
Bu Muji melihat anaknya yang ragu, memberi pesan-pesan tentang kehidupan untuk menenangkan hati anaknya yaitu Muti
"nduk ibu sama ayahmu dulu menikah juga di jodohkan oleh orang tua kami. ibu mengenal ayahmu juga gak lama dan akhirnya kedua orang tua kami memutuskan untuk menikahlah ibu dan ayahmu. awalnya ibu sempat takut karena ibu belum terlalu mengenal ayah kamu, tapi ibu mencoba berdamai dengan keadaan ibu waktu itu dan berusaha menerima ayahmu sebagai suami ibu. awal setelah menikah, ibu dan ayahmu masih menyesuaikan diri dan mencocokan diri karena pasti ada kekurangan-kekurangan dari ibu dan ayahmu belum saling mengetahui. dan pasti ada perselisihan di antara kami waktu itu terbilang sering malah tapi ibu dan ayahmu saling menghargai satu sama lain dan dari situlah kami mengembangkan perasaan yang awalnya menghargai menjadi menyayangi. dalam suatu hubungan tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar, yang ada itu meminta maaf dan mau memaafkan dengan begitu hubungan akan menjadi harmonis nduk. apalagi waktu lahir anak pertama dan menjadi orang tua, makan pemikiran menjadi semakin dewasa. dari situ ibu berpikir tidak ada orang tua yang tidak memikirkan kebaikan untuk anaknya dan ibu berpikir waktu ibu dijodohkan dulu orang tua ibu melakukan itu untuk kebaikan ibu, selama ibu menerima takdir itu dengan ikhlas maka akan tumbuh KEKUATAN HATI dalam diri seseorang tersebut." cerita Bu muji ke Muti tentang pengalaman ibunya, ibunya berharap Muti bisa mengambil pelajaran yang ibunya ceritakan. Muti terdiam dan merasa lebih tenang setelah mendengar cerita ibunya, Muti juga berharap hubungan dengan Nurman akan seperti hubungan ibu dan ayahnya.
"terimakasih Bu sudah, memberikan nasehat ke Muti" ucap muti lebih tenang
"iya sama-sama nduk. ibu yaki Muti anak baik dan akan mendapatkan kebaikan dalam hidup Muti kelak, yang akan menjadikan Muti menjadi seseorang yang kuat nantinya" kata ibunya
"aamiin" ucap muti mengamini do'a ibunya
setelah ibunya merasa Muti lebih tenang, ibunya munyuruh Muti untuk istirahat.
"ya sudah ibu ke kamar ibu istirahat. kamu juga istirahat ya nduk, besok kan kamu harus kerja" suruh ibunya
"enggeh Bu" jawab Muti
ibunya lalu pergi dari kamar Muti
Muti di kamarnya masih belum bisa tidur, padahal awalnya Muti ingin membatalkan pernikahannya bersama Nurma setelah kejadian siang tadi yang membuat hati Muti ragu terhadap nurman. tapi setelah mendangar dan memikirkan kata-kata dari ibunya. dia berharap keputusan yang sudah di ambilnya itu benar dan berpikir positif tentang Nurman dan pernikahannya kelak bersama Nurman. sampai akhirnya tertidur Muti.
Keesokan harinya di tempat kerja Muti tak begitu semangat, karena merasa tidurnya kurang cukup. teman kerja Muti yang bernama mbak irmapun menegur Muti
"Muti, kamu kenapa kok lesuh gitu?" tanya Mbak Irma
"gakpapa kok mbak" jawab Muti
"kamu sakit kah?" tanya Mbak Irma lagi
"gak kok mbak cuma kurang tidur aja semalam" jawab Muti
"oooo pasti karena persiapan nikahan kamu sebentar lagi toh" tebak Mbak Irma dengan nada bercanda
__ADS_1
"mbak ini bisa aja" jawab Muti sambil tersenyum
Mbak Irma teman kerja Muti ini lebih tuan dari Muti dan sudah berkeluarga memiliki satu anak beliaupun memberi saran ke Muti karena merasa mbak Irma sudah mengalami hal yang akan di alami Muti
"aku dulu juga begitu Muti beberapa hari sebelum menikah, karena memang kata orang tua dulu sebelum menikah pasti ada saja godaannya. entah godaan dari segi keuangan, godaan dari mantan maupun godaan dari calon suami" kata Mbak Irma
mutipun bertanya kepada temannya itu apakah temannya dulu menikah karena perjodohan
"mbak Irma dulu menikah sama pacar atau di jodohkan?, dan dulu sebelum menikah mbak Irma dapat godaan seperti apa?" tanya muti
"aku dulu sama suamiku di kenal teman lalu kami saling suka dan melangkah menuju pernikahan. dulu aku sebelum menikah godaannya dari suamiku. mantan suamiku masih menghubungi suamiku dan di respon sama suamiku" jawab Irma
"lalu Mbak Irma gimana menanggapinya?" tanya muti lagi
"aku bilang kesuamiku, (kalau kamu masih mau main-main ya silahkan sama mantan kamu, karena aku carinya yang serius membina rumah tangga bersama aku) kata Mbak Irma ke suaminya lalu suamiku milih aku lah dan g ngerespon mantannya lagi" jawab Mbak Irma menceritakan kisahnya
"mmmm gitu ya mbak" ucap muti
"memangnya kamu lagi ada masalah Sam calon suami kamu?" tanya Mbak Irma
"kemaren aku sama calon suami aku sedikit berdebat" kata muti yang tak mau menceritakan lebih detail
mendengar itu temannya menenangkan hati Muti
"biasa lah itu debat kecil, jadikan itu pembelajaran untuk saling mengenal satu sama lain" kata Mbak Irma mencoba memberi kata positif ke Muti
"iya mbak" jawab Muti singkat dalam hatinya (ada benarnya yang di katakan Mbak Irma ini, aku sedikit lebih tenang jadinya)
lalu mereka berdua menyelesaikan pekerjaannya hari itu.
hendak pulang, Muti melihat dari kejauhan Nurman menunggunya di depan tempat kerjanya. Muti menghampiri dan ternyata benar Nurman, tadinya Muti takut salah orang.
__ADS_1
"loh mas Nurman disini ngapain?" tanya muti
"mas mau jemput dek muti" ucap Nurman
Muti terdiam
"ya sudah ayok pulang dek muti" ajak Nurman yang melihat Muti terdiam
"mmmm iya mas" jawab Muti lalu naik ke motornya Nurman
dalam perjalanan Nurman meminta maaf ke Muti atas kejadian kemaren.
"dek, maaf atas kejadian kemaren. mas lepas kontrol" ucap Nurman, Muti hanya diam saja mendengarnya
"3 hari lagi kita mau menikah dan kita ga boleh ketemu dulu sampai hari pernikahan kita nanti. makanya mas jemput dek muti" kata Nurman
"iya mas, Muti juga minta maaf" jawab Muti singkat sambil minta maaf. dalam hati Muti berpikir jika calon suaminya ini memiliki mood yang mudah berubah-ubah kadang bisa baik banget kadang jadi pemarah dan gak sabaran. mutipun berusaha mencocokan sifat Muti ke calon suaminya agar menghindari pertengkaran.
mereka berduapun kembali baikan dan menyiapkan pernikahannya yang tinggal 3 hari lagi.
sesampainya di rumah, Nurman mampir untuk ketemu sama ayah dan ibunya Muti.
"loalah nak, kok masih jemput Muti toh? beberapa hari ini kalian di pingit loh gak boleh ketemu dulu sebelum ijab kobal nanti, kata orang tua dulu" kata pak Ahmad ayah muti
"iya maaf pak, kalau gitu Nurman pamit pulang dulu pak Bu" pamit Nurma ke orang tua Muti
"iya sudah hati-hati nak" kata Bu muji ibunya Muti
"enggeh Bu assalamualaikum" salam Nurman
"walaikumsalam" jawab serentak ayah, ibu dan Muti
__ADS_1