Kekasih Yang Hilang

Kekasih Yang Hilang
Bab 10


__ADS_3

Keisya lagi-lagi berdiri menunggu Bryan di depan ruangannya. Ia merasa bingung kenapa dirinya selalu pasrah dengan apapun yang dikatakan Bryan.


"Hai nona cantik, ketemu lagi."


Keisya menoleh ke samping. Ia mengerutkan kening melihat pria di sampingnya. "Nona lupa ya? Saya Tony." Pria itu mengenalkan dirinya. Atau lebih tepatnya mengingatkan siapa dirinya pada Keisya.


"Tony?" Keisya mencoba mengingat-ingat. Apa ini efek dari penyakit Amnesianya? Sehingga ia sedikit sulit mengingat pria di sampingnya itu. "Nona yang kemarin bareng Bryan, kan?" Tony memastikan. Keisya mengangguk singkat.


"Ooh, dia yang kemarin mergokin aku ngantuk ya?" Akhirnya Keisya ingat siapa pria itu.


"Yang kemarin itu loh..." Tony masih mencoba menjelaskan. "Iya, aku udah ingat." Potong Keisya. Ia merasa risih berada lama-lama dengan pria yang bahkan baru dikenalnya.


"Di bawah ada Kantin. Kita ngobrol di sana, yuk!" Tony menarik tangan Keisya memaksa mengikutinya. Tony berjalan cepat menuju Kantin. Keisya yang tak bisa melepaskan diri dari Tony, mau tidak mau harus mengikuti langkahnya menuju Kantin.


Tony menarik kursi untuk Keisya. "Silahkan duduk, nona cantik." Tony mempersilahkan Keisya untuk duduk. Keisya duduk dengan ragu-ragu.


Tony memesan minuman untuknya. "Kamu mau pesan apa?" Tony memberikan kesempatan Keisya untuk memesan makanan atau minuman yang diinginkannya. Keisya menggeleng. Ia sebenarnya tidak ingin berlama-lama di sini. Ia takut Bryan mencarinya.


"Pesan aja. Aku yang bayar deh." Tawar Tony. Keisya kembali menggeleng. "Kamu aja yang minum. Aku nggak haus dan nggak lapar." Tolak Keisya. "Oke. Terserah kamu deh." Tony menyerah.


"Jadi, kamu kenal Bryan dari kapan?" Tony melanjutkan obrolan mereka yang sempat tertunda. "Bryan temanku." Jawab Keisya singkat. Ia tak berniat mengakrabkan diri dengan Tony.


"Benar kalian cuman sebatas teman? Kok sering bareng?" Keisya merasa terdesak. Ia berdiri dari kursi dan membungkuk hormat pada Tony. "Aku mau pulang aja, makasih atas obrolan hangatnya." Keisya berjalan hendak kembali ke tempat di mana ia menunggu Bryan.


"Nona!" Tony memanggil Keisya masih dengan posisi duduknya. "Setidaknya kasih saya nomor anda." Nada bicaranya berubah. Keisya berhenti tanpa berbalik.

__ADS_1


"Keisya!" Bryan datang dari kejauhan. Ia menghampiri Keisya. "Kamu ngapain di sini? Dari tadi aku cariin." Bryan menatap Tony yang masih mempertahankan posisi duduknya. Tony berjalan menghampiri Keisya dan Bryan. "Kalau gitu aku duluan, ya." Tony langsung pergi meninggalkan mereka melihat tatapan Bryan yang tidak bersahabat.


Bryan berpaling menatap Keisya. "Kamu ngobrolin apa sama dia?" Tanya Bryan. Keisya tak menjawab. Menurutnya ini kali pertama Bryan bertanya dengan nada penasaran seperti itu. "Aku nggak ngomongin apa-apa sama dia." Jawab Keisya pelan.


"Jangan ngobrol lagi sama dia." Bryan mengeluarkan kalimat larangannya. "Kenapa?" Tanya Keisya. Entah kenapa, ia ingin mengetahui apa alasan Bryan melarangnya mengobrol dengan Tony.


"Dia playboy." Jawab Bryan singkat.


"Bagaimana dengan kamu?" Keisya bergumam dalam hati. Tentunya hanya dalam hati. Ia tidak berani mengatakannya langsung.


"Yuk, pergi." Seperti biasa Bryan berjalan mendahului Keisya. Keisya mengikuti dari belakang. Mereka menaiki lift menuju lantai atas, ruangan Bryan.


Bryan membuka pintu ruangannya. Sedangkan Keisya kembali duduk menunggu Bryan. "Ngapain kamu di situ? Masuk aja sini!" Keisya berpikir ia salah dengar. "Ayo masuk! Jangan membuang waktuku." Keisya mengikuti Bryan. Ia berhenti di depan Bryan dan menatap pintu yang sempit disebabkan Bryan yang berdiri di samping pintu. Mempersempit ruang bagi Keisya untuk lewat.


Ia mengalihkan tatapannya. Saat itulah Bryan menangkap sosok yang ia kenali. Sosok yang saat ini tak ia harapkan ada di sini. Bryan menarik Keisya masuk dengan cepat. Sedangkan, ia memilih menyambut wanita yang kini berjalan semakin dekat ke arahnya.


"Hai, honey. Kamu ke mana aja? Aku telepon kok nggak diangkat?" Jenny memberikan Bryan pelukan hangat. "Aku sibuk, sayang." Bryan membalas pelukan Jenny.


"Kamu ngapain di pintu? Aku masuk ya." Jenny hendak menerobos masuk. Bryan dengan cepat menghalanginya masuk. "Eh, jangan." Larang Bryan. "Ruangan aku lagi berantakan." Bryan memberikan alasan tak masuk akal. Jenny melihat ruangan Bryan dengan bingung.


"Nggak kok, rapi-rapi aja." Ujar Jenny. "Mm, sebenarnya aku lapar. Kita makan di Kantin, yuk!" Ajak Bryan. Ia merangkul Jenny menuju Kantin. Jenny tersenyum senang. "Yuk!"


Keisya terdiam di balik pintu. Bryan memang menariknya sembunyi di balik pintu. Oleh karena itu, ia bisa mendengar semuanya dengan sangat jelas.


"Sampai kapan kamu sembunyiin aku, Bryan? Dan sampai kapan aku akan terus menjadi penghalang hubungan kalian?"

__ADS_1


Keisya menghapus air matanya yang jatuh tanpa diundang. Ia sendiri tidak tahu kenapa.


"Maafin aku karena udah jadi penghalang bagi hubungan kalian."


...🌀🌀🌀...


"Hai, Ranny!" Sapa seseorang dari belakangnya. Ranny yang tengah mengaduk-aduk minumannya tidak jelas menengok ke arah sumber suara.


"Tyo?" Senyum Ranny merekah. Lumayanlah ada teman yang bisa diajak mengobrol, pikirnya. "Duduk sini!" Ranny begitu antusias mengajak Tyo duduk menemaninya mengobrol. Tyo, pria yang dikenalnya di Cafe kemarin. Saat itu, Tyo tahu bahwa Ranny berkuliah di Universitas yang sama dengannya. Hanya saja berbeda Fakultas. Namun, untuk gadis yang tak begitu antusias berkuliah seperti Ranny, tidak tahu-menahu tentang adanya cowok tampan seperti Tyo di Universitasnya. Karena selama ini, ia hanya sekedar berkuliah saja. Tak berniat melakukan hal lainnnya di Universitas ini.


"Kamu kenapa murung lagi?" Tanya Tyo. Ini adalah pertemuan keduanya dengan Ranny Dan ini juga kedua kalinya ia melihat gadis itu duduk sendirian dengan wajah yang selalu ia tekuk.


Ranny menggeleng. "Aku nggak apa-apa."


Tyo mengerutkan kening. "Yakin nggak apa-apa?" Tanyanya khawatir. "Sebenarnya ada apa sih? Kamu kok kelihatan murung terus?" Tyo terlihat penasaran. Ranny menghela napas. Ia hendak membuka mulut. Namun, getaran di ponselnya membuatnya mengurungkan niat dan memilih memfokuskan mata di ponsel.


Tyo menunggu sekitar dua menit. "APA?" Ranny berteriak kencang. "Kenapa Ranny?" Tyo terkejut melihat reaksi Ranny setelah membaca sesuatu di ponselnya. Ranny menutup mulutnya tak percaya membaca pesan di ponselnya.


Mata Ranny mulai berkaca-kaca. "Tyo!" Ranny perlahan terisak. "Sivana, Tyo. Dia..." Ranny tak melanjutkan ucapannya. Tyo berdiri dan memeluk Ranny. Menenangkannya. "Kenapa, Ranny? Bilang kenapa?"


"Sivana... Sivana kecelakaan." Ranny semakin terisak di pelukan Tyo. Meski Tyo tidak tau siapa itu Sivana, tapi ia tahu bahwa gadis yang dibicarakan oleh Ranny sudah tentu sahabat atau salah satu orang terdekat Ranny, melihat betapa terpukulnya Ranny.


Sejujurnya Tyo belum pernah sekalipun menghibur seorang cewek. Tapi tadi, entah dari mana dia mendapatkan inisiatif untuk memeluk Ranny.


Tyo menunggu sampai tangisan Ranny reda dan bersedia berbagi cerita dengannya.

__ADS_1


__ADS_2