Kekuatan Hati Seorang Istri

Kekuatan Hati Seorang Istri
eps 1 *kekhawatiran*


__ADS_3

Di hari Sabtu malam Minggu yang indah pukul 20.30 Muti di antar kekasihnya bernama Aryo sehabis jalan-jalan (kencan) dari pasar malam menggunakan sepeda motor beat . Muti turun dari sepeda motor dan mengucapkan terimakasih sebelum memasukkan rumah.


" mas Aryo terimakasih sudah ngajak Muti pergi jalan-jalan malam ini, dan makasih juga udah beli'in martabak buat orang tua Muti" ucap Muti ke Aryo kekasihnya


"sama-sama dek Muti, ya sudah dek Muti masuk rumah dulu. habis itu mas pulang" suruh Aryo ke Muti


"ya sudah mas, Muti masuk rumah dulu. mas Aryo hati-hati ya pulangnya, kalo sudah sampai rumah jangan lupa kabari Muti mas" kata muti ke kekasihnya itu


"baik dek" jawab Aryo.


Muti berjalan memasuki rumahnya, ketika Muti masuk kedalam rumahnya ternyata orang tuanya sudah menunggu Muti di ruang tamu dengan mata melotot terutama ayahnya. Muti pun hanya diam menunduk dengan tatapan ayahnya


"darimana saja kamu Muti?" tanya ayahnya dengan nada sedikit tinggi


"dari jalan-jalan ke pasar malam yah, Muti tadi sudah ijin ke ibu" jawab Muti ke ayahnya


ibunyapun menenangkan si ayahnya agar tidak bernada tinggi ke anaknya itu


"sudah toh yah, Muti cuma jalan-jalan sama temannya dan gak pulang melewati jam 21.00"


tapi ayah Muti masih merasa kesal dengan Muti karena Muti baru lulusan SMA beberapa bulan lalu dan belum mencari pekerjaan, masih membantu orang tuannya menanam padi di sawah.


"anakmu ini udah lulus SMA Bu, tapi masih belum mikir cari kerja atau nikah saja" kata ayahnya ke istrinya


"ya biar Muti menikmati kehidupannya dulu sebelum dia melangkah tentang kehidupannya selanjutnya yah" jawab ibu Muti ke suaminya


"ibu selalu memanjakan Muti, jadinya Muti gak nurut kan sama ayah" kata si ayah ke istrinya sambil terbangun dari tempat duduknya dan pergi ke kamar.

__ADS_1


Ibu Muti bangun dari tempat duduknya dan menghampiri Muti yang masih berdiri diam dengan kata-kata ayahnya barusan, ibu Muti menenangkan Muti agar kata-kata ayahnya barusan tidak perlu di masukan hati


"sudah nduk, gak usah di ambil hati omongan ayah kamu barusan, Sekaran kamu istirahat sudah malam" kata ibu Muti ke Muti


mutipun nurut, tak lupa muti memberikan martabak yang di belikan Aryo buat orang tuanya ke ibunya


"ini Bu, tadi mas Aryo beli martabak buat ibu" ucap Muti sambil berjalan memasuki kamarnya.


setelah masuk kamarnya Muti, kepikiran dengan kata-kata ayahnya. dia pun berpikir untuk melanjutkan sekolah lagi aja karena dia ingin menjadi seorang desain dan penjahit tapi Muti punya sedikit keraguan jika keinginannya sekolah lagi di tolak ayahnya karena orang tuannya masih harus menyekolahkan adik Muti yang baru masuk SMA. Muti terus kepikiran sampai akhirnya dia tertidur.


Muti adalah gadis yang baru beranjak 18tahun, baru menyelesaikan masa sekolah menengahnya. dia anak kedua dari tiga bersaudara. ayahnya bernama pak Ahmad, dan ibunya bernama Bu Muji kedua orang tuanya petani yang memiliki sawah sendiri untuk menanam padi, dari situlah penghasilan utama keluarganya. keluarga yang berkecukupan tapi sederhana dan pola pikir ayahnya masih seperti orang jaman dulu. memandang jika perempuan sudah lulus SMA, lebih baik menikah.


Kaka Muti perempuan bernama Muja, dia sudah menikah dan memiliki satu anak. dia tinggal di rumah sebelah orang tuanya setelah menikah. dan adik Muti perempuan bernama Muna yang baru saja masuk sekolah SMA


Pagi harinya, karena hari Minggu ayah Muti ke sawah hanya melihat kondisi padinya yang baru tumbuh, dan memberi pupuk agar padinya cepat berbuah. sedangkan ibu Muti memasak untuk makan siang suaminya, Muti dan adiknya kebagian membersikan pekerjaan rumah, seperti nyapu, ngepel, cuci baju dan cuci piring.


" Muti, nduk sini nduk". panggil ibunya


mutipun segera menghampiri ibunya


"enggeh Bu ada apa?" tanya Muti


"ini nduk, makan siangnya ayahmu. kamu Anyer ke ayahmu ya yang sedang di sawah" suruh ibu muji ke Muti karena ibu muji mau pergi ke arisan RT


"enggeh baik Bu, biar Muti antar makan siangnya ayah" jawab Muti


sebelum Muti pergi mengantar makan siang ayahnya, Muti mengajak adiknya yaitu Muna untuk pergi bersama ke sawah mengantar makan siang ayahnya. Muna pun mau menamani kakaknya.

__ADS_1


Sesampainya di sawah milik ayahnya, terlihat ayahnya sedang mengobrol dengan lelaki tua yang seumuran dengan ayahnya. jadi Muti dan adiknya Muna tidak berani mendekat takut mengganggu obralan ayahnya dengan temannya itu. tapi teman ayahnya melihat Muti dan Muna yang ingin menghampiri ayahnya dan berkata kepada pak Ahmad


"mas itu anak-anak ta?" tanya teman ayahnya ke pak Ahmad sambil mengarahkan pandangan pak Ahmad ke Muti dan Muna


"oh iya, itu anakku" jawab pak Ahmad sambil memanggil Muti dan Muna untuk di perkenalkan ya kepada temannya


ternyata teman ayahnya itu bernama pak Udin, beliau teman SMPnya pak Ahmad. beliau punya usaha toko sembako dan biasanya beli padi ke pak Ahmad untuk dijual di toko nya pak udin.


pak Udin yang melihat Muti terkesima dengan kecantikan dan keanggunan Muti, beliau mengetahui dari cerita pak Ahmad tentang anaknya bahwa Muti baru lulus SMA. pak Udin pun bercerita ke pak Ahmad bahwa anak terakhirnya seorang laki-laki yang sudah lulus SMA 3tahun yang lalu dan sekarang sedang bekerja di salah satu pabrik makanan terkenal.


dalam hati pak Udin berniatan untuk menjodohkan anak terakhirnya bersama Muti anak pak Ahmad sahabatnya SMP, namun pak Udin masih belum berani mengutarakan ke pak Ahmad tentang pemikirannya dalam perjodohan anaknya ini karena pak Udin pun baru pertama kali bertemu Muti hanya sebatas pemikiran sekilas saja.


Muti dan Muna yang sudah selesai memberikan makan siang ayahnya dan berkenalan sama pak ahmad, pamit balik pulang ke ayahnya.


"yah, Muti sama Muna balik pulang dulu y!!" pamit Muti ke ayahnya


"ya sudah, kamu langsung pulang ke rumah ya jangan mampir main-main" kata pak Ahmad ke kedua anaknya


"iya yah" jawab Muti dan Muna bebarengan


Muti dan Muna pun permisi pamit pulang juga ke pak Udin dengan sopan. pak udin pun tersentuh dengan sopan santun kedua anak pak ahmad. dan memuji cara didik pak Ahmad.


"wah hebat kamu mad, punya anak yang cantik-cantik dan sopan santun" puji pak Udin ke pak Ahmad


pak Ahmad pun bangga atas pujian itu "iya jelas dong".


mereka berdua pun ngobrol sampai sore karena pak Udin sambil melihat perkembangan sawahnya pak Ahmad.

__ADS_1


__ADS_2