
'Tring tring tring'
Bryan merasa ponselnya bergetar. Ia melihat nama Jenny tertera pada layar ponselnya. Bryan melirik Keisya sejenak. Keisya yang tak ingin mengganggu, melangkah memasuki kamarnya. Ia menutup pintu kamar dan kembali menempelkan telinganya di balik pintu.
"Halo, sayang. Kenapa?" Bryan membuka percakapan yang sukses menusuk hati Keisya.
"Dia udah punya pacar?"
Ia merasa sapaan 'Sayang' itu berbeda dan hanya ditujukan untuk orang spesial.
"Apa? Kamu mau ke sini?" Bryan tanpa sadar meninggikan suaranya. "Ya boleh. Ya udahlah." Bryan memilih mengalah. Setelah memutuskan sambungan telepon, ia melangkah menuju kamar Keisya.
Bryan membuka pintu kamar Keisya tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Sontak, Keisya menjauhkan kepalanya dari pintu. Ia terkejut lantaran kepalanya yang hampir terbentur pintu.
"Maaf, kamu ngapain di belakang pintu?" Bryan menatap Keisya dengan tatapan curiga seakan siap menginterogasi Keisya.
"Aku cuman kebetulan di belakang pintu." Keisya mencari alasan. Tentu saja ia berbohong. Tidak mungkin dirinya memberitahu kebenarannya bahwa ia sedari tadi menguping percakapan Bryan.
"Mm, Keisya, kamu tunggu di sini ya. Nanti ada tamu yang akan datang. Kamu jangan keluar dari kamar kalau aku nggak panggil." Bryan memberikan instruksi. Keisya hanya mendengar dan mengangguk menerima perintah Bryan.
Bryan hendak keluar, namun dengan cepat ia berbalik kembali dan menyerahkan ponselnya pada Keisya. Keisya menatap bingung.
"Pakai ponselku dulu. Kamu boleh main apapun asal jangan membuka aplikasi chat-ku ya." Keisya menerima dengan tatapan tak percaya.
"Dia memperlakukanku seperti anak kecil yang lagi disogok."
Tapi, Keisya tersenyum senang.
"Baguslah dia ngasih ponselnya ke aku. Berarti dia percaya sama aku. Padahal kami baru ketemu. Dia bukan cuman ngajak aku tinggal di Rumahnya, tapi juga ngasih hp nya buat aku pinjam. "
Keisya hanya membuka sosial media dan men- scroll-scroll foto-foto Bryan di Instagram. Setelah itu, ia menaruh ponsel Bryan di atas nakas. Tak berani memainkan ponsel Bryan terlalu lama.
Tak berapa lama, Keisya mendengar pintu ruang tamu terbuka disusul dengan suara sepasang kekasih yang saling menggoda. Entah kenapa, mendengar itu, Keisya merasa dadanya panas seketika.
__ADS_1
Ia kembali menempelkan telinganya di balik pintu.
"Honey, cewek yang bunda kamu janjiin mana? Kok dia nggak datang?" Sahut sebuah suara. "Nggak tau. Tadi bundaku nelepon terus. Dia bilang, cewek itu hilang kabar." Terangnya. "Bagus. Jangan-jangan doaku terkabul soal aku mengatakan semoga dia menghilang?" Jenny berkata santai.
"Sayang, jangan gitu. Kita doakan aja semoga dia sampai ke sini dengan selamat. Karena bagaimanapun, dia anak sahabat karibnya bundaku. Putri satu-satunya lagi." Bryan menasihati Jenny yang kini memajukan bibir bawahnya. Cemberut.
Sementara di dalam kamar, sepasang telinga mendengar jelas semua yang mereka katakan. Keisya merasa iba dengan gadis yang dibicarakan mereka. "Kasihan banget dia, Semoga dia nggak apa-apa." Ucapnya iba.
Ia memberanikan diri membuka sedikit pintu kamarnya. Keisya dapat mengintip melalui celah di pintu. Ia melihat Bryan dan seorang gadis cantik yang tengah duduk berhadap-hadapan dan mengobrol manis layaknya seorang kekasih.
Keisya kembali menutup pintu dengan pelan. Ia berbalik dan duduk di ranjang. "Sepertinya kehadiranku sama saja mengganggu mereka. Seharusnya aku nggak pernah di sini." Gumamnya meratapi nasib.
Angin berhembus kencang melalui jendela kamar. Keisya bangkit dan menutup jendela kamarnya. Ia melihat keadaan di luar yang mulai gelap. Ia menutup jendela dengan cepat.
"Tapi, di mana aku tinggal kalau bukan di sini?" Keisya menyadarkan dirinya sendiri.
Ia kembali duduk memangku dagu dengan satu tangannya di ranjang. Kepalanya beberapa kali terjatuh akibat rasa kantuk yang menyerangnya. Ia memilih menunggu sampai tamu spesial Bryan pulang.
...~~~...
"Halo, sayang. Kamu udah ketemu Sivana belum?"
"Belum, bun. Sampai sekarang dia belum datang.
"Kamu serius?"
"Aku serius, bun."
"Kalau gitu, kamu utus orang buat cari dia!"
"Aku udah mengutus beberapa orang buat cari dia, bun. Bunda tenang aja, dia nggak mungkin kenapa-napa kok. Dia kan udah dewasa." Bryan mencoba menenangkan Sellyna.
"Ok deh. Kalau sampai besok Sivana belum ditemukan juga, bunda sama mama Zellyna akan menyusul."
__ADS_1
'Tut tut tut'
Lagi-lagi bunda Sellyne memutuskan sambungan telepon lebih dulu. Bryan menghubungi beberapa orang. Menanyakan apakah pencarian mereka sudah ada hasil.
#Kalau di Bandara nggak ada, kalian cari di luar Bandara. Di manapun asalkan ketemu#
#Baik, tuan#
Bryan menaruh ponsel itu di sakunya. Ia kembali duduk bergabung dengan kekasihnya. "Kenapa?" Jenny bertanya dengan malas. Ia sudah tau bahwa kekasihnya membicarakan kehilangan Sivana dengan bundanya.
"Sivana masih belum ditemukan. Aku khawatir, apa aku susul aja ke Bandara dan cari dia di sana." Bryan terlihat khawatir. Bagaimanapun, Sivana adalah tamu amanah dari bundanya yang harus ia jaga. Ia merasa ikut bertanggung jawab.
"Terserah kamu aja." Jenny tak peduli. "Sebenarnya sih, kamu nggak perlu khawatir. Kan banyak anak buah kamu yang mencari dia. Apa itu nggak cukup?" Jenny memberikan saran. "Iya tapi aku nggak tenang kalau gini." Bryan menggosok-gosok tangannya mencoba menenangkan diri.
"Nggak apa-apa, jangan khawatir. Lagian aku pikir, dia cukup dewasa untuk tidak selamat." Jenny masih mencoba menenangkan atau lebih tepatnya membujuk.
Meski kata-kata Jenny tidak berhasil menghilangkan kekhawatiran di hati Bryan, tapi ia berpikir bahwa apa yang dikatakan Jenny mungkin ada benarnya.
Selanjutnya mereka menghabiskan waktu sampai pukul 00:02. "Yaah, udah tengah malam nih. Aku tidur di sini aja ya." Jenny berpikir untuk menginap di Rumah Bryan karena hari yang sudah kelewat malam.
"Jangan, Kamu pulang aja." Larang Bryan. "Kenapa?" Jenny mengernyit bingung. Biasanya justru Bryan yang memintanya menginap di sini jika sudah lewat malam.
"Mm, kamar yang biasa kamu pakai, lagi berantakan. Lagi direnovasi." Bryan mencari alasan. "Mm, ya udah. Aku tidur di kamar itu aja." Jenny menunjuk sebuah kamar di dekat tangga. Bryan memelotot seketika.
"Jangan!" Bryan kembali melarang. "Sekarang apa lagi?" Jenny menanyakan alasan kenapa dia tidak boleh tidur di kamar itu.
"Itu kamar tamu, banyak kecoa. Soalnya nggak pernah dipake. Terus lampunya juga nggak ada. Kan nggak lucu kalau kamu tidur gelap-gelapan." Jika berhadapan dengan Jenny, memang harus mencari akal sebelum alasan.
Jenny memelas. "Ya udah, aku pulang." Ia mengambil ransel miliknya dengan wajah cemberut. "Aku antar."
Bryan menyempatkan diri mengantar Jenny ke Rumahnya. "Met bobo, cantik." Bryan mengecup kening Jenny dan membiarkannya turun dari mobil. "Bye, sayang." Bryan mengemudikan laju mobilnya kembali ke Rumah.
Sesampainya di Rumah, ia mengetuk pintu kamar Keisya beberapa kali namun tak ada jawaban.
__ADS_1
"Mungkin sudah tidur."
Bryan memilih kembali ke kamarnya. Tapi sebelum itu, ia memutuskan untuk mengguyur air di kamar mandi.