Kekuatan Hati Seorang Istri

Kekuatan Hati Seorang Istri
eps 2 *kekhawatiran*


__ADS_3

Malamnya pak Ahmad dan Bu Muja mengobrol di kamarnya, pak Ahmad menceritakan tentang teman SMPnya yang bernama pak Udin ke Bu Muja. bahwa anak terakhir pak Udin laki-laki yang sudah bekerja, ibu Muja hanya menanggapi biasa saja pada awalnya. tapi pak Ahmad memuji-muji terus tentang pak Udin dan anak terakhirnya, yang membuat Bu Muja sedikit merasa aneh (kenapa suaminya begitu memuji pak Udin dan anaknya itu). sehingga Bu mujapun bertanya ke suaminya itu


"kenapa toh yah, dari tadi yang di bahas pak Udin sama anak laki-lakinya? apa yang ada di pikiran ayah toh?" tanya Bu Muja ke suaminya


"ya gak kenapa-kenapa Bu, ayah cuma cerita aja tentang teman bapak yang punya anak laki-laki dan sudah bekerja. kalau di pikir-pikir, umurnya lebih tua empat tahun dari anak kita Muti Bu" jawab pak Ahmad


"ya lalu kenapa yah, kalo umurnya lebih tua dari Muti yah?" tanyanya Bu Muja lagi


"ya ayah jadi kepikiran, apa kita jodohkan saja ya Bu (Muti dengan anaknya pak Udin)?" kata pak Ahmad ke istrinya


"hoalah yah, ini bukan jaman Siti Nurbaya lagi. biarlah anak kita menikah dengan seseorang yang di cintainya tanpa harus memaksakan perjodohan" jawab Bu Muja


"yang memaksakan siapa toh Bu? kan ayah cuma mengatakan apa yang dipikiran ayah. tapi kalo misalnya Muti suka juga gakpapa toh Bu, kan perkenalan dulu" kata pak Ahmad


"ya ya ya terserah ayah saja lah, sudah malam yah. ibu mau tidur dulu" kata Bu Muja


pak Ahmad pun juga tidur, setelah istrinya tidur karena besok pagi harus pergi ke sawah.


di dalam kamar Muti, mutipun gak bisa tidur. dia memikirkan tentang keinginannya melanjutkan sekolah desain atau jahit, dalam pikirannya dia takut kalau keinginannya tidak disetujui oleh kedua orang tuanya karena dia merasa orang tuanya tidak akan menyetujuinya karena masih menyekolahkan Muna adiknya. dalam hatinya dia berbicara (tapi mau tidak mau, apapun keputusan kedua orang tuanya. Muti harus bicara dulu ke mereka jika tidak di coba membicarakannya gak akan tau hasilnya) lalu Muti pun akhirnya tertidur dengan perasaan yang tidak tenang akan besok pagi.


pagi harinya, pak Ahmad sudah berangkat pergi ke sawahnya sehabis subuh. Muna adiknya Muti pun sudah pergi kesokalah pukul 6.00 wib. dirumah hanya tinggal Bu Muja dan Muti saja. seperti biasa Muti membantu ibunya melakukan pekerjaan rumah tangga. ketika Bu Muja memasak untuk makan siang suaminya, Muti pun menghampiri ibunya dan memberanikan diri berbicara tentang keinginannya sekolah lagi.


"Bu, biar Muti bantu masaknya" Muti menawarkan diri ke ibunya untuk membantu memasak

__ADS_1


"iya sini sini Muti, kupas dan bersihkan sayuran ini" kata Bu Muja


mutipun langsung mengupas dan mencuci sayurannya sebelum di masak, lalu Muti mulai membuka obralan tentang keinginannya sekolah lagi


"Bu, ibu tau kan Muti rajin kalau menjahit meski pakai tangan" kata muti ke ibunya


"iya benar, tangan kamu terampil nduk kayak ibu" timpal ibu Muja


dalam hati Muti (wah ibu belom peka ini, kalau sebenarnya Muti ingin belajar jahit pakai mesin jahit)


"jadi gini Bu, sebenarnya Muti pengen sekolah lagi jurusan desain busana biar Muti nanti jadi desainer Bu atau penjahit terkenal" kata muti ke ibunya


beberapa saat ibunya terdiam, ibunya mengerti apa yang dimaksud Muti sedari awal hanya saja ibunya bingung, bagaimana kalau suaminya tau. mungkin saja ayah Muti tidak menyetujuinya karena kondisi keuangan hanya berkecukupan dan masih lagi menyekolahkan Muna adiknya Muti.


ibunya pun menjawab jika ibunya tidak bisa berbuat apa-apa karena keputusan ada di tangan suaminya (ayah Muti)


"makasih ya Bu" kata muti dengan senyum


"tapi nanti keputusan ada di ayah kamu ya nduk, ibu hanya bisa bantu menyampaikan ke ayahmu" kata Bu Muja tidak memberi harapan lebih ke Muti agar Muti tidak kecewa dengan keputusan ayahnya nanti. Muti pun mendengar perkataan ibunya hanya senyum tipis karena dia merasa ayah mungkin saja tidak menyetujuinya tapi Muti hanya pasrah nantinya dengan keputusan ayahnya.


Siangnya, ibu Muja menyuruh Muti mengantarkan makan siang untuk ayahnya di sawah, Muti pun pergi mengantarkan makan siang ke ayahnya.


setelah sampai di sawah, Muti memberikan bekal itu ke ayahnya dan langsung pamit pulang. Muti tidak terlalu dekat dengan ayahnya, karena dia merasa sejak kecil ayahnya lebih menyayangi kakaknya yaitu muji dan adiknya Muna. Muti merasa menjadi anak kedua (tengah-tengah) tidak pernah di bela ketika rebutan mainan sama adiknya maupun sama kakaknya, bahkan Muti merasa sejak kecil dia harus mengalah dengan adiknya dan kakaknya karena itu ajaran dari ayahnya. itulah yang menyebabkan Muti tidak begitu dekat dan berani meminta apa yang dia inginkan ke ayahnya, dia hanya memendamnya kadang cerita ke ibunya. itupun ibunya tidak bisa berbuat banyak ke Muti hanya sekedar menenangkan hati Muti agar tidak sedih.

__ADS_1


sore harinya ketika ayah Muti sudah di rumah dan selesai membersihkan dirinya (mandi). pak Ahmad duduk santai di depan rumah. datang Bu Muja dari dalam rumah menuju ke depan rumah, membawakan kopi dan singkong rebus untuk suaminya yang sedang bersantai.


ibu Muja pun memulai obrolan dengan suaminya, awalnya Bu Muja menanyakan kondisi sawahnya sekarang hingga akhirnya Bu Muja menceritakan apa yang di inginkan Muti untuk belajar lagi.


"ayah, Muti kan sudah lulus SMA. dia bakat dalam menjahit dan membuat baju" kata Bu Muja ke suami


"iya Bu, Muja memang terampil dalam membuat baju" timpal suaminya


"Muti berkeinginan sekolah lagi yah, menurut ayah bagaimana??" tanya Bu Muja


seketika pak Ahmad terdiam sesaat dan berpikir


"ayah tidak menyetujui Muti sekolah lagi, kakaknya saja dulu sekolah lagi Bu. kerja lalu menikah. lagi pula kita masih menyekolahkan Muna" jawab pak Ahmad


ibu Muja pun hanya terdiam dan menarik nafas, lalu pak Ahmad menyeletuk


"kita jodohkan saja Bu. Muti dengan anaknya pak Ahmad. dengan begitu nanti hidup Muti akan lebih enak" kata pak Ahmad


"hoalah yah kok malah berpikirnya kesitu toh?" tanya Bu Muja ke suaminya


"iya itu hanya pikiran ayah saja Bu, dengan begitu Muti bisa lebih baik kehidupannya" kata pak Ahmad


"kalau itu ibu gak bisa bilang apa-apa, tanyakan ke Mutinya saja mau menikah muda apa endak yah. padahal seharusnya kita orang tua wajib menyekolahkan anak kita setinggi-tinggi" kata Bu Muja sedikit kesal dengan suaminya

__ADS_1


"ya tapi kondisinya kan gini Bu, kita bisa menyekolahkan anak kita sampai tamat SMA pun Alhamdulillah. anak kita perempuan semua Bu, nanti juga ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga yang mengurus rumah, anak dan suami" kata pak Ahmad membela diri


Bu Muja pun hanya diam dengan kata-kata pak Ahmad.


__ADS_2