Kekasih Yang Hilang

Kekasih Yang Hilang
Episode 18


__ADS_3

Keisya membuka mata perlahan. "Uhuk... Uhuk."


Ia merasakan tenggorokannya gatal dan seperti tercekat.


Keisya keluar dari kamar dan berjalan mengambil air di dapur. Ia melirik Bryan yang keluar dari kamar dengan langkah terburu-buru.


Ia juga melihat Bryan yang mengangkat telepon entah dari siapa.


"Iya? Oh, besok jadi?"


"Secepat ini?"


"Ya udah, nanti Bryan siapin kamar di sini."


Keisya memperhatikan Bryan yang berbicara singkat dengan sang penelepon tanpa bisa mendengar apa yang mereka katakan. Setelah menelepon, Keisya semakin penasaran saat melihat Bryan yang memijat pelipisnya.


"Bryan habis nelepon siapa, ya? Kok kelihatan murung gitu?"


Bryan berbalik. Ia tahu setiap siang Jenny suka tiba-tiba mendatangi Rumahnya. Ia tidak mau Jenny mengetahui keberadaan Keisya.


"Yuk, ikut!" Ajaknya lebih seperti memerintah Keisya mengikutinya ke Perusahaan. Keisya hanya pasrah menuruti. Ia memasuki mobil duduk di samping Bryan.


"Bryan kenapa selalu ngajak aku, ya? Dia nggak... Ah nggak, Keisya. Jangan geer deh kamu."


Bryan mengernyit heran melihat tingkah Keisya yang menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sesampainya di Perusahaan, Bryan menuju ruangannya. Ia hendak membuka pintu, namun urung ia lakukan ketika melihat Keisya yang hanya mematung menatap pintu ruangannya.


"Kamu nggak mau ikut masuk? Nggak capek apa, nunggu di luar mulu?" Tanya Bryan menawarkan. Keisya dengan cepat menggeleng. "Ah, nggak. Nggak usah, aku tunggu di luar aja, kayak biasanya." Keisya justru merasa lebih tidak nyaman jika berada di satu ruangan bersama Bryan. Bisa kebayang, bagaimana canggungnya dia nanti?


Namun, di balik itu, ia juga merasa trauma membayangkan kejadian kemarin. Di mana ia melihat Bryan yang bermesraan dengan Jenny di depan mata kepalanya sendiri.


"Aduh, aku kenapa sih? Ya wajarlah dia mesra sama pacarnya."


"Oh, ya udah." Bryan memasuki ruangannya seorang diri.


Sementara Keisya kembali melamun. "Aku harusnya nerima tawaran dia nggak, sih? Takutnya Tony tiba-tiba datang lagi." Benar saja. Setelah ia mengucapkan itu, Tony muncul di hadapannya. Panjang umur Lo, Tony! Mari kita doakan๐Ÿคฒ


Keisya hafal betul, setiap ia menginjakkan kaki di Perusahaan ini, selalu ada Tony yang mengusiknya. Keisya sebenarnya bingung, kenapa Tony tak pernah terlihat bekerja. Ia kelihatan santai-santai saja.

__ADS_1


"Hai, Keisya! Apa kabar?" Tony menunjukkan ekspresi menjijikkannya. "Nanti malam mau ikut nongkrong lagi?" Tawar Tony yang langsung dibalas gelengan oleh Keisya.


"Ayolah, teman-teman udah pada kangen, tuh. Katanya, kok kamu nggak pernah ikut nongkrong lagi?" Keisya sedikit memelototi Tony.


"Mereka bukan temanku. Nggak usah sok akrab." Sinisnya. Ia berjalan menjauh. Berusaha untuk tak berdekatan dengan manusia Tony itu. Namun, kali ini, Tony tak lagi mengejar. Ia tersenyum menyeringai.


"Lihat aja, Keisya. Nanti juga kamu bakal nongkrong bareng kami lagi."


...๐ŸŒ€๐ŸŒ€๐ŸŒ€...


Keisya dan Bryan sampai di rumah pukul 20:30. Keisya mengikuti Bryan yang turun dengan tergesa-gesa.


"Keisya, bundaku bakal datang malam ini juga." Bryan memegang kedua bahu Keisya. "Dengar! Nanti kalau orang tuaku datang, kamu jangan sekalipun keluar dari kamar, ya. Kamu tau sendiri, aku nggak tau gimana jelasin ke mereka kalau tau ada kamu di sini."


Keisya mengangguk pelan. Ia memasuki kamar dan menguncinya.


Beberapa menit kemudian,


Bryan membuka pintu setelah mendengar ketukan dari luar. Ia menyambut bunda dan mama Zellyna yang tiba-tiba memeluknya. Ia memang pernah sekali bertemu dengan calon mertuanya itu.


"Bryan, Sivana hilang, Yan. Calon istrimu hilang." Curhat Mama Zellyna menangis di pelukan calon menantunya. Bryan mematung. Bingung harus menanggapi apa.


Bryan mempersilahkan mereka duduk di sofa ruang tamu. Ia menyiapkan dua botol minuman dan sedikit camilan.


"Bryan, apa belum ada kabar sama sekali?" Zellyna membuka suara. Bryan menggeleng pelan.


Zellyna meremas jemarinya kecewa. "Harusnya waktu itu, aku nggak maksa dia ke sini. Dia sempat nolak pas aku nyuruh ke sini. Tapi, aku terlalu keras kepala. Aku memang ibu yang bodoh." Zellyna memukul-mukul kepalanya sendiri.


"Zellyna, jangan terus-terusan nyalahin diri sendiri. Dengan kamu kayak gini, nggak akan bisa nemuin Sivana." Sellyne menahan tangan Zellyna yang terus memukul kepalanya.


"Aku nggak tau harus gimana lagi biar kita bisa nemuin Sivana." Pasrahnya. Bryan merasa iba melihatnya.


"Ma, jangan khawatir. Aku pasti akan berusaha buat bisa nemuin Sivana." Ujar Bryan yakin.


Zellyna masih terisak pilu. Sellyne melirik putranya. Meminta saran untuk meredakan kesedihan Zellyna.


Bryan menghela napas panjang. "Bun, Ma, kalian pasti capek. Istirahat dulu di kamar." Bryan mempersilahkan.


Zellyna menggeleng. "Kita nggak akan menginap. Bunda udah sewa hotel di sekitar sini. Jadi, Bunda sama mama Zellyna akan menginap di sana." Jelas Sellyne. Ia menatap sahabatnya sejenak, dan kembali beralih pada putranya.

__ADS_1


"Bryan, Bunda mau ngomong sesuatu sama kamu." Ungkapnya. Ia mengajak Bryan untuk berbicara di luar. Tak ingin mengganggu Zellyna.


Zellyna duduk sendiri di ruang tamu. Ia menghapus air matanya dan menatap seisi rumah.


Hingga matanya menangkap kamar di ujung dekat tangga. Ia berdiri perlahan. Entah, dorongan dari mana yang membuatnya sangat ingin melihat kamar itu.


Keisya kembali memegang dadanya sedih.


"Ternyata dia udah punya calon. Aku yakin, itu bukan Jenny. Mama Jenny nggak mungkin bisa bahasa Indonesia." Batinnya.


"Aku benar-benar nggak punya kesempatan." Sedihnya. Ia berusaha menahan air mata yang siap lolos dari pelupuk matanya.


Tiba-tiba, Keisya mendengar suara langkah kaki mendekati kamarnya. Ia segera bersembunyi di belakang pintu. Tak ingin keberadaannya diketahui.


Ckiit


Pintu terbuka lebar. Keisya sedikit menggeser tubuhnya. Ia menahan napas, takut akan ada yang masuk mengecek kamarnya.


Zellyna terdiam di depan kamar. Ia tak melihat siapapun di sana.


"Kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh."


Ia kembali menutup pintu dan hendak kembali duduk di sofa.


"Ma, mama ngapain di sini?" Bryan menghampiri Zellyna yang berdiri di depan pintu kamar Keisya. Ia segera menarik tangan Zellyna dan mengajaknya kembali duduk di sofa.


Ia melirik Bundanya yang masih menatapnya.


Flashback on


Sellyne menarik putranya keluar. Ia kemudian berbalik menatap putra semata wayangnya. Bryan jadi salah tingkah sendiri melihat tatapan Bundanya yang terlihat mengintimidasi.


"Bryan, Bunda minta kamu jangan sampe berani memperburuk suasana, ya." Sellyne memperingati dengan melipat tangan di dada.


Bryan mengernyit. "Maksud Bunda?"


"Bunda tau kamu udah punya pacar. Tapi, jangan pernah singgung tentang pacar kamu di depan Mama Zellyna. Apalagi, di saat hatinya sedang bersedih gini." Pinta Sellyne.


Bryan mengangguk pasrah. "Bunda tenang aja. Bryan paham situasi kok."

__ADS_1


__ADS_2