
"Sepupumu mana? Dia nggak pernah datang ke sini?" Tanya Sellyne. Bryan menggeleng malas. "Nggak pernah. Malas juga bahas soal dia."
"Jangan gitulah. Gimanapun juga, dia sepupumu. Mendiang Tante mu nitip dia ke Bunda." Nasihat Sellyne.
"Nggak usah ngebahas dia bisa nggak, Bun? Bunda tau kan, Tony tuh orangnya gimana? Cih, bukan anak kandung Tante Gina aja sombongnya melewati batas." Bryan merasa sedikit eneg mengingat saat di mana Tony mengganggu Keisya.
"Kamu kenapa, sih? Nggak biasanya kamu berapi-api gini?" Sellyne heran melihat sikap putranya yang tampak membenci Tony.
"Bukan apa, Bun. Aku emang nggak suka sama dia dari dulu." Bryan masih eneg.
"Tony? Jadi, Tony sepupunya Bryan? Pantas selama ini dia bersikap seenaknya di Perusahaan Bryan?"
Keisya terkejut mendengar perbincangan itu.
"Udah, nggak usah bahas dia lah, Bun." Bryan segera mengalihkan topik tentang Sivana.
Keisya tidak bisa berhenti menguping di belakang pintu. Ia merasa sangat kasihan untuk ibu yang kehilangan putrinya itu.
Ingin sekali ia keluar dan memeluk, menenangkan ibu tersebut. Tapi, tidak mungkin ia melakukan itu. Bryan akan sangat marah kalau ia berani keluar.
Sellyne dan Zellyna pamit pulang pada Bryan.
"Bryan sayang, kasih tau mama segera ya, kalo ada informasi tentang Sivana." Pinta Zellyna menggenggam tangan calon menantunya.
Bryan mengusap kedua tangan Zellyna.
"Mama tenang aja. Bryan akan terus berusaha buat temuin Sivana." Balasnya menenangkan.
Ia mengecup kening kedua wanita di depannya bergantian. "Hati-hati, Bun, Ma."
Setelah kepergian Sellyne dan Zellyna, Bryan menoleh ke pintu kamar Keisya.
"Ini nggak baik. Aku harus cepat nyuruh cewek itu pergi."
"Tapi pergi ke mana? Nggak mungkin rasanya aku menelantarkan cewek itu."
Keisya membuka pintu kamar perlahan. Ia mengintip lewat celah pintunya. Ia melihat Bryan yang berdiri tak jauh dari kamarnya, kini menatapnya.
__ADS_1
Keisya perlahan menghampiri Bryan. "Bryan, kamu tenang aja. Aku janji nggak akan ngerepotin kamu. Aku pasti akan segera pergi secepatnya." Ucapan Keisya sedikit menenangkan Bryan.
Bryan berjalan melewati Keisya. Ia kembali ke kamarnya. Ingin segera menghabiskan waktunya dengan pacarnya, Jenny.
Keisya hanya menatap punggung Bryan sedih.
"Aku nggak mungkin bisa bersama kamu. Kamu udah punya dua cewek yang salah satunya akan jadi milikmu. Aku cuman bisa doain semoga kamu dapetin yang terbaik di antara mereka."
...🌀🌀🌀...
Ranny berjalan berniat untuk segera memasuki kelasnya. Ia berpapasan dengan Jesika dan Kyna.
Ranny menatap malas. Ia hendak melewati mereka. Namun, Jesika justru mencegahnya. "Mau apa kamu?" Tanyanya tak takut.
Jesika menatap sinis pada Ranny. "Lo mau ke mana?" Ia mulai mendorong dan menjambak rambut Ranny.
Ranny sama sekali tak meringis. Ia malah menatap Jesika tajam. Dengan sekali sentakan, ia menepis dan langsung memelintir tangan Jesika yang tadi menjambak rambutnya.
"Mau apa Lo? Mau lawan gue? Cewek lemah kayak Lo mana bisa lawan gue." Ledeknya. Jesika meringis diplintir seperti itu.
Kyna menatap Ranny takut. "Lepasin Jesika!" Pintanya. Ranny menatapnya tajam. Membuat nyalinya menciut seketika.
Geng Jesika yang terdiri dari tiga cowok, segera menghampiri Ranny. Ranny melepas tangannya yang memelintir tangan Jesika.
Ia menatap tiga cowok di depannya.
"Lain kali kalau aku nggak ada, terus mereka nyerang lagi, hajar aja Jesika sama Kyna. Kamu berani, kan?"
Ranny mengingat pesan Sivana untuknya. Ia harus lebih berani. Jangan takut dengan cowok-cowok itu.
Karena terlihat dari penampilan mereka, mereka adalah orang-orang yang lemah tapi sok jagoan aja.
Ranny menatap mereka dengan tatapan menantang. "Kalian mau apa? Mau mukul? Ayo pukul!" Tantang nya. Ketiga cowok itu menatapnya geram.
Mereka bersiap melayangkan tinju mereka tepat di wajah Ranny.
"Hey, ngapain kalian? Berani kok sama cewek."
__ADS_1
Ranny menoleh ke sumber suara. Ia melihat Tyo yang menghampiri mereka dan berdiri di sampingnya.
"Tyo, kamu ngapain ke sini?" Tyo tak menjawab pertanyaan Ranny. Ia menatap tajam ketiga cowok sok jagoan di hadapannya.
"Ranny, Lo bawa orang lagi? Emang benar-benar pengecut Lo." Sahut salah satu cowok di antara mereka dengan tidak tahu diri. Padahal, kalau mau dibilang, mereka jauh lebih pengecut. Karena beraninya melawan perempuan dengan jumlah yang lebih banyak.
"Kita biarin Lo kali ini. Lain kali, kalau Lo lagi sendiri, liat aja." Ancam mereka yang sama sekali tak membuat Ranny takut. Mereka berbalik meninggalkan Ranny dan Tony yang masih menatap tajam.
Ranny menoleh. "Natap nya nggak usah gitu juga kali." Ujarnya terkekeh. Tyo menoleh. "Lagian mereka pengecut banget. Udah gitu, nggak sadar diri lagi." Tyo masih emosi.
"Kamu ngapain ke sini? Aku bisa ngadepin mereka sendiri." Keduanya berjalan sambil melanjutkan obrolan.
"Nggak apa-apa. Cuman mau liat aja. Ternyata mereka pengecut, ya? Beraninya sama cewek doang. Aku yang cowok sendiri aja mereka nggak berani." Geramnya.
Ranny terkekeh pelan. "Udah ah. Nggak usah bahas soal mereka." Pintanya.
Tyo menghela napas sejenak. "Oh iya, kabar temanmu yang hilang gimana? Udah ketemu belum?" Tanya Tyo mengganti topik.
Ranny menunduk dan menggeleng. "Aku nggak tau kapan dia akan ditemukan." Ungkapnya sedih. Tyo mengusap punggungnya menenangkan.
"Kemarin, Mama Zellyna dan Bunda Sellyne udah nyusul ke Barcelona buat ikut nyariin Sivana." Tutur Ranny.
"Kita doakan saja, semoga temanmu bisa segera ditemukan." Usul Tyo yang langsung diaminkan oleh Ranny.
...🌀🌀🌀...
Keisya membuka lemari pakaiannya. Ia harus segera membereskan baju-bajunya untuk segera meninggalkan rumah ini. Ia tidak ingin lebih lama merepotkan Bryan. Terlebih, ia tidak ingin keberadaannya diketahui Jenny yang akhirnya dapat memicu perkelahian antara sepasang kekasih itu.
Ia termenung saat tangannya tak sengaja menyentuh kalung mungil yang ia sendiri tak tahu punya siapa.
Tangannya tergerak mengambil kalung tersebut dan membuka penutupnya. Menatap foto anak lelaki tampan yang sampai sekarang belum ia ketahui siapa.
"Kamu siapa? Kalung ini punya siapa?" Gumamnya. "Apa mungkin, aku tidak sengaja memungut kalung ini sebelum aku kehilangan ingatan?" Keisya menebak-nebak.
Ia kembali menatap dalam foto anak lelaki itu. "Tapi, setiap kali melihat wajahmu, kenapa aku merasakan sesuatu? Apa kamu orang dari masa laluku? Apa kamu orang yang penting bagiku sebelum aku kehilangan ingatan?" Gumamnya lagi.
Tapi, semakin dipikir-pikir, semakin membuat kepalanya pusing. Ia kembali menaruh kalung tersebut di tempatnya. Tak ingin menatap kalung itu lebih lama. Karena hanya akan memunculkan pertanyaan-pertanyaan di kepalanya yang sama sekali belum terjawab.
__ADS_1
Keisya duduk di tepi ranjang. Mengistirahatkan tubuh sejenak. Ia menatap koper berisi baju-bajunya lama.
"Apa aku benar-benar akan meninggalkan dia?"