Kekasih Yang Hilang

Kekasih Yang Hilang
Episode 15


__ADS_3

Ranny dan Tyo menuju Rumah Zellyna dengan mengendarai motor Tyo. "Nih, pake!" Tyo menyodorkan helm. Ranny mengernyit heran.


"Ngapain pake helm? Nggak ada polisi bukannya?" Tanyanya menahan tawa. "Panas, Ran. Aku nggak mau kamu kepanasan. Dan yang ke dua, ingat! Fungsi helm bukan cuman berjaga-jaga dari polisi. Tapi juga buat keselamatan. Kalau ada apa-apa di jalan gimana? Kita kan harus ikhtiar." Jawab Tyo panjang.


Ranny tak lagi bertanya. Ia menerima helm tersebut dan mengenakannya. Ia kemudian menaiki motor. Tapi, karena tidak berhati-hati, kaki Ranny terpeleset saat menginjak footstep (sandaran kaki) yang membuatnya hampir terjatuh.


Untungnya, Tyo dengan sigap menangkapnya. Ia menahan pinggang Ranny agar tidak terjatuh. "Pelan-pelan dong." Pintanya. Ranny terdiam sejenak dan hanya menanggapinya dengan senyum manis.


"Ganteng banget kalau lagi dekat gini." Gumamnya memuji dalam hati.


Tyo menjauhkan tangannya dari kedua pinggang Ranny. Ia juga mengenakan helmnya dan bersiap melajukan motornya. Ia melirik ke belakang sekali lagi. "Hati-hati." Ucapnya mengingatkan. Ranny mencengkeram pelan ujung jaket yang dikenakan Tyo sebagai penahan agar dirinya tidak terguncang ke belakang saat motor melaju. Tyo melajukan motornya menuju alamat Rumah yang diarahkan oleh Ranny.


Sesampainya di sana,


Ranny turun dari motor dengan hati-hati. Ia menyusuri pekarangan Rumah. Ranny mengangkat tangan ke udara.


'Tok tok tok'


Ranny mengetuk pintu berulang kali. Tyo yang memperhatikan sedari tadi, ikut turun. Ia berdiri di samping Ranny.


'Ting tong'


Tangannya terangkat menekan tombol tak jauh dari pintu. Ranny merutuki kebodohannya. Bagaimana ia bisa lupa bahwa di Rumah ini terdapat bel Rumah. Ia melirik Tyo yang tampak biasa-biasa saja.


Benar saja, tak lama kemudian seorang wanita datang membukakan pintu. Ia keluar dan menutup pintu kembali. Matanya hanya memandang pada Tyo.


"Maaf, dek. Cari siapa ya?" Tanya wanita itu. Tyo melirik pada Ranny yang juga meliriknya.


"Bunda Sellyne!" Sapa Ranny. Ia memanggil Sellyne 'Bunda' Karena ia tahu, Sivana juga memanggil Sellyne 'Bunda'. Sellyne terkejut dan melihat ke samping pemuda di hadapannya. "Ranny!"


"Apa kabar, nak?" Ia maju memeluk Ranny. "Sahabatnya Sivana ya?" Sellyne memastikan yang langsung dibalas anggukan oleh Sellyne. Sellyne lantas melihat Tyo.

__ADS_1


"Ini teman aku, bun." Ranny yang mengerti memperkenalkan Tyo pada Sellyne.


"Oh, yuk kalian berdua masuk!" Pinta Sellyne mempersilahkan Ranny dan Tyo masuk.


"Silahkan duduk dulu!" Sellyne mempersilahkan tamu mudanya duduk. Tak lama, Zellyna datang menuju ruang tamu setelah mendengar suara beberapa orang mengobrol.


Ranny langsung berdiri saat melihat Zellyna menuju ke ruang tamu. "Mama Zellyna!" Ranny maju memberikan pelukan pada mama dari sahabatnya itu. Ia memang sudah biasa memanggil Zellyna 'mama' ketibang 'Tante'.


Zellyna balas memeluk Ranny erat. "Ranny, Sivana." Zellyna tampak mulai berkaca-kaca. Ia seperti siap menumpahkan seluruh hatinya pada Ranny. "Iya, ma. Duduk dulu aja." Ranny menuntun Zellyna duduk.


"Maaf ya ma, baru bisa ke sini sekarang." Ucap Ranny terlebih dahulu.


"Nggak apa-apa." Balas Zellyna memaklumi kesibukan sahabat dari putrinya. Zellyna mengalihkan perhatian pada Tyo.


"Ehem." Tyo berdeham canggung. "Mm, dia teman aku, ma. Namanya Tyo." Ranny baru sadar kalau belum memperkenalkan Tyo pada Zellyna. Zellyna hanya manggut-manggut.


"Mama Zellyna kapan mau nyusul ke Barcelona?" Tanya Ranny hati-hati. Ia takut salah bicara dan memancing kesedihan Zellyna.


...🌀🌀🌀...


Keisya keluar dari kamar. Ia terbelalak melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 09:00.


"Bryan pasti udah berangkat jam segini."


Keisya menyipitkan mata. Matanya menangkap sebuah benda berkilauan di atas meja. Ia menghampiri meja itu.


"Ini kalung buat Jenny, kan?" Keisya memungut kalung itu. "Apa Bryan lupa bawa, ya?" Jemarinya perlahan memainkan rantai dari kalung tersebut dengan lembut.


Setelah sadar dengan apa yang dilakukannya, Keisya kembali menaruh kalung tersebut di tempat semula. "Aku harusnya nggak boleh nyentuh barang yang bukan milikku." Keisya menjauh dari meja tersebut. Namun, telinganya menangkap suara mobil di halaman Rumah. Seperti biasa, Keisya menyibak tirai untuk melihat siapa yang datang. Ia tidak mau jika yang datang adalah Tony, atau pria aneh semacamnya.


Kening Keisya bertaut bingung melihat Bryan yang keluar dari mobil dengan langkah tergesa-gesa.

__ADS_1


"Ngapain dia balik lagi?"


Keisya membuka pintu dan melihat Bryan yang telah berdiri di depan pintu. Ia menatap Keisya sejenak, kemudian melanjutkan langkahnya menghampiri meja di ruang tengah. Ia mengambil kalung yang ingin ia hadiahkan untuk Jenny dan memasukkannya kedalam kotak display.


Ia beralih pada Keisya. "Tadi aku mau bangunin kamu, ternyata kamu masih tidur." Ujarnya dan langsung membuka pintu. Ia berbalik menatap Keisya. "Ngapain masih di situ? Ayo!" Ajaknya. Keisya gelagapan. Ia dengan cepat menyusul Bryan. Tak mau membuat Bryan kesal.


"Aku pikir, dia nggak mau ngajak aku lagi. Ternyata tadi dia nggak mau bangunin aku?" Pikir Keisya tersenyum dalam diam. Ia merasa sejauh ini, inilah perlakuan termanis yang selalu dilakukan oleh Bryan padanya. Mengingat minimnya komunikasi antara keduanya.


Sesampainya di gedung Perusahaan, Keisya mengikuti langkah Bryan memasuki gedung megah tersebut. Bryan memasuki ruangannya dan Keisya seperti biasa memilih menunggu Bryan sambil berkeliling menyusuri luasnya gedung tersebut.


Keisya sekarang tengah berjalan seorang diri. Tiba-tiba ia merasa tangganya ditarik ke belakang oleh seseorang. Ia dibawa ke tempat sepi.


"Keisya, ketemu lagi. Ternyata Bryan selalu ngajak kamu ke sini ya?"


Keisya terkejut mengetahui orang tersebut adalah Tony. Ia mencoba melepas tangannya dari cengkeraman Tony.


"Aduh gimana nih? Tau gitu tadi aku lebih baik nunggu aja di depan ruangan Bryan."


"Masih ingat kan, janjinya yang kemarin?" Tony mendekatkan wajah pada Keisya. "Tony, lepasin!" Keisya masih berusaha melepaskan cengkraman Tony. "Tony, sakit!" Berontaknya.


Tony tak peduli. Ia semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Keisya. Keisya tak punya pilihan. Ia menendang lutut Tony sampai Tony melepas cengkeramannya. Kesempatan itu Keisya gunakan untuk melarikan diri. Tony meringis kesakitan. Namun bibirnya tak henti tersenyum memandangi punggung Keisya yang menjauh.


Sementara, Keisya terus berlari menuju ruangan Bryan. Ia takut kalau-kalau Tony mengejarnya.


Keisya berhenti tak jauh di depan ruangan Bryan masih dengan napasnya yang tersengal-sengal. Ia mendongak. Matanya membulat memandangi dua sosok di depannya.


Tak jauh di depannya, Bryan memakaikan Jenny kalung pemberiannya dengan jarak wajah yang sangat dekat. Ia memakaikan kalung tersebut pada Jenny dengan posisi berhadap-hadapan. Keisya memaki air matanya yang mengalir begitu saja.


"Kenapa harus sesakit ini?"


Bryan melirik Keisya sejenak. Ia kembali mengalihkan tatapan pada kekasihnya. Pura-pura tak mengenal Keisya.

__ADS_1


__ADS_2