
Pagi itu Muti menyiapkan makanan untuk sarapannya Nurman, setelah Nurman mandi dan hendak memakai baju handuknya terjatuh di. ketika Nurman mengambil handuknya, Nurman melihat kertas yang sudah kepalan tangan. Nurman mengambilnya dan membuka kertas itu. ternyata itu kertas yang berisi surat Aryo buat Muti. Nurman pun membacanya dan merasa kesan dengan isi surat tersebut.
Nurman sudah selesai memakai baju, berjalan menuju meja makan. Muti pun sudah siap menata makanan di meja makan.
"sini mas, sarapan dulu" kata muti ke suaminya
Nurman duduk dengan perasaan yang seolah-olah biasa saja tidak meskipun tadi dia kesan membaca surat Aryo untuk Muti
Nurman mulai makan dengan lahap
"gimana mas, sayur sop-nya enak kan?" tanya muti ke suaminya
"iya enak dek" jawab Nurman singkat
"ini muti yang masak loh nak Nurman. istrimu ini jago masak" celetuk ibu Muti memuji anaknya
Nurman hanya tersenyum ke ibu mertua dan istrinya itu setelah mendengar ibu mertuanya memuji istrinya.
"mau nambah lagi mas sayurnya?" tanya muti
"udah dek, mas sudah kenyang" jawab suaminya
Muti lalu membereskan meja makan dan seperti biasa Muti mencuci piring-piring kotornya, sedangkan Nurman ke ruang tamu duduk-duduk santai.
"kamu nanti berangkat ke rumah suami kamu jam berapa nduk?" tanya Bu Muja ke Muti sambil membantu Muti mencuci piring
"iya nunggu ayah pulang dari sawah Bu. mungkin sorean" jawab Muti
"disana kamu ikut mertua apalagi ibu Nurman bukan ibu kandung jadi kamu harus menyesuaikan kehidupan mereka ya nduk" pesan ibunya ke Muti
"enggeh Bu" jawab Muti dengan lembut
selesai mencuci piring, ibunya menyuruh Muti untuk menyiapkan cemilan dan minuman buat suaminya yang sedang duduk di ruang tamu.
Muti lalu membawakan cemilan dan minuman ke suaminya
"mas ini cemilan sama minumanya es kopyor Muti buatin barusan" kata muti menaruh cemilan dan minumannya di meja
",iya makasih dek. ini esnya gak bikin kepala mas kopyor kan?" tanya Nurman dengan ekspresi datar
tapi Muti malah mengira suaminya mengajak bercanda
"ah ya Ndak toh mas. mas ini bisa saja" jawab Muti sambil tersenyum bercanda
Nurman menikmati cemilannya dan langsung menghabiskan es kopyornya.
"nambah lagi dek esnya" pinta suaminya
__ADS_1
"enggeh mas, enak kan y? bentar Muti ambilin lagi di kulkas" kata muti sambil berjalan menuju dapur tempat kulkasnya.
beberapa menit Muti munuju ruang tamu dan membawa 1 muk es kopyornya.
"ini mas esnya" kata muti ke suaminya
hanya di balas suaminya dengan anggukan kepala saja
"mas gak pengen lihat sawahnya ayah?" tanya muti ke suaminya
"jauh gak sawahnya?" tanya balik suaminya
"gak terlalu jauh sih, yah siapa tau mas pengen jalan-jalan sekalian ngelihat sawah ayah sebelum nanti sore kita pindah ke rumah orang tua mas Nurman" kata muti mengajak suaminya
"boleh" tanya jawab Nurman
mereka berduapun jalan-jalan sekalian mampir melihat sawah ayah muti dan membawakan makan siang ayahnya
sesampainya di sawah ayah muti, terlihat ayah muti sedang duduk santai berjaga-jaga jika ada burung yang memakan padinya.
mutipun menghampiri ayahnya
"yah, ayah ini makan siang ayah" kata muti ke ayahnya
"loalah kamu nduk Sama suamimu yang ngantar makan siang ayah" ucap ayahnya
"enggeh yah sekalian ngajak mas Nurman jalan-jalan ke sawah karena pasti di tempat mas Nurman jauh dari sawah" kata muti ke ayahnya
"ya gini nak, ayah sehari-hari kerja di sawah" cerita pak Ahmad ke menantunya
"enggeh yah" jawab Nurman singkat, karena Nurman gak begitu paham tentang persawahan jadi dia gak begitu banyak bicara
Nurman pun mengajak Muti balik setelah mengantar makan siang ayahnya
"ya sudah yah, Muti sama mas Nurman balik ke rumah dulu ya" kata muti ke ayah
"iya nduk, kalian pulang dulu" kata ayahnya
dalam perjalanan pulang Nurman menanyakan sesuatu ke Muti
"kamu pernah ngajak mantan pacar kamu sebelumnya jalan-jalan ke desa kamu?" tanya Nurman ke istri
"mas ini kok tanyanya gitu" jawab Muti yang kaget tiba-tiba Nurman menanyakan mantan muti
"ya gakpapa kan mas tanya gitu?" tanya Nurman lagi
"yang berlalu biarlah berlalu mas" jawab Muti tak ingin mengingat masa lalunya
__ADS_1
mendengar jawaban Muti itu Nurman sedikit kesal tapi tak ingin melibatkannya ke istrinya, Nurman sendiri juga tak tau dengan hatinya hanya sekedar kesal atau cemburu setelah melihat surat Aryo ke Muti.
siangnya Nurman tidur setelah jalan-jalan di sawah mertuanya. Muti di ruang tamu duduk santai, tiba-tiba ibunya datang duduk di samping Muti.
"kok sendirian nduk? suamimu mana?" tanya ibunya
"mas Nurman lagi tidur siang Bu" jawab Muti
"kamu gak tidur siang juga nduk? nanti sore kan kamu mau pindah ke rumah mertua kamu" tanya ibunya
"gakpapa Bu, Muti gak ngantuk aja" jawab Muti
"kamu nanti masih kerja, apa berhenti kerja nduk setelah menikah ini?" tanya ibunya
"enggeh Muti tetap bekerja Bu, biar Muti juga mandiri punya pegangan uang sendiri" jawab Muti
"tapi jangan lupa tugasnmu sebagai seorang istri ya nduk harus melayani suamimu" pesan ibunya
"enggeh Bu" jawab Muti
waktu tak terasa sudah sore hari, ayah mutipun sudah pulang dari sawah. Nurman dan Muti siap-siap untuk berangkat ke rumah orang tua Nurman.
Nurman dan Muti pamit ke ayah dan ibunya, Muti memeluk ibunya cukup lama dan memeluk Muna adiknya. hati Muti sebenarnya juga takut karena akan tinggal dengan orang baru (rumah mertuanya)
sesampainya di rumah pak Udin ayah Nurman, tidak ada sambutan dari mertuanya karena mertuanya sibuk berada di toko yang lokasinya depan rumahnya. Nurman mengajak Muti ke kamarnya untuk menaruh barang-barang dan baju Muti.
Malamnya Nurman mengajak Muti beli makan di luar, Muti awalnya bingung kenapa gak makan bareng bersama ayah dan ibu Nurman apa ibu Nurman gak masak ya pikir Muti.
Nurman dan Muti membeli nasi goreng itupun Nurman beli 2 bungkus saja
"mas kenapa cuma beli 2?" tanya muti
"kamu 1 bungkus kurang?" tanya Nurman
mendengar suaminya tanya balik gitu Muti heran
"emangnya mas gak beli buat ayah mas?" tanya muti
"enggak" jawab Nurman singkat
mutipun heran, sebenarnya kehidupan seperti apa antara Nurman dan ayahnya
sesampainya di rumah, Nurman mengajak Muti makan di kamarnya dan menyuruh Muti mengambil sendok di dapur. waktu Muti ambil sendok di dapur berpapasan sama ibu mertuanya
"Muti, nanti kalau habis pakek sendok langsung di cuci ya" kata ibu mertuanya
"enggeh Bu" jawab Muti
__ADS_1
Muti lalu masuk kamarnya dan memberikan sendoknya ke suaminya untuk makan
dalam hati Muti (sepertinya kehidupan Nurman dan ayahnya serta ibu tirinya seperti hidup sendiri- sendiri *individualisme* meski mereka dalam 1 rumah mutipun bingung harus menempatkan diri seperti apa).