
Setelah tamu penting nan terhormat pulang, Sivana menarik mamanya berhadapan dengannya.
"Ma, aku serius akan tinggal di luar negeri?" Tanya Sivana dengan wajah serius.
"Iya." Jawab Zellyna lagi-lagi dengan entengnya. "Kenapa mama nggak bilang dari awal?" Tanya Sivana tak terima.
"Ngapain mama bilang?" Zellyna memasang raut wajah tak bersalahnya.
"Mendingan kamu siapin diri aja. Mulai packing- packing barang yang mau kamu bawa." Pinta Zellyna dan langsung menuju kamar meninggalkan putri semata wayang yang berdiri dengan mulut menganga.
"Mama kenapa sih?" Ia mengusap wajahnya.
"Suka banget buat keputusan sendiri? Aku kan belum pernah tinggal di Negera orang." Bete- nya.
Selama berhari-hari Zellyna sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk persiapan keberangkatan putrinya.
Sedangkan Sivana, ia hanya semua mengikuti instruksi mamanya tanpa sedikitpun membantah.
Ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama Ranny. Seperti malam ini, ia dan Ranny berjanji ketemuan di sebuah Cafe.
"Sivana, gila kamu." Ranny tak sadar meninggikan suaranya.
"Sst, Ranny. Diem!" Sivana menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Ia menyadarkan Ranny yang langsung menoleh kanan kiri melihat pengunjung Cafe dengan tatapan salah tingkah. Ia kembali duduk di kursinya.
"Lagian kenapa baru ngasih tau sekarang? Kamu mau ninggalin aku?" Ranny tampak lebih tenang.
"Aku juga baru tau nggak lama, Ran. Mama aku baru ngasih tau." Jelas Sivana. Ranny menundukkan kepalanya. "Terus nanti aku temenan sama siapa?" Lirihnya.
Sivana mentowel kepala Ranny. "Apaan sih, lebay. Kan sekarang bisa chat atau VC, neng." Candanya membuat Ranny terkekeh.
"Kamu orang lagi sedih juga." Ranny kembali menatap serius. "Terus, kapan berangkatnya?" Tanya Ranny. Sivana menghela napas. "Lusa."
...🌀🌀🌀...
"Apa? Bunda jangan ngada-ngada deh, bun."
Ujar seseorang lewat sambungan telepon.
"Lah, bunda serius. Lusa dia akan ke sana."
__ADS_1
"Bunda nggak ikut nggak ke sini?"
"Mm, setelah bunda pikir-pikir, kayaknya bunda di sini aja deh sama teman bunda. Kasihan dia tinggal sendiri bunda juga baru ketemu lagi sama dia setelah sekian lama."
Bryan tak lagi membantah. Ia hanya bisa memijat pelipisnya lelah menghadapi sikap bundanya.
"Pokoknya kamu baik-baik aja. Karena mulai lusa, dia yang akan menggantikan peran bunda."
"Iya, bun. Bryan tutup ya." Bryan menutup sambungan telepon sepihak. Ia melirik ke seseorang di sebelahnya.
Jenny menatap tajam Bryan. "Dia mau ke sini? Ngapain dia ke sini?" Tanya Jenny melipat tangan di dada. "Aku nggak mau ya, dia sampai berbuat macam-macam atau sesuka hatinya mentang-mentang dia dijodohin sama kamu."
"Lusa dia datang." Ucap Bryan dengan suara putus asanya. "Kita doakan aja semoga dia hilang dan nggak jadi datang ke sini." Jenny asal berbicara.
...🌀🌀🌀...
Esoknya, Sivana tengah menyiapkan barang-barang keperluan selama ia tinggal di sana.
Setelah selesai mengemasi semuanya, Sivana menoleh ke mejanya.
"Foto papa" Sivana mengambil foto tersebut. Menciumnya, lalu menaruhnya di dalam selipan koper yang akan ia bawa.
Ia tersenyum tipis mengetahui benda itu masih di sana. Sivana memungut kalung liontin. Ia membuka kalung liontin tersebut dan terdapat foto anak laki-laki berusia sekitar lima tahun.
Sivana memakai kalung tersebut kemudian melepasnya lagi dan menaruhnya di atas meja.
Ia berbaring dan langsung memejamkan mata.
...~~~...
"Mama, papa aku takut." Gadis kecil meringkuk sendiri di tengah heningnya malam. Ia menangis sesenggukan lantaran tak mendapati seseorang yang melewati jalan itu.
Pantas saja. Saat itu, jam menunjukkan pukul 23:00. Di mana jarang pengendara maupun pejalan kaki mau melewati daerah yang cukup rawan seperti jalan itu.
Setelah lama menangis, gadis kecil tersebut merasa ada yang menepuk pundaknya. Ia perlahan menengok ke belakang. Ia mendapati anak kecil yang terlihat seumuran dengannya berdiri dengan raut wajah heran.
Saking takutnya, gadis kecil itu spontan berdiri dan memeluk anak lelaki di depannya tanpa rasa takut. "Kamu siapa?" Tanya anak kecil di depannya. Dengan memberanikan diri gadis kecil itu menjawab, "Aku tersesat. Aku nggak tau aku di mana." Ujarnya kembali sesenggukan dengan cara bicaranya yang masih cadel.
Tangan mungil anak lelaki itu terulur menghapus air mata gadis kecil tersebut.
__ADS_1
"Orang tuamu mana?" Tanyanya sedikit menunduk disebabkan gadis kecil di hadapannya sedikit lebih pendek darinya.
"Mama sama papa lagi pergi. Aku tinggal sama bibi yang jagain aku. Tapi karena bosan, aku main keluar tanpa sepengetahuan bibi pengasuhku. Terus aku tersesat deh." Cerita gadis kecil itu polos. Anak lelaki itu terkekeh sejenak.
"Kalau kamu kenapa bisa ada di sini?" Tanya gadis kecil itu. Anak lelaki itu tampak berpikir.
"Aku nggak tau. Aku tadi kabur lewat jendela pas mamaku lagi tidur. Terus, di pertengahan jalan, aku diajak pergi bareng sama tante-tante. Awalnya Tante itu baik. Tapi, lama-lama dia maksa aku ikut dia ke Rumahnya. Aku nggak mau. Ya aku kabur lah. Sampai deh ketemu kamu di sini." Cerita anak lelaki itu panjang lebar.
"Kamu tau alamat Rumah kamu di mana?" Tanya lelaki itu. Gadis kecil itu menggeleng polos. "Ikut aku aja, yuk! Kita sama-sama cari Rumah kita." Ajak anak lelaki tersebut dengan menyodorkan tangan ke arah gadis kecil dan tanpa ragu gadis kecil itu memberikan tangannya pada anak lelaki tersebut. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan.
"Itu apa?" Tanya gadis kecil menunjuk benda yang dipakai anak lelaki di lehernya. Mereka berjalan dengan langkah cepat masih terus bergandeng tangan.
"Oh ini. Ini kalung. Di dalamnya terdapat fotoku." Jelas anak lelaki melihat mata sang gadis kecil berbinar menatap kalung miliknya.
"Kamu mau coba pake?" Tawar anak lelaki. "Boleh?"
Anak lelaki itu melepas kalungnya dan memasangkan pada gadis kecil. "Bagus." Pujinya. Ia kembali menggandeng tangan gadis kecil dan mempercepat langkah mereka.
Mereka berjalan sambil bercerita banyak hal. Seolah tak takut akan malam yang semakin gelap dan jalanan yang semakin sepi.
"Besok aku akan pindah Rumah." Cerita gadis kecil. "Benarkah? Berarti kita nggak akan bertemu lagi." Anak lelaki itu menunduk. "Padahal aku ingin punya teman. Aku belum pernah punya teman." Ada nada kecewa dari kalimatnya.
"Itu Rumahku." Tunjuk gadis kecil. Anak lelaki mengantar gadis kecil sampai depan Rumahnya.
Gadis kecil berbalik dan menatapnya. "Rumahmu di mana?" Tanyanya.
"Rumahku..."
"Tuan kecil! Tuan kecil ngapain di sini? Dicariin Nyonya tuh. Nyonya khawatir di Rumah." Seorang wanita paruh baya meraih tangan anak lelaki. "Bi Enya!" Ia memeluk Bi Enya singkat.
"Maaf, Bi. Tadi aku tersesat." Anak lelaki menunduk. "Bi, ini temanku. Tadi dia juga tersesat. Jadi, aku antar pulang deh." Ujar anak lelaki polos. Bibi Enya menatap gadis kecil sejenak. Lalu mengalihkan tatapan ke anak lelaki. "Pulang, yuk! Udah malam. Kalau mau main, besok aja." Ajaknya.
"Oke, Bi." Anak lelaki kembali menatap gadis kecil yang sedari tadi menyimak percakapan mereka.
"Besok sebelum kamu pergi, sempatin diri ketemu sama aku ya. Aku mau kasih kenang-kenangan karena kamu teman pertamaku."
Gadis kecil mengangguk patuh. "Janji ya?" Anak lelaki menyodorkan kelingkingnya. Gadis kecil menyambut dengan mengaitkan kelingkingnya pada kelingking anak lelaki. "Janji."
Setelah itu, Bibi Enya meraih tangan anak lelaki. "Sampai jumpa besok." Ucap anak lelaki. Bibi Enya berjalan melewati gadis kecil dan membelai rambutnya singkat.
__ADS_1