
Keisya membalikkan tubuh. Ia menghapus air matanya perlahan.
"Gimana, bagus nggak?"
"Bagus, honey. Makasih ya."
"Kamu suka?"
"Suka banget."
Suara-suara itu terasa mengganggunya. Keisya berjalan menjauh. Ia tak ingin lagi membiarkan matanya digenangi air yang tak pernah diundang, dan membiarkan hatinya tergores.
Bryan melirik Keisya sejenak. Ia kemudian merangkul pinggang Jenny dan mengajaknya masuk ke ruangan kerjanya.
Keisya berjalan sendiri. Ia tahu saat ini semua orang yang berpapasan dengannya melihatnya dengan heran. Seperti menanyakan, Siapa gadis ini? Atau Dia ngapain di sini? Dan Kenapa dia menangis?
Namun, rasa sakit di hatinya memaksanya tak memedulikan itu semua.
Ia menekan dadanya yang terasa sesak. Keisya bersandar pada ujung dinding dengan memegang dadanya dan satu tangannya menutup mulut. Berusaha menahan tangis. Ia sendiri juga bingung kenapa ia harus menangis? Kenapa ia harus merasa sesak di dadanya? Dan yang terpenting, kenapa ia harus merasa sakit setiap melihat Bryan dan Jenny bermesraan di depannya. Oh tidak! Bahkan sekedar berbincang lewat telepon saja sudah cukup membuat telinga dan hati Keisya terasa panas.
"Hey, cantik! Kenapa di sini?" Keisya menatap Tony tajam. Lagi-lagi pria itu selalu mengganggunya. "Nangis ya?" Tanya Tony yang entah merupakan sebuah pertanyaan atau ledekan.
"Nih, tisu." Tony memberikan selembar tisu pada Keisya. Keisya menghempaskan tisu tersebut hingga jatuh ke lantai. Tony melihat tisu yang mendarat di lantai tersebut dengan senyum miringnya. "Bryan apain kamu sampai gadis secantik kamu menangis?" Lagi dan lagi, entah sebuah pertanyaan atau ledekan yang dilontarkan Tony.
Keisya menggeleng kuat-kuat. "Nggak, aku nggak nangis." Sahutnya tanpa menoleh. Tony tertawa meledek. "Ya udah deh, terserah."
"Sekarang daripada nangis, mending kamu ikut aku aja." Tony menarik tangan Keisya. Keisya tak bergeming dari tempatnya.
"Kenapa? Ayo kita cari hiburan. Daripada harus disakiti lelaki nggak macho kayak Bryan. Mending main bareng saya. Oh iya, saya punya banyak teman yang mau kenalan sama kamu." Cara bicara Tony berubah. Keisya tahu apa artinya itu. Keisya kesal dengan cara bicara Tony yang selalu berubah-ubah. Tapi ya mau bagaimana lagi? Toh, itu hak dia!
Tony kembali menarik paksa tangan Keisya. Kali ini, Keisya tak menolak. Entah kenapa, dalam hatinya justru ia merasa apa yang dikatakan Tony ada benarnya juga. Bahwa ia harus mencari hiburan di kala sedih seperti ini.
__ADS_1
Tony mengajak Keisya masuk ke mobilnya. Keisya melirik Tony. Ia bingung, sebenarnya kegunaan Tony di Perusahaan ini untuk apa? Kenapa dia selalu muncul tiba-tiba dan selalu seenaknya pergi dari Perusahaan tanpa takut akan konsekuensi. Seperti, dipecat misalnya. Keisya berpikir, apa Tony benar-benar bekerja di sini? Atau...
Ah sudahlah.
Tony membawa Keisya menuju suatu tempat yang di sana terdapat beberapa orang sebaya Tony. Mereka semua terlihat sangat brutal. Maksudnya, seperti anak-anak nakal. (Anak-anak? Yah, bodo lah)
Keisya menautkan jemari. Takut sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi? Ia sendiri yang memilih mengikuti Tony. Ia tidak mungkin lari dari sana.
"Yuk, turun! Yang lain udah pada nungguin tuh." Tony membuka pintu mobilnya.
"Yang lain?" Entah kenapa Keisya jadi ngeri sendiri mendengarnya. Ia menarik napas berkali-kali. Berdoa semoga takkan ada yang terjadi pada dirinya.
'Duk duk duk'
Keisya tersentak. Pasalnya Tony mengetuk kaca mobilnya dengan sangat kencang. "Cepetan turun! Kamu mau buat mereka menunggu berapa lama, hah?" Sentaknya.
Keisya membuka pintu mobil. Ia tak henti-hentinya berdoa dalam hati.
"Bahasa Inggris bro, dia nggak ngerti soalnya." Tony menjelaskan pada teman-temannya bahwa Keisya bukan berasal dari sana.
Beberapa gadis dan pria berdiri dan memberikannya 'cipika-cipiki' Keisya rada gugup saat para pria yang mendapat giliran cipika-cipiki padanya. Membuat Tony memutar bola mata jengah. "Ini udah menjadi kebiasaan di Negera kami, orang-orang pada cipika-cipiki kalau bertemu." Jelas Tony yang tentu saja tak didengar Keisya.
"Sini, duduk!" Pinta salah seorang gadis. Keisya menggeleng. "Nggak, aku pulang aja deh." Keisya menolak dengan berani. Ia merasa tidak betah berada di sini. Pusing dengan aroma alkohol yang tercium dari tubuh mereka.
"Kok pulang? Ayolah, have fun dulu sama kita." Sambung lelaki brandal lainnya. Keisya dipaksa duduk bergabung dengan mereka.
"Tony, wajahnya unik ya? Boleh pinjam nggak?" Tanya seorang lelaki yang pastinya berujuk pada Keisya. Tony mengangkat bahu cuek. "Terserah."
Keisya merasa kesal. Enak saja dirinya dijadikan barang pinjam-meminjam memang dirinya utang apa?
Seorang gadis menepuk pundaknya. "Rokok." Tawar gadis itu menyodorkan sebatang rokok pada Keisya.
__ADS_1
"Nggak." Keisya menolak. Gadis itu tersenyum miring. "Coba aja dulu, nanti ketagihan pasti." Ujarnya meyakinkan. Keisya sekali lagi menggeleng.
"Atau lo mau gue ajarin gimana ngisapnya?" Gadis itu benar-benar menghirup asap rokok itu dalam-dalam dan menghembusnya tepat di wajah Keisya seperti sedang pamer. Keisya menahan napas. Tak mau menghirup asap tersebut.
"Nih." Tawar gadis itu lagi. "Lo nggak bakal bisa pulang kalau nggak nyoba." Ancam salah satu lelaki. Keisya bingung harus melakukan apa. Ia melirik Tony yang tengah menatapnya tajam. Akhirnya, Keisya menerima sebatang rokok tersebut. Toh, ia juga tak bisa melakukan apapun.
"Yeay!" Sorak para berandalan itu. Mereka membantu Keisya menyalakan puntung rokok dan menyuruh Keisya untuk segera menghisapnya. Mereka menunggu reaksi Keisya.
Keisya memasukkan rokok itu ke dalam mulutnya. Ia benar-benar menghisapnya.
"Enak." Keisya tak menyangka menghisap rokok bisa seenak itu. Ia bahkan merasa biasa saja. Seperti tidak ada beban. Ia merasa seperti sudah biasa menghisap rokok. Aneh. Padahal ini kali pertamanya menghisap rokok.
Begitupun dengan para berandalan itu yang dibuat kaget. Pasalnya Keisya sama sekali tidak kelihatan kaku. Biasanya, seseorang yang baru pertama kali merokok akan terbatuk-batuk karena menghirup asapnya terlalu dalam. Tapi tidak dengan Keisya. Ia bahkan terlihat lihai dalam menghisap rokok.
"Lagi!" Keisya meminta sebatang rokok lagi. Begitu terus-menerus. Jika dihitung-hitung, sudah belasan puntung rokok yang Keisya *****. Sementara Tony dan yang lainnya hanya memandangnya tanpa berniat menghentikannya. Ia bahkan nekat meminta lagi.
"Stok rokok gue habis lagi, gara-gara nih cewek." Protes mereka. Aneh. Padahal mereka sendiri yang memaksa.
"Yah, habis ya. Ya udah deh, aku pulang aja." Keisya berdiri. Gadis yang tadi memberikannya rokok, menarik tangan Keisya mendekatnya. "Bentar, lo menarik juga. Ikut gue mau nggak?"
.
.
.
.
Hai readers tersayang, jangan cuma disimak! Klik juga like dan votenya atuhh.
Moso Author disuruh up terus tanpa dukungan kalian sihππ
__ADS_1
Mengsyedih diri iniππ