Kekasih Yang Hilang

Kekasih Yang Hilang
Episode 14


__ADS_3

"Jelas-jelas hurufnya 'J'. Bisa-bisanya aku udah geer duluan."


"Makasih ya, Keisya. Karena kamu perempuan, jadi aku minta pendapat kamu tentang kalung ini." Keisya melihat senyum di wajah Bryan yang tak kunjung pudar. Tak seperti senyumnya yang telah memudar. Bryan pamit dari kamar Keisya.


Keisya terduduk di ranjangnya. "Aduh, kenapa sih aku ini?" Keisya mengusap wajahnya.


...🌀🌀🌀...


Sebuah keluarga yang terdiri dari orang tua dan satu anak, baru saja berpindah Rumah sebulan yang lalu.


Papa dari anak itu yang merupakan gadis kecil, berprofesi sebagai Pilot. Kini papanya tengah menjalankan tugasnya sebagai Project manager.


Sang mama dan gadis kecil duduk menunggu seseorang di ruang tamu. Itulah yang selalu mereka lakukan jika menunggu papa pulang. Namun, sudah dua jam berlalu. Tidak ada tanda-tanda kepulangan sang papa. Bahkan sekedar menelepon atau mengirim pesan saja tidak. Gadis kecil menengok pada mama.


"Ma, papa kok nggak pulang-pulang?" Tanya gadis kecil mendongak. "Sebentar lagi papa pulang kok, kamu tidur aja ya. Nanti kalau papa pulang mama bangunin deh." Mama mengelus rambut putrinya menenangkan. Hari ini, papanya memang berjanji pulang dengan membawa oleh-oleh untuk putrinya berupa hadiah ulang tahun. Karena hari ini, sang putri merayakan ulang tahun yang ke-enamnya.


Gadis kecil menggeleng. "Aku nggak mau tidur, aku mau tungguin papa pulang aja." Gadis kecil bersikeras menunggu sang papa pulang.


Mata mama tak sengaja menangkap tulisan di Televisi yang dibiarkan menyala.


"Jatuhnya pesawat Jetstar, 20 orang tewas termasuk sang PM."


Mama segera menelepon seseorang. Ia menjatuhkan ponsel mengetahui kabar tak mengenakkan dari seseorang di seberang sana.


Dengan langkah cepat mama menggendong gadis kecil yang sedari tadi hanya memperhatikan mamanya. Ia memesan Taxi dan memerintahkan Taxi tersebut menuju ke suatu tempat.

__ADS_1


Sesampainya di sebuah gedung Rumah Sakit, mama segera menuju UGD. Ia memasuki bilik perawatan itu setelah diizinkan. Ia melihat seseorang terbaring tak berdaya. Mama menutup mata tak sanggup melihat sosok yang terbaring lemah itu.


Mama perlahan menarik tangan gadis kecil mendekati ranjang pasien. "Ma, papa kenapa?" Gadis kecil menarik ujung baju mama. Mama semakin terisak. Semakin tak sanggup menjawab pertanyaan gadis kecil.


Mama terkejut melihat mata papa yang perlahan terbuka. Ia melihat wajah istri dan putri satu-satunya. "Ma, jangan nangis." Larang papa. Ia beralih pada gadis kecil. "Sayang, kamu harus tumbuh jadi wanita yang kuat, yang pemberani." Ucapnya dengan suara yang amat lemah. Tangannya terulur mengusap pipi gembul putrinya.


"Mama, jagain anak kita ya." Papa menitip pesan. Mama menggeleng kuat-kuat. "Mama nggak mau. Kalau nggak ada papa gimana mama bisa sendiri? Papa harus tetap hidup ya." Pinta mama memohon.


"Mama harus tetap kuat. Biar putri kita juga kuat. Papa yakin mama wanita yang kuat." Ucapan papa menyadarkan mama. Bagaimanapun, mereka punya seorang putri. Ia harus belajar menjadi wanita yang kuat.


"Sayang, ingat pesan papa ya, Jagain mama kamu terus. Jangan terlalu membantah dia. Maaf papa nggak bisa jadi teman main kamu lagi dan nggak bisa ngajak kamu jalan-jalan lagi. Selamat ulang tahun, sayang." Ucapan itu diakhiri dengan tangan papa yang terjatuh dan mata yang terpejam. Tubuhnya benar-benar kaku. Tak ada lagi tanda untuknya membuka mata.


Dokter datang dengan cepat dan memeriksa keadaan pasien. Ia menghembuskan napas dan menggeleng. Tanpa dikatakan pun, mama sudah tahu. Ia memejamkan mata dan menggigit bibir kuat-kuat.


"PAPA!" Gadis kecil berteriak dan mengguncang-guncangkan tubuh kaku di hadapannya. Ia menangis kencang. Mama merangkul tubuhnya. Berusaha kuat. Ia berjongkok dan membalikkan tubuh putrinya.


Mama memeluk tubuh putrinya. "Sayang, kamu harus kuat. Mama yakin kamu kuat." Malam itu, mereka menghabiskan waktu lama, menangisi kepergian orang tercinta.


Di hari ulang tahun itu, bukan kebahagiaan yang menghampiri, bukan juga ucapan selamat ulang tahun sebagai hadiah. Melainkan kesedihan mendalam yang harus mereka alami.


Kasihan gadis kecil itu. Ia dipaksa menjalani hidup sebagai gadis yang kuat di usianya yang masih dini.


...~~~...


Zellyna terbangun dari tidurnya. Ia tersentak mengingat mimpinya barusan.

__ADS_1


"Udah selama ini, ternyata masih susah buat lupain kamu ya, pa."


Zellyna mengingat Alm. suaminya yang kini sudah tenang dengan kehidupannya sendiri.


"Pa, kamu udah tinggalin aku. Aku nggak mau putri kita tinggalin aku juga, pa. Aku nggak kuat." Tiba-tiba saja Zellyna terisak. Ia tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya bila tak ditemani sang putri. Zellyna jatuh terduduk di lantai.


"Astaghfirullah, Zellyna. Kamu kenapa?" Sellyne menghampiri dan membantu Zellyna kembali duduk. Ia memeluk Zellyna. Memberinya kehangatan.


"Aku kangen Sivana, Sel. Aku kangen putriku. Aku nggak tau keadaan dia gimana. Dan yang parahnya, aku nggak tau dia masih hidup atau..." Zellyna menghentikan ucapannya. Tak sanggup melanjutkan.


Sellyne memeluk erat sahabatnya. "Kita berdua sama-sama nggak tau keadaan Sivana. Tapi, kita sebagai orang tua, doakan yang terbaik buat dia. Semoga dia selalu dalam lindungan sang pencipta." Sellyne memberikan kata-kata bijak.


"Makasih ya, kamu udah selalu ada buat aku." Ucap Zellyna pelan. "Sama-sama Zellyna, bagaimanapun, Sivana putriku juga. Aku juga nggak mau sampai ada apa-apa sama dia." Memang selama beberapa hari Zellyna menghabiskan waktunya untuk bersedih, Sellyne lah yang selalu menemaninya. Bersiap mendengar semua keluh kesahnya.


...🌀🌀🌀...


Esoknya, Ranny memiliki janji untuk ketemuan dengan Tyo di Kampusnya. "Tumben ngajak aku ke sini? Kenapa?" Tanya Tyo begitu tiba dan langsung duduk di hadapan Ranny. Ia bahkan merebut minuman pesanan Ranny dan langsung meneguknya. "Eh!" Ranny hendak memprotes.


"Hehe, haus." Tyo cengengesan. Ranny mengurungkan niat untuk protes. Ia hanya menghela napas dan kembali menatap Tyo. "Yo, aku mau ke Rumah mama Zellyna, mamanya Sivana. Kamu mau ikut aku nggak?" Tawar Ranny ragu-ragu. Sebelumnya, ia tidak pernah berani mengajak pria manapun untuk menemaninya jalan.


"Kamu serius ngajak aku?" Tanya Tyo memastikan. Ranny mengangguk pelan. Takut Tyo akan menolak ajakannya. "Kenapa kamu mau ke Rumah mama sahabatmu?" Tanya Tyo lagi.


Ranny menghela napas. "Aku mau mastiin keadaan dia. Aku yakin dia lagi terpuruk banget setelah hilang kabar dari putri satu-satunya." Jelas Ranny. Tyo manggut-manggut.


"Gimana, Tyo? Kamu... Mau kan?" Ranny kembali bertanya ragu. "Mau dong. Sampai kapanpun, aku selalu bersedia jadi bodyguard kamu." Ujar Tyo dengan senyum khasnya yang mampu menghipnotis setiap gadis yang melihatnya.

__ADS_1


"Makasih, Tyo." Ucap Ranny lega. Ia menyeruput minumannya dan kembali melirik Tyo yang tengah menatapnya. Ranny tersenyum manis. Menampakkan ginsul yang semakin mempermanis wajahnya.


"Makasih, Tyo." Ranny kembali berterimakasih daripada harus tenggelam dengan tatapan Tyo yang membuat gadis manapun akan geer dibuatnya.


__ADS_2