Kekasih Yang Hilang

Kekasih Yang Hilang
Episode 11


__ADS_3

Ranny tampak lebih tenang. Tyo melepas pelukannya. Ia menarik kursi duduk lebih dekat dengan Ranny. Ranny menatap Tyo salah tingkah. Ia merasa wajahnya sembab akibat menangis.


"Jadi kenapa? Siapa itu Sivana?" Tyo membuka percakapan. Ranny menghembuskan napas. "Sivana itu sahabatku."


"Dia dijodohin sama sahabat dari mamanya. Dan seminggu yang lalu, dia menyusul jodohnya di Barcelona. Tapi anehnya kok dia nggak ngabarin aku. Ternyata aku baru dengar kabar dari calon mertua Sivana, kalau Sivana hilang." Cerita Ranny panjang.


Tyo tampak mengerutkan kening. "Tapi tadi kamu bilang Sivana kecelakaan?"


Ranny menggeleng. "Aku nggak tau. Tante Sellyne, calon mertuanya Sivana bilang kalau mereka cari tahu, katanya ada perempuan yang kecelakaan dan hpnya perempuan itu jatuh dan diambil sama pihak yang berwajib buat diamankan. Pas dicek, tenyata itu hp milik Sivana." Ranny tak sanggup menceritakan kronologi yang menimpa sahabatnya sendiri. Ia bahkan terbatuk-batuk karena berusaha menahan tangis.


Tyo menepuk-nepuk pundak Ranny pelan. "Kamu tenang aja. Belum tentu yang kecelakaan itu Sivana." Tyo kembali mencoba menghibur Ranny. "Semoga memang begitu."


...🌀🌀🌀...


Bryan asyik mengobrol dengan Jenny sampai sore hari menjelang petang. Bryan teringat akan Keisya. "Sayang, kamu pulang dulu, ya." Bryan mengelus pipi Jenny.


"Kenapa? Aku masih mau ngobrol sama kamu." Jenny merengek manja. "Tiba-tiba aku ingat masih ada kerjaan yang harus aku selesaikan." Bryan mencari alasan. "Mm, ya udah deh. Aku pulang ya." Jenny bangkit dan meraih ranselnya. Ia memeluk Bryan singkat, tanda berpamitan.


"Maaf ya aku nggak bisa ngantar kamu." Bryan mengelus pipi Jenny lembut. Ia menatap kekasihnya itu lekat. Bryan tenggelam akan keindahan sepasang mata kucing milik Jenny.


"Nggak apa-apa. Aku pulang ya." Pamit Jenny. "Hati-hati, sayang." Bryan melambaikan tangan pada Jenny yang terlihat memasuki mobilnya.


Setelah memastikan Jenny sudah benar-benar pulang, Bryan buru-buru menaiki lift dan menuju ruangannya. Ia berpapasan dengan Sekretaris Perusahaan.


"Keisya di mana?" Tanya Bryan buru-buru. "Di dalam, Tuan." Jawab Sekretaris tersebut dengan sopan. "Makasih." Bryan memasuki ruangannya. Memastikan apa Keisya masih betah menunggunya di dalam.


Bryan melihat ruangannya yang kosong melompong. "Ke mana dia?" Bryan mendengar suara dengkuran halus dari belakang pintu. Bryan yang penasaran, memutuskan membuka pintunya untuk memeriksa apa ada seseorang di baliknya.

__ADS_1


Bryan terperanjat melihat Keisya yang tertidur dengan posisi duduk. Keisya menenggelamkan wajah pada lututnya. Ia tertidur dengan memeluk lutut.


"Selama itu ya, aku ninggalin dia?"


Bryan bingung bagaimana cara membangunkan Keisya yang tampak nyenyak tertidur. "Kenapa kalau aku tinggalin kamu walaupun kadang cuman sebentar kamu selalu ketiduran?" Bryan berjongkok. "Keisya, Keisya!" Bryan menepuk-nepuk lengan Keisya pelan.


Keisya tersentak bangun. Ia mengerjap-ngerjapkan mata. Keisya melihat Bryan di depannya. Ia sontak berdiri tegak. "Aku ketiduran ya?" Keisya terlihat salah tingkah.


"Jam berapa ini? Yuk, pulang!" Bryan melirik jam tangannya. Ia menarik tangan Keisya. Mengajaknya pulang.


'Pruttt'


Bryan menghentikan langkah. Keisya memegang perutnya. "Maaf, aku lapar." Ungkapnya tertunduk malu. Bryan sampai terlupa bahwa Keisya belum makan dari siang hari. Bahkan, ia tidak melihat Keisya sempat sarapan tadi pagi.


"Nanti mampir di Restoran dulu." Bryan membawa Keisya menuju parkiran. Ia melajukan mobilnya mencari Restoran yang strategis. Sampailah mereka di sebuah Restoran.


"Aku pesan apa aja deh." Keisya mendorong menu tak berniat melihat-lihat lagi. "Kenapa?" Bryan mengerutkan kening. "Aku bingung sama nama-nama makanannya." Jawab Keisya jujur. Bryan baru sadar jika ini pertama kalinya Keisya makan di Restoran Barcelona. Keisya bahkan tidak tahu mengapa dirinya bisa terdampar di Barcelona. Bryan pun penasaran bagaimana Keisya bisa di sini. "Pesan yang sama aja kayak punyaku." Ujar Bryan.


Tak lama, makanan mereka datang. Keisya memakan makanannya dengan lahap. Ia sesekali memergoki Bryan yang menatapnya.


Selesai makan, Bryan melajukan mobil menuju Rumahnya. "Makasih." Ucap Keisya di dalam mobil.


"Seenggaknya dia masih peduli denganku."


Keisya berharap malam masih panjang tak akan berganti pagi. Bila perlu, ia berharap mobil ini mogok di tengah jalan. Agar dirinya masih punya banyak waktu bersama Bryan. Tapi sepertinya itu hanyalah harapan semata. Keisya yang tahu bahwa Bryan sudah memiliki seorang kekasih, segera menghilangkan khayalan dari pikirannya.


"Ini udah mau seminggu aku bersama Bryan. Dua hari lagi aku harus pergi. Tapi ke mana aku akan pergi?" Keisya teringat akan dirinya yang hanya menjadi tamu di Rumah Bryan.

__ADS_1


Bryan membelokkan mobil ke pekarangan Rumahnya.


...~~~...


"Kalau aku pergi dari sini, apa aku masih bisa ketemu sama Bryan?" Keisya menghabiskan malamnya untuk merenung.


"Kenapa aku begitu terikat sama dia?" Keisya mengusap wajahnya. "Kenapa aku urusin itu sih? Semoga aja hari sangat panjang. Biar hari nggak cepat berlalu." Keisya berbaring tanpa memejamkan mata.


...🌀🌀🌀...


Zellyna memasuki kamar putrinya, Sivana. Ia duduk di ranjang Sivana. "Sayang, kamu ke mana? Mama kangen. Kenapa nggak ngabarin mama? Mama pengen banget nyusul ke sana. Tapi, nggak bisa. Berbagai cara mama lakuin buat bisa nyusul ke sana, tapi selalu nggak bisa." Zellyna mengelus ranjang bekas Sivana.


Ia perlahan membaringkan tubuhnya di ranjang putrinya. Tetesan air mata terjatuh di ujung matanya.


Sellyne melihat sahabatnya tertidur di kamar putrinya. Ia tak berniat membangunkan sahabatnya sama sekali.


...🌀🌀🌀...


Keisya membersihkan dan membereskan barang-barang di gudang. Bryan yang mendengar grasak grusuk di gudang, menghampiri gudangnya. Ia terkejut melihat Keisya di sana. Bryan melangkah menjauh dari gudang itu tanpa berniat bertanya apa yang dilakukan Keisya di sana.


Bryan segera membalikkan tubuhnya kembali. Ia melihat lemari kaca di gudang tersebut bergerak tak seimbang. Lemari kaca itu nampak semakin bergoyang ke depan. Hingga lemari itu perlahan jatuh ke depan. Bryan melihat Keisya di depan lemari kaca itu. Ia bergerak cepat maju ke depan Keisya hingga lemari itu mengenai punggungnya.


Bryan merasakan nyeri di punggungnya. Lemari itu mendarat di punggung Bryan. Beruntungnya lemari itu tidak pecah. Keisya terkejut. Melihat Bryan yang tiba-tiba ada di depannya. Keisya melihat lemari yang berhenti di punggung Bryan. Bryan terlihat berhati-hati. Salah langkah sedikit, lemari kaca itu akan terjatuh dan mungkin akan melukai kakinya.


"Bryan, kamu..." Keisya menatap mata Bryan. Ia menyalahkan jantungnya yang masih sempat-sempatnya berdegup kencang di situasi seperti ini.


"Kamu siap?" Tanya Bryan misteri. "Si... Siap apa?" Keisya gugup.

__ADS_1


__ADS_2