
Bangun pagi-pagi sekali, Keisya keluar dari kamar bersamaan dengan Bryan yang terlihat rapih dengan jas serta dasi dan tas kantor yang ditenteng.
Rasa gugup menjalar di hati Keisya saat Bryan sempat menatapnya. Bryan memutuskan kontak mata. Ia membuka pintu bersiap berangkat ke Perusahaan Sanjaya yang ditangani oleh Bryan.
Keisya menghampiri Bryan dan memberikan ponselnya. "Makasih ya." Ucapnya. "Aku nggak buka macam-macam loh." Ujar Keisya melihat Bryan yang sempat menatapnya. Bryan mengambil ponsel miliknya dari Keisya.
"Aku berangkat dulu. Kalau mau makan, masak aja. Ada bahan masakan di dalam kulkas." Terang Bryan kemudian menutup pintu.
"Tunggu!" Keisya hendak bertanya. Namun, Bryan sudah menghilang di balik pintu.
"Masalahnya aku nggak bisa memasak."
Keisya berjalan menuju dapur. Ia membuka kulkas dan melihat-lihat isinya. "Apa aja nih?" Setelah lama merenung di depan lemari es, Keisya akhirnya memutuskan untuk hanya membuat mie instan dan telur.
Sehabis makan dan membereskan dapur, Keisya hanya menghabiskan waktunya di kamar. Sampai tibalah malam.
Bryan tiba di depan pintu. Ia memasuki Rumah dan langsung mengguyur air.
Bryan keluar dari kamar mandi. Ia mendengar suara kebisingan di dapur. Ia yang cemas akan ada pencuri memasuki Rumahnya, menuju dapur dengan handuk yang masih melilit tubuhnya.
"Siapa itu?" Bryan terkejut mengetahui sosok yang di dapur adalah Keisya yang tengah mencoba memasak makan malam. Keisya berbalik dan merasa lebih terkejut lagi melihat tubuh Bryan yang hanya ditutupi lilitan handuk.
Keisya sontak menutup mata dengan kedua tangannya. "Bryan, kamu..." Keisya berlari menuju kamar dan menutup pintu dengan cepat. Ia berdiri di balik pintu dengan hati yang masih terkejut. Keisya mengatur napas dan mencoba menenangkan diri. Sedang Bryan hanya mengernyit tak mengerti. "Apa yang salah dengan dia?" Bryan menggelengkan kepala dan memasuki kamarnya.
Sampai jam 22:00 Keisya baru berani keluar kamar. Ia membuka pintu dan terkejut melihat Bryan yang duduk di sofa. Ia pikir, jam segini Bryan sudah menghabiskan waktunya untuk bersembunyi di balik selimut.
Karena terlanjur menunjukkan diri, Keisya mendekati Bryan karena penasaran dengan apa yang pria itu lakukan.
"Udah tidur ternyata." Keisya memutuskan kembali ke kamar.
'Tring tring tring'
Keisya dikagetkan oleh panggilan di ponsel Bryan. Bryan sontak terbangun dan mengambil ponsel.
"Halo, bun." Bryan membuka percakapan dengan suara serak.
__ADS_1
"Halo, Bryan, Bunda dan mama Zellyna belum bisa ke sana. Soalnya di sini tiba-tiba lockdown." Sellyne menjelaskan masih dengan nada khawatirnya.
"Bunda, orang-orangku belum berhasil menemukan Sivana. Tapi, mereka berhasil menemukan hp Sivana. Mereka menemukan hp itu dari kantor polisi yang katanya mengamankan hp itu." Jelas Bryan.
"Polisi menemukan hp Sivana?"
Sellyne mengulang kalimat Bryan.
"Iya, bun, hp itu ada di tanganku sekarang." Bryan berkata sembari melihat ponsel milik Sivana di tangannya.
"Apa polisi sudah menyelidiki kalau itu betul-betul hp Sivana?" Sellyne menolak percaya.
"Iya, bun. Aku sendiri yang memeriksa hp nya. Berdasarkan data pribadi, hp ini harusnya emang milik Sivana." Jelas Bryan.
"Terus, gimana keadaan hp itu?" Sellyne bertanya dengan suara pelan saking takutnya.
Bryan menghela napas sebelum memberitahu. "Hp Sivana retak, bun. Tapi untung masih bisa dibuka." Bryan merasa berat menjelaskan. Karena bagaimanapun, gadis yang dimaksud adalah bagian dari tanggungjawabnya. Ia merasa harus bertanggungjawab jika ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu.
"Kamu serius? Apa ada informasi yang lain?" Suara Sellyne mulai terdengar khawatir.
"Ini semua salah bunda. Seharusnya dari awal bunda nggak suruh dia nyusul ke sana. Mama Zellyna juga lagi menyalahkan dirinya sendiri."
Terdengar nada putus asa dan suara seperti menahan tangis.
"Bunda, gimana kabar mama Zellyna? Dia baik-baik aja?" Bryan tentu khawatir tentang keadaan mama Zellyna yang kehilangan putri semata wayangnya apalagi di tempat yang jauh dan susah dijangkau.
"Dia lagi terpuruk banget. Bahkan diajak ngomong pun susah. Dia terus nyalahin dirinya."
"Bunda sama mama Zellyna ke sini dong."
"Bunda sama mama Zellyna juga udah nyari usaha buat ke situ. Tapi nggak bisa. Di sini lockdown." Terdengar nada putus asa di setiap kalimatnya.
"Ya udah kamu baik-baik ya di sana. Tunggu sampai keadaan membaik, bunda akan langsung nyusul ke sana."
Bryan menaruh ponselnya. Dengan memberanikan diri, Keisya duduk di samping Bryan. Ia memberikan sedikit jarak bagi mereka.
__ADS_1
"Kasihan ya." Imbuhnya. Bryan sontak menoleh. "Nasibnya hampir sama denganku. Tapi bedanya, dia sampai sekarang belum ada yang menemukan. Sedangkan aku, aku masih harus bersyukur karena seenggaknya bisa ditemukan sama kamu." Keisya membandingkan nasibnya dan Sivana.
"Kamu sampai sekarang belum tau siapa keluargamu?" Bryan bertanya walaupun ia sudah tau jawabannya. Keisya menunduk. Ia menggeleng sebagai jawabannya.
"Kamu udah tau kan, aku nggak mungkin biarin kamu tinggal di sini selamanya." Pernyataan dari Bryan berhasil menohok hati Keisya. Ia tau tentang kenyataan itu. Tapi mendengarkannya dari mulut Bryan, terasa lebih menyakitkan.
"Kamu tenang aja. Aku nggak akan ngerepotin kamu kok." Ujar Keisya pelan. "Baguslah." Bryan beranjak ke kamarnya.
Keisya menunduk dan mengusap wajahnya.
"Kenapa dia nggak sehangat waktu pertama kali bertemu. Mungkin aku memang merepotkan."
Hampir satu jam Keisya menghabiskan waktu dengan duduk di sofa tanpa melakukan apapun. Ia merasa aneh. Hal sekecil apapun yang keluar dari mulut Bryan sangatlah berarti bagi perasaannya.
"Andai aku tau siapa aku sebenarnya, dan siapa keluargaku. Mungkin aku nggak ada di sini dari awal." Keisya melangkah masuk ke kamarnya.
"Kenapa aku bisa di sini? Keluargaku berasal dari Indonesia, kan? Terus, kenapa aku bisa di negeri ini? Apa keluargaku juga tinggal di sini?"
Keisya memilih tak menghiraukan. Ia memejamkan mata dan langsung terjun ke dunia mimpinya.
...~~~...
"Sayang, ayo!" Seorang wanita berkali-kali mengajak putrinya untuk segera menaiki mobil yang akan membawa mereka ke kota lain. Namun, berkali-kali dipanggil, gadis kecil itu tak bergeming dari tempatnya berdiri.
"Nanti, ma. Aku lagi nunggu seorang teman." Jawaban yang sama setiap mamanya mengajaknya untuk segera pergi.
"Sayang, dengerin mama. Orang yang kamu tunggu kayaknya nggak akan datang." Mamanya terus membujuk putrinya.
"Ma, lima menit lagi. Kalau dia masih nggak datang, kita pergi deh." Mamanya hanya diam. Bagaimanapun, ia tak bisa menolak setiap keinginan putri kecilnya.
'Tring tring tring'
"Teman mama nelepon. Oke, lima menit lagi mama kasih waktu." Mamanya menjauhi putrinya dan fokus bercakap pada seseorang di seberang telepon.
Lima menit telah berlalu. Mamanya kembali menghampiri putrinya. "Sayang, udah lebih dari lima menit. Kita pergi, yuk!" Mama menarik tangan gadis kecil. Gadis kecil tak lagi bisa membantah. Mereka berjalan bersama menaiki mobil mereka.
__ADS_1
"Kok lama, ma?" Tanya papa dari gadis kecil itu yang sedari tadi menunggu di dalam mobil. "Nggak apa-apa. Yuk jalan!" Papa segera menancap gas dan mobil melaju meninggalkan pekarangan Rumah.