
Aryo menerima keputusan yang Muti ambil bahkan dia mendo'akan Muti bahagia dengan kehidupan barunya nanti karena ayo sangat menyayangi Muti dan ingin melihat Muti bahagia meski sebenarnya hati Aryo juga sakit tapi Aryo mengikhlaskannya. setelah kondisi suasana hati Muti dan Aryo tenang, Aryo berniat mengantar Muti pulang
"ya sudah dek muti kalau gitu mas Aryo antar dek Muti pulang" kata Aryo
melihat sikap Aryo masih tetap perhatian ke Muti meski Muti tak lagi memilihnya, membuat hati Muti semakin bersalah. Muti menolak di antar Aryo pulang
"gakpapa kok mas, Muti bisa pulang sendiri" jawab Muti
"mas Aryo minta tolong ke dek muti biarkan mas Aryo melakukan sesuatu terakhir kalinya untuk dek muti" ucap aryo
mendengar ucapan Aryo membuat hati Muti semakin ingin menangis tapi Muti berusaha menahan air matanya jatuh lagi
"baiklah mas kalau begitu" jawab Muti
akhirnya Aryo mengantar Muti pulang, dalam perjalanan pulang Muti tak bisa lagi membendung air matanya dan air matanya pun terjatuh lagi di pipinya dalam hatinya berpikir (mas Aryo, hati mu terbuat dari apa? Muti sudah memperlakukanmu seperti ini tapi kamu masih perhatian dan baik ke Muti. mungkin Muti bukan jodoh terbaikmu, dan kamu akan di berikan jodoh yang jauh lebih baik dari Muti karena kamu orang yang tulus dan ikhlas) mutipun terbawa suasana dan memeluk kekasihnya itu mengikatkan tangannya ke pinggang aryo.
sebenarnya Aryo juga merasakan kesedihan Muti karena Aryo yakin bahwa sebenarnya Muti masih sayang ke Aryo tapi kondisi lah yang membuat Muti mengambil keputusan berpisah. Aryo yang merasakan pelukan Muti hanya membiarkan saja, dia berpikir ini akan menjadi kenangan manis di antara mereka berdua nantinya walau terasa sakit.
Mereka pun tiba di rumah, Muti seakan enggan turun dari motor Aryo. Aryopun memegang tangan Muti yang masih melingkar di pinggang Aryo seakan-akan Aryo meyakinkan ke Muti bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Muti akhirnya turun dari motor, dia berpamitan ke Aryo untuk masuk ke dalam rumah. Muti berusaha memberi salam perpisahan dengan senyum manis melihat Aryo, Muti berpikir mungkin saja ini hari trakhir muti melihat Aryo karena mereka tidak mungkin ketemu jalan-jalan lagi. Muti menatap cukup lama wajah Aryo dan aryopun membalas menatap Muti dengan senyum manisnya yang berkarismatik. lalu Muti berbalik membelakangi Aryo dan berjalan memasuki rumahnya. Aryo pun pergi dengan hati yang ikhlas atas takdir percintaannya.
Muti langsung masuk kamarnya dan menutup kamarnya, hatinya masih merasa hancur dan sakit meski ini adalah keputusannya untuk meninggalkan Aryo. karena dia merasa kenangan-kenangan bersama Aryo adalah hal terindah baginya, dia berusaha berdamai dengan keadaan.
setelah kejadian itu mutipun sering mengurung diri ke kamarnya tapi dia masih tetap membantu ibunya dalam sehari-harinya dan mengantarkan makan siang ayahnya, hanya saja sikapnya lebih tertutup dan sering menyendiri di kamar. adiknya yaitu Muna merasa biasanya kakaknya ngajak ngobrol-ngbrol tapi sekarang sudah tidak lagi.
Muna memutuskan ke kamar kakaknya melihat kakaknya. suara pintu kamar Muti terdengar ada yang mengetuk
(tok tok tok)
"kak Muti, ini Muna. Muna boleh masuk?" tanya adiknya itu
__ADS_1
"iya mun, masuk aja" jawab Muti
mendengar kakaknya memperbolehkan masuk, munapun masuk dan menutup pintu kamarnya lagi.
"kakak baik-baik aja kan, Kakak sakit kah?" tanya Muna mengawali obrolan
"iya mun, kakak baik-baik saja kok. ada apa emangnya?" jawab Muti dan bertanya balik ke adiknya
"Muna jarang lihat kak Muti keluar kamar, dan biasa kak Muti ngajak Muna ngobrol-ngobrol" kata Muna
"kakak ada apa? kalau kakak ada masalah kakak bisa cerita ke Muna" timpal Muna
"kak Muti gakpapa kok Mun, kak Muti ngerjakan pesanan jahit taplak meja dari teman kakak" jawab Muti memberi alasan
"kak Muti jago ya jahit meski pakai tangan terlihat rapi, coba kalau pakek mesin jahit pasti Kakak bisa jadi penjahit" ucap Muna
seketika itu Muti jadi berpikir, nantinya Muti ingin menabung untuk membeli mesin jahit. jika sudah menikah dengan Nurman nanti, Muti bisa membantu ekonomi keluarganya dengan menjahit.
akhirnya kakak-adik itu asyik mengobrol Sampek gak terasa waktu semakin malam, Muna pun pamit ke Muti balik ke kamarnya untuk tidur.
keesokan harinya, Muti kembali menjadi Muti yang ceria dan semangatz. ibunya yang melihat Muti kembali ceria dan tersenyum membuat hatinya juga lega karena sebelum-sebelumnya Muti seperti orang yang tidak bergairah dalam hidupnya.
mutipun akhirnya berkata ke ibunya kalau dia mau kerja bantu-bantu jahit di konveksian.
"Bu, Muti mau cari kerja. ikut konveksian, dengan begitu Muti sekalian bisa ngelemesin tangan Muti jahit pakek mesin" kata muti ke ibunya
"iya gakpapa nduk. ibu dukung kamu selama itu kegiatan yang kamu sukai" jawab ibunya
"rencananya besok, Muti cari-cari tempat konveksi buat ngelamar" katanya
"iya semoga kamu dapet rezekynya nduk" do'a ibunya
__ADS_1
"aamiin Bu" jawab Muti
malam harinya ayahnya ke kamar Muti setelah sore tadi istrinya bercerita kalau Muti ingin kerja di konveksian
"Muti, ayah boleh masuk kamarmu nduk?" tanya ayahnya
"enggeh yah masuk saja" jawab Muti
ayahnya menghampiri Muti yangabberada di ranjangnya, beliaupun duduk di samping anaknya itu
"ayah dengar dari ibumu, kalau kamu mau cari kerja di konveksi jahit nduk, bener?" tanya ayahnya
"enggeh yah, boleh kan? tanya balik Muti
"iya jika Muti ingin mandiri gakpapa nduk" jawab ayahnya
"besok biar Nurman yang ngantar kamu cari konveksi jahitnya buat ngelamar kerja" kata ayahnya.
"tapi yah, Muti gak mau ngerepotin mas Nurman" kata muti
"gakpapa ayah sudah bilang ke Nurman katanya besok dia bisa ngantar kamu" ucap ayahnya
"bentar lagi kan kamu mau di lamar sama Nurman, jadi kalian harus ada waktu berdua untuk lebih mengenal satu sama lain" timpal ayahnya
mendengar hal tersebut Muti juga berpikir hal yang sama, jika Muti dan Nurman harus lebih mengenal. akhirnya mutipun mengiyakan
"enggeh yah baik" jawab Muti
"ya sudah nduk, kamu istirahat dulu biar besok kamu punya tenaga yang lebih buat cari kerja jahitnya" kata ayahnya menyemangati
"enggeh yah" jawab Muti
__ADS_1
ayahnya pun mengelus rambut putrinya sebelum beranjak keluar dari kamar putrinya.
Muti merasa tenang karena ayahnya sekarang lebih perhatian terhadapnya, meski Muti merasa perubahan ayahnya yang lebih perhatian setelah Muti mau menerima ikatannya Nurman.