
Setelah perkenalan Aryo kekasih Muti berkunjung ke rumahnya, ayah Muti tidak menyetujui hubungan Muti dan Aryo. pak Ahmad ayah muti menyampaikan pendapatnya itu ke istrinya Bu Muja, bu Muja hanya diam saja.
Keesokan harinya, sore hari keluarga pak Ahmad duduk santai di ruang tamu .... ada pak Ahmad, istrinya, Muti dan adiknya yaitu Muna sedang menikmati cemilan ubi rebus. pak Ahmad membuka obrolan ke Muti
"Muti, sudah berapa lama hubungan kamu Sama Aryo?" tanya ayahnya
"hampir satu tahun yah" jawab Muti
"gak baik kalau pacaran lama-lama tapi gak ada kejelasan rumah tangga" kata pak Ahmad
Muti hanya diam mendengar kata-kata ayahnya itu
"namanya juga masih muda yah, aryonya pun juga masih harus menyelesaikan sekolahnya dulu" celetuk Bu Muja
"ya makanya itu Bu, kalau cari pacar itu anak yang sudah bekerja" kata pak Ahmad
mendengar ayahnya berkata seperti itu membuat mood Muti jadi kesal dan hanya diam saja.
Beberapa menit, Muna masuk kamarnya untuk belajar. mutipun mau beranjak juga dari ruang tamu ke kamarnya tapi ayahnya menyuruh Muti untuk duduk dulu karena ingin berbicara ke Muti
"nduk, menurut ayah lebih baik kamu kenalan dulu saya anaknya pak Udin" kata pak Ahmad
"dia sudah bekerja, berarti menunjukan kalau orangnya bertenggung jawab atas keluarga" imbuh pak Ahmad
mendengar hal itu Muti sedikit tidak terima dengan perkataan ayahnya
"mas Aryo juga orangnya tanggung jawab yah, mungkin sekarang mas Aryo masih sekolah satu tahun lagi udah lulus" bela Muti
"iya kalau lulus si Aryo langsung dapat kerjaan?? kalau enggak?? kamu nunggu Sampek kapan nduk?" kata pak Ahmad
mendengar ucapan seperti itu, mutipun terdiam dan juga gelisah memikirkannya.
"ayah loh tidak memaksa kamu, seenggaknya kamu kenal dulu sama anaknya pak Udin" kata ayahnya lagi
dengan nada terpaksa, Muti mengiyakannya
"baik yah, hanya kenalan saja kan?" tanya Muti
__ADS_1
"iya nduk, kita kan gak tau jodoh kita nantinya sapa. mungkin saja anaknya pak Udin jodoh kamu" ucap pak Ahmad
malamnya Muti gak bisa tidur lagi karena kepikiran kata-kata ayahnya, membuat dia menjadi bimbang. akhirnya Muti menelpon kekasihnya.
dalam telepon Muti pun menanyakan keseriusan tentang hubungan ke Aryo. Aryo menjawabnya dengan bijak, Aryo serius tapi untuk melangkah kedalam sebuah pernikahan Aryo belum siap karena dia harus menyelesaikan sekolahnya dulu untuk mendapatkan gelar sarjana. Muti pun memahami apa yang disampaikan oleh kekasihnya itu cuma dalam pikiran Muti seakan dikejar oleh ayahnya untuk sebuah pernikahan. tetapi Muti tidak memceritakan tentang ayahnya yang menekan untuk menikah cepat (karena Muti merasa secara tidak langsung ayahnya menekan Muti untuk menikah lebih cepat, seperti kakaknya dulu). setelah menelpon kekasihnya, mutipun semakin gelisah dan bimbang harus bagaimana. sampai akhirnya Muti tertidur.
Pagi harinya Muti bangun kesiangan, karena semalem dia tidak bisa tidur nyenyak. pukul 8.00 dia baru bangun, mendapat rumah sudah sepi, karena ayahnya sudah berangkat ke sawah dan adiknya sudah berangkat sekolah tinggal menyisakan ibunya Yang sedang mencuci piring.
Muti pun menghampiri ibunya, mau membantu mencucikan piring-pirinya tapi ibunya menolak. menyuruh Muti segera mandi dan sarapan, ibunya bisa melihat dari mata Muti yang kelihatan kurang tidur.
setelah selesai mandi, Muti menyibukkan diri menjahit taplak meja dengan jahit tangan. ibunya mendekati Muti sambil mengajak ngobrol Muti
"nduk, kamu kurang tidur ya semalem gak biasanya kamu bangun kesiangan gini?" tanya ibunya
"maaf Bu, Muti bangunnya siang. iya Muti gak bisa tidur semalem" jawabnya
"kamu kepikiran sama kata-katanya ayahmu?" tanya ibunya lagi
"Ndak kok Bu" jawab Muti singkat, tidak ingin ibunya khawatir dengan perasaan Muti
"Oalah nduk, ini cuma sebuah perkenalan kalaupun Muti gak suka sama anaknya pak Udin nantinya ya Muti harus bilang jujur. biar tidak ada rasa paksaan nduk" kata ibunya
"ya sudah kamu lanjutin jahitnya nduk. nanti biar ibu saja yang ngantar makan siangnya ayah kamu" kata Bu Muja
"enggeh Bu" jawab Muti melanjutkan jahit taplak mejanya
sore harinya pak Ahmad sepulang dari sawah mendatangi Muti. menyuruh Muti untuk bersiap-siap membersihkan diri karena pak Udin mau berkunjung ke rumah
"Muti, nduk. kamu sudah mandi?" tanya ayahnya
"sudah yah" jawab Muti singkat
"habis ini ada pak Udin mau berkunjung silaturahmi ke rumah kita nduk" kata ayahnya
mendengar itu Muti bertanya-tanya dalam hatinya (apakah pak Udin kerumahnya dengan putranya) mutipun deg deg an
pukul 17.00 pak Udin datang dan bersama pria muda di sampingnya, pak Udin pun mengetuk pintu dan mengucapkan salam
__ADS_1
"Assalamualaikum" salam pak Udin, dan di jawab pak Ahmad dari dalam
"Walaikumsalam, pak Udin. mari, mari masuk pak" pak Ahmad langsung mempersilahkannya masuk kedalam rumah.
pak Udin dan pria muda itupun masuk kedalam ruang tamu dan duduk.
pak Ahmad memanggil istrinya untuk dikenalkan ke pak Udin
"pak Udin, ini istri saya namanya Muja" kata pak Ahmad
"salam pak Udin" ucap Bu Muja
"iya salam juga Bu. saya Udin teman SMPnya pak Ahmad, biasanya yang beli padi juga ke pak Ahmad" ucap pak Udin
Bu Muja hanya membalas dengan senyuman
"jadi ini putra trakhir pak Udin?" tanya pak Ahmad menunjuk pria muda di samping pak Udin
"iya benar pak Udin, kebetulan ini tadi baru pulang kerja saya suruh ngantar saya main ke rumah pak Ahmad" jawab pak Udin
"salam pak, saya Nurman" kata Nurman memperkenalkan diri
kebetulan setelah itu Muti datang dari dalam membawa 4 cangkir teh ke ruang tamu, ketika Muti meletakkan cangkir-cangkirnya pak Ahmad pun berkata
"kalau ini, Muti anak saya. baru lulus sekolah tahun ini" celetuk pak Ahmad
Muti hanya tersenyum tipis menghadap ke pak Udin dan Nurman.
setelah beberapa menit, pak Ahmad, istrinya dan pak Udin berpindah tempat ngobrol ke teras rumah karena bahas padi-padi. tinggallah Muti dan Nurman di ruang tamu.
Nurman mengawali pembicaraan
"dek Muti, rencananya mau kerja atau bagaimana?" tanya Nurman
"masih nyari kerjaan mas tapi belum ada panggilan" jawab Muti
dari situlah mereka akhirnya ngobrol-ngobrol. kesan pertama Muti ke Nurman (sosok pria yang kelihatan baik dan cukup soban, meski memiliki badan yang tidak setinggi / proposonal seperti Aryo kekasihnya)
__ADS_1
kesan pertama Nurman ke Muti (nurman terkesima dengan senyum manisnya Muti, baik dan lembut).
pak Ahmad dan pak Udin yang melihat Nurman dan Muti dari teras, melihat mereka berdua cukup bisa berbaur di awal perkenalan. mereka berdua berniat untuk menjodohkan anaknya jika mereka berdua saling suka.