
Kehidupan yang muti jalani setelah menikah jauh dari harapannya. tapi Muti tetap berusaha bertahan meski sekarang suaminya sudah tidak kerja. Muti masih memilik uang simpanannya untuk makannya sehari-hari
ayah mertua memanggil Nurman dan Muti
"nurman, ini sudah jatuh tempo untuk ngasih uang ke ayah" kata ayah Nurman
"ayah, nunggu Nurman ada uang nanti Nurman bayar" jawab Nurman
"gimana kamu dapat uang? kamu sudah gak kerja sekarang, anak bodoh" kata ayah Nurman
"ayah ini keterlaluan. Nurman ini anak ayah apa bukan?? kenapa Nurman seperti anak kost tinggal disini" ucap Nurman
"sudah cukup ya Nurman ayah memanjakan kamu dulu, sekarang waktu kamu membalas ayah dengan memberi ayahmu ini uang tanpa harus ayah minta" kata ayahnya
Nurman mendengarnya menjadi emosi ...
"kalau ayah menyuruh Nurman nikah hanya karena ayah ingin Nurman bayar uang kalau tinggal disini, kenapa ayah nyuruh Nurman menikah??" tanya Nurman menyalahkan ayahnya atas pernikahannya
"ayah melakukan ini biar kamu ada yang ngurus dan ngerawat, tapi apa sekarang kamu semakin gak jelas hidupnya" ucap ayahnya
mendengar itu Muti yang awalnya tak tau prahara (hubungan ayah dan anak itu) merasa sakit hati atas kedua sikap ayah mertuanya dan suaminya.
"dalam waktu satu Minggu kalau kamu gak bisa membayarnya, lebih baik jangan tinggal disini" ucap ayahnya sambil masuk ke kamarnya
Muti dan Nurman hanya terdiam satu sama lain, Muti tak habis pikir ayah mertuanya begitu perhitungan dengan anaknya sendiri.
"mas, apa gak lebih baik kita tinggal di rumah orang tua Muti dulu?" tanya muti
"kamu diam saja, gak usah ngomong kalau kamu gak punya uang" jawab suaminya sambil keluar rumah meninggalkan istrinya sendirian
Muti masuk kamarnya, dia tak habis pikir kenapa kehidupan rumah tangganya yang masih baru seumur jagung sudah seperti ini. dia bingung kenapa suaminya berubah seperti itu apa ini karakter suaminya yang sesungguhnya dan kenapa ayah mertuanya begitu pelit serta perhitungan terhadap anaknya sendiri. muti bingung apakah dia harus cerita masalah ini ke orang tuanya apa tidak tapi dia takut membuat orang tuannya khawatir jika menceritakannya.
sore harinya nurman belum pulang juga, muti yang dari tadi menelponnya tak di angkat oleh suaminya.
Muti semakin tak mengerti dengan kondisi yang sekarang di alaminya. padahal sekarang dia sedang hamil, tapi kehamilannya tak membuat Nurman bahagia.
pukul 21.00 malam, ayah mertua dan ibu mertuanya sudah tidur. Muti masih di ruang tamu menunggu suaminya yang dari tadi belum pulang-pulang
(mas nurman, kamu ini kemana? apa kamu sedang cari pekerjaan?) dalam hati Muti bertanya-tanya pada dirinya sendiri
__ADS_1
terdengar suara motor Nurman berhenti depan rumahnya, muti lalu membuka pintu rumah dan melihat keluar apakah benar itu suara motor suaminya
tak di sangka, memang benar suara motor Nurman tapi Nurman dalam kondisi mabuk lagi
"mas kamu apa-apaan sih?? kenapa kamu mabuk gini?" tanya muti ke suami
"aagh bacot kamu" jawab suaminya sambil masuk kedalam rumah dengan berjalan agak teler, muti mengikutinya dari belakang.
sampai di kamarnyA, Nurman langsung menjatuhkan badannya ke tempat tidur
*bruuuugggh*
"mas, gak kayak gini kalau menyelesaikan masalah?" kata muti ke suaminya
"kamu tau apa?" tanya suaminya
"sssstttt diam " kata suaminya lagi lalu tertidur
Muti tak tau harus menghadapi suaminya seperti apa dan bagaimana. Muti seperti tak mengenal suaminya, apa ini karakter suaminya yang sesungguhnya.
pagi harinya Nurman bangun, muti sudah menyiapkan sarapan untuk Nurman di meja kamarnya
"dek mana lauknya" tanya suaminya
"itu krupuk mas" jawab Muti
"krupuk ini bukan lauk dek. kamu ngasih mas sarapan cuma pakek krupuk? kamu pikir aku ini kucing?" ucap Nurman marah
"lalu mas pengen Muti masak lauk apa?" jawab istrinya
"ayam kek, soto kek" jawab Nurman
"mas, kamu aja gak ngasih aku uang dan uang aku sudah habis buat masakin kamu setiap harinya. sedangkan kamu sekarang tiap malam mabuk-mabukan" kata muti menjelaskan
"trus maksud kamu apa?" tanya Nurman
"iya kamu berusaha mas, mungkin ayah kamu bersikap keras ke kamu karena ayah kamu pengen lihat hidup kamu jadi lebih baik" kata istrinya
"Halah kamu sama saja sama ayah, kamu gak ngerti aku" kata Nurman
__ADS_1
"harusnya bersyukur mas, kita bisa makan meski cuma pakek krupuk. dan kamu harus sadar, dalam perutku ada calon anak kamu. kamu pikirin caranya agar nanti kamu bisa nafkahin aku sama anak kamu ini." kata muti
"aku, ngijinin kamu risegn dari pabrik karena aku ngerti perasaan kamu dan aku percaya ke kamu kalau kamu bakal tanggung jawab atas rumah tangga kita tapi nyatanya apa mas? kamu malah mabuk-mabukan tiap malam" timpal Muti
Nurman diam beberapa saat
"lalu kamu mau apa?? mau kita cerai?" kata Nurman
"astagfirullah hal-aldzim mas, jaga kata-kata kamu. aku semakin hari semakin bingung dan gak ngerti sama jalan pikiran kamu" kata muti
"ya ini lah aku, kekanakan, manja, egois, mau menang sendiri, beli makan di luar lah aku" ucap Nurman sambil keluar meninggalkan istrinya di dalam kamar
Muti mendengar itu menangis sampai terduduk di lantai....
"ya Allah ujian apa yang kau berikan ke hambahmu ini? kenapa rumah tangga hambahmu jadi seperti ini? apa salah hambah ya Allah sehingga ini terjadi kepada hambah" dalam hati Muti
"sejujurnya Muti ingin menyalahkan ayahnya atas kehidupan yang sekarang di alaminya karena dulu ayahnya yang bilang jika menikah dengan laki-laki sudah bekerja hidupnya akan emak, tapi dia tak bisa menyalahkan ayahnya sepenuhnya karena Muti sendiri juga memilihnya dan mencoba menerima Nurman tapi tak di sangka Nurman jauh dari harapan muti"
Muti mencoba menyikapi ini dengan sabar dan tenang, muti ingat pesan ibunya. kekuatan hati seorang istri yang akan bisa merubah kehidupan rumah tangga menjadi lebih baik.
sore harinya Nurman pulang dengan keadaan pucat dan lemas, muti yang melihatnya begitu khawatir
"mas, kamu kenapa?" tanya muti ke suaminya
"badan ku terasa lemas" jawab Nurman lirih
lalu muti menuntut suaminya ke kamar dan membaringkan suaminya di tempat tidur
"astaga mas badan kamu panas banget" kata muti sambil memegang kening suaminya
Muti lalu mengambil kompres dan mengompres kening suaminya
"aduh perut ku sakit, aduh" rengek suaminya
"mas kamu sakit asam lambung kah?" tanya muti
"aduh sakit" rengek Nurman terus
Muti lalu pergi ke toko ayah mertuanya membeli obat asam lambung
__ADS_1
Muti memberikan obat itu ke suaminya agar dimunumnya. setelah meminum obat kondisi Nurman lebih enakan.