
Sabtu malam Minggu hari kencan Muti dan Aryo, mereka berdua jalan-jalan ke alun-alun kota. Aryo meluangkan waktunya untuk berkencan dengan Muti, Muti pun merasa senang dengan sikap Aryo yang masih meluangkan waktu dan perhatian ke Muti meski Aryo juga sibuk dengan skripsinya.
di taman alun-alun, Muti membicarakan hal yang penting untuk hubungannya ke Aryo.
"mas, Muti tau kalau mas Aryo sekarang di tahap menyelesaikan kuliahnya. kalau mas Aryo memang serius dengan hubungan ini, apa gak lebih baik mas Aryo ngikat Muti dulu? nikahnya satu tahu kedepan gakpapa" kata muti
mendengar Muti berkata seperti itu, Aryo cukup kaget. tapi dia berusaha tenang dan menjawab penuh sabar karena Aryo memang orang yang penyabar dan dewasa.
"mas paham maksud dek Muti. mas serius dengan hubungan ini, tapi mas pengen menyelesaikan kuliah dulu dan dapet kerja dulu baru melangkah ke jenjang pernikahan dengan dek muti" ucap Aryo
dalam hati Muti (Muti tidak sabar menunggu beberapa tahun lagi, karena ayahnya pasti mendesak Muti untuk menikah dan laki-laki yang disukai ayahnya untuk dijadikan mantu pasti Nurman) mendengar ucapan Aryo Muti sedikit ragu dan bingung harus gimana dengan hubungannya bersama Aryo
"tapi mas, ayah muti menyuruh Muti untuk segera menikah" Muti menceritakan tentang ayahnya yang menekan Muti untuk segera menikah
mendengar cerita Muti Aryo memahaminya tapi untuk saat ini Aryo juga tidak bisa berbuat lebih dalam hal pernikahan. Aryo hanya bisa menyerahkan semua keputusan ke Muti
"kalau dek Muti tidak sabar untuk menunggu mas. mas Aryo serahkan keputusan kepada dek Muti. karena ini tentang kehidupan dek Muti kedepannya. jika dek Muti milih mas, ya dek Muti harus sabar menunggu dan berjuang juga. kalau dek muti memilih nurut ayah dek Muti ya, mas gakpapa pasrah" kata Aryo ke Muti (kekesaihnya)
mendengar hal itu Muti merasa sedih, dia ingin menangisis tapi berusaha kuat di depan Aryo.
Di tempat lain, di rumah Muti ternyata ada pak Udin dan Nurman berkunjung. tak disangkan pak Udin berniat melamar Muti untuk anak terakhirnya yaitu Nurman. karena dari awal pak Udin memang berniat menjodohkan Nurman sama Muti. pak Udin, ingin melihat anak terakhirnya menikah.
tapi pak Ahmad berkata ke pak Udin kalau pak Ahmad tidak bisa memberi jawaban karena tidak ada Muti (dan keputusan ada di Muti, pak Ahmad tidak bisa memaksakan) dan meminta pak Udin dan Nurman kembali berkunjung esok harinya.
__ADS_1
pak Udin dan Nurman pun balik pulang, dan berniat berkunjung lagi esok harinya.
pukul 20.15 Aryo mengantar Muti pulang setelah jalan-jalan di alun-alun kota. dalam perjalanan Muti hanya diam, dia memikirkan kata-kata Aryo dan kata-kata ayahnya. Muti takut jika Muti mununggu Aryo sampai menentang ayahnya dalam pernikahan dan ternyata Aryo bukan jodonya maka itu akan sia-sia baginya. tapi sebenarnya Muti cintanya ke Aryo, sampai akhirnya dia bernadzar dalam hatinya siapa yang meminta Muti ke orang tuanya lebih dulu itu yang akan di pilih Muti. karena tadi Muti juga berpesan ke Aryo Muti hanya ingin di minta saja ke orang tuanya untuk kepastian.
Beberapa menit setelah pak Udin dan Nurman pulang dari rumah Muti. Aryo dan mutipun sampai di rumah Muti.
Aryo langsung pamit pulang dan tidak, mutipun langsung masuk ke dalam rumah
setelah masuk rumah, Muti langsung masuk kamarnya untuk menenangkan hatinya yang sedang gundah. terdengar suara ketokan pintu kamar Muti, yang tak lain ayah dan ibunya menghampiri Muti ke kamarnya
"eh ayah, ibu" ucap Muti yang kaget orang tuanya langsung masuk kamarnya setelah ketok pintu
"nduk, ada yang ayah sama ibu mau sampe'in ke Muti" kata ibunya
"enggeh Bu ada apa?" tanya muti
mendengar hal itu Muti berasa di sambar petir *duuueeeeerrrrr*
Muti kaget dan terdiam karena Muti mengingat kata-kata dalam hatinya ketika perjalanan pulang tadi (kalau ada yang duluan meminta Muti ke orang tuanya akan Muti terima)
melihat anaknya terdiam pak Ahmad pun menyadarkan Muti dalam diamnya
"nduk, nduk, kamu dengar yang ibumu bicarakan toh?" tanya ayahnya
__ADS_1
mutipun langsung tersadar dan menjawabnya
"e eh iya yah, Muti dengar kok"
dalam hatinya (apakah Nurman memang jodohnya Muti, kenapa ini kebetulan sekali waktu Muti tadi bernadzar)
"gimana nduk, kamu terima atau gimana?" tanya ayahnya
"Muti serahkan sama ayah dan ibu, kalau ayah dan ibu menerimanya ya Muti juga" jawab Muti pasrah karena dia merasa juga harus melaksanakan nadzarnya
"ibu dan ayah tidak memaksa nduk. kalau Muti suka sama Nurman, dan menerima ya Monggo. kalau Muti gak suka ya gakpapa meski terkesan ayah kamu dan ayahnya nurman menjodohkan kalian berdua" kata ibunya sekaligus menyindir suaminya, dan suaminya hanya berekspresi datar mendengarnya
"enggeh Bu, Muti menerimanya" jawab Muti
"benar nduk? Muti gak terpaksa kan menerimanya?" tanya ibunya meyakinkan Muti atas keputusan yang sudah di ambil Muti
"lah wong anakmu udah bilang menerimanya gitu loh Bu, kok masih di tanya lagi" kata pak Ahmad ke istrinya dengan ekspresi yang gembira pak Ahmad dengar jawaban dari Muti.
"ya sudah kamu istirahat nduk, karena besok pak Udin dan Nurman kesini lagi meminta kamu" kata ibunya
"enggeh Bu" jawab Muti singkat
ayah dan ibunya pun lalu keluar dari kamar Muti dan beristirahat ke kamarnya.
__ADS_1
Muti tidak bisa tidur, karena berusaha menenangkan hatinya bahwa keputusan yang di ambil sudah benar. masih tidak di percaya oleh Muti hal seperti ini terjadi begitu cepat dan berkaitan dengan nadzar dalam dirinya. karena mutipun belum memikirkan bagaimana cara meninggalkan Aryo kekasih yang di cintainya, Muti tidak membayangkan hal ini yang akan terjadi dalam hidupnya. muti menangis mengeluarkan kesedihan dalam pikirannya karena dia membayangkan akan meninggalkan Aryo laki-laki penyabar dewasa yang di cintainya, dan kata-kata apa yang nantinya di ucapkan Muti ke Aryo kekasihnya sebagai kata perpisahan darinya. membayangkannya saja hati Muti hancur dan sedih. setelah Muti merasa puas mengeluarkan kesedihannya lewat tangisnya, dia berpikir rasional.
akhirnya Muti bisa berdamai dengan keadaannya dan mencoba menenangkan hati dan pikirannya bahwa yang terjadi sekarang adalah takdir jodohnya meski dia merasa ini juga perjodohan antara ayahnya dan ayah nurman, Muti mencoba menerimanya dengan ikhlas atas takdirnya ini. muti yang merasa air matanya sudah habis di dalam matanya akhirnya tertidur setelah selesai menangis.