunda serius mau menjodohkan kamu dengan putri teman Bunda. Kamu tenang aja. Dia anaknya baik kok."


"Bukan itu masalahnya, bund. Bunda kan tau aku udah punya pacar. Jenny bisa ngambek ke aku kalau tau aku dah dijodohin."


"Pokoknya bunda nggak mau tau. Daripada kelamaan nunggu sih Jenny Jenny itu, mending sama yang pasti aja. Toh, cari yang di depan mata aja."


Lelaki berusia 22 tahun itu, tak tau harus berkata apa. Ia memilih mengunci mulutnya karena ia tau tak ada gunanya melawan keputusan bundanya.


"Bryan, keputusan bunda udah bulat. Kamu tunggu aja. Sebentar lagi dia akan datang ke sana."


"Bunda tutup ya teleponnya."


'Tut tut tut'


Bryan membanting ponselnya ke ranjang.


"Apa yang harus aku lakukan? Jenny pasti akan benci sama aku kalau aku nerima perjodohan ini."


Ia mengusap wajahnya kasar.


'Tring tring tring'


Bryan meraih ponsel dan membaca nama sih penelepon.


"Jenny?"


Ia menempelkan ponsel ke arah telinganya perlahan.


"Halo, honey kamu lagi ngapain?"

__ADS_1


Suara manja menyambut teleponnya. Ya, ia adalah Jenny Walms. "Aku nggak ngapa-ngapain. Cuman lagi santai aja di Rumah." Jawabnya setengah berbohong. Karena kenyataannya, Bryan sedang tidak bersantai kan? Dia bahkan sedang berusaha mengontrol emosi. Apakah itu pantas disebut 'SANTAI'?


"Udah makan belum?"


Pertanyaan yang sudah ia duga. Pertanyaan yang sepertinya sudah jadi kewajiban saat mereka menelepon. Anehnya hanya si wanita saja yang bertanya demikian tanpa ada balasan dari si pria.


Pertanyaan yang sebenarnya tidak begitu disukai oleh Bryan. Karena dirinya memang tidak suka berbasa-basi.


Ya, menurutnya Jenny adalah wanita yang terbilang cukup unik untuk kalangan wanita bule lainnya. Hal itu disebabkan, kebanyakan dari wanita bule, tak menyukai pertanyaan basa-basi.


Tapi untuk Jenny, hal itu sepertinya sudah menjadi kelebihan tersendiri untuknya. Bryan menjawab seadanya.


Dan selanjutnya, mereka tenggelam dengan kisah cinta mereka sendiri. Membicarakan apa? Entahlah. Hanya Tuhan dan mereka sendiri yang tau.


...🌀🌀🌀...


Sivana duduk di atas ranjangnya. Memang berat baginya menghadapi semua ini tanpa seorang ayah. Ia menyalakan pemantik pada rokok lalu menghisapnya. Sedetik kemudian, matanya menabrak bingkai foto yang ia taruh di atas meja di kamarnya.


Perlahan tangannya bergerak mengambil bingkai foto tersebut.


"Pa, apa harus aku melakukan semua ini? Semuanya terasa berat tanpa kehadiran papa."


Sivana mengusap sedikit bingkai tersebut.


"Papa jangan khawatir. Sivana akan selalu menjaga mama. Semoga Sivana bisa menerima semua keputusan mama ya, pa. Dan doakan Sivana agar bisa melewati semua ini."


Paginya, Sivana turun dari kamar dan menuju lantai bawah.


"Selamat pagi, sayang. Anak mama udah bangun?" Sapa Zellyna ramah.


"Selamat pagi, ma." Balas Sivana singkat. Ia duduk di meja dan mengambil beberapa peralatan makan. Ia mengikuti mamanya mengunyah makanan.


"Ma, aku penasaran, sebenarnya mama berniat mau pindahin Sivana ke Universitas mana, sih?" Tanya Sivana masih dengan makanan yang dikunyah.


"Mm, ada deh. Pokoknya nanti kalau udah mau hari H nya baru mama kasih tau."


"Kenapa nggak kasih tau aja sih, ma. Aku kan penasaran." Sivana masih berharap mamanya mau memberitahunya.


"Mama sengaja rahasiain dari kamu karena mama tau, kalau mama kasih tau sekarang, pasti kamu nolak."


Sivana tak lagi membantah. Ia tau apa yang dikatakan mamanya memang benar. Ia kemungkinan akan menolak tawaran mamanya jika diberitahu mengenai ke mana ia akan dipindahkan.


"Kapan aku berangkat?" Sivana memilih bertanya daripada membantah. Toh, percuma. Ia tidak akan menang. Mamanya sudah membuat keputusan mutlak yang pastinya tak bisa ia ganggu gugat lagi.


"Sekitar Minggu depan." Jawab Zellyna enteng.

__ADS_1


"Uhuk, uhuk." Sivana segera meminum air dengan tegukan cepat.


"Minggu depan? Ma, aku belum sempat berpisah sama teman-teman aku. Masa berangkat secepat itu?"


"Mama nggak peduli. Lagian teman kamu siapa? Paling cuman Ranny doang. Emang ada lagi teman kamu yang lain? Udah nggak usah cari alasan." Ucapan Zellyna terpaksa menyadarkan Sivana kalau ia hanya memiliki satu teman.


"Nggak bisa bulan depan aja, ma?" Sivana sedikit mencondongkan tubuhnya. Membujuk.


"Nggak bisa." Zellyna mengeluarkan kalimat terakhir yang menandakan sudah tidak ada lagi bantahan.


Sivana hanya bisa menghela napas.


...🌀🌀🌀...


"Jenny, aku bisa jelasin." Bryan merangkul tubuh Jenny, mencoba menjelaskan maksud dari kalimatnya barusan.


Ya, Jenny memang datang ke Rumah Bryan untuk sekedar melepas kangen. Tapi yang didapatkannya malah berita buruk.


"Jadi maksud kamu gimana? Tetap aja kamu nggak bisa nolak bundamu kan?" Jenny memutar tubuhnya tanda ia sedang merajuk.


"Aku udah berusaha, Jen. Tapi bundaku emang nggak pernah bisa dibantah."


"Kamu harusnya bisa lebih tegas, Bryan. Harusnya kamu bisa nolak perjodohan itu." Jenny berusaha mempengaruhi Bryan.


"Aku nggak bisa, Jen. Bagaimanapun dia bundaku. Aku nggak bisa membantahnya." Tolak Bryan.


"Apa susahnya sih menolak perjodohan itu? Oke, kalau kamu masih bersikeras menerima perjodohan itu, maka lebih baik aku yang pergi." Jenny meraih ransel dan dengan cepat keluar dari Rumah tersebut.


Bryan tak memiliki niat untuk mengejarnya. Bryan tau, Jenny tidak suka diganggu saat sedang marah. Oleh karena itu, Bryan memberikan waktu untuknya menyendiri.


Bryan mengusap rambut kasar. "Maafin aku, Jenny." Ucapnya pelan.


...🌀🌀🌀...


"Udahlah, Sivana. Kamu nggak usah sedih lagi. Kali aja emang itu yang terbaik buat kamu." Ranny menenangkan Sivana dengan kalimat-kalimat bijaknya, atau bisa dibilang sok bijak.


"Tapi aku nggak kenal cowok itu. Dan aku kan emang nggak pernah dekat sama cowok, jadi aku yakin nggak akan bisa jatuh cinta sama dia." Sejak tadi, Sivana memilih menumpahkan isi kepalanya pada sahabat karibnya, Ranny.


"Kamu yakin? Aku nggak yakin. Sedingin- dinginnya hati cewek, lama-lama pasti bisa luluh juga." Kalimat Ranny mengundang keraguan di dalam hati Sivana. Dirinya tak yakin jika bisa jatuh cinta pada seorang lelaki. Karena seumur hidup ia tak pernah merasa mencintai lelaki manapun.


Ia memang memiliki bayangan wajah lelaki dari masa lalunya. Tapi ia tidak tau apakah itu pantas disebut cinta?


Karena mereka hanya bertemu satu kali.


Sivanna berpikir dalam diam.

__ADS_1


"Akankah aku mencintai lelaki itu?"


"Dan akankah ia mencintaiku seperti papa mencintaiku?"


__ADS_2