
Keesokan harinya Nurman datang menjemput Muti untuk mengantarnya melamar kerja di konveksian. Muti sedari tadi yang sudah siap dan menunggu Nurman, melihat Nurman datang langsung mengajarkan berangkat karena takut hari semakin siang. mereka berduapun berpamitan ke ibu Muti dan berangkat.
dalam perjalanan Muti memberi tahu Nurman, bahwa dia melamar di 3 tempat. Nurman pun mengiyakan
Muti juga bertanya ke Nurman, kok bisa mengantar Muti padahal ini bukan hari Minggu (libur)
"mas Nurman gak kerja hari ini?" tanya muti
"mas, ambil cuti dek" jawab Nurman
"oooo gitu. maaf ya mas kalau Muti ngerepotin" kata muti
"ya gakpapa kok. ya tapi syukur kalau dek muti ngerti" kata nurman yang membuat Muti terdiam dan bertanya-tanya dalam hatinya, maksud dari kata-kata Nurman. (apa mungkin Nurman terpaksa mengantarnya? karena pasti orang tua kami yang memaksakannya)
akhirnya sampai ketujuan konveksi pertama, setelah Muti masuk ke konveksi dan bertanya ternyata lowongan ya sudah tutup karena barusan ada karyawan baru dengan kata lain Muti telat (kalah cepat).
mutipun mengajak Nurman ke tempat konveksi ke-2, jaraknya pun -+ 5km dari tempat yang pertama.
setelah sampai ke tempat konveksi yang ke 2 ternyata Muti lagi-lagi kalah cepat karena beberapa menit sebelumnya pihak konveksi sudah menerima karyawan baru. Muti memberi tau Nurman bahwa lagi-lagi Muti kalah cepat tapi respon Nurman tidak di duga oleh Muti. Nurman berekspresi kesal dan menyalahkan Muti
"kamu gimana sih cari tempat konveksinya?? kenapa dari tadi gak ada yang Nerima kamu?" tanya Nurman kesal
mendengar itu Muti kaget dan tak menduga bahwa Nurman sekesal itu
"mungkin harusnya tadi Muti berangkat lebih pagi" jawab Muti
"kalau tau gitu kan, kamu minta antarnya lebih pagian. biar kamu gak kalah cepat gini, sayangkan aku ambil cuti kalau hasilnya sia-sia" kata Nurman ke Muti
Muti heran dengan sikap Nurman, apa ini sifat Nurman yang sebenarnya?? seseorang yang tidak sabaran?? tapi Muti tetap berpikir positif dulu ke Nurman, mungkin karena Nurman bela-belain cuti jadi dia bersikap seperti itu
"maaf mas, yasudah kita ke tempat yang k 3 siapa tau disitu nanti Muti diterima" ucap Muti
"kamu tau gak ini panas banget cuacanya dari tadi aku haus, kita istirahat dulu beli minum" kata Nurman
__ADS_1
"iya mas" jawab Muti singkat, karena Muti juga merasa tak enak hati sama Nurman yang sudah mengantarnya
mereka berduapun beristirahat di warung es tebu dan sambil makan gorengan. Muti hanya diam sepanjang di warung es tebu, karena Muti masih tidak menyangkal dengan sikap Nurman yang menurut Muti tidak sabaran. Nurman pun juga Dian, menikmati gorengan sambil minum esnya.
sudah 15 menitan mereka di warung es tebu itu, mutipun mengajak Nurman untuk melanjutkan ke tempat konveksi yang k 3.
"mas Nurman kalau sudah selesai minum esnya, Ayuk kita lanjut lagi mas" ajak Muti yang merasa takut kalau kelamaan istirahatnya nanti keduluan lagi sama orang lain yang ngelamar
"iya iya, sebentar. mas mau bayar dulu nih" jawab Nurman
Muti hanya diam menunggu Nurman.
setelah selesai bayar, Nurman langsung ke motornya di susul Muti di belakangnya. mereka pun melanjutkan ke tempat konveksi ke 3.
sesampainya ke tempat konveksi Mutipun masuk, meninggalkan Nurman menunggu di luar.
muti yang masuk sedari tadi, tapi belum juga keluar-keluar membuat Nurman nunggu cukup lama. Nurman pun merasa kesal karena menunggu cukup lama. beberapa menit Nurman menunggu, masih belum terlihat Muti keluar dari tempat konveksi itu membuat Nurman kesal menunggu.
45 menit berlalu, Muti terlihat keluar dari tempat konveksi dan menghampiri Nurman yang dari tadi menunggunya. Muti menghampiri Nurman dengan ekspresi wajah senang dan ingin memberi tau kabar yang membuat dia senang.
tapi Muti melihat raut wajah Nurman yang kesal, seketika wajah Muti yang tadinya senang menjadi bingung dengan raut wajah Nurman
"kamu tau gak mas disini nunggu kamu berapa lama? harusnya kalau kamu lama gini, ngabarin mas dulu biar mas bisa nunggu di tempat lain sambil ngopi-ngopi kek" kata Nurman ke Muti
mendangar ocehan Nurman, Muti hanya diam dan kaget karena Muti tidak menyangka kalau Nurman bakal semarah itu hanya karena menunggu Muti. dalam hati Muti kan bisa saja Nurman mencari tempat kopi sekitar tempat konveksian. tapi Muti lagi-lagi merendah dan meminta maaf ke Nurman
"maaf mas, kalau Muti buat mas Nurman nunggu lama. karena tadi Muti di kasih tau cara kerja dan gajinya seperti apa" jawab Muti menjelaskannya
"ya sudah, kita pulang saja. capek aku dari tadi nunggu kamu" ajak Nurman sambil menggerutu
"iya mas" jawab Muti singkat
Mereka berdua pun pulang, sampai rumah Muti. Muti menawarkan untuk Nurman mampir dulu ke rumah
__ADS_1
"mas mampir dulu, nanti Muti bikinin minum" ajak Muti
"gak perlu dek, mas langsung pulang dulu aja. mau istirahat capek" jawab Nurman
mutipun tidak memaksakannya
"yasudah mas, makasih ya hari ini sudah ngantar Muti ngelamar kerja" ucap Muti
"iya sama-sama dek, mas balik dulu" jawab Nurman sambil pamit
"iya mas, hati-hati" kata muti
setelah Nurman berlalu pulang, Muti masuk kedalam rumah. terlihat kedua orang tuanya ada di ruang tamu.
"assalamualaikum" salam Muti
"walaikumsalam, baru pulang nduk. gimana kamu di terima kerja?" tanya ibunya
Muti pun lalu duduk di samping ibunya
"enggeh Bu Alhamdulillah Muti diterima kerja" jawab Muti dengan wajah senang
"loh nduk, kamu di Anyer Nurman kan? Nurman mana sekarang? gak mampir?" tanya ayahnya
"iya yah di antar mas Nurman, itu tadi sudah Muti ajak mampir dulu kesini tapi mas nurmanya buru-buru pulang istirahat katanya" jawab Muti
"ooooo gitu" ucap ayahnya
"ya sudah yah, Bu. Muti mau mandi bersih-bersih badan dulu lengket soalnya" pamit Muti masuk kedalam
"iya nduk" jawab ibunya
Muti pun pergi mandi dan setelahnya masuk ke kamarnya.
__ADS_1
dikamarnya Muti masih terheran-heran atas sikap Nurman tadi. Muti merasa awal kenal, Nurman bersikap baik dan terlihat sopan. tapi hari ini terlihat sosok Nurman yang mudah marah dan tidak sabaran, mungkinkah ini sifat Nurman yang sebenarnya? dalam hati Muti berpikir seperti itu, lalu nanti bagaimana jika Muti menikah dengannya? mutipun jadi sedikit ragu dengan Nurman, tapi Muti ingin memastikan lagi sifat Nurman yang sebenarnya.
(ayah sudah lah sekarang Muti fokus dulu saja, karena besok sudah kerja jahit di konveksi) dalam hati Muti.