
Sivana membuka mata. Ia me lap keringat dengan punggung tangannya. Sivana bangun dan duduk di ranjang. Ia mengambil kalung liontin di mejanya.
Ia sedikit mengusap kalung tersebut. "Ketakutan akan kegelapan di malam hari itu, takkan hilang sampai sekarang kalau saja aku tidak bertemu denganmu waktu itu."
...🌀🌀🌀...
"Kenapa bunda nyuruh cewek itu ke sini, sih?"
"Bagaimana aku akan menghadapinya nanti?"
'Byur'
Bryan menarik rambut basahnya kuat-kuat di depan cermin. Rasanya ia ingin meninju wajah di dalam cermin itu.
Beberapa tetes air di wajah dan rambutnya terjatuh menghantam keramik.
...🌀🌀🌀...
"Kira-kira bagaimana wajah cewek yang dijodohkan dengan Bryan? Aku penasaran." Jenny duduk sendiri di balkon Rumahnya. Ia tersenyum sinis. "Hmph, dia pikir sampah sepertinya bisa merebut hati Bryan?"
"Takkan kubiarkan dia mendekati priaku."
...🌀🌀🌀...
"Sivana!" Zellyana memanggil putri semata wayangnya yang sedari tadi tak kunjung turun dari kamarnya di lantai dua. "Tuh anak ke mana sih? Dia nggak kenapa-napa kan?" Zellyna mulai berpikir yang tidak-tidak.
Tak sampai satu menit, ia mendengar suara benda bertubrukan di tangga. Zellyna melonjongkan sedikit lehernya untuk melihat keadaan.
"Ma, Sivana udah siap." Sivana menuruni tangga dengan membawa satu koper dan satu ranselnya yang ia kalungkan di pundaknya.
Zellyna membantu menenteng koper putrinya. "Bunda Sellyne nggak ikut?" Ya, Sivana lebih memilih memanggil Sellyne dengan sebutan 'Bunda' ketimbang Tante. Karena ia menganggap Sellyne mirip dengan mamanya. Sivana melihat Sellyne yang duduk biasa tanpa ada barang-barang berat di sekitarnya.
"Nggak, sayang. Bunda mau di sini aja temenin mama kamu. Kan kasihan kalau ditinggal sendiri." Jelas Sellyne berdiri dan memeluk Sivana. "Baik-baik ya jagain anak bunda di sana." Bisiknya menggoda. Sivana hanya tersenyum tipis.
"Mama nggak apa-apa aku tinggal?" Sivana tampak khawatir menatap mamanya. Pasalnya setelah papanya tiada, Sivana belum pernah meninggalkan mamanya pergi jauh.
__ADS_1
"Nggak apa-apa." Zellyna memeluk erat putrinya. Sivana sekilas melihat mata mamanya berkaca-kaca.
"Kamu nggak perlu khawatir. Bunda akan jagain mama kamu di sini. Oke?" Sellyne merangkul pundak Zellyna. Zellyna mengangguk setuju.
"Kamu nggak perlu khawatir. Jaga diri baik-baik aja di sana ya."
Zellyna dan Sellyne mengantar Sivana ke Bandara. Sesampainya di sana, mereka menuju Hall Keberangkatan.
Sivana membalikkan tubuhnya. "Mama baik-baik ya di sini." Zellyna memeluk tubuh putrinya dengan tangisan yang sedari tadi ia tahan.
Sivana melepas pelukan dan menatap mamanya. "Ma, aku pergi dulu ya." Ia mencium punggung tangan Zellyna dan Sellyne. "Bunda, aku berangkat ya." Pamitnya. Ia memasuki kawasan penerbangan.
Tiba-tiba Zellyna merasa ada yang mengganjal di hatinya. Ia semakin tak ingin melepas kepergian putrinya. Zellyana memandangi putrinya khawatir. Seolah ada sesuatu yang akan terjadi. Aneh, padahal ia sendiri yang dengan semangat menyuruh putrinya untuk tinggal di Barcelona.
Kini, menyesal pun tidak mungkin. Zellyna memegangi dadanya.
"Ini pasti naluri seorang ibu yang akan ditinggal jauh anaknya."
Sellyne merangkul pundak Zellyna. Mengajaknya pulang. Zellyana menoleh ke belakang sekali lagi. Sivana sudah tidak nampak di sana.
Sivana duduk di kursi penumpang dengan wanita tua di sebelahnya. Ia merogoh ransel dan mengambil foto papa yang selalu menemaninya dan selalu menghiburnya saat ia sedang bersedih ataupun kesepian.
"Papa, sekarang aku lagi jauh dari mama. Aku nggak bisa jagain mama lagi. Maafin aku ya, pa. Aku nggak bisa tepatin janji buat selalu jagain mama." Ia mencium dan memeluk bingkai foto tersebut hingga tiba di tujuan.
Sesampainya di tujuan, Sivana turun dengan menenteng koper dan ranselnya. Ia mengambil trolly di Bandara dan menaruh koper miliknya di trolly itu. Sivana menunggu jemputan yang katanya akan mengantarkannya ke Kediaman Bryan.
Bunda Sellyne memang menyewa supir untuk mengantar Sivana ke Rumah Bryan agar Sivana tidak perlu repot-repot mencari alamat di tempat yang baru ia kunjungi pertama kali.
"Mm, suasananya bagus juga."
Gumamnya dalam hati.
Setelah hampir dua jam menunggu, Sivana yang merasa lelah menghentak-hentakkan kakinya. "Aduh, mana sih orang yang mau jemput?" Beberapa pengunjung yang lewat menatapnya keheranan. Sivana tidak peduli. Ia tidak biasa menunggu selama ini.
Ia mendorong trolly dan mencari Taxi. Ia memutuskan untuk menaiki Taxi sendiri saja daripada harus menunggu lebih lama lagi.
"Antarkan saya ke tempat ini ya, pak." Sivana menunjukkan secarik kertas berupa alamat Rumah Bryan. (Anggap aja ngomongnya pake bahasa Inggris ye kan)
__ADS_1
"Neng pasti bukan berasal dari sini ya?" Supir Taxi berbasa-basi. "Iya. Saya dari Indonesia." Jawab Sivana seadanya.
Setelah beberapa menit, "Berhenti di sini aja, pak." Pinta Sivana setelah tujuannya sudah semakin dekat. Ia turun di depan sebuah jalan semacam gang. Tidak tau apa namanya. Sivana keluar dari Taxi dan membayar Taxi tersebut. "Apa aku harus memasuki jalan ini?" Tanyanya pada diri sendiri.
Sivana melihat kalung liontin yang sekarang sedang ia pakai. "Taruh aja lah. Takut kotor." Ia menaruh kalung tersebut di dalam ranselnya.
Sivana melihat jalanan raya di depannya. Ia merasa kerongkongannya sangat kering.
"Haus, beli air dulu ah." Sivana menyebrang jalan. Ia memasuki sebuah Supermarket dan membeli air dan beberapa cemilan.
Setelah membayar ke kasir, ia segera keluar dan meneguk beberapa tegukan air mineral.
"Ah segar. Mumpung udah di sini, nggak ada salahnya kan jalan-jalan bentar?"
Sivana berjalan sendiri. Ia memutuskan untuk tidak berjalan terlalu jauh dari gang tersebut. Karena takut tersesat. Dirinya memang mudah tersesat, apalagi di tempat atau daerah yang baru ia kunjungi.
Sivana merogoh ponsel di saku celananya. "Oh my god, bateraiku tinggal lima persen?" Ia kembali menaruh ponselnya di saku.
Ia lanjut mengeluarkan bingkai foto dari ransel dan kembali memeluknya. Seolah tak ingin terpisah. Sivana menyempatkan diri berhenti di Cafe tak jauh dari gang tadi hanya untuk sekedar menongkrong. Ia memang sudah terbiasa menjadikan Cafe sebagai tempat tongkrongannya dan Ranny. "Oh iya, ngomong-ngomong apa kabar tuh anak?" Sivana mengingat momen di mana Ranny meminta Sivana mengabarinya jika sudah sampai di Barcelona. Tapi, nyatanya sampai sekarang, Sivana belum memberikan kabar apapun pada sahabat karibnya itu.
"Apa aku bisa hidup dengan pria yang tidak kucintai? Bahkan melihatnya pun aku belum pernah." Sivana terus bergumam sembari meminum Capuccino ice dan cemilan hangatnya.
Ia merasa ada yang tidak enak dalam hatinya. Ia melirik foto papanya sejenak. Sivana memilih tidak menghiraukan perasaan mengganjal di hatinya. Ia membayar minuman dan keluar dari Cafe yang tidak terlalu ramai tersebut.
Sivana menyibak rambutnya yang berterbangan. Ia berjalan sampai di seberang gang tempat ia turun pertama kali. Sivana menyebrang dengan tidak hati-hati.
Sebuah mobil yang dikendarai oleh sepasang kekasih yang sedang bertengkar, melaju kencang ke arahnya.
'Bruk'
Sivana terpental beberapa meter. Kepalanya menghantam aspal jalanan. Sementara bingkai foto dan ponsel miliknya terlempar entah ke mana.
'Tring tring tring'
Sebuah ponsel yang terjatuh di jalan, berbunyi dengan nama tertuliskan di layar ponsel tersebut:
lovely mom.
__ADS_1