Kekuatan Hati Seorang Istri

Kekuatan Hati Seorang Istri
eps 20 *Akhir Sebuah Cerita "Jilid 1"*


__ADS_3

Muti khawatir dengan kondisi suaminya Nurman yang tak kunjung membaik. Muti memutuskan membawa Nurman pulang ke rumah orang tuanya karena Muti tak nyaman tinggal dengan mertuanya yang slalu nagih uang sewa kamar (seperti orang ngekost) padahal kondisi keuangan Nurman dan Muti menipis


"mas, kita tinggal di rumah orang tua Muti saja untuk sementara. nanti disana Muti bisa fokus ngerawat mas Nurman dengan nyaman" Kata Muti ke suaminya


Nurman hanya menjawab dengan anggukan


keesokan harinya Muti pamit ke mertuanya pulang ke rumah orang tua Muti.


"ayah nanti siang Muti mau pamit pulang ke rumah bawa mas Nurman berobat di daerah dekat rumah Muti" kata muti ke ayah mertuanya


"baiklah, biar tidak menyusahkan aku disini" jawab ayah mertuanya


Muti hanya mengangguk dan tak habis pikir ayah mertuanya juga tega dengan anaknya sendiri, pantas saja Nurman tumbuh menjadi laki-laki yang emosian dan tempramen itu karena didikan ayahnya sendiri dalam hati Muti menggerutu


siangnya Muti membonceng suaminya untuk pulang ke rumah orang tua Muti. meski Muti dalam keadaan hamil tapi Dia wanita yang kuat bisa membonceng suaminya yang sedang sakit.


sampai rumah Muti, kebetulan ada Muna di depan rumah. Muti membunyikan klaksonnya agar Muna nyamperin Muti


"ttiiiiiiiiiiinnnnnnn"


Muna pun menolah ke Muti, lalu Muti memanggilnya


"Muna .. sini Muna " panggil Muti


"iya kak" jawab Muti nyamperin kakaknya


"Muna tolong bantu mas nuntun mas Nurman, dia lagi sakit soalnya" suruh Muti ke adiknya


Muna langsung membantu menuntut mas iparnya itu masuk ke dalam rumah.


ibu muji melihat kondisi menantunya di tuntun Muna langsung menghampirinya


"loh Muti kenapa dengan suamimu?" tanya ibunya


"mas Nurman lagi saki Bu perutnya, padahal sudah berobat Bu setelah enakan sakit lagi" jawab Muti


"apa di bawa ke rumah sakit aja untuk rawat inap" suruh ibunya


tapi Muti yang mengetahuin BPJS suaminya sudah tidak aktif gak bingung untuk membawanya rawat inap ke rumah sakit karena biayanya gak ada


"Bu, Muti sama mas Nurman boleh tinggal sementara dulu gak disini?" tanya muti ke ibunya


"iya nduk tentu saja boleh, ini kan juga rumah kamu" jawab ibunya


"nanti di obati pakek herbal dulu aja nduk, ayahmu kan pandai bikin obat herbal" timpal ibu Muti


"nggeh Bu, makasih ya" ucap muti

__ADS_1


"iya sama-sama nduk. bawa suamimu istirahat ke kamarmu sana" suruh ibunya


"nggeh Bu" jawab Muti, lalu menuntun suaminya dari ruang tamu ke kamarnya.


setelah sampai kamarnya dan membawa suaminya untuk istirahat, lalu Muti ke dapur dan membawakan suaminya makanan untuk makan siangnya


"mas, kamu makan siang dulu sini. aku siapin" kata muti


Nurman hanya bisa nurut karena kondisinya memang masih lemas.


dengan sabar Muti menyuapi suaminya, lalu memberikan obat untuk suaminya. setelah itu Nurman istirahat


dalam hati Muti sedikit lega karena orang tuanya masih menerima Muti dan tak tanya penyebab Muti dan Nurman tinggal di rumah orang tuanya lagi.


sore hari ayah muti pulang dari sawah. melihat Muti ada di dapurnya.


"loh nduk, kamu disini" kata ayahnya


"nggeh yah" jawab Muti singkat


"kamu sama suamimu nduk?" tanya ayahnya


"enggeh yah, mas Nurman lagi gak enak badan dan istirahat di kamar" jawab Muti


"oo ya sudah ayah mau bersih-bersih badan dulu" kata ayahnya sambil masuk ke kamar mandi


setelah di olah pak Ahmad temulawak itu. lalu pak Ahmad dan istrinya mendatangi anak dan menantunya di kamar Muti, dan memberikan temulawak itu ke menantunya.


"nduk, ini obat herbal untuk suamimu Ben perutnya enakan" kata pak Ahmad ke Muti


"makasih yah" jawab Muti menerima obatnya lalu d minuman ke suaminya..


setelah Nurman meminumnya, Nurman istirahat.


Muti, ibunya dan ayahnya lalu keluar dari kamar menuju ruang tamu.


ibunya lalu bertanya ke Muti


"nduk sebenarnya apa yang terjadi sama kamu dan suamimu?" tanya ibunya


mendengar pertanyaannya itu Muti hanya diam dan bingung harus menjawab apa karena Muti tak ingin membuka air suami dan mertuanya


ayahnya lalu meyakinkan Muti


"nduk kamu cerita saja ke ibu dan ayah. mungkin ibu dan ayah bisa membantu" kata ayahnya


lalu Muti menangis memeluk ibunya

__ADS_1


"cup cup nduk" ibunya menenangkan Muti....


"kamu tenangin dulu nduk" ucap ibunya


"mas Nurman risegn dari kerjaannya Bu, dan sekarang kondisi keuangan kami menipis karena Muti sebelumnya risegn kerja tanpa memberi tahu mas Nurman. sekarang Muti juga hamil" cerita Muti ke ibu dan ayahnya


"kamu yang sabar ya nduk, mungki ini ujian pernikahan kamu di awal-awal pernikahan. kalau kamu kuat menjalaninya insya Allah nanti kamu akan menemukan kebahagiaannya" kata ayahnya


"enggeh yah" jawab Muti dalam hatinya (maaf yah, Bu, Muti tidak bisa cerita yang sebenarnya seperti apa mas Nurman dan ayah mas Nurman)


Muti mengingat pesan ibunya dan Muti akan berusaha menjalani semua ini dengan Hati yang Kuat *Kekuatan Hati Seorang Istri*.


"yah, Bu, Muti boleh kan tinggal disini sementara sama mas Nurman?" tanya muti ke kedua orang tuanya


"tentu boleh nduk" jawab ayahnya


"kamu gak perlu sungkan meminta bantuan ibu dan ayah, selama ibu dan ayah bisa membantu" kata ayahnya


mendengar itu Muti memeluk ayahnya


Muti tak menyangka, jika ayahnya akan menolong Muti dan Nurman. jika ayahnya tau sikap Nurman dan ayahnya Nurman ke Muti yang beda, bagaimana sikap ayah muti nantinya?? dalam hati Muti berkata.


"sudah nduk, ibu yakin kamu bisa melewati ini semua" kata ibunya meyakinkan anaknya itu untuk kuat dan tegar.


"makasih bu" jawab Muti sambil tersenyum, merasa sudah lega karena orang tuanya menerima keadaannya dan suaminya.


"ya sudah kamu temenin suami kamu di kamar, mungkin suamimu nanti butuh sesuatu" suruh ayahnya


"enggeh yah, Muti masuk kamar dulu" kata muti


di dalam kamarnya dia menatap suaminya. Muti berharap suaminya kelak akan berprilaku baik setelah kejadian ini.


"dek haus, dek" suara Nurman


Muti langsung memberikan air putih ke suaminya


"ini mas, minum dulu airnya" kata muti


Nurman meminumnya sambil di bantu Muti memegang gelasnya


"makasih dek ya" kata suaminya


"iya mas, semoga mas Nurma lekas membaik ya" kata muti


"udah mas gak usah mikir aneh-aneh dulu. Muti berharap setelah ini kita bisa memulai kehidupan baru dengan kehadiran buah hati kita. dan Muti nanti akan membantu mas untuk cari uang buat kehidupan kita"


Nurman hanya mengangguk

__ADS_1


__ADS_2