Kekasih Yang Hilang

Kekasih Yang Hilang
Bab 2


__ADS_3

Esoknya,


Bryan kembali mengajak Jenny bertemu di sebuah Cafe. Ia menggenggam tangan Jenny lembut. Jenny yang duduk di hadapannya hanya memasang senyum singkat.


"Jen, aku tau gimana cara bundaku batalin perjodohan itu." Bryan membuka percakapan. Jenny menatap dengan bola mata membesar. "Serius, sayang? Gimana?" Tanya Jenny tak sabar.


"Caranya dengan kita menikah." Ucap Bryan ragu. Ekspresi wajah Jenny berubah dalam sekejap. Ia menghela napas sejenak.


"Honey, aku kan udah bilang kalau aku belum siap untuk menikah." Jenny memberikan jawaban yang sama. Selalu sama setiap Bryan menyinggung masalah pernikahan.


"Tapi kita udah pacaran dua tahun lebih. Masa kamu nggak ada niatan mau nikah." Singgung Bryan.


"Aku bukannya nggak mau. Tapi aku belum siap." Bantah Jenny.


"Dari dulu setiap aku tanya, jawaban kamu selalu seperti itu." Gumam Bryan yang tentunya masih bisa didengar Jenny.


"Kamu juga sabar, dong. Ngertiin aku dikit apa."


"Iya, maaf ya, sayang." Bryan memilih mengalah.


"Jadi gimana? Apa ada cara lain?" Tanya Jenny yang dibalas gelengan kepala. "Paling, aku hanya akan berusaha menunda-nunda perjodohan ini sampai kamu siap menikah denganku."


...🌀🌀🌀...


Sivana berangkat ke UI mengendarai sepeda motornya. Ia melihat Ranny dari kejauhan dan segera menghampirinya.


"Hai, Ran." Sapa Sivana.


"Hai juga." Balas Ranny. "Kamu tumben pakai masker? Kenapa?" Tanya Sivana. "Biasanya kamu orang yang suka melanggar protokol kesehatan." Sivana tersenyum geli.


"Yee itu mah kamu." Ranny balas meledek Sivana. "Ranny, tangan kamu kenapa?" Sivana melihat lengan Ranny yang penuh dengan lebam.


"Ini kenapa jadi gini?" Sivana jelas khawatir. Ranny dengan cepat menyembunyikan lengannya. "Nggak apa-apa." Ia mengalihkan tatapan.


"Siapa yang lakuin ini?" Sivana terus mendesak. "Siapa?"


"Ranny, jawab!" Pinta Sivana gusar. "Pasti geng Jesika ya?" Sivana menebak lantaran tak kunjung mendapat jawaban dari Ranny. Ranny akhirnya mengangguk pasrah.


"Wah, parah tuh anak. Mentang-mentang banyak backing-an. Dia pikir aku takut sama geng-geng cabean-cabean nya itu."


"Kamu kenapa nggak ngelawan sih?" Sivana heran. Kenapa Ranny harus takut dengan geng cabe-cabean seperti geng Jesika.


"Aku bukannya nggak mau lawan. Tapi kamu kan tau sendiri. Mereka berlima. Dan ada tiga cowok di geng itu."

__ADS_1


"Kalau mereka sendiri atau berdua doang mah, aku juga berani." Jelas Ranny.


Sivana dan Ranny adalah dua sahabat yang tipikalnya terbilang hampir sama. Mereka adalah dua gadis sembrono dan pemberani. Namun, kalau soal berani, Sivana tetap rajanya. Eh, ratunya deh.


Ia bahkan pernah membentak sekelompok preman. Keberanian itu ia wariskan dari papanya.


Sedangkan Ranny, ia memilih menyerah jika lawannya lebih dari dua. Berbeda dengan Sivana yang tak kenal kata menyerah.


Sivana menarik tangan Ranny. Ia menghampiri tempat tongkrongan Jesika.


"Oh, di sini kalian. Pantas ya nongkrongnya di sudut-sudut. Ternyata kalian emang pengecut ya." Sivana melipat tangan di dada dengan senyum sinis khasnya.


"Kenapa lu ke sini?" Tanya Jesika. Ia melirik Ranny di belakangnya. "Oh, mau belain teman lu."


"Lu kalau mau belain teman lu, setidaknya cari backing-an kek. Masa cuman sendiri. Ngebahayain diri aja." Jesika tersenyum meremehkan.


"Eh, cewek cantik. Mending lu pulang aja sono. Cewek cantik mah mainan kita." Sambung salah satu cowok yang disambut tawa ledek dari teman segengnya.


Sivana mengangkat alis. "Lu ngeremehin gue?"


"Oke, Jesika, Kyna! Kalian lawan gue. Biar laki-laki nyimak aja." Sivana memasang badan siap. Sekilas ia melihat wajah Jesika memucat.


"Kenapa pucat? Tipes lu?" Gantian Sivana meremehkannya. "Kata siapa gue pucat? Lu pikir gue takut sama lu?" Jesika tak mau kalah.


"Kalau cuman ngomong sih gampang." Sivana mengacung kerah bajunya sendiri. "Buktiin dong." Tantangnya.


"Cantik-cantik marah." Salah satu cowok maju hendak menyentuh Sivana. Namun, Sivana dengan cepat memelintir tangannya lalu menendang kakinya membuat cowok tersebut langsung jatuh tersungkur.


"Gue peringatin lu semua. Jangan pernah berani menyentuh seujung rambut pun sahabat gue. Kalau nggak, gue akan kasih tau kalian bagaimana caranya mati dengan perlahan-lahan." Setelah mengatakan itu, Sivana menarik tangan Ranny menjauh dari geng tersebut.


"Ran, emang kemarin kamu dihajar sama cowok-cowok geng itu?" Tanya Sivana menghentikan langkah. "Nggak sih. Jesika sama Kyna doang yang hajar aku. Cowok-cowok mah cuman ngeliatin doang." Cerita Ranny.


"Terus kenapa kamu nggak lawan?" Sivana menepuk keningnya tak mengerti. "Aku takut kalau-kalau tuh cowok-cowok ikut hajar aku." Ranny melipat tangan di dada. "Kemarin tuh aku dicegat tau."


"Lain kali kalau aku nggak ada, terus mereka nyerang lagi, hajar aja Jesika sama Kyna. Kamu berani, kan?" Ajar Sivana. "Berani lah kalau cuman mereka. Sama-sama perempuan juga." Tanggap Ranny.


"Aku balik dulu, ya. Mama udah nelepon." Pamit Sivana. Ia bergegas menuju parkiran motor lalu melajukan motor menuju Rumahnya.


Sesampainya di Rumah,


"Anak mama udah pulang?" Zellyna memeluk putrinya hangat. Ia memang seorang ibu yang hangat namun selalu tegas dalam membuat keputusan.


"Ganti baju sana! Ada teman mama mau ngobrol sama kamu." Pinta Zellyna. "Siapa, ma?" Sivana menyempatkan diri bertanya. "Udah sana ganti baju aja. Awas, jangan ngerokok depan tamu." Zellyna memperingatkan Sivana. "Iya, ma. Aku juga ngerti kali."

__ADS_1


Sivana menuju kamar dan dengan cepat mengganti pakaian yang ia kenakan dengan pakaian santai. Selanjutnya ia menuju ke lantai bawah. Matanya menangkap dua sosok perempuan tengah mengobrol asyik.


"Eh, anak mama. Sini sayang!" Sivana mengikuti instruksi Zellyna duduk di sebelahnya. "Sayang, ini sahabat mama, Sellyne." Zellyna memperkenalkan sahabat karibnya pada putrinya. Sivana berdiri dan mencium tangan Sellyne.


Meskipun sikap dingin dan batunya sangat kental, ia masih tau adab yang baik jika bertemu orang yang lebih tua.


"Oh, ini camanku. Cantik banget, nggak jauh beda sama yang di foto." Puji Sellyne. "Tante bisa aja." Basa-basi Sivana.


"Jadi mama ngenalin aku ke calon mertuaku? Aduh mama ada-ada aja deh. Suka banget ngambil keputusan sendiri. Nggak pake tanya-tanya dulu ke aku."


Sivana sibuk bergumam dalam hati. Ia bahkan tak lagi mendengar obrolan mama dan sahabat karibnya selanjutnya. Dirinya telah sibuk tenggelam dengan pemikirannya sendiri.


Sampai Zellyna menepuk pahanya. Ia sedikit terkejut lantaran harus kembali dari lamunannya.


"Kenapa, ma?" Tanya Sivana. "Gimana udah siap belum?" Zellyna memberikan pertanyaan balik. "Siap apa?" Sivana memasang wajah herannya.


"Beberapa hari lagi kan kamu berangkat ke Universitas baru kamu di kota lain." Ucap Zellyna penuh misteri.


Sivana tak berniat bertanya tentang ke mana ia akan dipindahkan atau ke mana ia akan ditempatkan karena ia sudah tau bahwa mamanya akan selalu bermain misteri-misterian dengannya.


"Dan yang pastinya beda negara juga." Sahut Sellyne.


Sivana membelalakkan mata.


"Di luar negeri? Yang benar aja. Mama nggak bercanda kan?"


.


.


.


.


.


Hai readers ku yang terhormat,


Mohon tinggalkan jejak dengan cara


Like, komen, dan vote nya Yaa


Dan jangan lupa dukung terus Author agar semangat up nya.

__ADS_1


Ok?


Love you😘😘


__ADS_2