Kekasih Yang Hilang

Kekasih Yang Hilang
Episode 17


__ADS_3

Gadis itu tersenyum miring. Keisya jijik melihatnya. "Ton, gue pinjam cewek lo ya." Izin gadis tersebut yang lagi dan lagi dibalas dengan mengangkat bahu oleh Tony.


"Yuk, cantik! Ikut gue ke Apartemen ya!" Ajaknya. Gadis itu tersenyum licik. Ia menarik dagu Keisya semakin mendekatkan jarak mereka. "Lo mau ya ikut gue."


Keisya yang merasa jijik memaksa melepaskan dirinya dari gadis tersebut dan berlari sekencang-kencangnya tak tentu arah. Entah ingin ke mana.


Keisya menoleh ke belakang. Para berandalan itu tak sekalipun berniat mengejarnya. Mereka hanya menertawakan tingkah Keisya yang tentu saja masih bisa didengar jelas oleh Keisya. Meskipun begitu, Keisya tak berniat berhenti ataupun menurunkan kecepatan berlarinya. Ia justru menambah kecepatan laju larinya, takut Tony akan mengejarnya.


"Jijik, sumpah jijik."


Keisya memejamkan mata mengingat perlakuan gadis tadi padanya.


"Kamu kuat, Keisya. Kamu kuat."


Batin Keisya saat dirasa dirinya sudah semakin lelah. Ia terus berlari tak tentu arah mencari Rumah Bryan. Keisya memanfaatkan memorinya mengingat jalan yang tadi ia lewati bersama Tony menggunakan mobil untuk mengarahkannya ke Rumah Bryan. Karena saat di perjalanan tadi mereka memang melewati Rumah Bryan.


Keisya semakin menambah laju larinya. Ingin segera sampai ke Rumah Bryan.


Ia baru memelankan laju larinya saat melihat sebuah Rumah bertingkat di depan matanya. Senyum tipis terukir di wajahnya.


"Capek." Keisya berlari mendekati pintu. Ia hendak membuka pintu tersebut namun urung ia lakukan kala mendengar suara dua orang bercengkrama di dalam sana.


"Ada Jenny ya?" Ia menurunkan tangannya dari handle pintu dan memutar tubuhnya.


"Aku tunggu di sini aja deh sampai mereka selesai."


Keisya duduk di teras Rumah sembari memangku dagu di lutut. Ia memejamkan mata sejenak. Berharap bisa menghilangkan lelahnya.


Bryan membuka pintu depan. "Hati-hati, sayang." Bryan mengantar Jenny ke depan Rumahnya dan memberikan kecupan sayang.


"Udah malam, aku anterin pulang ya?" Tawar Bryan menengok ke kanan-kiri memastikan keadaan di luar. Ia tak tenang membiarkan kekasihnya itu pulang sendiri dalam keadaan gelap gulita. Saat itulah mata Bryan tak sengaja menangkap sosok gadis yang dikenalnya. Sosok yang sebenarnya ia cari keberadaannya dari tadi. Sosok itu memeluk lutut. Sepertinya ia tak sadar akan kehadiran Bryan dan Jenny di sana.


"Nggak usah, honey. Lagian aku bawa mobil sendiri kok." Jenny terdiam lantaran Bryan tak menjawabnya, melainkan melihat ke arah lain.


"Honey, kamu liatin apa, sih?" Jenny hendak memutar kepala mengikuti arah pandang Bryan, namun dengan cepat Bryan membalikkan wajah Jenny kembali menghadapnya.

__ADS_1


"Nggak, nggak ada apa-apa. Kamu hati-hati jalannya. Jangan lihat ke belakang." Pinta Bryan menuntun Jenny jalan menuju mobil miliknya.


"Kenapa? Kenapa aku nggak boleh lihat ke belakang?" Tanya Jenny penasaran dan hendak kembali memutar kepala melihat apa yang sebenarnya ada di belakangnya.


"Jangan! Di belakang kamu seram banget, udah kamu aku antarin ke mobil ya." Bryan masih menuntun Jenny dengan menahan kepalanya agar tidak lagi mencoba menoleh ke belakang.


Bryan membuka gerbang Rumah dan membukakan pintu mobil untuk Jenny. Bryan segera menutup arah pandang Jenny saat melihat gadis itu kembali mencoba menoleh ke arah teras Rumah.


"Sayang, hati-hati ya." Bryan mengecup kening Jenny singkat dan menutup pintu mobil dengan cepat.


Jenny menyerah dan segera menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan Rumah tersebut dengan hati masih penasaran.


Setelah ditinggal Jenny, Bryan kembali menoleh menatap gadis yang sama sekali tak terganggu dengan tidurnya. Bahkan, ia tampak sangat lelap. Seolah sedang tidur di kamarnya.


Bryan mendekat dan sedikit membungkukkan badan. "Keisya!" Panggilnya. Keisya masih tak bergeming. "Keisya!" Bryan kembali memanggil nama Keisya. Kali ini sembari menepuk pundak Keisya pelan.


Hal itu berhasil membangunkan Keisya dari tidurnya. Ia langsung menatap Bryan yang berdiri di hadapannya.


Keisya berdiri dengan cepat dengan raut wajah salah tingkahnya. "Bryan, kamu..."


"Masuk!" Ucapan Keisya terpotong kala Bryan menyuruhnya masuk. Tak mau berlama-lama, ia segera melangkahkan kaki memasuki Rumah tersebut di belakang Bryan.


"Uhuk... Uhuk." Keisya terbatuk-batuk. Ia merasa kerongkongannya gatal.


"Aduh, apa ini karena aku ngerokok kebanyakan ya tadi?"


Keisya merutuki kebodohannya yang tak memikirkan dirinya sendiri.


"Mana belum minum lagi."


"Kamu ke mana aja? Kok pergi gitu aja?" Langkah Keisya terhenti saat mendengar Bryan yang bertanya padanya. Ia membalikkan tubuh kembali menghadap Bryan.


"Aku..."


"Tadi aku ada urusan bentar." Jawabnya singkat tak tahu harus menjawab apa. Bryan mendekat. Ia melangkah mendekati Keisya. Keisya menahan napas saat wajahnya dan wajah Bryan yang hampir tak berjarak. Jantungnya tidak berhenti berdisko seiring langkah Bryan.

__ADS_1


"Ke mana? Kok bau asap? Habis nolongin orang kebakaran?" Tanya Bryan penuh selidik. Keisya membisu. Ia tak mampu bergerak maupun berkata-kata.


"Bibirmu juga pucat." Tambah Bryan yang semakin membuat Keisya tak berkutik.


"Nggak, aku... Aku ke kamar ya." Keisya dengan cepat memalingkan wajah dan melangkah memasuki kamarnya. Ia menutup pintu dan terdiam di baliknya. Ia memegang jantungnya yang belum berhenti berjoget ria di dalamnya.


Sedangkan Bryan hanya menatap pintu kamar Keisya.


'Tring tring tring'


Ia tersadar dengan getaran di ponselnya. Bryan merogoh ponsel dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Halo, Bryan!"


"Halo, bun." Bryan menyapa balik setelah mengenal betul suara sosok di seberang telepon.


"Bryan, apa udah ada kabar dari Sivana?"


Bryan memijat pelipis. Entah kenapa dirinya akan selalu merasa bersalah jika harus menjawab pertanyaan tersebut. "Belum, bun." Jawabnya pasrah.


Sellyne terdiam sejenak. Ia terdengar menghela napas.


"Bunda sama mama Zellyna bakal ke sana besok atau lusa. Pokoknya secepatnya."


Bryan kembali memijat pelipis. Bukan ia tak mau bundanya datang ke sini. Bukan! Tapi ia hanya sedang kebingungan bagaimana cara menyembunyikan Keisya sedang, tidak mungkin jika bunda dan mama Zellyna tidak menginap.


Meskipun, kamar di Rumah tersebut masih terbilang cukup untuk menampung bunda dan mama Zellyna, namun yang ia khawatirkan adalah bagaimana mungkin dirinya menyembunyikan Keisya berhari-hari.


Bryan terdiam sambil kembali menatap pintu kamar Keisya tak tahu apa yang ia pikirkan.


Sementara, Keisya di dalam sana tentu mendengar semuanya. Ia melamun dengan masih berdiri di balik pintu.


"Berarti aku besok benar-benar harus pergi dari Rumah ini." Keisya mendongak ke atas. Lebih tepatnya memandang langit.


"*Ya Allah, apa aku bisa nemuin orang baik yang mau nampung aku kayak Bryan?"

__ADS_1


"Apalagi ini di Negara orang*."


Keisya hanya bisa memejamkan mata siap menerima takdir ke depannya.


__ADS_2