
Waktu berlalu begitu cepat, hari pernikahan Muti tinggal menghitung hari.... Muti menjalani hari-harinya seperti biasa, dan cukup sering bertemu dengan Nurman untuk memilih perias dan segala macam persiapan pernikahan lainnya.
tapi Muti mendapatkan fakta baru tentang Nurman, Muti merasa Nurman terlalu perhitungan atas hari spesialnya. tapi Muti tetap berpikir positif ke Nurman, mungkin saja Nurman tipe orang yang berhemat. sampai ada suatu kejadian memilih barang seserahan buat pernikahan nanti.
Muti memilih sepatu yang menurutnya bagus, dan menurut Muti harganya masih bisa di bilang terjangkau dengan merk yang bagus. tapi Nurman tidak setuju dengan sepatu pilihan Muti, kata Nurman itu terlalu mahal. Nurman pun memilih harga yang murah dengan model yang tidak di sukai Muti. merekapun debat
"mas ini terbilang murah karena masih harga 100 ribuan dengan kualitas bagus" kata muti ke Nurman
"mending yang ini aja" kata Nurman sambil menunjuk sepatu yang di pilih
"kamu milih itu karena harganya murah kan?? hanya 50an" ucap muti
"kamu harusnya mikir, nikah itu ngeluarin uang banyak. kalau bisa milih yang murah saja" kata Nurman
"aku bingung deh mas sama kamu. semua barang yang aku pilih itu tergolong murah dan mampu kamu bayar. dan ini momen sekali seumur hidup loh" jawab muti dengan nada kesal
"kamu tuh orangnya gak nurut ya kalau di bilangin??" kata Nurman
"aku selama ini selalu ngalah loh sama kamu. kamu yang tiba-tiba pemarah, kamu yang tiba" suka kesal ke aku. pokoknya aku mau sepatu ini, dan aku bayar sendiri kalau kamu gak mau bayar" kata muti
merasa terhina dengan ucapan Muti nurmanpun lepas kontrol dengan kata-katanya
"kamu pikir aku gak mampu bayar? kamu pikir aku mau nikah sama kamu?? kalau ayah tidak menjodohkan kita, aku gak bakal menyetujui perjodohan ini" kata Nurman
Muti syok dan tak menyangka dengan kata-kata Nurman. bahwa selama ini Nurman tidak menyukai Muti dengan tulus tapi karena paksaan dari ayahnya. Muti hanya terdiam beberapa menit.
Nurman yang merasa bersalah dengan ucapannya sendiri, akhirnya membayar sepatu yang di inginkan Muti. setalah itu Nurman mengajak Muti pulang.
tapi dalam perjalanan pulang Muti bertanya ke Nurman apa sebenarnya Nurman tidak suka sama Muti sama sekali?
__ADS_1
"mas, jadi kamu ngelamar aku karena disuruh oleh ayahmu? bukan karena kamu suka sama aku?" tanya muti
Nurman hanya diam, mutipun bersuara lagi
"mas Nurman jawab" kata muti
"mungkin. awalnya aku suka sama kamu, tapi apa yang aku lakukan ini karena ayah yang menyuruh ku dan ingin melihat aku menikah" jawab Nurman
"lalu bagaimana kita menjalani sebuah pernikahan tanpa di dasari rasa cinta dari kita mas?" tanya muti
"ya kita jalani saja sesuai tugas kita sebagai suami-istri nantinya" jawab Nurman
"pernikahan bukan hanya sebuah tugas sebagai suami atau istri, tapi dari 2 hati yang saling menyayangi dan bersatu. kamu saja tadi awalnya gak mau bayar sepatu, padahal itu tugas kamu" cercah Muti
mendengar itu Nurman kesal tiba-tiba menghentikan motornya.
"aku sudah membayar apa yang kamu inginkan, kenapa sekarang kamu malah bilang aku gak bisa memenuhi tugasku?? " tanya Nurman balik
"kamu pikir aku gak tau, kalau kamu sebenarnya Nerima aku juga karena ayah kamu kan?" tanya Nurman
Muti hanya terdiam dengar kata-kata Nurman barusan.
"aku tau kamu juga gak bisa Nerima aku sepenuhnya" timpal Nurman lagi
Muti masih terdiam dan berpikir (apa Nurman tau jika dulunya Muti memiliki kekasih dan lebih memilih Nurman karena tekanan dari ayahnya yang menyuruh menikah serta nadzar Muti sendiri yang berkata jika ada lelaki yang memintanya duluan ke orang tuanya akan diterimanya) padahal Muti sudah bisa berdamai dengan keadaan sekarang tapi mendengar Nurman juga terpaksa akan perjodohan ini membuat Muti sakit karena Muti berpikir jika selama ini Nurman suka dengannya tanpa paksaan ayahnya.
"kenapa diam? kita jalani saja pernikahan kita sesuai dengan tugas-tugas kita nantinya sebagai suami-istri" ucap Nurman dalam keheningan Muti
"sebanarnya aku juga suka sama kamu" kata Nurman mencoba menenangkan hati Muti
__ADS_1
"udah lah mas aku gak tau lagi harus ngomong apa, ternyata selama ini aku berusaha berdamai dengan keadaan tapi yang terjadi sebenarnya hanyalah sebuah paksaan saja" kata muti sambil turun dari motor Nurman
"mau kemana kamu" tanya Nurman yang melihat Muti turun dari motornya
"aku mau pulang sendiri, mas Nurman pulang saja ke rumah kamu" pinta Muti
Nurman pun langsung putar balik dan meninggalkan Muti.
melihat apa yang dilakukan Nurman Muti tak menyangkan bahwa Nurman bakal pilih balik kerumahnya dan membiarkan Muti pulang sendirian.
mutipun menangis sambil menunggu angkot lewat, dia tidak menyangka. sebuah pilihan yang selama ini di pilih tidak murni atas rasa cinta, padahal Muti merelakan putus dengan Aryo lelaki yang di cintainya dan terlihat jelas Aryo mencintai Muti juga. angkotpun lewat dan Muti naik angkot untuk pulang ke rumah. dalam perjalannya Muti bimbang atas kondisinya, apa yang harus dilakukannya setelah mengetahui perasaan Nurman yang sebenarnya. apakah Muti tetap melanjutkan pernikahan ini? apakah Muti harus cerita ke orang tuanya bahwa sebenarnya Nurman terpaksa melakukan pernikahan ini. mutipun bingung memikirkannya.
sampai di rumahnya Muti langsung masuk kamar, tapi Muna adiknya mengetahui saat Muti masuk ke kamarnya dengan kondisi menangis. Muna yang khawatir melihat kakaknya menangis menceritakannya ke ibunya.
ibunya langsung ke kamar Muti melihat kondisi Muti
"nduk, tadi kamu kan pergi sama Nurman kok kamu pulang sendirian?" tanya ibunya
mutipun memeluk ibunya mendengar pertanyaan ibunya itu sambil menangis
"nduk kok nangis, kamu kenapa nduk? ada apa sebenarnya" tanya ibunya lagi
"ibu Muti bingung harus gimana" jawab Muti
"loh kamu bingung kenapa nduk? cerita pelan-pelan ke ibu" tanya ibunya
mutipun melepaskan pelukan, dan menatap ibunya dengan mata penuh arti yang menunjukan kesedihan dan rasa bimbang ya
"Bu, Muti ingin membatalkan pernikahan ini saja Bu" jawab Muti yang masih menangis
__ADS_1
"loh sebanarnya apa yang terjadi. kamu cerita ke ibu biar ibu paham, karena setiap masalah pasti ada jalan keluarnya nduk dan kamu harus berpikir positif gak bisa juga langsung membatalkan pernikahan begitu saja nduk" kata ibunya
Muti hanya terdiam dan bingung harus cerita gimana ke ibunya.