Kekasih Yang Hilang

Kekasih Yang Hilang
Episode 12


__ADS_3

"Si... Siap apa?" Keisya gugup. Bryan tersenyum tipis, dengan gerakan cepat, ia berputar dan menarik tanga Keisya menjauh dari lemari kaca tersebut.


'Praaang.'



Keisya terkejut. Lemari kaca tersebut jatuh tepat saat ia menarik Keisya. Keisya menatap Bryan dengan terkejut. Keisya melihat ke belakangnya.


"Bryan..."


"Kamu nggak apa-apa?" Tanya Bryan memastikan. Keisya menggeleng cepat. Ia menelan ludah. "Bryan, lemarinya."


Bryan menurunkan tangan dari lengan Keisya.


"Nggak apa-apa, itu udah nggak dipake." Bryan melangkah keluar dari gudang. Ia menoleh ke belakang. "Ngapain masih di situ?" Ia melihat Keisya yang masih berdiri mematung. Keisya menggeleng. Ia berbalik dan berjongkok mengemas pecahan-pecahan lemari kaca.


"Hey, biarin aja. Jangan dibersihin. Aku aja yang bersihin nanti." Larang Bryan. "Nggak usah, aku aja." Keisya berpikir tidak ingin lagi merepotkan Bryan. "Awas,


kena tangan." Bryan mengingatkan.


"Aw!" Setelah Bryan mengatakan itu, Keisya mendesis akibat pecahan kaca yang menusuk telunjuknya. Keisya sontak berdiri.


Bryan menghampiri. "Sini!" Pintanya ingin memeriksa keadaan jari Keisya. Keisya menjauhkan tangannya. "Sini tanganmu!" Pinta Bryan lagi. Keisya menggeleng. Ia takut disentuh siapapun saat tangannya terluka dan mengeluarkan darah.


"Sini! Aku nggak akan ngapa-ngapain." Bryan merendahkan suara. Membuat Keisya tak lagi mampu menolak. Bryan menarik tangan Keisya membawanya ke Ruang Tamu.


Bryan mengambil kotak P3K. "Duduk!" Pinta Bryan. Keisya menurut. Ia duduk di sofa Ruang Tamu. Bryan dengan teliti membersihkan luka Keisya dan membungkusnya dengan plaster.


Keisya menatap kagum pada Bryan.


"Dibalik sifat dinginnya, ternyata dia perhatian banget."


Tanpa sadar, bibirnya membentuk dua garis melengkung. "Udah." Bryan berdiri dan membereskan peralatan P3K itu. Keisya dengan cepat menghilangkan senyuman di wajahnya.


Bryan melihat jam tangannya. "Udah telat." Bryan mengambil tas dan membuka pintu depan. Ia berhenti dan berbalik. "Ngapain masih di situ? Nggak ikut?"


Keisya terkejut dan buru-buru menyusul Bryan. Ia merasa bingung kenapa Bryan selalu mengajaknya ikut ke Perusahaan miliknya.


Dua insan itu memasuki mobil dan dengan kecepatan sedang, Bryan melajukan mobilnya menuju Perusahaan.


Keisya melirik Bryan beberapa kali. "Tadi itu... Makasih banyak." Ucap Keisya pelan. "Dan maaf ngerepotin dan buat kamu jadi terlambat." Keisya melanjutkan dengan ucapan maaf.


Keisya kembali melihat lurus ke depan.


'Druk'


Keisya menabrak dashboard mobil. "Ya ampun." Bryan memukul stir mobil. Ia membuka pintu dan memeriksa mesin mobil. Keisya mengikuti Bryan turun.

__ADS_1


Ia dengan sabar menunggu Bryan memperbaiki mesin mobilnya. Keisya merasakan kekaguman luar biasa untuk sosok di depannya.


"Mobilnya mogok." Ujar Bryan tanpa menoleh. Keisya mengambil kesempatan untuk mengagumi sosok di depannya diam-diam. Tak butuh waktu lama, Bryan menutup mesin mobil. "Mesinnya udah aku perbaiki." Ia menoleh pada Keisya.


"Sekencang itu ya?" Tanya Bryan menatap Keisya. Keisya mengernyit heran. "Maksudnya?"


'Tring tring tring'


Bryan merogoh ponsel. "Halo."


"Halo, sayang. Hari ini ada waktu nggak?"


Keisya melihat senyuman sekilas dari Bryan saat tahu yang menelepon adalah kekasihnya.


"Kenapa, sayang?"


Keisya membalikkan tubuh sedikit menjauh dari Bryan. Entah mengapa ia merasa enggan mendengar obrolan sepasang kekasih itu.


"Jalan yuk! Sekali-kali." Ajak Jenny dengan suara merayu.


Bryan menghela napas. "Ya udah, aku jemput ya." Bryan tahu, tidak mungkin dirinya menolak ajakan sang kekasih.


Setelah memutuskan sambungan telepon, Bryan menghubungi Asistennya untuk meminta menghandle Perusahaan sementara.


Bryan menaruh ponsel di saku. "Keisya!" Bryan memanggil Keisya yang terlihat bersandar di pintu mobil. Keisya menghampiri dengan senyum khasnya.


"Dahimu merah." Ujar Bryan singkat. Keisya kembali menyentuh dahinya. "Mungkin karena tadi kekencangan ngebentur dashboard." Keisya terlihat tenang.


"Ya udah kalau nggak apa-apa. Kita pulang!" Bryan memasuki mobil diikuti dengan Keisya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju Rumah.


...~~~...


Keisya turun dari mobil dan langsung memasuki mobil. Ia heran melihat gerakan Bryan yang terlihat terburu-buru. Bryan bersiap dan langsung melajukan mobilnya lagi tanpa berpamitan dengan Keisya. Ya, buat apa berpamitan dengan Keisya? Secara, Keisya bukan siapa-siapanya.


Keisya berdiri mematung. "Aku ngapain sekarang?" Keisya tidak tahu harus berbuat apa. Ia memutuskan untuk membuat sarapan sendiri. Tentunya dengan hati-hati. Ia tidak ingin insiden di dapur seperti waktu itu terjadi lagi.


Setelah menghabiskan sarapan, Keisya membereskan dapur.


'Tok tok tok'


"Dia udah pulang? Cepat banget."


Keisya menuju ruang tamu dan membuka pintu kala mendengar suara ketukan di pintu.


"Hai, Keisya!"


Keisya membelalakkan mata. "Ngapain kamu di sini?"

__ADS_1


"Nggak sopan banget sama tamu. Harusnya kamu persilahkan aku masuk dulu." Tony hendak melangkah masuk. Namun, Keisya merapatkan pintu untuk menghalanginya masuk.


"Kamu ngapain?" Tanya Keisya takut. "Pertanyaan bagus. Sebenarnya simpel aja sih permintaan aku. Tergantung kamu mau apa nggak." Tony tersenyum misteri. Keisya merasa jijik melihat tingkah pria yang baru dikenalnya itu.


"Apa mau kamu?" Tanyanya langsung. Ia malas meladeni pria di hadapannya.


"Aku mau ngajak kamu jalan. Tapi nggak sekarang. Nanti kalau kamu bersedia." Jawab Tony. Keisya mengernyit. "Nggak, aku nggak bisa jalan sama kamu. Nanti Bryan marah." Keisya sengaja membawa nama Bryan untuk menekannya.


"Terserah kamu aja. Kamu pikir kamu bisa nolak?" Lagi. Ia memasang senyum menjijikkannya.


"Maksud kamu?" Keisya tak mengerti.


Tony memaksa maju. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Keisya. "Gimana jadinya kalau Jenny tau Bryan punya wanita simpanan di Rumahnya?" Tony menaikkan satu alisnya. "Aku yakin Bryan nggak akan mungkin tinggal diam." Keisya menahan napas. Ia tahu betul apa yang dimaksud dengan Tony.


"Jadi gimana?" Tony kembali menawarkan ajakannya.


"Tony benar. Kalau Jenny tau aku ada di sini, Bryan pasti akan marah sama aku dan nggak biarin aku tinggal di sini lagi."


"T... Tapi aku bukan wanita simpanan." Keisya mencoba membantah. Ia mencari celah untuk menolak ajakan Tony.


"Anggap aja begitu. Emang, kamu pikir kamu siapa kalau bukan wanita simpanan Bryan?" Keisya terdiam.


"Apa Bryan berpikir begitu?" Keisya menghilangkan pikiran buruknya.


"Nggak mungkin."


Tony merapikan jasnya. "Terserah kamu aja sih. Yang penting tau sendiri resikonya." Tony berbalik hendak pergi.


"Tunggu!" Keisya menahan langkah Tony.


"Oke, aku mau jalan sama kamu. Tapi, satu hari aja kan?" Berat memang. Tapi, ia tidak ingin membuat Bryan bertengkar dengan kekasihnya. Karena ia pikir dirinya sudah cukup menjadi beban untuk mereka.


"Oke, kasih tau aja kapan kamu siap. Aku bersedia kapan aja kamu siap, cantik." Tony meninggalkan pekarangan Rumah tersebut.


"Aku nggak salah ambil keputusan, kan?"


Dipikir baik-baik, Keisya memang tidak punya pilihan lain selain menerima ajakan Tony. Meski ia tak sudi.


-


-


Hai readers yang terhormat,


Kalau kalian suka, tinggalkan jejak dengan cara,


like, komen, vote dan dukung terus Author agar semangat menulisnya yaa😘😘

__ADS_1


__ADS_2