
Hari Minggu, waktu pukul 9.00 WIB, Muti masih belum bangun dari tidur. setelah sholat subuh dia tidur lagi karena tak kuat menahan matanya yang masih mengantuk. wajar Muti telat bangun karena dia semalaman menangis sampai akhirnya tertidur. ibu Muti menghampir Muti di kamarnya, dan membangunkannya
"nduk, nduk. bangun nak sudah hampir siang ini" suara ibunya
dengan mata yang agak sembab Muti perlahan membuka matanya dan menjawab singkat
"enggeh Bu"
melihat mata anaknya yang sembab, ibunya bertanya
"nduk mata kamu kok sembab, kamu habis nangis?" tanya ibunya
"Ndak Bu. mungkin karena Muti kurang tidur aja semalam banyak nyamuk" jawab Muti agar ibunya tidak khawatir
"kipasnya di nyalakan nduk Ben nyamuk e gak gigitin kam. yasudah sekarang kamu siap-siap mandi nduk, habis ini pak Udin bersama Nurman mau datang kesini lagi" kata Bu Muja
Muti hanya mengangguk, meski dia berusaha berdamai dengan keadaan tetap saja butuh waktu untuk menerima keadaan yang tidak di inginkan itu.
setelah selesai mandi Muti pun dandan ala kadarnya, karena dia tidak merasa kalau ini menjadi hari specialnya. orang tua Muti menyiapkan jamuan untuk pak Udin dan Nurman.
pukul 10.00 WIB, ada mobil sedan yang berhenti di halaman pak Ahmad. ketika pengemudi mobil sedan itu keluar ternyata pak Udin dan istrinya beserta Nurman. mereka berjalan mengetuk rumah pak Ahmad yang sudah terbuka.
pak Ahmad melihat tamu yang di nantikan datang langsung menyambutnya dan mempersilahkan pak Udin, istri dan anaknya masuk.
"mari, mari silahkan masuk pak Udin" kata pak Ahmad
"iya pak, terimakasih" jawab pak Udin dengan senyum gembira
setelah mereka semua duduk di kursi ruang tamu
pak Udin memperkenalkan istrinya ke pak Ahmad dan Bu Muja
"Oia pak Ahmad dan Bu Ahmad, ini istri saya Arini. ibu sambungnya Nurman" kata pak Udin
"OOO iya pak Udin. salam kenal Bu Arini" kata pak Ahmad
"iya salam kenal pak Ahmad dan Bu Ahmad" timpal Bu Arini
"sejak SMA saya yang mengurus Nurman dan ayahnya ini pak Bu karena ibunya sudah meninggal sejak Nurman SMP" kata Bu Arini
__ADS_1
"OOO iya Bu, syukurnya ada Bu Arini jadinya pak Udin ada teman buat ngurus anak-anaknya" kata Bu Ahmad sambil tersenyum, dan mereka mengobrol sewajarnya orang tua
"jadi Mutinya ada di rumah pak Bu?" tanya pak udin
"OOO iya ada kok pak" jawab pak Ahmad
"sebentar lagi juga keluar, lagi buat minum sepertinya" imbuh pak ahmad
beberapa menit, Muti keluar dari ruang tengah menuju ruang tamu dan membawa beberapa cangkir minuman.
"nah ini dia Mutinya" timpal pak Ahmad ketika Muti menyuguhkan cangkirnya ke pak Udin dan Bu Arini
"wah anak gadis yang manis dan rajin" puji Bu Arini
mendengar itu Muti hanya tersenyum tipis
ketika mereka sudah mengbrol panjang lebar akhirnya pak Udin, mengutarakan maksud dan tujuannya berkunjung lagi ke rumah pak Ahmad
"jadi pak, maksud kami kemari berniat mengikat Muti untuk anak kami Nurman" kata pak Udin
pak Ahmad bertanya ke Muti apakah Muti mau apa tidak di ikat oleh keluarga pak Udin untuk Nurman. mutipun hanya mengangguk.
"Alhamdulillah" jawab serentak pak Ahmad dan Bu Arini
"ya sudah pak nanti kita atur lagi tanggal buat lamarannya, biar resmi di kamarnya" kata pak Udin
"iya pak" jawab pak Ahmad dengan gembira
para orang tua menggoda Nurman dan Muti agar tidak canggung karena mereka akan menjadi pasangan. (pantas saja para orang tua menggodanya karena dari awal Muti dan Nurman hanya senyum dan diam seperti pasangan yang benar-benar di jodohkan meski Nurman sudah pernah jalan sama Muti tapi sebenarnya Muti juga menerima karena tekanan dari ayahnya yang menyuruhnya untuk segera menikah).
waktu semakin siang, pak Udin berpamit pulang.
"pak Ahmad, kami pamit pulang dulu ya. untuk selanjutnya kami kabari untuk hari lamarannya" kata pak Udin
"baik pak, biar nanti saya dan istri saya bersiap-siap menyambut keluarga pak Udin" kata pak Ahmad
"akhirnya pak, kita bakal jadi besan" kata pak Udin ke pak Ahmad sambil tertawa kecil
"iya pak, semoga semuanya dilancarkan" timpal pak Ahmad
__ADS_1
"baik pak Ahmad, kali begitu kami permisi pamit pulang dulu" ucap pak Udin
"iya pak silahkan, hati-hati" kata pak Ahmad
mereka sekeluarga berpamitan
Setelah acara berkunjung dari keluarga pak Udin selesai, Muti berpamitan ke orang tuanya untuk keluar sebentar. orang tuanya mengijinkannya
Muti keluar untuk mengajak Aryo ketemuan di tempat biasanya mereka ketemu (lapangan dekat pasar)
Muti sampai ke lapangan duluan, dia menunggu Aryo dengan hati yang sedih menahan tangisnya karena Muti akan memberi tahu Aryo kalau Muti tidak bisa lagi dengan aryo. dari kejauhan terlihat bawah aryo mengendarai motornya akan sampai lapangan, membuat Muti semakin menahan air matanya agar tidak jatuh saat nanti menatap Aryo.
motor Aryo tepat berhenti di depan Muti yang duduk menunggunya. Aryo turun dari motornya dan menghampiri Muti
"dek sudah lama menunggu?" tanya Aryo dengan nada lembut, tapi Muti hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"dek Muti ngajak ketemu ada apa nih? kangen kah? baru semalem kita jalan-jalan" goda Aryo ke Muti
mendengar kata-kata seperti itu, membuat Muti tidak bisa menahan air matanya akhirnya jatuh ke pipinya dan tidak berani menatap Aryo.
melihat kekasihnya yang dari tadi di ajak ngobrol malah diem dan terlihat menangis, aryopun khawatir
"dek Muti, kamu kenapa? kamu menangis?" tanya Aryo memastikan
"enggak kok mas, debunya tadi banyak sekali jadi kata muti kena debu" jawab Muti mencoba memberi alasan
"coba sini biar mas Aryo lihat kata dek Muti biar g semakin parah kalau kena debu" kata Aryo sambil tangan mau meraih kepala Muti untuk dihadapkan ke dirinya tapi Muti tiba-tiba saja menangkis tangan Aryo
"gakpapa kok mas" jawab Muti
melihat perlakuan Muti seperti itu Aryo kaget dan sedikit heran. beberapa saat keheningan menyelimuti mereka berdua. sampai akhirnya Aryo bertanya lagi ke Muti
"dek, sebenarnya dek Muti kenapa? dan tiba-tiba ngajak ketemu?" tanya Aryo
beberap detik Muti menghela nafas, menenangkan dirinya dan memberanikan diri untuk mengatakan perpisahan ke Aryo
"mas, Muti minta maaf sebelumnya. bukan maksud Muti gak mau nunggu mas tapi wanita mana yang menunggu dengan ketidakpastian sedangkan orang tuanya menekannya untuk segera menikah" kata muti sambil gemetar
"bukannya Muti udah gak sayang lagi sama mas Aryo, mungkin kita belom berjodoh dan ini takdir Muti yang tidak bisa Muti tolak" lanjut Muti
__ADS_1
mendengar hal itu Aryo memahami Muti, karena sebenarnya Aryo tau kalau ayahnya sangat menekan Muti untuk menikah. aryopun tidak bisa menyalahkan atau membenci Muti, karena dia juga merasa tidak bisa berbuat lebih untuk Muti karena kondisi yang belum memungkinkan.