Kekasih Yang Hilang

Kekasih Yang Hilang
Bab 9


__ADS_3

Bryan menjauhkan wajahnya dari Keisya. Keduanya semakin terdiam. Keadaan semakin sulit. Keisya berharap irama detak jantungnya tidak terdengar dalam keadaan sunyi seperti itu.


Saat ini, ia merasa suara jantungnya sudah seperti alat musik drum yang dimainkan. Mereka sampai di tempat parkir dan langsung memasuki mobil.


Bryan melajukan mobilnya ke suatu tempat. Ia membelokkan mobilnya berlawan arah dengan Rumah. Keisya meliriknya bingung. "Maaf, tapi lamu nggak salah jalan, ya?"


Lagi dan lagi Bryan tak menggubris pertanyaan Keisya. Keisya menghela napas memilih pasrah. Ia tak lagi bertanya macam-macam. Keadaan mobil kembali sunyi dengan Bryan yang fokus menyetir dan Keisya yang tenggelam dengan pikirannya sendiri.


Bryan membawa Keisya ke suatu Danau yang terlihat sejuk di mata. Ia keluar dari mobil dan duduk di rerumputan berhadapan langsung dengan pemandangan Danau. Keisya membuka pintu mobil dan menyusul Bryan. Ia duduk di samping Bryan dengan merangkul lutut.


Bryan tak sedikitpun melirik ke arah Keisya. Ia tak menghiraukan Keisya di sampingnya.


"Apa aku cuman diajak buat berlomba sunyi di sini?"


Keisya lagi-lagi menghela napas.


"Wajarlah dia kayak gitu. Kan dia udah punya pacar." Keisya melihat pemandangan di depannya dengan suasana hati yang kurang baik.


"Bagus pemandangannya kalau suasana hatiku sedang bagus." Keisya menatap Danau itu sendu. Ia melirik Bryan yang tampak sibuk dengan ponselnya.


Bryan mendapat notifikasi pesan dari Jenny.


#Honey, kamu di mana? Kok dapur kacau gini? Aku pulang aja ya#


Bryan tersenyum lega. Ia tahu Jenny adalah wanita yang tidak suka melihat kekotoran atau barang yang berserakan.


"Yuk, pulang!" Ajak Bryan. Ia berjalan mendahului Keisya. Keisya memandangi punggung Bryan. Ia tersadar dan segera mengikuti Bryan memasuki mobilnya.


Selama perjalanan, kedua insan itu hanya menatap lurus ke jalanan. Tak berniat membuka percakapan.


...~~~...


"Maaf ya, sayang." Bryan melakukan panggilan video dengan Jenny. Ia masih berusaha membujuk Jenny yang masih merajuk karena peristiwa tadi siang.


"Kenapa dapur kamu bisa kacau gitu? Kamu habis ngapainin dapur kamu?" Jenny menyelidik Bryan. Bryan menggaruk tengkuknya. Memikirkan sebuah alasan untuk membohongi Jenny.


"Tadi pas aku sarapan, kompornya tiba-tiba meledak. Untung nggak parah." Bryan bersandiwara.


"Lagian kamu kenapa nggak mau sewa ART (Asisten rumah tangga), sih?" Jenny merasa heran. Dengan kekayaan melimpah yang dimiliki Bryan, kenapa pria itu tak mau membayar seorang ART. Apa ia sepelit itu hanya untuk menyewa seorang ART?


"Aaa."

__ADS_1


"Bryan, suara siapa itu? Kok kayak ada cewek yang teriak?" Jenny menatap Bryan curiga. Bryan menengok ke kamar di depannya yang dipisahkan oleh dinding dan pintu kamarnya yang sengaja ia tutup.


"Kenapa lagi tuh cewek?"


"Bryan kamu lagi sendiri, kan?" Jenny masih menatap Bryan curiga. "Mm, aku sendiri kok."


"Terus, suara cewek tadi, suara siapa?" Jenny memaksa Bryan berpikir keras tentang sebuah alasan untuk kembali membohongi Jenny.


"Oh, jadi itu tadi aku nonton film di TV, tapi aku lupa matiin TV nya." Jelas Bryan berbohong.


"Oke, Aku percaya." Bryan menghela napas lega. Ia bersyukur Jenny tak mempersulit dirinya dengan pertanyaan yang membuatnya harus memutar otak.


"Mm, bentar ya. Aku kebelet. Nanti aku telepon lagi." Bryan memutuskan sambungan telepon. Ia menghela napas panjang.


"Semenjak kenal sama cewek itu, aku jadi sering nggak jujur sama Jenny. Maafin aku sayang." Gumam Bryan dalam hati. Ia berjalan menuju kamar Keisya. Penasaran apa yang terjadi padanya.


Bryan sampai di depan pintu kamar Keisya dan mengetuk pintunya. Keisya tak kunjung membuka membuat Bryan semakin penasaran apa yang terjadi padanya.


"Jangan-jangan dia kenapa-napa lagi?" Bryan membuka pintu kamar Keisya dan tercengang melihat Keisya yang berdiri di atas ranjangnya dengan memegang selimut.


"Kamu ngapain?" Tanya Bryan terkejut. "Ada kecoa. Aku takut." Keisya mengusir kecoa dengan mengibas-ibas selimut ke arah kecoa tersebut.


"Sama kecoa aja takut." Bryan mengambil kecoa tersebut dan membuangnya di tong sampah. Ia kembali ke kamar Keisya. "Kecoanya udah aku buang. Kamu nggak akan berdiri semalaman di situ, kan?" Sindir Bryan tanpa menengok. Ia kembali ke kamarnya meninggalkan Keisya yang merasa malu dengan tingkahnya barusan.


Malam itu Keisya tak bisa tidur. Ia berpikir apa ia masih berani memunculkan diri di depan Bryan besok-besok.


"Aduh, aku kenapa sih? Hal sekecil itu kenapa bisa aku sampai kepikiran begini?"


...~~~...


Seperti biasa sebelum tidur, Bryan mengguyur air di kamar mandi. Ia berdiri di depan cermin di kamar mandinya. Sekelebat bayangan kejadian tadi terus bermunculan di kepala Bryan. Ia menahan tawa mengingat Keisya yang terlihat memalukan.


...πŸŒ€πŸŒ€πŸŒ€...


"Keisya ke mana sih? Kenapa nggak pernah hubungin aku ya?" Seorang gadis duduk sendirian di Cafe dengan ditemani segelas jus buah kesukaannya dan ponsel yang sedari kemarin ia amati.


Yap betul. Dia adalah Ranny. Sahabat karib Sivana jika kalian masih ingat. Ranny mengutak-atik ponselnya tidak jelas melakukan apa.


"Nggak amanah banget jadi teman. Masa udah lima harian dia nggak ngabarin aku." Ranny menaruh ponselnya di atas meja. Ia meras bete.


"Jangan-jangan, Sivana udah dapat banyak teman baru dan aku dilupain." Ranny mulai berpikir yang tidak-tidak. "Eh tapi nggak mungkin nggak sih? Emang Sivana bisa berteman selain dengan aku?" Ranny kembali menolak kenyataan. Ia tahu Sivana adalah orang yang tidak mudah berteman dan tidak suka memiliki banyak teman.

__ADS_1


"Eh tapi nggak tau juga sih. Ah pusing." Ranny menutup wajahnya. Ia merasa pusing memikirkan kabar dari temannya itu.


"Hei, nona. Kamu nggak apa-apa? Boleh aku duduk di sini?"


Ranny mengangkat wajah. Ia menautkan alis melihat seorang pria berdiri di hadapannya.


...πŸŒ€πŸŒ€πŸŒ€...


Seorang gadis cantik duduk menyilang kaki di balkon Rumahnya. Ia menghisap rokok lalu menghembuskan asapnya.


"Kenapa dia malah menghilang, sih? Aku belum sempat nyiksa dia." Gadis itu berdiri dan membuang rokoknya ke bawah balkon.


"Kayaknya lebih baik nyiksa dia, daripada dia menghilang." Gadis itu melangkah masuk ke kamarnya.


...πŸŒ€πŸŒ€πŸŒ€...


Pagi-pagi Keisya mencari kesibukan dengan menyapu halaman depan. Ia melihat Bryan yang keluar membuka mobilnya. Keisya berpura-pura sibuk menyapu. Ia menutup wajahnya dengan gagang sapu.


"Kok jadi ingat yang semalam, ya?"


"Aduh, udah ah nggak usah diingat."


Bryan sekilas melirik Keisya.


"Ngapain tuh cewek?"


Keisya melihat Bryan melangkah mendekatinya. "Ayo!" Bryan menarik tangan Keisya mengikutinya.


Sampai di depan pintu mobil, Keisya memandang Bryan heran. "Kita mau ke mana?" Tanyanya bingung.


"Temani aku ke Perusahaan." Pinta Bryan singkat. Keisya tak mampu menolak. Ia memasuki mobil dan duduk dalam diam.


.


.


.


.


Hai readers, kalau kalian suka,

__ADS_1


boleh banget ditekan tombol likenya Yaa. Dan jangan lupa tinggalkan komen kalian, dan support Author terus. Agar Author semangat menulisnya😘😘


__ADS_2