Kekasih Yang Hilang

Kekasih Yang Hilang
Bab 5


__ADS_3

Seorang gadis terbangun dengan perban di kepalanya. Ia memegang kepalanya yang terasa sangat pusing.


"Halo!" Sapa seorang pria di samping ranjangnya. Pria itu melambai-lambaikan tangan memastikan keadaan gadis di depannya.


"Are you okay?"


"Kamu siapa?" Gadis tersebut menghindar saat pria itu hendak menyentuh pundaknya. "Kamu bisa bahasa Indonesia?" Tanya pria itu. Gadis itu hanya menatap asing pria di hadapannya.


"Gini aja. Nama nona siapa? Biar saya antarin nona ke alamat Rumah nona." Tawar pria tersebut.


"Namaku? Siapa namaku? Siapa aku?"


Karena tak kunjung mendapat balasan dari gadis tersebut, ia memilih mengulurkan tangannya. "Namaku Bryan. Tadi ada kejadian nggak enak menimpa kamu. Karena aku lihat kamu pingsan di dekat jalan menuju Rumahku, aku bawa kamu ke Rumah Sakit." Jelas Bryan.


"Aku di Rumah Sakit?" Tanya gadis tersebut yang akhirnya mengeluarkan suara. Bryan mengangguk.


"Lebih baik nona istirahat dulu. Aku akan konsultasi dengan dokter." Bryan pamit tak mau mengganggu pasien yang terlihat masih lelah dan bingung.


Ia keluar dan bercakap-cakap dengan salah satu dokter yang menangani pasien korban kecelakaan tersebut.


"Sebenarnya apa yang terjadi padanya, dok?" Tanya Bryan. Ia melihat dokter tersebut menghela napas. "Pasien mengalami amnesia akibat kecelakaan tadi." Jawab sang dokter terang-terangan. "Apakah parah, dok?" Bryan kembali melontarkan pertanyaan.


"Penyebab utama amnesia adalah terjadinya kerusakan pada bagian otak yang berfungsi untuk membentuk sistem limbik. Biasanya hal itu terjadi karena benturan keras di kepala." Dokter dengan sabar menjelaskan.


Bryan menoleh pada gadis yang kini tengah melihat ke arah dirinya dan dokter dengan tatapan penasaran.


Bryan mengurus biaya administrasi Rumah Sakit, sedang pasien itu berdiri di depan ruang NICU. Ruang khusus perawatan bayi yang baru lahir. Ia menyentuh kaca ruangan tersebut.


"Hai, kamu ngapain? Udah baikan?" Sapa Bryan hangat. Ia berdiri di samping gadis tersebut. "Jadi, siapa namamu? Kamu belum sempat menjawabnya. Kamu kelihatan masih bingung tadi." Bryan kembali menanyakan nama gadis tersebut.


Gadis itu tak langsung menjawabnya. Ia menoleh ke depan. Mengamati nama salah satu bayi. Ia menangkap salah satu nama.

__ADS_1


"Namaku Keisya." Ucapnya dengan suara lembutnya.


"Keisya..."


"Keisya aja."


"Sebenarnya apa yang terjadi denganku?" Tanya Keisya penasaran. Bryan tampak berpikir sejenak. "Kamu kecelakaan tadi. Tapi tenang saja, semua pasti baik-baik aja." Bryan menenangkan Keisya.


Ia sedikit menyesal telah memberitahunya. "Pasti berat untuknya." Bryan menyimpulkan dalam hati.


Di luar dugaan, Keisya justru terlihat biasa saja. "Makasih ya udah selamatin aku dan udah mau bantu ngurus biayanya." Keisya tersenyum manis. Bryan sempat terpana akan senyuman Keisya. Saat pertama kali melihatnya, ia pikir gadis di hadapannya ini adalah gadis yang dingin. Namun, sekarang penilaiannya berubah ketika sempat melihat senyum manis dari Keisya.


"Makasih bayi. Udah bantu aku." Keisya menatap bayi di dalam ruangan.


"Oh iya, kamu masih ingat alamat rumahmu di mana? Biar sekalian aku antar. Aku juga mau pulang soalnya." Bryan memecahkan lamunan Keisya. Keisya sontak menoleh. Ia menatap Bryan selama beberapa saat sebelum akhirnya menggeleng.


Bryan tampak berpikir.


"Susah juga nih cewek." Pikirnya. Keisya menatap Bryan dengan mata sendunya. Bryan sedikit tersentuh akan tatapan yang tertuju padanya tersebut.


"Emang nggak ngerepotin?" Tanya Keisya masih dengan wajah kalemnya.


Setelah memutuskan, akhirnya Bryan membawa Keisya ke Rumahnya untuk tinggal bersamanya sementara.


"Semoga Jenny nggak marah sama aku."


Bryan bergumam sembari menyetir mobil dengan Keisya yang duduk di sebelah kursi kemudi.


Sesampainya di Rumah Bryan, ia turun dan tampak membuka bagasi mobilnya. Ia menurunkan sebuah koper dari mobilnya.


"Itu koper siapa?" Tanya Keisya melihat Bryan mengeluarkan koper dari bagasi. "Ini kopermu. Ditemukan oleh orang-orang saat kamu kecelakaan tadi." Ia menenteng koper tersebut ke dalam Rumahnya.

__ADS_1


Bryan melangkah memasuki Rumah dengan Keisya yang mengikuti di belakangnya. Sesampainya di dalam, ia malah bingung harus mengatakan apa. Ia mengusap tengkuk untuk menghilangkan rasa gugupnya. Ini pertama kalinya ia membawa gadis lain ke Rumahnya selain Jenny.


Keisya melihat-lihat Rumah yang cukup luas tersebut. Ia kemudian menatap Bryan. Seolah menunggu instruksi darinya. Bryan yang merasa ditatap semakin merasa gugup. Ini juga kali pertama ia merasa gugup dengan gadis lain, selain Jenny tentunya.


"Itu kamarmu." Ia akhirnya menunjuk sebuah kamar di dekat tangga. "Makasih." Keisya meraih koper dan pamit menuju kamar yang dimaksud. Ia meletakkan koper dan mulai membereskan isi kopernya.


"Ehem. Ini milikmu, kan?" Bryan mengetuk pintu kamar yang terbuka untuk mengalihkan perhatian Keisya dari kegiatan beres-berberesnya.


Keisya mengambil ransel yang di tangan Bryan. "Makasih." Ucapnya lagi. Bryan hanya mengangguk singkat. Keisya menatap langkah Bryan. Sedetik kemudian, seutas senyum terukir di bibirnya.


Ia membuka ransel miliknya dan menemukan sebuah kalung liontin. Keisya memungut kalung yang bisa dibuka-tutup. "Foto siapa ini?" Ia memandangi foto anak lelaki berusia sekitar 5-7 tahun. Keisya menyelipkan kalung itu di antara pakaian-pakaian di lemari kamar tersebut.


Setelah membereskan barang-barangnya, ia berjalan mengelilingi kamar yang berstatus miliknya sementara. Catat! Hanya sementara. Tiba-tiba ia terdiam dengan wajah murung.


"Apa yang harus aku lakukan setelah ini? Aku tidak mungkin tinggal di sini selamanya. Ke mana aku akan pergi setelah ini? Sedangkan, aku sendiri tidak ingat, siapa diriku."


Ia takut akan nasibnya ke depannya. Namun, di balik itu, ada sesuatu yang membuatnya lebih takut.


Ya, ia takut tidak akan bisa lagi bertemu dengan pria sebaik Bryan. Ia menghela napas. "Apapun yang akan terjadi ke depannya, biar takdir yang menuntunku." Pasrah nya.


Keisya mengernyitkan dahi. Ia mendengar suara Bryan yang mengobrol dengan seseorang lewat telepon. Tanpa sadar, ia mendekati pintu dan menempelkan telinganya di balik pintu.


"Aku nggak tau, bun. Sampai sekarang, dia belum kunjung datang." Suara Bryan.


"Bagaimana ini? Mama Zellyna khawatir banget. Supir yang bunda suruh benaran nggak sih? Tau gitu bunda suruh supir yang lain aja."


Bryan mengecek ponselnya. Ada notifikasi pesan masuk.


"Bun, supirnya baru ngasih kabar. Katanya tadi di perjalanan, sempat ada kendala sama mobilnya. Terus setelah dia perbaiki mobilnya di ke Bandara, dan nggak nemuin cewek yang namanya Sivana." Jelas Bryan panjang.


"Gimana ini? Bunda nggak mau tau kamu bantu cariin. Kalau nggak, mama Zellyna bisa nangis semalaman, nih."

__ADS_1


Bunda Sellyne memutuskan sambungan telepon sepihak. Membuat Bryan kembali memijat pelipisnya.


Keisya menghampiri dan duduk di samping Bryan. "Apa ada masalah?" Tanyanya memberanikan diri. Bryan menoleh dan hanya menjawab dengan gelengan.


__ADS_2