Kekasih Yang Hilang

Kekasih Yang Hilang
Episode 13


__ADS_3

...Jam 20:00...


Keisya memainkan jari. Takut jika membayangkan dirinya pergi bersama Tony.


"Semoga Tony nggak macam-macam." Keisya terus berdoa dalam hati untuk menghilangkan kerisauannya.


'Brrm'


Keisya menyibak tirai. Ia tersenyum lega melihat Bryan yang memarkirkan mobil. Ia melihat Bryan turun dari mobil dengan menggandeng tangan seorang wanita cantik. Keisya menghilangkan senyumnya. Ia memasuki kamar dengan cepat dan menutup pintunya.


Sementara di luar,


Bryan berjalan dengan menggandeng tangan Jenny. Senyuman terus terpancar di wajah keduanya.


"Keisya ada di ruang tamu nggak ya? Semoga dia lagi di kamar." Bryan takut Jenny akan melihat gadis lain yang ia tampung di Rumahnya.


'Tok tok tok' Bryan mengetuk pintu.


"Mm, nggak ada jawaban. Berarti harusnya dia ada di kamar, kan?" Bryan masih takut Keisya tengah berada di ruang tamu.


"Honey, kok kamu ngetuk pintu? Kamu kan tinggal sendiri." Jenny menghancurkan lamunan Bryan. Bryan mengusap tengkuk salah tingkah.


"Mm, nggak. Aku cuman mau ngecek, siapa tau ada orang di dalam. Ya tau lah, jaman sekarang banyak pencuri atau orang iseng." Bryan memberikan alasan tak masuk akal. Ia melihat Jenny yang mengerutkan kening.


"Yuk, masuk!" Bryan mengajak Jenny segera masuk. Daripada perdebatan tak diinginkan malah terjadi. Ia membuka pintu perlahan.


"Syukurlah dia nggak ada di ruang tamu."


Bryan mengajak Jenny untuk duduk bersama.


'Tring tring tring'


"Kenapa selalu ada aja yang nelepon kalau aku lagi romantisan sama Jenny?"


Bryan merogoh ponsel. Ia sempat melihat nama sang penelepon di layar ponselnya.

__ADS_1


"Halo, bun."


"Halo, sayang. Apa kabar?" Suara Sellyne terdengar sedikit lebih ceria dari sebelumnya.


"Aku baik, bun. Bunda sama mama Zellyna apa kabar?" Bryan melirik Jenny yang melipat tangan tidak sabar. Ia terlihat cemberut. Bryan mengusap tangannya lembut untuk menenangkannya.


"Ya begitulah."


"Bunda ada hal yang mau dibicarakan?"


"Iya, bunda sama mama Zellyna udah bisa nyusul ke sana." Sellyne memberitahu rencananya. Bryan hanya bisa memejamkan mata.


"Ada lagi deh masalah baru. Masalahnya, kalau bunda lihat Keisya di sini gimana? Bisa-bisa, aku dipikir yang nggak-nggak lagi. Bisa-bisa, aku diomelin bunda habis-habisan." Bryan memijat pelipisnya.


"Bryan, kamu masih di sana, kan?" Suara Sellyne menyadarkan Bryan kembali dari pikirannya.


"Iya, bun. Kapan bunda ke sini?" Tanya Bryan.


"Nanti bunda kabarin lagi. Bunda sama mama Zellyna akan turun tangan langsung buat cari Sivana, kalau nunggu orang suruhan kamu kelamaan. Nggak ada yang becus kerjanya." Sellyne menggerutu.


"Emang udah nggak lockdown di sana bun?" Bryan tahu, alasan Sellyne dan Zellyna tidak bisa menyusul adalah karena pemerintah Indonesia memutuskan lockdown semua penerbangan dan perjalanan ke luar negeri.


"Honey, aku lapar. Makan, yuk!" Jenny bergelayut di lengan Bryan. Ia sengaja melakukan itu, agar Sellyne mengerti bahwa putranya kini tengah bermesra-mesraan dengan kekasihnya dan tidak ingin diganggu. Bryan menatap Jenny. Memintanya untuk sabar. Bagaimanapun, ia tidak suka bila Jenny mengganggu obrolannya dengan sang bunda.


"Siapa itu, Bryan?" Tanya Sellyne lantaran mendengar suara wanita.


"Nggak, bunda. Mm, udah dulu ya."


Setelah memutuskan sambungan telepon, Bryan menghela napas. Ia menoleh dan menatap Jenny serius.


"Sayang, aku tau kamu capek. Tapi, nggak boleh kayak gitu kalau aku lagi ngobrol sama bunda." Nasihat Bryan.


"Aku capek honey, masa setiap kita lagi berduaan, bunda kamu selalu nelepon. Sekali-kali bunda kamu ngertiin dong, kalau kamu butuh waktu berdua sama aku, dan nggak mau diganggu." Bantah Jenny.


"Nggak bisa, sayang. Bagaimanapun, dia itu bundaku. Nggak ada wanita yang lebih berharga dari dia. Lagian kan dia akan jadi bundamu juga." Bryan membela bundanya.

__ADS_1


"Jadi kamu nyalahin aku? Bagus. Salahin aku aja terus. Kayaknya kita nggak akan punya waktu berdua ya." Jenny melipat tangan di dada. Ia merasa jengkel lantaran Bryan terus menyalahkannya. Ia tidak suka. Bagaimanapun, ia ingin punya waktu berdua dengan Bryan tanpa ada seorangpun yang menggangu. Apa salahnya?


"Bukan gitu, sayang. Ya udah aku minta maaf." Bryan menggenggam tangan Jenny. "Kamu mau apa?" Bryan memakai jurus andalannya jika Jenny sedang cemberut. Hal itu, sukses mengembalikan senyum Jenny. "Aku mau..." Ia tersenyum penuh arti. Ia mengacungkan kalung yang sedang ia kenakan. "Aku mau kalung yang bagus."


"Pas banget, aku udah beliin kalung yang bagus buat Jenny." Bryan tahu, Jenny sangat menyukai kalung. Ia bahkan mempunyai koleksi kalung di Rumahnya.


"Cincinnya kapan?" Bryan iseng bertanya. "Bentar lagi, kamu sabar aja." Jenny mendekatkan wajahnya. Bryan tahu jawaban Jenny akan selalu seperti itu. Tetapi untuk Jenny, Bryan bersedia menunggu sampai kapanpun ia siap.


Bryan tak berniat memberikan langsung kalung yang ia pesan kemarin. Sebelum memberikannya, ia harus memastikan bagus atau tidaknya kalung tersebut.


"Aku pulang dulu ya, honey." Jenny berdiri dan seperti biasa memberikan pelukan perpisahannya. Bryan mengantar Jenny sampai di depan pintu. "Aku antar ya." Tawar Bryan. "Nggak usah." Tolak Jenny. "Jangan lupa kalungnya ya." Jenny mengingatkan. "Iya, sayang."


Setelah memastikan Jenny pulang, Bryan menuju kamarnya. Ia membuka laci dan merogoh sebuah benda berwarna keemasan. Bryan membawanya keluar kamar. Ia memandangi pintu kamar Keisya dan mengetuknya perlahan.


'Tok tok tok'


Keisya yang terduduk menunggu kepulangan Jenny, dengan cepat berdiri.


"Jenny udah pulang?"


Keisya membuka pintu kamar dan sedikit terkejut melihat Bryan di depan kamarnya.


"Keisya, coba kamu berbalik!" Pinta Bryan tiba-tiba. Keisya melihat senyum di wajah Bryan. Wajarlah dia barusan bertemu dengan kekasihnya.


Keisya membalikkan tubuh menuruti Bryan. Keisya merasa sebuah benda dingin ditempelkan di lehernya. Keisya menunduk. Ia terkejut melihat kalung yang dipasangkan Bryan di lehernya.



"Bagus, nggak?" Tanya Bryan masih dengan senyum di wajahnya. Keisya berbalik. Ia tersenyum senang.


"Bagus banget, kenapa Bryan tiba-tiba beliin aku kalung ya?"


"Keisya!" Bryan menyadarkan Keisya dari lamunannya. "Iya." Keisya tersadar. "Gimana bagus nggak?" Tanya Bryan lagi. Keisya mengangguk senang. "Bagus, bagus banget." Keisya memainkan kalung yang terpasang di lehernya.


"Baguslah kalau kamu suka. Berarti Jenny juga suka." Ucap Bryan. Senyum di wajah Keisya seketika pudar. "I... Ini untuk Jenny?" Tanya Keisya terbata. Ia mengacungkan kalung tersebut. "Iya, kenapa?"

__ADS_1


Keisya menggeleng cepat. Ia melepas kalung tersebut dan memberikannya pada Bryan. "Nggak, aku cuman mikir kalau kalung itu cocok banget buat Jenny." Ucap Keisya terpaksa. Ia merutuki kebodohannya sendiri yang tidak melihat huruf di kalung tersebut.


"Jelas-jelas hurufnya 'J'. Bisa-bisanya aku udah geer duluan."


__ADS_2