Kekasih Yang Hilang

Kekasih Yang Hilang
Episode 20


__ADS_3

Jenny berjalan dengan langkah anggun memasuki gerbang rumah luas di depannya. Ia perlahan membuka pintu tersebut.


"Hai, sayang!" Sapa Bryan memeluk kekasihnya tersebut. Padahal, untuk saat ini, ia sedang tidak berharap untuk bertemu dengan kekasihnya itu.


Jenny melangkah melewatinya. Ia duduk di sofa dengan memangku kaki kanannya. Ia menatap Bryan dengan tatapan tidak biasa.


Bryan menghampiri dan duduk di sampingnya. "Kamu kenapa tiba-tiba datang ke sini?"


Jenny menatapnya heran. "Kenapa kalau aku ke sini tiba-tiba? Biasanya juga gitu. Tapi kami nggak pernah nanya gitu. Kenapa sekarang kamu nanya kalau aku datang tiba-tiba?" Tanya Jenny dengan nada curiga yang dibuat-buat.


Bryan segera menggeleng. "Bukan gitu. Cuman..."


"Kamu bilang, Bunda mu akan nginap di sini? Ke mana mereka? Aku udah siap buat ketemu mereka, nih." Jenny memotong ucapan Bryan. Matanya menyapu ruangan, mencari sosok yang dimaksud.


"Ah ya. Tadi Bunda emang sempat ke sini. Tapi mereka ternyata nggak nginap di sini." Jelas Bryan. Ia membetulkan posisi duduknya, menyandar pada sofa.


"Yah, sayang sekali. Aku nggak sempat ketemu calon mertua." Jenny sedikit menunduk. Ia kembali menatap Bryan intens.


"Jangan bilang, dia udah ketemu Bunda mu." Ucap Jenny misterius. Bryan mengerutkan kening.


"Maksud kamu?" Tanyanya bingung. Jenny memainkan rambutnya tersenyum simpul. "Berapa lama lagi kamu mau menyembunyikan dia?" Ia menatap tajam Bryan.


"Jenny, kamu..."


"Kamu pikir aku nggak tau, kalo kamu menyembunyikan seorang gadis di sini, hah?" Jenny berdiri dengan mata penuh kilatan marah.


Bryan berdiri dan menggenggam kedua tangannya, mencoba menenangkan. "Jenny, tenang dulu. Aku bisa jelasin."


Jenny menepis tangan Bryan kasar. "Mana cewek itu? Aku mau lihat. Mana?" Ujarnya berapi-api. Ia mulai mengelilingi ruangan, mencari gadis yang disembunyikan kekasihnya.


Ia membuka pintu kamar Bryan dan mengecek di dalamnya. "Nggak ada siapa-siapa. Bryan, di mana kamu sembunyikan dia?" Tanyanya mencengkeram kerah baju Bryan.


"Jenny, tenang dulu, sayang." Jenny melesat keluar kamar tidak peduli. Ia beralih ke kamar di ujung tangga. Dengan tidak sabar, ia menendang pintu kamar tersebut kencang. Namun, Bryan dengan cepat mencegahnya. Hingga, dirinyalah yang terkena tendangan Jenny.


Bryan meringis menyentuh perutnya. "Sayang, kamu nggak apa-apa?" Jenny menuntun Bryan duduk di sofa.

__ADS_1


"Bagus, perhatian dia teralihkan."


Bryan terus memegang perutnya. Berpura-pura kesakitan. "Pelan-pelan. Aku ambilin air dulu." Jenny bergerak cepat dan kembali dengan membawa segelas air putih dan menyodorkannya pada Bryan.


Ia duduk di samping Bryan dan menatapnya khawatir. "Sayang, maafin aku. Aku nggak sengaja. Aku nggak bermaksud nendang kamu." Ucapnya.


Bryan menaruh gelas di meja dan beralih memeluknya. Ia membelai rambut Jenny lembut.


"Sayang, maafin aku." Ucapnya. Ia yakin, Jenny tidak akan lagi membahas masalah tentang dirinya yang menyembunyikan seorang gadis di rumahnya. Karena sekarang, Jenny sudah lebih tenang di pelukannya.


Sedangkan, Keisya mengintip lewat celah pintu kamar. Ia takut. Hampir saja Jenny mengetahui keberadaannya.


Keisya berpikir bagaimana Jenny bisa mengetahui tentang Bryan yang menyembunyikan seorang gadis, yaitu dirinya.


"Tony, itu pasti Tony. Sepupu Bryan. Nggak salah lagi. Karena, aku nolak buat ikut nongkrong bareng dia, jadi, dia ngasih tau tentangku ke Jenny. Ternyata dia emang nggak pernah main-main sama ucapannya."


Keisya kembali menutup pintu saat melihat Bryan yang memberikan isyarat padanya lewat tatapan mata. Menyuruhnya menutup pintu.


"Bryan, aku nggak bisa maafin kamu gitu aja kalo cewek itu nggak mau keluar dari persembunyiannya." Jenny melepas pelukan dan menatap Bryan dalam.


"Jenny, kamu gila. Nggak bisa. Kamu nggak boleh minta putus gitu aja." Bryan panik. Ia kembali mencoba menenangkan Jenny.


Keisya yang melihat kejadian tersebut menjadi gundah. Ia tidak ingin Bryan dan Jenny putus karenanya. Ia tak mau Bryan sedih karenanya.


Keisya menutup mata dan menghela napas sejenak. Mengumpulkan tekad. Dengan nekat, ia membuka pintu kamar tersebut lebar. Menunjukkan diri pada Jenny.


Bryan dan Jenny menatap ke arahnya. Jenny tersenyum simpul karena berhasil memancingnya keluar. "Oh, jadi benaran ada? Ternyata Tony emang nggak berbohong."


Sedangkan, Bryan menatap Keisya gusar.


"Bodoh. Kenapa dia harus muncul? Dia malah memperparah keadaan."


Keisya melangkah keluar dari kamar perlahan. Ia berdiri di hadapan Bryan dan Jenny dengan kepala menunduk.


"Mbak, aku minta maaf karena udah tinggal di rumah pacar mbak selama beberapa hari." Ucapnya mengarah pada Jenny.

__ADS_1


"Tapi itu semua nggak seperti yang kamu kira. Aku nggak ada apa-apa sama Bryan. Waktu itu, aku kecelakaan dan nggak ingat apa-apa sama sekali. Bryan yang tolongin aku dan memberiku tumpangan. Dia cuman berniat nolongin aku kok, nggak lebih. Kami berdua nggak ada apa-apa." Jelas Keisya panjang lebar dengan gugup.


Bryan tak melepaskan tatapan tajam padanya. Membuat Keisya tak berani menatapnya balik.


"Sayang, betul apa yang dibilang dia. Aku sama dia nggak ada apa-apa." Bryan membantu menjelaskan. Ia tak ingin kekasihnya salah paham.


"Dan, aku berniat nyuruh dia pergi sekarang juga." Lanjutnya kembali menatap Keisya.


Keisya terperangah. "Keisya, kamu boleh beresin barang-barang kamu dan pergi sekarang juga." Pinta Bryan dingin, tanpa sadar mengusir Keisya.


Keisya segera menghantam lututnya di lantai. Ia berlutut melayangkan tatapan memohon pada Bryan dan Jenny.


"Aku mohon jangan suruh aku pergi. Aku nggak punya rumah. Aku nggak tau harus pergi ke mana. Pliss, aku nggak kenal siapa-siapa di luar." Mohon nya.


Bryan membuang muka tak ingin menatapnya.


"Aku mohon. Aku... Aku bersedia disuruh apapun asal jangan usir aku. Ako mohon." Mata Keisya berkaca-kaca. Ia benar-benar tak ingin keluar dari rumah ini. Terlebih, ia tak ingin meninggalkan Bryan, penolongnya.


Ia menunduk lama. Belum ada yang bicara selama beberapa detik.


Hingga, Jenny tersenyum miring. "Kamu janji akan ngelakuin apapun asal nggak diusir?" Tanyanya. Keisya dengan cepat mengangguk.


"Aku janji." Ucapnya.


Jenny beralih menatap Bryan. "Sayang, kamu kan, banyak uang, tapi nggak pernah punya maid, gimana kalau kita jadiin dia pembantu aja di rumah kamu." Usul Jenny.


Bryan menggeleng cepat. "Nggak. Aku nggak butuh pembantu di rumahku." Tolaknya. "Oh ayolah, kamu nggak butuh tapi aku butuh. Supaya kalau aku ke sini, dia bisa layanin kita berdua, nggak perlu aku repot-repot nyiapin makanan lagi." Jenny kembali membujuk.


"Kalau kamu emang butuh, bawa aja dia ke rumahmu." Usul Bryan. Jenny menggeleng. "Rumahku udah banyak maid. Sebaliknya, di rumahmu nggak ada satupun." Tolak Jenny.


"Tapi, dia nggak bisa masak." Sela Bryan lagi. "Nggak apa-apa, dia bisa mengerjakan tugas lain selain masak." Bantah Jenny lagi.


Mereka benar-benar membicarakan Keisya di depannya. Tak peduli dengan perasannya.


Setelah lama berdebat, Bryan mengalah, ia menghela napas berat. "Ya udah." Setujunya. Jenny memeluknya girang. "Yeah, makasih sayang." Ucapnya lembut. Bryan mengelus pipinya penuh kasih. "Asal kamu bahagia, sayang."

__ADS_1


"Makasih banyak." Keisya meneteskan air mata sedih, namun juga senang karena ia masih diizinkan untuk tinggal di rumah ini.


__ADS_2