
Keisya tersentak bangun. Ia terduduk di ranjang.
"Siapa anak kecil di mimpi tadi? Wajahnya samar-samar."
Keisya memegang dada menenangkan diri. Ia menghela napas. "Paling cuman mimpi numpang lewat aja." Ia menyibak selimut dan melihat keadaan di luar kamar. Ia tak mendapati Bryan di sofa.
Keisya melangkah ke dapur. Ia berniat membuatkan sarapan untuk dirinya dan Bryan. Sekali-kali kan menyenangkan tuan rumah.
"Oh iya, masak apa? Aku kan nggak bisa masak."
Sementara itu, Bryan duduk di ranjang tengah mengobrol dengan kekasihnya. Siapa lagi kalau bukan Jenny? Ia melakukan panggilan video.
"Nanti aku ke sana, ya. Aku masak siang buat kamu deh. Udah lama nggak masakin buat kamu. Masa kita makan di luar mulu."
"Aduh, masa aku suruh Keisya sembunyi lagi, sih?" Bryan menggaruk kepalanya berpikir bagaimana cara menolak permintaan Jenny.
"Honey!"
Jenny menyadarkan Bryan dari lamunannya.
"Jenny, kayaknya aku..."
"Pokoknya nanti siang aku ke sana ya. Kamu pulang makan siang di rumah dulu. Oke? Bye."
Jenny memutuskan sambungan telepon. Bryan berpikir keras. Kalau sudah begini, Jenny tentu tidak bisa dihalangi.
Jenny memang selalu tiba-tiba mengejutkan Bryan yang baru pulang dari Perusahaannya dengan masakan nikmatnya. Biasanya ia akan memasak makan siang untuk Bryan. Dan Bryan meluangkan waktu untuk pulang ke Rumah jika siang hari. Setelah itu, barulah ia kembali bekerja.
Bryan mengendus. "Bau hangus." Bryan dengan cepat keluar dari kamar. Ia memeriksa keadaan dapur terlebih dahulu.
"Uhuk uhuk." Bryan, kompornya ngeluarin asap banyak banget." Keisya berlari menghampiri Bryan. "Kamu ngapain?" Bryan mengambil air dari ember dan menyiram panci yang digunakan Keisya untuk memasak.
Setelah semua kekacauan reda, Bryan menghampiri Keisya. "Cuci muka kamu." Ia membuang muka Entah menahan tertawa atau tidak tahan melihat wajah Keisya yang hitam karena asap dari kompor.
"Mm? Emang mukaku kenapa?" Keisya meraba wajahnya. Ia melihat tangannya yang menghitam setelah meraba wajahnya. Keisya tersentak dan dengan cepat membasuh wajahnya hingga cerah kembali.
__ADS_1
"Dia cantik dengan wajah dibasahi air seperti itu." Puji Bryan dalam hati.
"Sebenarnya kamu ngapain?" Tanya Bryan penasaran kenapa insiden tadi bisa terjadi. "Aku coba membuat sarapan, tapi tiba-tiba kompornya ngeluarin asap." Keisya menceritakan bagaimana insiden bisa terjadi.
"Nggak usah masak lagi. Ikut aku keluar aja." Bryan memegang tangan Keisya menuju mobilnya. Ia membukakan pintu untuk Keisya. "Masuk!" Pintanya. "Kenapa aku harus masuk?" Tanya Keisya bingung. "Masuk aja." Pinta Bryan lagi. Kali ini Keisya tak menolak. Ia duduk di kursi depan bersebelahan dengan Bryan.
"Bryan ngajak aku ke mana ya? Mana belum mandi lagi." Keisya melihat pakaian yang bahkan dia kenakan untuk tidur semalam belum ia ganti.
Tapi, seutas senyum terukir di bibir Keisya. Ia melirik Bryan yang tengah serius menyetir. "Bryan, tadi itu... Aku minta maaf ya." Keisya memberanikan diri meminta maaf. Bryan diam tak menanggapi. Namun, dalam hati ia senang.
"Nggak apa-apa. Justru kamu membantuku. Aku jadi punya alasan biar Jenny nggak jadi main di Rumah. Paling nanti dia pulang pas lihat keadaan dapur kacau gitu."
Keisya melihat Bryan sekilas tersenyum.
Keisya tak lagi bicara apa-apa. Ia memilih duduk dengan tenang. Pasrah akan dibawa ke manapun.
Satu jam perjalanan mereka membuat Keisya tak kuasa menahan kantuk. Ia tanpa sadar tertidur di kursi sebelah Bryan.
Bryan membelokkan mobil dan mobil berhenti di gedung Perusahaan milik kakeknya yang kini dihandel olehnya. Karena ia satu-satunya keturunan keluarga Sanjaya.
Bryan memasuki gedung dan menaiki lift menuju lantai atas dengan Keisya yang mengikuti di sampingnya.
Sesampainya di ruang Direktur utama, Bryan menghubungi Sekretaris Perusahaan untuk menyiapkan segala urusan. Hari ini dia ada jadwal meeting.
Bryan menoleh pada Keisya. "Kamu tunggu di sini. Jangan ke mana-mana. Aku nggak lama kok." Pesannya. Keisya mengangguk menurut. Ia menunggu Bryan di depan ruang meeting- nya.
Keisya berdiri sambil sesekali menggaruk kaki dengan ujung sepatunya. Ia merasa resah menunggu lama.
"Bryan masih lama nggak ya?" Keisya beberapa kali menguap bahkan kepalanya beberapa kali terjatuh.
"Hup" Sebuah tangan menahan kepalanya yang lagi-lagi hampir terjatuh disebabkan kantuk yang menyerangnya. Keisya mengangkat kepala.
"Hai, nona cantik. Ngantuk ya? Sendirian aja di sini." Goda pria tampan di depannya. "Nona nggak apa-apa?" Tanya pria itu memastikan. Bersamaan dengan itu, pintu ruangan terbuka. Bryan memandangi kedua insan di hadapannya.
"Tony, ngapain kamu?" Tanya Bryan dengan wajah sinis. Tony adalah manajer pemasaran di Perusahaan itu. Yang jabatannya jauh di bawah Bryan.
__ADS_1
"Bryan laku juga. Biasanya sama Jenny. Hari ini bawa cewek cantik yang lain lagi." Gumam Tony sembari melangkahkan kaki ke dalam ruangan. Keisya dan Bryan bersitatap selama beberapa detik diakhiri dengan Bryan yang menutup pintu ruangan.
Keisya menghela napas.
"Kenapa aku bisa ngantuk sih?" Keisya mengusap wajahnya.
...🌀🌀🌀...
"Zellyna, kamu makan dulu. Udah berapa hari kamu nggak makan?" Sellyne menyodorkan sendok nasi ke mulut Zellyna. Zellyana membuang muka.
"Kamu kenapa sih kayak gini? Kalau gini terus kamu menghadapinya, Sivana nggak akan ketemu. Kamu harus bertenaga biar kita bisa usaha buat cari Sivana." Nasihat Sellyne.
"Aku takut, Sellyne. Aku takut Sivana pergi seperti papanya. Aku nggak rela, Sellyne. Aku nggak rela putriku satu-satunya pergi ninggalin aku." Zellyana kembali terisak. Selalu seperti ini jika membahas Sivana.
Sellyne memeluk sahabat karibnya yang sedang terpukul itu. "Iya aku tau. Tapi kamu nggak boleh kayak gini. Kalau kamu kenapa-napa, kita nggak bisa nyusul ke sana." Sellyne membelai rambut Zellyna, menghiburnya.
"Kenapa pas Sivana hilang baru dilockdown? Padahal aku pengen langsung ke sana. Aku nggak percaya kalau Sivana hilang gitu aja." Zellyana terisak-isak di pelukan Sellyne.
Sellyne memang belum memberitahu tentang Sivana yang dikabarkan kecelakaan oleh Bryan. Ia pikir, belum tepat jika memberitahunya sekarang. Ia menunggu sampai Zellyna sedikit tenang.
"Aku ngerti. Aku juga sedih banget. Bagaimanapun aku menganggap Sivana sebagai putriku sendiri." Ungkap Sellyne.
...🌀🌀🌀...
"Keisya!" Bryan melambai-lambaikan tangan di depan wajah Keisya. Keisya tersentak bangun.
"Aku ketiduran lagi?" Ia menatap Bryan yang berdiri di depannya. "Yuk, pulang!" Ajak Bryan. Ia berjalan mendahului Keisya.
Bryan memasuki lift ke lantai bawah. Lift tersebut hanya berisi mereka berdua. Keisya yang merasa masih mengantuk, hampir menjatuhkan tubuhnya kalau saja Bryan tidak menahan tubuhnya.
Ia membuka mata. Sepasang bola matanya menabrak mata Bryan. Mereka bersitatap dalam jarak yang hanya beberapa meter.
Keisya merasa jantungnya memburu. Seperti siap meloncat dari tempatnya.
Tak ada suara. Hanya hembusan napas yang terdengar memenuhi ruang bagi mereka.
__ADS_1